Belanja

JEROAN

1

Lampu itu berbentuk jantung. Atau lebih tepat, lampu itu adalah sebuah jantung. Bukan jantung biasa. Namun jantung berukuran sangat besar yang menumbuhkan sulur-sulur atau belalai-belalai. Seakan-akan jantung itu berusaha menjulurkan diri ke luar sana.

Pameran Geo-Portrait #2

Terperangkap dalam sebuah “kuil”, jantung itu mengirimkan cahaya ke luar, menembus empat dinding berkerawang, membentuk permainan siluet pada dinding-dinding galeri.

Adapun dinding-dinding “kuil” itu juga bukan dinding-dinding biasa. Sesungguhnya dinding-dinding itu adalah sosok-sosok pipih yang kehilangan latar belakang: para manusia, atau makhluk serupa manusia, yang bermain jalin-menjalin dengan berbagai organ tubuh dan tumbuhan sambil mengambang di atas kekosongan.

Hilangnya latar belakang itulah lubang-lubang tempat pancaran cahaya dari si jantung terhambur ke luar.

Sosok-sosok manusia dalam berbagai ukuran. Dalam “realisme” Entang Wiharso, yang besar dan yang kecil menjadi sama-derajat. (Sementara itu, dalam karya-karya Entang yang lain, yang menampilkan kerumunan manusia, kita juga tak bisa mengenali kelas sosial, jenis kelamin atau lingkungan budaya.)

Menonjol di dinding-dinding “kuil” itu adalah banyak mata, berbagai mata, baik mata yang berlaku sebagai unsur tubuh yang masih berada pada tempat dan fungsinya maupun mata yang berdiri sendiri.

Demikianlah, dalam karya-karya Entang Wiharso, mata, jantung, lidah, usus, aneka organ tubuh muncul bersaing dengan badan keseluruhan.

Organ-organ itu bisa terbang sendiri, berdiri di atas kaki sendiri, berlaku sendiri. Dan mungkin juga, berpikir sendiri.

Dan sering kali, tubuh-tubuh manusia seakan-akan sekadar melengkapi organ-organ itu. Berbagai jeroan itu menjadi ornamen yang begitu menonjol, membuat kita tertarik-tarik oleh teror dan humor.

 

2

Kita bisa mengenali semacam evolusi sosok-sosok manusia dalam kiprah Entang Wiharso.

Pada lukisan-lukisan awalnya, tubuh-tubuh itu—atau bagian-bagian dari tubuh itu—seperti bangkit dari balik kuburan warna. Sangat terasa bahwa sosok-sosok itu bukan tujuan, namun risiko dari baluran dan torehan cat di jalan “ekspresionisme baru”.

Ketika itu pun sudah menonjol bahwa aneka wajah, kaki dan tangan sudah bisa mandiri, seperti tak memerlukan tubuh. Juga aneka mata, yang seperti melesat sendiri, seakan-akan kanvas-kanvas Entang bisa melihat sebelum dilihat para pemirsa.

Apabila tubuh-tubuh itu begitu menonjol, maka mereka tampak pipih-menyamping, seperti figur-figur wayang kulit. Dan wajah-wajah dengan mata yang membelalak itu juga sesuatu yang mengingatkan saya kepada para raksasa dan punakawan, kepada topeng-topeng Jawa dan Bali.

Tidaklah saya bermaksud menghubungkan karya-karya Entang dengan suatu warisan budaya. Si pelukis sangat jauh dari langkah-langkah harfiah untuk menghidupkan kejawaan, misalnya.

Tidaklah keliru jika kita katakan bahwa di tahun-tahun 1990-an itu Entang sedang bereaksi terhadap “dekorativisme” dan “surrealisme Yogyakarta” yang bukan hanya menampilkan acuan harfiah akan seni warisan Nusantara namun juga bertolak dari garapan yang halus, teknik realis, bertakik-takik dan cenderung pada keindahan.

Tidak keliru pula jika kita katakan bahwa Entang menyerap pengaruh dari seni dunia, misalnya dari karya-karya Jean-Michel Basquiat dan Georg Baselitz. Dan sudah pasti pula, ia melampaui aneka pengaruh ini, untuk mencapai “bentuk-bentuk di seberang apa-apa yang bisa dilihat oleh mata.”

