Belanja

KEKUASAAN, GENDER DAN HUBUNGAN PRODUKSI: Perspektif Tetralogi Pulau Buru

I

Empat novel Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer dapat dinikmati dengan beberapa cara baca, karena karya-karya itu menampilkan suasana awal munculnya kesadaran kebangsaan di Hindia Belanda, dengan berbagai faset persoalan yang sama menariknya. Di sini akan diterapkan tiga cara membaca yaitu 1) Melihat keempat novel itu sebagai narasi tentang kehilangan yang harus ditanggung setelah suatu perjuangan panjang dan getir; 2) Membacanya sebagai cerita tentang hubungan antara lelaki dan perempuan dengan simpati besar terhadap peranan perempuan; 3) Meninjaunya sebagai lukisan tentang peranan hubungan produksi dalam perubahan masyarakat, khususnya dalam usaha emansipasi orang terjajah terhadap pihak penjajah, dan emansipasi perempuan terhadap dominasi laki-laki.

Jilid I Bumi Manusia (selanjutnya akan disingkat BM) telah ditutup dengan kisah Nyai Ontosoroh kehilangan anak perempuannya, Annelies, yang harus dibawa ke negeri Belanda untuk ditempatkan di bawah perwalian Nyonya Amalia Mellema-Hammers sebagai istri sah Herman Mellema, setelah yang terakhir ini meninggal, dengan meninggalkan dua orang anak dari pergundikannya dengan Nyai Ontosoroh. Kehilangan yang  sama menimpa siswa HBS Surabaya bernama Minke, anak bupati kota B, yang diterima oleh Nyai Ontosoroh untuk tinggal di Boerderij Buitenzorg di Wonokromo, sebagai teman dan kekasih Annelies, dan seterusnya dinikahkan dengan Annelies, setelah dia lulus dari HBS Surabaya sebagai lulusan terbaik di kota itu. Ini juga cerita tentang Nyai Ontosoroh yang kehilangan kedua orangtuanya, yang tidak diakuinya lagi dan tidak pernah dijumpainya lagi dengan sengaja, setelah ayahnya yang ingin naik pangkat menyerahkannya kepada Herman Mellema, yang ketika itu menjadi administratur pabrik gula di Tulangan, Jawa Timur. Masih ada satu kehilangan lagi yang dialami Nyai Ontosoroh, yaitu kehilangan Tuannya, Herman Mellema, yang kedapatan mati mabuk di rumah bordil Kebun Jepun, milik seorang Cina.

Jilid II Anak Semua Bangsa (selanjutnya disingkat ASB) ditutup dengan dirampasnya perkebunan dan pabrik susu Boerderij Buitenzorg oleh anak Herman Mellema dari istri sah. Anak ini bernama Ir. Maurits Mellema, pahlawan perang Belanda melawan Inggris di Afrika Selatan, yang datang ke Hindia Belanda karena mendapat penugasan untuk membangun pelabuhan laut di Surabaya sebagai pangkalan Angkatan Laut Hindia Belanda. Perusahaan seluas 180 ha (belum termasuk sawah, ladang, hutan dan semak) yang telah turut dikelola oleh Nyai Ontosoroh selama 20 tahun, harus diserahkan ke Maurits Mellema sebagai ahli waris yang sah, sementara Nyai Ontosoroh sebagai gundik yang tidak dilindungi hukum Belanda, tidak mendapat sesuatu pun, dan harus pindah ke rumah bambu di Wonocolo, dan mulai membangun perusahaan baru di sana dengan modal uang tabungannya selama bekerja 20 tahun di Boerderij Buitenzorg. Dalam pada itu Nyai Ontosoroh sebagai gundik kehilangan dua orang anaknya, yaitu Annelies, yang akhirnya meninggal di Rumah Sakit Huizen, Belanda, karena menolak makan dan kehilangan gairah hidup, dan Robert Mellema abang Annelies, yang berlayar dengan kapal Inggris dan meninggal karena sifilis di Los Angeles. Sebelum berlayar Robert rupanya menjalin asmara gelap dengan seorang perempuan muda pemerah susu bernama Minem, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Rono Mellema. Sementara itu di tempat lain para petani kehilangan tanah yang diambil paksa oleh pihak perkebunan tebu. Seorang petani bernama Trunodongso yang mencoba mempertahankan tanahnya, mendapat luka-luka berat dan bersama keluarganya mencari perlindungan ke Boerderij Buitenzorg. Di Surabaya Minke kehilangan sahabatnya Khouw Ah Soe, seorang aktivis Angkatan Muda Tiongkok, lulusan Sekolah Menengah berbahasa Inggris di Shanghai, yang menyelundup ke Hindia Belanda untuk memperjuangkan berakhirnya kekaisaran Cina, dan mati terbunuh oleh gerombolan teror di Surabaya yang dikenal sebagai Gerombolan Thong.

