Tarian ini terbagi atas 12 babak. Meskipun di tiap babak tampak gerakan yang nyaris sama, terkandung makna yang berbeda-beda. Gerakan pada posisi duduk menjadi pertanda awal dan akhir tarian ini. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam menunjukkan siklus kehidupan manusia. Sementara gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Aturan mainnya, seorang penari Akkarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar. Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi.
Bonita and the hus Band
Musik - Festival Salihara 2010
Dalam setiap aksinya mereka acapkali menampilkan musik-musik bernafas akustik, soul, folk, dan R&B. Syair-syair lagu mereka berangkat dari pengalaman hidup sehari-hari. Karena itu terasa sangat pribadi tapi juga menyangkut pengalaman orang banyak.
Dua pematung ini menggunakan dua material yang berbeda, menggunakan bambu identik dengan alam yang tumbuh seakan-akan tanpa campur-tangan teknologi, dan kaleng bekas minuman ringan merupakan hasil dari dunia industri (peleburan kaleng dan minuman ringan). Keduanya sama-sama menanggapi satu perubahan yang terjadi di sekitar kita. Alam yang terus dirangsek oleh industri dan, sebaliknya, industri yang terus-menerus mencoba memanjakan hidup kita.
Gabungan ketiganya menjadi menarik karena benda-benda dari dunia sehari-hari itu mendapatkan tafsir baru. Hampir semua fungsi tradisional benda itu ditanggalkan, dan masuklah perlakukan baru ke dalamnya. Yaitu, aneka koreografi gerak yang menjelajah lantai, yang mencoba melayani hukum gravitasi.
Kwintet kontemporer ini terdiri dari Christa Powell (violin), Bernard Hoey (viola), Kylie Davidson (piano), Robert Davidson (bass), dan John Babbage (saksofon). Dalam bekerja mereka mencoba merambah wilayah-wilayah baru dalam musik. Mereka berkolaborasi dengan para seniman dari berbagai bidang, mulai dari komedi, pop, jazz, world music, musik kamar, film, hingga seni eksperimental. Musik mereka bergulat dengan berbagai tema dan aneka lapisan ide, termasuk politik, filsafat, dan kehidupan mutakhir, dan semua itu digarap tanpa meninggalkan rasa humor dan kemahiran para pemainnya.
Pada masa silam, pertunjukan barong ini terbatas hanya untuk acara ritual, tapi kini biasa dipertunjukkan pada acara yang lebih sekuler, seperti untuk tontonan perayaan pernikahan, khitanan, dan peringatan hari besar pemerintahan. Barong Osing menyandang identitas yang khas: antara rasa Jawa dan Bali, Islam dan Hindu, gunung dan laut, sakral dan profan.
Glow adalah koreografi yang mencerahkan karya Direktur Artistik Gideon Obarzanek dan pencipta perangkat lunak interaktif Frieder Weiss. Mereka bertemu di Monaco Dance Forum pada 2004 dan sejak itu terlibat diskusi serius seputar penggunaan proyektor data untuk mencahayai tubuh yang bergerak.Setahun kemudian di Australia mereka menguji berbagai hubungan antara tubuh yang bergerak dengan grafik bergerak yang menggunakan sistem kamera inframerah. Dalam perkembangannya Gideon mencoba menciptakan sejenis “fiksi biotek” yang mengubah tubuh ke dalam kondisi grotesk dan sensual imajiner yang lain lagi.
English