Dan itulah bentuk-bentuk yang pada suatu kali bisa merasa nyaman dalam ketidaksempurnaan, dan pada kali yang lain harus menghancurkan kesempurnaan yang didapat. Bentuk-bentuk yang menahan diri pada suatu ketika, namun yang juga bisa sampai pada giliran untuk meledakkan diri memperlihatkan segenap isi dan jeroan.

 

3

Sosok-sosok itu tumpuk-menumpuk, jungkir balik, tanpa latar belakang. Semuanya seperti terdesak ke latar depan. Tak ada peristiwa apa pun yang mengenai mereka. Itulah yang terdapat pada kanvas-kanvas Entang Wiharso dari 1990-an.

Barangsiapa merasa nyaman dengan seni modern Indonesia (baik yang “mazhab Bandung” maupun “mazhab Yogyakarta”) pasti akan merasa terteror oleh karya-karya Entang.

Warna-warna kusam dengan selekeh merah darah di sana-sini akan membuat kita “terpaku” pada kengerian atau kesan yang setara dengan itu. Dan mungkin, lebih daripada itu, sesungguhnya kita tidak tahu tentang apakah lukisan-lukisan itu sebenarnya. Pemirsa dibiarkan mengambang.

Tubuh-tubuh setengah jadi itu mungkin mengingatkan kita kepada janin di dalam rahim, yaitu janin yang entah akan lahir ke dunia ataukah sekadar gugur sebagai segumpal daging.

Namun, sosok-sosok itu juga lahir dari mimpi buruk Entang sendiri (jika dalam kesempatan ini saya diperbolehkan menggunakan pendekatan yang agak biografis). Yaitu, mimpi buruk lantaran si pelukis harus tawar-menawar dengan ajaran yang melarang orang menggambar makhluk hidup, khususnya manusia. (Itulah ajaran yang datang dari ranah keluarga besarnya yang santri NU.)

Demikianlah, sosok-sosok ciptaan Entang terentang antara apa yang nyata dan yang tak nyata, antara ada dan yang kosong, yang murni dan yang berdosa, seperti para makhluk halus dalam dunia kejawen.

Sebagaimana kita lihat pada tahap berikutnya, sosok-sosok Entang bergerak ke arah wujud yang lebih-manusia, lebih realistik, lebih konkret mengalami teror dan kengerian. Barangkali juga untuk menjawab betapa gagalnya proyek membuat “manusia sempurna” atau “manusia seutuhnya”.

 

4

Manusia-manusia yang kita saksikan pada aneka kanvas Entang Wiharso ialah manusia yang tampak menonjol dengan kepala botak dan mata membelalak.

kalam27-nirwan dewanto-jeroan-2

Pada lukisan “Portrait in the Gold Rain” (2003), misalnya, kita melihat sepotong wajah dengan mulut menganga atau menjerit yang mengingatkan kita kepada Scream karya Edvard Munch atau karya-karya Francis Bacon. Sambil secara perlahan meninggalkan corak “ekspresionisme baru” dan membuat barik dan bentuk yang lebih tertib-terjaga, sesungguhnya Entang sedang mengupayakan tilas kekerasan dengan lebih gamblang.

Wajah-wajah jelas kini tampak lebih manusiawi (jadi, bukan lagi mengingatkan kita kepada wayang kulit, topeng atau makhluk jadi-jadian), meski sering kali juga wajah-wajah itu tampak meleleh. Ya, sesungguhnya bukan hanya “meleleh”; barangkali kita dapat mengatakan bahwa si pelukis membatalkan, mungkin membusukkan sosok-sosok ciptaannya sendiri.

Pada saat yang sama muncullah perspektif pada lukisan-lukisan Entang. Kita mengenali meja perjamuan yang memanjang ke arah cakrawala pada “Mermaid” dan “Forbidden Exotic Country” (keduanya 2005). Tapi meja-meja mahapanjang itu hanyalah interupsi bagi sosok-sosok manusia telanjang yang ada dalam berbagai perspektif, berbagai pose, tumpang tindih, dan sama sekali tak bersangkut paut dengan perjamuan.

Jelaslah wajah-wajah dan tubuh-tubuh itu tanpa identitas. Kita tak akan pernah mengenali di lingkungan geografi dan budaya mana mereka berada. Namun mereka seakan menggandakan diri dengan berbagai variasi, berbagai derajat, serta berpindah perspektif secara tak terduga.