Jilid III Jejak Langkah (seterusnya disingkat JL) bercerita tentang banyak kehilangan. Minke kehilangan kesempatan menjadi dokter Jawa di STOVIA Betawi, karena menulis resep buat kekasihnya yang sakit payah, meskipun dia belum menjadi dokter. Dia harus mengembalikan beasiswa selama empat tahun sebesar 4 x 12 x f40. Dengan bantuan Nyai Ontosoroh utang itu dapat dilunasi, tetapi Minke harus kehilangan istrinya yang kedua, Ang San Mei, seorang gadis muda, guru bahasa Inggris di Sekolah Tionghoa di daerah Kota, yang menyelundup ke Hindia Belanda, menyebarkan cita-cita perjuangan Angkatan Muda Tiongkok, dan meninggal karena menderita ascites dan uremi. Mei adalah tunangan Khouw Ah Soe yang mati terbunuh di Surabaya. Kehilangan terbesar tentulah pembuangan Minke ke Ambon, karena koran Medan yang dipimpinnya menerbitkan tulisan Marko yang mengandung kritik keras atas perjalanan Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg ke Rembang, untuk melayat Bupati Rembang, suami R.A. Kartini, yang meninggal dunia, dengan rombongan yang amat besar. Sekitar 80 taksi di Bandung, Buitenzorg dan Betawi dicarter untuk perjalanan ini. Setelah Minke dibuang segala harta kekayaannya dibekukan oleh pemerintah dan pengadilan: rumahnya di Buitenzorg, percetakan, Hotel “Medan” di Betawi dan toko alat tulis serta semua uangnya yang ada di bank. Pembuangan ini menyebabkan Minke juga kehilangan istrinya yang ketiga, seorang puteri raja Maluku, yang dipaksa kembali ke Maluku setelah Minke dibuang.

Jilid VI Rumah Kaca (seterusnya disingkat RK) bercerita tentang seorang intelektual dan pejabat tinggi asal Menado, yang diambil anak oleh seorang apoteker Prancis. Menamatkan sekolah menengah di Lyon, dia kemudian belajar dua tahun di Universitas Sorbonne, dan selanjutnya mengikuti pendidikan di Sekolah Tinggi Kepolisian hingga tamat. Sebagai Ajung Komisaris dia ditugaskan mengamati dan mengawasi Minke, dan kemudian menghantar Minke ke tempat pembuangan di Ambon. Setelah diangkat sebagai pejabat tinggi di Algemeene Secretarie atau Kantor Gubernur Jenderal di Buitenzorg, dia diangkat menjadi tenaga ahli untuk urusan pribumi yang harus mengawasi kegiatan organisasi-organisasi pribumi yang bermunculan. Hidup tokoh kita ini yang bernama Pangemanann adalah tegangan dan tarik-menarik antara nurani intelektualnya yang membenarkan sikap dan tindakan Minke dan tokoh-tokoh kebangkitan nasional  lainnya seperti Tjokro, Marko, Wardi dan Siti Soendari, dan kewajibannya sebagai pejabat kolonial untuk mengawasi dan membatasi sepak-terjang mereka agar tidak membahayakan kekuasaan kolonial. Pada akhirnya Pangemanann ditugaskan menjemput Minke yang kembali dari pembuangannya, dan mengantarnya dari Surabaya ke Betawi. Dalam menjalankan tugasnya mengawasi gerakan pribumi Pangemanann menggunakan juga cara-cara di luar hukum, dengan mempekerjakan orang-orang yang bisa melakukan kekerasan terhadap Minke dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya, dengan ketentuan bahwa bahwa teror tersebut dilaksanakan atas prakarsa dan risiko pribadi dari mereka yang melakukannya. Kalau berhasil, mereka dibayar. Kalau mereka terluka atau mati, pemerintah dianggap tak tahu-menahu tentang tindakan mereka. Minke akhirnya meninggal di Betawi karena dokter Jerman yang harus mengobatinya dilarang dengan ancaman oleh kaki tangan Pangemanann untuk membantu menyembuhkannya. Konflik batin dalam tugas ini menyebabkan Pangemanann sering tidak mempedulikan keluarganya. Istrinya Paulette akhirnya tidak tahan, dan minta pulang ke Prancis dengan membawa dua anaknya yang masih tinggal bersama mereka. Ketika Nyai Ontosoroh kembali dari Paris ke Betawi untuk menengok Minke, setelah mendengar menantunya ini dipulangkan dari pembuangannya, Pangemanann harus mengantar Minke ke kuburnya, dengan nisan yang telah ditutup oleh ter hitam. Pangemanann kehilangan keluarga dan kehilangan kepercayaan dirinya sebagai seorang terpelajar, Minke kehilangan segala milik bahkan hidupnya sendiri, dan Nyai kehilangan bekas menantu, yang selalu mendapat bantuannya dalam segala kesulitan.

Semua kehilangan ini disebabkan oleh kekuatan obyektif sejarah yang tak dapat dilawan, meskipun orang-orang yang mengalaminya berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyerah dan dapat mengikuti pilihan hidup mereka sebagai manusia bebas. Tragis bahwa kebebasan yang menjadi dambaan Minke harus ditebus dengan kematiannya, dan kebebasan yang selalu didengar dan dibaca oleh Nyai Ontosoroh hanya dapat dialaminya dengan meninggalkan Hindia Belanda dan pindah ke Prancis, ke negeri suaminya, Jean Marais, yang kemudan mengubah namanya menjadi Jean Le Boucq. Kehilangan menjadi representasi dari tak terlawankannya kekuatan sejarah, dan tegarnya subyektivitas manusia yang tidak bisa ditundukkan begitu saja oleh kekuatan-kekuatan yang berada di luar dirinya.

II

Dalam perspektif kedua kita akan melihat peranan yang dimainkan oleh tokoh lelaki dan perempuan. Bintang dalam BM tentulah Nyai Ontosoroh atau Sanikem, yang diserahkan oleh ayahnya Sastrotomo ke administratur pabrik gula Tulangan untuk dijadikan gundiknya. Akan tetapi Sanikem tidak mau menyia-nyiakan hidupnya. Dia belajar bahasa Belanda sampai mahir menggunakannya secara lisan dan tertulis, belajar mengurus rumah dan mengelola perusahaan susu, belajar pembukuan dan korespondensi dagang, sampai akhirnya dia bisa berdiri sendiri dan tidak tergantung kepada tuannya. Sebaliknya, tuannya Herman Mellema, mungkin seorang administratur yang baik, tetapi seorang pribadi yang lemah. Dia tak sanggup melindungi Sanikem dan kedua anaknya dari cercaan dan tuntutan hukum Ir Maurits Mellema, anaknya dari istrinya yang sah di negeri Belanda. Herman Mellema kemudian tidak lagi berminat mengurus perusahaan, meninggalkan rumah secara tidak teratur, minum mabuk, jadi langganan tetap rumah bordil Kebun Jepun milik seorang Cina dan akhirnya mati mabuk di rumah bordil tersebut. Robert Mellema, anak Herman Mellema dengan Sanikem, jebol dari HBS, kerjanya menganggur dan berburu, dan ternyata melakukan kejahatan incest dengan memperkosa adiknya sendiri, pergi berlayar dengan kapal Inggris, dan mati kena sifilis di Los Angeles.

Bintang lainnya yang tak kurang gemerlapan adalah Bunda, ibu Minke, istri bupati Kota B. Perempuan ini hanya mengenal nilai-nilai kebudayaan Jawa, dan merasa nilai-nilai itu mencukupi bagi kebutuhannya, dan yang dicoba diteruskannya kepada Minke anaknya. Berlainan dengan ayah Minke sebagai priyayi yang haus jabatan, Bunda selalu mencoba memahami anaknya yang tidak ingin menjadi bupati dan hanya mau menjadi manusia bebas, meskipun cita-cita anaknya ini sangat jauh dari pengertiannya. Bunda tampil sebagai antitesis yang sama kuatnya untuk Sanikem. Boleh dikata Sanikem adalah tokoh yang mendendam kepada orangtua, mendendam kepada masa lalu dan kebudayaan Jawa yang telah membuangnya, dan kemudian berusaha memanfaatkan segala apa yang ada di sekitarnya untuk menjadi dirinya sendiri. Dia terjepit di antara kebudayaan Jawa yang telah membuangnya sebagai sebutir telor yang pecah dan hukum kolonial yang telah merampas anaknya Annelies, tanpa mempedulikan jerih payahnya melahirkan, mengasuh dan membesarkan anaknya itu. Bunda, sebaliknya, menjadi tokoh yang menyimpan kedamaian utuh dalam dirinya, karena keyakinan penuh bahwa kewajiban dalam hidup adalah menghormati atasan, menjunjung tinggi yang berkuasa, dan tunduk kepada mereka yang lebih tinggi kedudukannya, Jawa atau Belanda.