Monotoni di atas sesekali dipecahkan oleh munculnya aneka latar depan dan latar belakang secara berdikit-dikit, misalnya saja langit, kembang mawar atau tumpukan kertas.

Mengulang-ulang, menggandakan sosok, adalah cara Entang untuk mencapai sejenis peristiwa teater. Dengan kata lain, manusia-manusia itu bukan bertindak, tapi berperan. Bukan beraksi, melainkan berakting.

 

5

Ketika memandang sebuah karya Entang, kita mungkin terbelah-belah oleh berbagai kesan. Pada saat ia seperti berbicara tentang kekerasan, kita juga mendapat apa yang ada di seberang kekerasan, misalnya saja humor. Pada saat ia hendak memberi kita keindahan, kita juga mendapat apa yang menjadi lawannya, yaitu keburukan.

Demikianlah teatrikalitas dalam karya Entang adalah jalan bagi sosok-sosok ciptaannya untuk berbagi “tanggung jawab”. Seandainya kita berkesan bahwa karya tersebut bicara tentang kekerasan, maka di sana tak ada pelaku kekerasan dan korban kekerasan.

Demikianlah teatrikalitas juga menjadi cara untuk menertawakan diri. Jika realisme sosialis menggambarkan kontradiksi kelas, maka karya Entang menggambarkan “masyarakat tanpa kelas”, yang bukan hanya kerumunan orang tanpa golongan sosial, tapi juga tanpa pakaian, tanpa geografi, tanpa asal usul budaya, tanpa gender. Dengan ini pula humor Entang juga menyentil feminisme dan berbagai aliran lain yang menyukai antagonisme dan oposisi biner.

Teatrikalitas Entang tidak berhenti di situ. Karya-karya trimatranya menampilkan “manusia seutuhnya” yang hadir dalam upacara “pamer diri” atau “pamer wajah”: sosok-sosok realistik itu jelaslah menonjol atau ditonjolkan sebagai sekadar hasil cetakan yang “dihidupkan” dengan aneka properti (misalnya, mikrofon, lampu baca, piring, televisi), dengan posisi berbaris-baris atau melingkar. Di sini monotoni hadir memuncak dengan ekspresi setiap sosok yang berpusat pada bola mata: ekspresi yang sama-merata-seragam yang kali ini menyentil ekspresionisme, aliran “jiwa tampak”, atau seni rupa yang berpihak kepada rasa dan emosi.

Tapi “ekspresi” demikian sering kali tak diperlukan lagi. Maka organ-organ tubuh meninggalkan tempatnya berpijak untuk menjadi organisme tersendiri. Dalam “Forest of Eyes” (2002) kita menyaksikan begitu banyak bola mata “duduk” mengelilingi sebuah lingkar pagar besi. Alih-alih memandang (ke arah samping) si pagar besi, bola-bola mata itu “mendongak” ke atas, ke langit tinggi.

 

6

Tentu saja saya akan keliru jika dengan “evolusi bentuk” saya maksudkan hanya perkembangan dalam satu garis lurus ke depan. Sesungguhnya Entang bisa bergerak menyamping, bercabang-cabang, bahkan melompat kembali ke belakang.

Pada saat Entang giat menggarap karya-karya instalasi tersebut di atas, ia juga menghasilkan karya-karya yang meminjam sebagian bentuk wayang kulit atau wayang klithik (tapi dengan wajah-wajah menatap ke depan). Sosok-sosoknya, alih-alih menjadi lebih realistik, kini menjelma lebih grotesk, dengan seringai punakawan atau seringai dalam berbagai lukisan Yue Min-jun.

Pada saat yang sama, ia juga seperti asyik dengan laku hias-menghias. Tapi tunggu dulu. Kita tak akan melihat ornamen biasa. Maka lihatlah: kaki-kaki tumbuh menjadi sulur-sulur bergerigi; lidah begitu panjang menjulur, menjadi jembatan antara dua kepala; umbai lebat menggelantung di leher yang terpotong. Semua itu memang hias-hiasan, jelaslah bukan untuk menghibur.