Minke tampil sebagai seorang pemuda yang terombang-ambing di antara berbagai gelombang pengaruh yang datang padanya. Dia menolak kebudayaan Jawa yang hanya menghargai orang karena status dan jabatan. Dia terpukau pada cita-cita Revolusi Prancis yang dibacanya dan dipelajarinya di sekolah. Kebebasan, persaudaraan dan persamaan adalah nilai-nilai yang amat menarik hatinya. Dalam pada itu dia seakan terjebak dalam kehidupan seorang nyai, dengan nilai-nilai yang belum pernah dikenalnya. Dia bergaul dengan pelukis Prancis, Jean Marais, seorang veteran Perang Aceh, yang hidup dalam kesunyian dengan anak perempuannya, yang dilahirkan oleh seorang perempuan Aceh, dan tidak ingin tampil dalam kehidupan umum, karena cacat tubuhnya, akibat kehilangan satu kakinya dalam pertempuran. Tokoh perempuan yang banyak memberi motivasi kepada Minke ialah guru sastra Belanda, Magda Peters, yang kemudian harus kembali ke Belanda, karena pandangan politiknya tidak berkenan pada pemerintah Hindia Belanda.

Dalam ASB perempuan-perempuan dilukiskan kandas dalam nasib dan perjuangan mereka, tetapi memperlihatkan ikhtiar mereka untuk tidak kalah seluruhnya, dan tidak kehilangan segala sesuatu yang ada pada mereka. Nyai Ontosoroh kehilangan perusahaan dan pabrik susu, tetapi dia tidak menjadi terlunta-lunta. Dengan uang tabungannya yang sudah mencapai belasan ribu gulden, dia pindah ke Wonocolo, mendirikan sebuah rumah bambu dan mulai membangun perusahaannya yang baru di sana dengan sukses. Guru sastra Belanda di HBS Surabaya, Magda Peters, harus kembali ke Belanda atas kehendak pemerintah Hindia Belanda. Tetapi dia tidak kehilangan semuaya, karena seorang muridnya, dengan nama pena Max Tollenaar, mulai mengumumkan tulisan-tulisannya dalam bahasa Belanda yang indah, dan kemudian berkembang menjadi penulis dan wartawan yang berhasil. Surati keponakan Sanikem, anak abangnya Paiman, diserahkan oleh ayahnya menjadi gundik administratur pabrik gula, pengganti Herman Mellema, karena ingin mendapat jabatan lebih tinggi. Surati tidak dapat membantah kehendak ayahnya, tetapi minta izin untuk tirakat sebelum menyerahkan dirinya kepada Tuan Besar administratur pabrik gula. Dalam tirakat itu dia berjalan memasuki desa yang  tertular cacar ketika wabah cacar menyerang desa-desa sekitar Tulangan. Semalam suntuk dia membiarkan dirinya diserang cacar, dan pagi harinya dia datang sendiri ke Tuan Vlekkenbaaij untuk menyerahkan dirinya. Administratur itu segera mati karena cacar, Surati dapat diluputkan dan dibawa kembali ke rumah orangtuanya dengan muka penuh bopeng.

Sebaliknya, hampir semua tokoh laki-laki dalam ASB adalah tokoh yang lemah. Paiman, abang Sanikem, adalah pemburu jabatan seperti ayah mereka, yang tak sanggup melindungi anak perempuannya dari keinginan dan nafsu administratur pabrik gula. Kommer, penulis berbahasa Melayu, gagal mencuri hati Nyai Ontosoroh, meskipun dia sahabat dan pembela setia Minke. Vlekkenbaaij  administratur pabrik gula, tak berbeda dengan pendahulunya, mengambil gadis anak pegawainya untuk dijadikan gundik. Sementara itu wartawan Marteen Nijman, yang semula amat dihormati Minke dan banyak diminta nasihatnya, ternyata seorang Indo, yang menjadi anggota pimpinan cabang Indische Bond, yaitu persatuan perusahaan gula di Jawa. Nijman mencegah niat Minke untuk membela petani Trunodongso yang tanahnya dirampas oleh perkebunan tebu, dan mencoba mempertahankan tanah miliknya. Tidak terkecuali Gubernur Jenderal Willem Roseboom, yang amat ketakutan dengan kunjungan Putera Mahkota Rusia yang bersama armadanya mampir ke Betawi dalam perjalanan ke Port Arthur. Setelah tahu bahwa putera mahkota gemar berburu, Gubernur Jenderal  memerintahkan tangkap sejumlah besar rusa di istana Buitenzorg untuk dilepas di hutan-hutan dekat Priok, tempat putera mahkota berburu. Alhasil, putera mahkota merasa amat tersanjung oleh pujian orang karena dia dapat menembak mati tiga ekor rusa, yang memang jinak. Demikian pun dalam penyerahan Boerderji Buitenzorg ke Ir. Maurits Mellema, akuntan De Visch, tidak dapat menyelamatkan perusahaan karena hanya sibuk memikirkan honornya dalam tawar-menawar yang keras dengan Nyai Ontosoroh.

Dalam JL perempuan-perempuan yang tampil adalah Ibu Badrun, Bunda, Ang San Mei, R.A. Kartini, Dewi Sartika, wartawan Marie van Zeggelen, dan Prinses van Kasiruta yang bernama asli Prinses Dede Maria Futimma de Souza. Barisan srikandi ini berhadapan dengan sejumlah besar laki-laki. Di pihak pemerintah ada Gubernur Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz dan Gubernur Jenderal Idenburg. Di kalangan tokoh politik ada Ir. H.van Kollewijn anggota Tweede Kamer dari golongan radikal dan Ter Haar wartawan koran De Locomotief di Semarang yang bersimpati dengan perjuangan pribumi. Ada pula Mr. Aberon, direktur pendidikan Hindia Belanda. Dari pihak pribumi muncl tokoh-tokoh pergerakan seperti Minke, pemimpin mingguanMedan dan pemimpin Sjarikat Dagang Islam, ada dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dari Dewan Pimpinan Boedi Moeljo. Dari kalangan agama Islam ada Sjech Ahmad Badjened, guru agama Minke. Dari kalangan Indo ada Hadji Moeloek dan Douwager, dan dari kalangan nasionalis muncul Wardi, Marko dan Sandiman. Priyayi lama diwakili oleh Achmad Djajadiningrat, bupati Serang, dan priyayi baru diwakili oleh dr Sadikoen, dokter di Kroya dan anggota pimpinan Boedi Oetomo cabang Kroya. Pribumi yang bekerja pada pemerintah Hindia Belanda diwakili oleh Thamrin Mohamad Thabrie, wedana Manggabesar, yang bersimpati dengan kebangkitan nasional, dan kemudian mengundurkan diri sebagai wedana, karena ingin mendukung Sjarikat Dagang Islam. Raja-raja lokal yang menentang ketundukan kepada Belanda diwakili oleh ayah Prinses van Kasiruta dari Maluku yang dibuang ke Sukabumi, Raja Klungkung I Dewa Agoeng Djambe bersama Mahapatihnya I Goesti Agung Djelantik yang memerintahkan rakyatnya melawan pasukan pendudukan Belanda dengan Perang Puputan pada 1904, meski pun sebelumnya Kerajaan Buleleng dihasut oleh Kompeni untuk melepaskan diri dari Klungkung.

Ang San Mei adalah gadis pelarian dari Cina daratan, lulusan Sekolah Guru di Shanghai, dididik dalam biara Katolik sejak kecil, fasih berbahasa Inggris dan Prancis, dan kemudian menggabungkan diri dengan Angkatan Muda Tiongkok untuk mengakhiri kekuasaan kaisarina Ye Si. Dia masuk secara gelap ke Hindia Belanda untuk memprogandakan cita-cita Angkatan Muda Tiongkok, bersama sejumlah pemuda, antara lain, Khouw Ah Soe yang beroperasi di Surabaya, dan pernah mendapat perlindungan di Boerderij Buitenzorg, menjadi teman Minke, kemudian kedapatan mati terbunuh di Surabaya. Khouw Ah Soe ternyata tunangan Ang San Mei. Gadis ini menyamar sebagai guru bahasa Inggris di sebuah sekolah Tionghoa di daerah Kota. Dipecat dari sekolahnya karena ketahuan berhubung dengan seorang pribumi siswa STOVIA bernama Minke. Dengan bantuan Minke dia berhubungan surat-menyurat dengan Kartini di Jepara. Setelah dipecat dari sekolahnya, Mei dititipkan oleh Minke di rumah Ibu Badrun, yang menjadi tempat Minke mampir setiap akhir pekan. Keduanya mengunjungi orangtua Minke di kota B, mendapat restu Bunda, kemudian menikah di kota Bandung, setelah sempat mengunjungi Kartini di Jepara. Dialah yang selalu mengajurkan kepada Minke untuk memberi perhatian kepada organisasi. Kehidupan organisasi ini menyebabkan bahwa hanya beberapa bulan setelah menikah dan tinggal di rumah Ibu Badrun bersama Minke, dia minta izin kepada suaminya untuk pergi setiap malam ke tempat yang dirahasiakannya, bertemu dengan pemuda-pemuda yang tak dikenal oleh Minke, untuk urusan yang tak pernah diceritakannya. Mei hanya menjanjikan kesetiaan kepada Minke dan minta diperkenankan oleh suaminya untuk boleh bekerja beberapa bulan untuk Tiongkok tanah airnya. Kehidupan yang keras dan tak teratur selama beberapa bulan, udara malam, dan paksaan kerja, menyebabkan kesehatannya terus merosot dan akhirnya meninggal karena sakit ascites dan uremi.