Pameran Geo-Portrait #2

Organ-organ tubuh itu melesat keluar bukan hanya untuk menyatakan kedalaman makhluk manusia, namun justru untuk menyatakan betapa datarnya si Homo sapiens, betapa kosongnya mesin nafsu yang terdiri atas onderdil-onderdil yang bisa hidup sendiri sekalipun gampang juga membusuk.

Lidah biasa mungkin membawa simbolisme tentang manusia penjilat, tapi lidah yang terjulur sangat panjang justru membuat simbolisme tersebut mubazir. Jika laku jilat-menjilat sudah menjadi kuasa dan bukan lagi alat, maka biarkanlah sang lidah menjadi jembatan, jalan raya, kobaran api atau batang pohonan.

Demikianlah, organ-organ tubuh anggitan Entang Wiharso menjadi semacam cerminan terbalik bagi daya-daya mental si makhluk manusia. Apa-apa yang menjijikkan kini tersaji bagi pemburu keindahan. Apa-apa yang hewani kini tergelar bagi para pencinta keluhuran.

Pun dengan menjadikan apa-apa yang tak senonoh itu sebagai ornamen, Entang juga sedang mencibir seni modern yang emoh kepada ornamentasi.

 

7

Semua yang saya sebut jeroan dalam tulisan ini adalah organ-organ tubuh yang meninggalkan tempatnya—tubuh makhluk manusia—dan melesat keluar untuk menonjolkan diri. Jantung, bola mata, lidah, ginjal, usus, pipa tenggorokan, otak, ari-ari. Jeroan inilah yang kita kerap saksikan pada karya-karya Entang Wiharso, paling tidak sejak pertengahan 2000-an.

Aneka jeroan itu bisa mandiri, bisa pula terikat kepada sang tubuh seraya melawannya. Tidak ada pelukis Indonesia yang begitu setia “mencintai” jeroan seperti Entang Wiharso.

Dalam kosakata hidup sehari-hari, organisme adalah sinonim untuk makhluk hidup. Dalam kosabentuk Entang, “organisme” ialah semacam aliran (yaitu -isme) perihal dan melalui organ-organ tubuh manusia. “Organisme” Entang Wiharso adalah parodi terhadap organisme dalam biologi.

Jeroan Entang bisa tetap tampak sebagai dirinya sendiri, tapi bisa malih menjadi, misalnya, kobaran api, gurita, sulur tumbuhan, lubang kunci, bola terkelupas, ayunan, pematang atau ekor lintang kemukus.

Organ-organ tubuh itu bukan hanya menjulur, tapi juga bisa meledak, meliuk, memecah, atau tumbuh melingkupi tubuh yang jadi asal-muasalnya, menghabiskan—atau menghabisi—mimpi tentang manusia sempurna atau manusia seutuhnya.

Sebagaimana akan kita lihat pada karya-karya reka-potong (cutout) aluminium Entang Wiharso yang terdapat pada, misalnya, pameran ini.

 

8

Karya-karya reka-potong aluminium (atau kuningan) Entang Wiharso ialah sejenis resolusi bagi seluruh kiprah rupa yang pernah ia tempuh.

Bayangkanlah, misalnya, ia menggambar sosok-sosoknya—manusia, jeroan, tumbuhan, aneka benda—di atas pelat aluminium raksasa. Lalu ia membuang—menggunting—seluruh latar belakang yang mungkin. Hasilnya adalah bidang berkerawang, yang didirikan buat kita. Maka yang kita lihat adalah figur-figur melulu sebagai latar depan. (Demikianlah, paragraf ini adalah analogi, dan sama sekali bukan penjelasan tentang teknik Entang dalam membuat karya-karya tersebut.)

Adapun permukaan sosok-sosok itu bisa datar belaka (yaitu kedataran bidang gambarnya sendiri), bisa juga sedikit meruang—merelief.

Karya-karya aluminium ini, oleh ukurannya maupun kilaunya, seakan-akan memutus diri dari lukisan-lukisan Entang. Sesungguhnya tidak. Seperti saya katakan tadi, ini adalah “lukisan” yang kehilangan latar belakang sekaligus kehilangan tekstur, leleran, goresan dan—tentu saja—warna cat. Lukisan yang bersih, bebas dari derau.

Kilau-kemilau logam segera saja menyatakan bahwa inilah “barang” hari ini, sementara lukisan adalah “barang” hari kemarin. Pada karya-karya reka-potong ini, mata kita akan terbawa menyusuri lekuk-liku garis, yaitu kontur-kontur tajam-tegas yang memisahkan seni dari lingkungan sekitar.