Ibu Badrun adalah seorang janda yang tidak lagi muda dengan seorang anak perempuan. Rumahnya menjadi rumah keluarga untuk Minke pada tiap akhir pekan. Menjadi kebiasaan anak-anak STOVIA untuk mencari salah satu keluarga di daerah Kwitang, tempat mereka mampir pada akhir pekan, untuk mengganti seragam sekolah dengan baju Eropa, dan berjalan-jalan di kota sampai sore hari. Minke memilih Ibu Badrun sebagai keluarganya. Kalau Bunda dari kota B hendak menengok anaknya, Bunda juga menginap di rumah Ibu Badrun. Kesulitan besar menimpa Ibu Badrun ketika Ang San Mei setelah menikah dengan Minke, pergi setiap malam entah ke mana dan pulang ke rumah menjelang pagi. Sebagai keluarga baik-baik si Ibu ini khawatir  bahwa perilaku Mei akan menjadi gunjingan tetangga dan dia akan dipersalahkan karena menerima perempuan nakal dalam rumahnya. Ibu Badrun akhirnya dapat diyakinkan oleh Minke yang berjanji bahwa dirinya sendiri menjadi jaminan kesetiaan istrinya, dan kalau terbukti bahwa Mei melakukan perbuatan yang tak patut, maka Minke sendiri akan mengusirnya dengan hina.

Bunda tetap memainkan peranannya sebagai ibu yang tak pernah menarik kembali cintanya untuk anaknya, meskipun cita-cita, keinginan dan sepak-terjang anaknya sering amat membingungkan dia dan asing bagi pengertiannya. Dia tertegun mendengar niat Minke membela para petani. Menurut Bunda, mengapa petani harus dibela padahal tugas mereka hanyalah tunduk pada perintah pembesar. Untuk itulah pembesar ada. Dalam cerita wayang tak pernah disinggung-singgung tentang petani. Yang ada dalam wayang hanyalah para raja dan pangeran. Dia pun heran bahwa anaknya tak menginginkan jabatan bupati, yang menjadi impian tiap priyayi dan orang bersekolah tinggi. Ketika dia menerangkan bahwa tindakan Minke dapat membahayakan kedudukan ayahnya sebagai bupati, Minke menjawab, “Tidak ada hubungannya dengan sahaya, Bunda. Kalau Ayahanda dipecat bukanlah karena sahaya. Bukan” (Jl, 488). Semua konflik batin itu tak sedikit pun mengurangi rasa sayang kepada anaknya. Berbagai pertentangan yang dihadapinya menjelma sebagai coincidentia oppositorum, koinsidensi dari hal-hal yang bertentangan dan keselarasan berbagai kontradiksi. Dia begitu mengagungkan nilai-nilai Jawa tetapi tidak terkejut ketika Minke mengajukan niatnya untuk menikahi Ang San Mei dari Cina. Bunda berkata, “Raja-raja nenek-moyangmu dulu selalu bermimpi dapat memperistri putri Cina atau juga putri Campa sebagai kehormatan. Tapi mereka tak pernah Paramesywari,” (JL, 107).

Nyai Ontosoroh sebagai bekas menantu Minke selalu tampil sebagai tangan yang mengulurkan bantuan kalau Minke mengalami kesulitan keuangan. Dia akhirnya menikah dengan pelukis Prancis Jean Marais dan melahirkan seorang anak bernama Jeanette Marais. Setelah menikah Jean Marais mengganti namanya menjadi Jean Le Boucq dan Nyai Ontosoroh menjadi Madame Le Boucq. Mereka pindah ke Prancis dan menjadi warga negara Prancis karena Nyai Ontosoroh ingin membuktikan sendiri bahwa di dunia ini ada negeri di mana kebebasan tiap orang dihormati.

Prinses van Kasiruta adalah anak perempuan seorang raja Maluku yang dibuang ke Sukabumi. Dia mengikuti kursus persamaan MULO selama dua tahun di Bandung. Bisa bicara Belanda, Melayu dan sedikit Sunda. Dia menjadi pembantu mingguan Medan yang dipimpin oleh Minke, dan kemudian menjadi istri Minke yang ketiga. Dia ternyata pandai berkelahi, sanggup menggunakan senjata api dengan baik dan menembak para penyerang Minke di Bandung tanpa Minke sendiri mengetahuinya.

Kalau tokoh-tokoh perempuan ditampilkan sebagai representasi sifat-sifat manusia dan sifat kebudayaan, maka tokoh laki-laki muncul sebagai representasi sifat-sifat kekuasaan. Gubernur Jenderal van Heutsz yang mempunyai hubungan erat dengan Minke dikenal sebagai penakluk Aceh yang kemudian menuntut ketaklukan daerah-daerah yang belum tunduk kepada kekuasaan Gubernur Jenderal. Tuntutan itu disampaikannya melalui maklumat Korte Verklaring. Idenburg pengganti van Heutsz hanya memperhatikan orang sebagai pejabat dan bukan sebagai manusia. Para nasionalis di Hindia Belanda mendirikan organisasi-organisasi pribumi yang mempersatukan kekuatan pribumi dalam berhadapan dengan kekuatan kolonial. Tokoh agama seperti Sjech Achmad Badjened menjadi otak  yang berada di balik gerakan pedagang keturunan Arab yang melakukan boikot terhadap usaha-usaha perdagangan Belanda dan pribumi non-Arab. Ini menimbulkan kesulitan kelompok pribumi lainnya, meskipun mereka sama-sama anggota Sjarikat Dagang Islam. Hadji Moeloek mencoba memperkenalkan sumbangan kelompok Indo kepada perubahan budaya di Hindia Belanda, tetapi Robert Suurhof, Indo yang menjadi teman kelas Minke di HBS Surabaya, memimpin berbagai gerakan teror di Betawi untuk mengintimidasi  setiap gerakan pribumi, khususnya sepak-terjang Minke. Wajah kemanusiaan dan wajah kebudayaan pada tokoh-tokoh perempuan berhadapan dengan wajah kekuasaan pada tokoh laki-laki.

Dalam RK peranan utama dimainkan oleh Jacques Pangemanann, yang mendapat pendidikan menengah dan pendidikan tinggi di Lyon dan Paris. Dia menjadi pejabat tinggi di kantor Gubernur Jenderal dan menempati rumah Minke di Buitenzorg, setelah pengadilan membekukan segala harta kekayaan Minke setelah dia dibuang. Dilihat dari perspektif hubungan lelaki-perempuan maka Pangemanann dalam tugasnya mengawasi kegiatan pribumi berhadapan dengan empat orang perempuan yaitu Paulette Pangemanann, Prinses van Kasiruta, Siti Soendari sebagai bintang yang muncul di langit nasional setelah Kartini dan Nyai Ontosoroh sebagai bekas mertua yang tetap mengikuti perkembangan bekas menantunya, Minke.

Paulette adalah perempuan Prancis yang dinikahi Pangemanann di Prancis dan kemudian memutuskan mengikuti suaminya pindah ke Hindia Belanda. Perkawinan mereka memberi mereka empat orang anak. Paulette adalah istri yang penuh pengabdian, mengatur rumah tangga dengan rapi dan tertib, dan mencintai anak-anak dan suaminya dengan sepenuh hati. Keinginannya untuk cuti ke Prancis bersama suami dan anak-anak tidak terpenuhi, karena Eropa sedang terlibat Perang Dunia I yang bermula di Sarajevo. Selain itu, promosi suaminya menjadi tenaga ahli urusan pribumi di Algemeene Secretarie memberinya amat banyak pekerjaan yang tak dapat ditunda. Nasihat-nasihat Pangemanann sebagai tenaga ahli dibutuhkan oleh Gubernur Jenderal setiap saat, khususnya menyangkut gerakan pribumi.

Konflik batin yang dialami Pangemanann antara nurani intelektualnya yang menghargai kebebasan dan sikap merdeka seseorang dan kewajibannya sebagai tenaga ahli kolonial yang harus mengawasi tiap gerakan dalam organisasi pribumi membuatnya sering kali hilang keseimbangan dan menjadi nervous. Keadaan ini tambah diperberat oleh beban pekerjaan yang semakin hari semakin menumpuk, karena atasannya rupanya menyerahkan semua urusan kepada dia. Ketegangan batin ini membuatnya semakin hari semakin acuh terhadap keluarganya, apalagi setelah dia dengan sia-sia berusaha menenangkan dirinya dengan minuman keras atau mencari pelarian pada wanita hiburan. Sikapnya yang semakin aneh terhadap keluarga dan perilakunervous yang semakin memburuk akhirnya membuat Paulette mengambil sikap. Istrinya memutuskan kembali ke Prancis bersama anak-anak, karena merasa suaminya tak membutuhkan bantuan dan kehadiran dirinya lagi.