Sosok-sosoknya sendiri realistik, bagaikan sublimasi dari figur-figur dalam karya-karya trimatra Entang. Namun efek ngeri-mengerikan menipis bahkan menghilang, sejalan dengan teredamnya tatapan mata dan seringai mulut.

Karya-karya reka-potong ini memang terasa sangat mutakhir dan “industrial”. Namun, saya juga merasa Entang Wiharso melompat ke belakang dengan sangat halus, menyerap dengan cerdik khazanah warisan leluhur.

Inilah metamorfosis bentuk relief candi-candi Jawa dan wayang kulit untuk zaman budaya massa global. Sosok-sosok itu belit-membelit, hias-menghias satu sama lain, mengundang cahaya untuk menjadikan mereka permainan bayang-bayang pada dinding.

Entang Wiharso menggarisbawahi ornamentasi sebagai tulang punggung kesenian pascamodern.

 

9

Karya instalasi yang disebut pada Bagian 1 tulisan—karya yang juga boleh jadi “pusat” pameran di Galeri Salihara—ini berjudul “Temple of Hope Hit by a Bus” (Kuil Pengharapan). Tapi kita tak akan datang ke kuil buatan Entang Wiharso untuk memuja atau meletakkan sesaji.

Kuil, sebagaimana kita tahu, ialah tempat pemujaan. Dinding-dinding kuil yang kokoh melindungi apa yang ada di ruang dalam, yaitu yang suci, yang disucikan. Kekokohan ini ialah seakan-akan benteng yang menahan rembesan atau serbuan apa yang duniawi, yang profan, dari lingkungan sekitar.

“Kuil” Entang berdinding kerawang, jelas membiarkan apa yang di luar merasuk ke dalam,

Pameran Geo-Portrait #2

dan apa yang ada di dalam merayap ke luar. Bangunan ini seperti mengambang, dan hanya terikat ke bumi melalui empat kaki penyangga. Kita bisa keluar-masuk dengan cara mbrobos melalui celah lebar yang menganga di antara kaki-kakinya.

Dinding-dinding kuil Entang mengingatkan kita kepada relief candi atau fresko gereja. Tapi kesan ini hanya bersifat sementara. Dipandang lebih teliti, tampaklah sosok-sosok di sana juga datang dari kehidupan hari ini, misalnya superhero, tokoh-tokoh komik, juga teks grafiti. Figur-figur ini berakting dengan berbagai pose, jalin-menjalin di atas labirin yang terbentuk oleh sulur-sulur tumbuhan maupun jeroan yang tumbuh memanjang.

Kuil Entang adalah parodi terhadap kuil keagamaan. Atap “Kuil Pengharapan” adalah juga atap kerawang, berbagai kutipan tulisan berbagai tokoh, seperti Jalaluddin Rumi, Kahlil Gibran, Christine Cocca (yang terakhir ini adalah istri si perupa sendiri). Berbagai kutipan itu bicara tentang empati, kasih dan toleransi.

Kuil Entang ini tampak rapuh dan profan: salah satu sudutnya penyok “tertabrak bus”. Lagi-lagi si perupa menundukkan apa yang serius, yang luhur—yaitu sifat kekuilan—dengan permainan, dengan sifat main-main yang serba-mbeling. Ini adalah kuil yang asyik-masyuk dengan segala kebocorannya.

Dari dalam kuil meluncurlah cahaya yang dipancarkan sebuah lampu berbentuk jantung, jantung raksasa yang seakan belum selesai hidup, berdenyut. Lampu yang boleh jadi mengingatkan kita kepada jantung para korban sesembahan di kuil Aztec di zaman kemarin.

Dengan cerdik Entang menyajikan sebuah kuil bagi pemangsa budaya massa global, bagi hedonisme yang sering kali mengandung intoleransi, kekerasan dan etnosentrisme. Kuil pengharapan—mungkin kuil sungsang atau bahkan antikuil—bagi mereka yang gemar mengenakan topeng keagamaan.

 

10

Geo-Portrait adalah potret diri, self-portrait, yang tersamar menjadi potret-potret yang lain. Yaitu potret-potret tentang banyak lingkungan tempat si diri lebih banyak tersamar—tempat si aku menjadi sang kita.

Adapun prefiks “geo-” itu bisa bermakna “geografis”, yakni ketika Entang menjelajah permukaan bumi, bergerak horizontal melintasi berbagai lingkungan budaya; bisa juga bermakna “geologis”, yakni ketika si seniman bergerak vertikal ke kedalaman, menggali lapisan-lapisan simbolik yang membentuk topografi budaya masa kininya.

Geo-Portrait adalah judul idiosinkratik bikinan Entang sendiri, yang membuat kita tergelincir dan bertanya tentang apakah karya yang sedang kita tatap. Sudah lazim Entang Wiharso menyurung kita ke dalam permainan semantik, khususnya dalam karya-karya potret dirinya.

Misalnya dalam “Melting Family Portrait” (2008), ia melukis wajahnya sendiri dan wajah-wajah anggota keluarga intinya—bukan dalam keadaan “meleleh” namun justru “membengkak”, masing-masing wajah dengan dua mata. Adalah mata kita yang “meleleh” dengan pandangan-ganda.

Sebuah karya dalam Geo-Portrait berjudul “Fake and Real: Live Together Forever”: sebuah jambangan kembang yang—pastilah kita duga—berasal dari tabung gas, dengan kembang-kembang sintetis yang pasti tak akan pernah layu. Di tubuh jambangan terdapat relief

Pameran Geo-Portrait #2

dengan sosok-sosok yang dipungut dari khazanah tato mutakhir di Amerika Serikat.

Semua anasir dalam “Fake and Real” saling menyatakan dan memalsukan. Seperti menyindir prinsip keaslian yang kerap diuar-uarkan para pembela kebudayaan asal.

Geo-Portrait adalah sebuah parodi terhadap “budaya-budaya asli” yang terselimuti oleh budaya massa global. Patok-patok yang menandai batas-batas imajiner sebuah lingkungan budaya niscayalah seperti jambangan-tabung-gas itu, sesuatu yang palsu tapi nyata, sementara muka bumi ini sepenuhnya nyaris sudah tertutup oleh lautan global pop.

 Anak Tegal—anak yang lahir dari pasangan yang pernah berusaha warteg di Jakarta—yang ringan mendunia merenggut berbagai jatuhan budaya pop global di muka bumi sambil menggali lapisan-lapisan geologi mental warisan leluhur untuk mendapatkan aneka jeroan-riwayat itu bernama Entang Wiharso.

 

11

Terhadap susunan karya Entang Wiharso dalam pameran ini kita bisa menyusun sebuah trayek imajiner.

Kita bisa mulai dengan “Family Portrait”: sebuah potret keluarga—Entang bersama istri dan kedua anaknya—dalam pose yang lumayan idiosinkratik. Di situ, misalnya, si perupa memegang-acungkan payung yang tidak terbuka dan dua putranya menggenggam keris bersarung di dada.

Kita melangkah ke “After the Agreement”. Pada salah satu panel, tidak sulit kita mengenali bahwa sepasang lelaki-perempuan itu adalah juga sepasang orangtua yang ada dalam “Family Portrait”. Pada ketiga panel, semua sosok “dikacaukan” oleh belitan tali-temali yang boleh jadi usus atau tali pusar.

Kemudian kita sampai kepada “Crush Me”. Pada kedua panelnya, sudah jelas bahwa empat sosok itu adalah adalah juga sosok-sosok yang sama pada “Family Portrait”; juga pokok-pokok tumbuhan yang ada di latar belakang. Namun sosok lelaki dewasa pada salah satu panel telanjang sepenuhnya.

Trayek kita melewati ketiga karya adalah upaya menisbikan kejawaan dan keduniaan. Pakaian Jawa, batang-batang pisang, pagar dengan bentuk-bentuk cupu dan meru adalah penanda-penanda mengambang yang harus bersaing dengan belitan usus, tali pusar, kabel. Dan politik identitas harus juga berhadapan dengan ketelanjangan. Maka “hancurkanlah saya”—“crush me”—bermakna bahwa kau hanya bisa menghancurkan permukaan saya karena saya sesungguhnya adalah jeroan-mental yang bisa tumbuh jadi tubuh-tubuh baru di lingkungan budaya yang mana pun.

Sebelum menyeberang ke “Temple of Hope Hit by a Bus” kita lebih dulu melintasi sebuah “patok” bernama “Fake and Real: Live Together Forever” yang, sebagaimana sudah saya bicarakan di atas, mengingatkan bahwa persepsi kita menghasilkan apa yang selama ini disebut kenyataan, khususnya kenyataan budaya.

Namun persepsi yang tidak tertakar akan membuat kita buta. Maka di depan kita kini tersaji sebuah “kuil”, yaitu “kuil pengharapan”, tempat seluruh pengetahuan kita tentang kuil sebagai tempat suci dibatalkan.

Pada hari-hari ini, ketika yang sakral sering beririsan dengan fundamentalisme, ketika sebuah kuil (yaitu, ritus keagamaan) kerap membutakan para pemeluk teguh, Entang memberi kita sejenis kuil profan yang “bocor” di sana-sini, yang dinding-dindingnya punya banyak mata. Yaitu mata yang semoga bisa dipinjam oleh mereka yang jadi buta.

 

12

Jeroan kesadaran kita adalah ketidaksadaran. Kalau kita berpuas diri dengan keindahan dan kehalusan dalam seni rupa, Entang Wiharso masih akan terus menyurung kita ke dalam jeroannya, yaitu keburukan dan kekerasan. Keindahan hanyalah puncak gunung es.

Kedalaman seni rupa modern kita adalah jiwa tampak, jiwa ketok, seperti dikatakan oleh S. Sudjojono. Tetapi pengaruh jiwa tampak kemudian mentradisi, menjadi serba-indah, menjadi serba-permukaan. Karya-karya Entang Wiharso ialah jeroan tampak, parodi terhadap mazhab jiwa tampak.

Oleh seni modern, si manusia sudah terlalu banyak digarap: tubuh dan jiwanya dihabiskan—dan dihabisi. Maka kini seniman harus berani menggarap sisa-manusia. Itulah jeroannya—organ-organ yang bersoal jawab dengan tubuh yang menjadi asal muasal mereka. Itulah yang dikerjakan Entang Wiharso.

Ketika kesadaran kita mengarahkan kita kepada budaya pop global, seni rupa kontemporer menembak ketidaksadaran kita dengan menggunakan fragmen-fragmen pop. Dengan kata lain, seni rupa kontemporer menjadi sub-versi, versi bawah-tanah, jeroan, dari budaya massa. Demikianlah, Geo-Portrait #2 Entang adalah cara merobek peta bumi kesadaran itu.

Dalam Geo-Portrait #2, potret diri, self-portrait, pun ganti-berganti dengan berbagai potret lingkungan budaya yang hendak dimasuki si diri: seperti jeroan yang mencari tubuh-tubuh yang bisa menyainginya, mengasingkannya, mengadopsinya atau meremukkannya.

Geo-Portrait #2 bisa juga berarti “geologi mental”, usaha menukik ke dalam, menembus lapisan-lapisan khazanah warisan. Mungkin ia akan menemukan jeroan mental di “bawah sana”, yang lalu ia tarik ke permukaan untuk memperkaya keseniannya. Tanpa “geologi mental”, seorang seniman akan terperangkap kepada eksotika dan orientalisme. (Kita sudah bicara, misalnya, tentang karya-karya reka-potong logam Entang, yang mengingatkan kita kepada bentuk relief candi sekaligus wayang kulit.)

Memandang berbagai jeroan Entang Wiharso, saya segera terhenyak: betapa cerdiknya selama ini orang menanam benih-benih kekerasan di bawah apa-apa yang indah, yang sopan, dan yang berguna.

 

Yogyakarta-Jakarta, 14-22 September 2013

 

 


* Nirwan Dewanto adalah penyair, kurator, kritikus sastra. Buku puisinya Buli-Buli Lima Kaki (2010) dan Jantung Lebah Ratu (2008). Keduanya memenangi Khatulistiwa Literary Award. Buli-Buli Lima Kaki juga memenangi Penghargaan Badan Bahasa 2014, bersama dua buku sastra lainnya. Buku esainya Senjakala Kebudayaan (1996).

Esai ini adalah pengantar kuratorial Nirwan Dewanto untuk pameran Entang Wiharso Geo-Portrait #2, Galeri Salihara, 12 Oktober-11 November 2013.

Berbagi

- JEROAN