Prinses van Kasiruta sebagai istri ketiga dari Minke selalu siap membantu Minke dalam pekerjaan dan siap juga melindungi keselamatan suaminya. Sebagai tenaga ahli urusan pribumi Pangemanann berusaha dengan segala cara mengawasi dan membatasi sepak-terjang Minke yang semakin hari semakin berpengaruh karena pelayanan kepada pembaca yang diberikan melalui koran mingguan Medan. Pangemanann akhirnya terpaksa mengandalkan bantuan orang-orang yang bersedia melakukan teror dan intimidasi. Robert Suurhof sebagai tenaga yang disiapkan kepolisian untuk digunakan atas cara di luar hukum, mendapat instruksi dari Pangemanann untuk menyerang Minke di Bandung pada hari yang sudah ditentukan. Sudah ditetapkan pula warna baju yang harus dikenakan, serta hari dan jam penyerangan dilakukan. Gerombolan Suurhof diminta mencederai Minke tanpa membahayakan hidupnya. Setelah instruksi diberikan Pangemanann merasa Minke tak seharusnya dicederai dengan cara sebagaimana direncanakan. Dia lalu mengirim surat kaleng kepada Prinses van Kasiruta tentang rencana penyerangan itu, tentang waktu dan tempat penyerangan dan warna baju yang akan dikenakan oleh para penyerang.

Oleh Prinses surat kaleng itu tidak diperlihatkan kepada Minke, tetapi secara rahasia Prinses mengajak Sandiman dan Marko pembantu Minke untuk menyiapkan aksi penyelamatan. Pada hari dan jam kejadian para pelaku teror sudah mengepung Minke yang sedang makan sate di sebuah warung di Bandung bersama Pangemanann. Tiba-tiba lewat seorang perempuan muda dengan payung hitam, lalu terdengar  letusan tembakan revolver. Seorang tersungkur mati, dan Robert Suurhof sendiri terbaring tak berdaya dengan sebilah pisau terhunjam di perutnya. Belakangan Minke tahu bahwa aksi itu dilakukan oleh Prinses, Marko dan Sandiman, meskipun ketika ditanya Prinses mengelak menjawab. Ketika Minke terus mendesak, Prinses akhirnya menjawab: “Ah kau Mas, menikahi wanita Kasiruta tapi tak tahu wataknya”. “Bagaimana watak wanita Kasiruta?” “Dia akan bunuh suami durhaka. Dan dia akan bunuh pendurhaka suami yang dicintainya” (JL, 522).

Setelah Pangemanann tinggal di rumah Minke dan Prinses, tiap sore dia melihat dua perempuan tarik-menarik mendekati rumahnya. Dengan teropong dia melihat bahwa keduanya adalah Prinses van Kasiruta dan Piah pembantunya. Dia tahu bahwa Prinses ingin berhadapan dengannya dan ingin berdebat dengannya tentang kepemilikan rumah itu. ia menelepon polisi istana yang kemudian datang dan menyeret pergi kedua perempuan itu dengan kasar. Paulette istrinya melihat itu dan tersinggung hatinya. Dia berkata kepada Pangemanann bahwa tindakan itu amat berlebihan dan tidak patut. Kalau di Prancis dia bertindak seperti itu maka seluruh masyarakat akan mengutuknya. Prinses kehilangan rumahnya yang penuh ketenangan, tetapi Pangemanann kehilangan martabatnya sebagai laki-laki terpelajar.

Siti Soendari adalah perempuan yang menjadi obyek pengamatan Pangemanann pada masa Tjokro mulai mengambil alih pimpinan Sjarikat Dagang Islam. Dia lahir dari sebuah keluarga priyayi terpelajar. Ayahnya pernah mengikuti pendidikan dokter Jawa di STOVIA tetapi tak selesai, dan kemudian bekerja sebagai kepala pegadaian di Pemalang. Siti Soendari dibesarkan ayahnya sebagai orangtua tunggal  karena ibunya meninggal ketika dia masih amat kecil. Pendidikan terakhirnya adalah HBS Semarang, sedangkan abangnya melanjutkan studi di Hoge Handelschool di Rotterdam. Setelah tamat HBS Siti Soendari mengajar SD berbahasa Belanda di Pacitan. Pada hari-hari tertentu dia membawa murid-muridnya keluar kelas dan belajar di alam bebas. Menurut dia, murid-murid harus mengenal alam tempat mereka hidup karena di situlah tanah air mereka. Selain mengajar dia menghadiri pertemuan-pertemuan politik, menjadi propagandis Insulinde dan menulis artikel-artikel politik di surat kabar dengan inisial SS. Dia diawasi oleh gubernemen, tulisan-tulisannya dipelajari oleh Pangemanann, yang berusaha mempertahankan sikapnya bahwa Siti Soendari tidak boleh ditangkap hanya karena punya pandangan yang berbeda dari pandangan pemerintah kolonial. Berita atau desas-desus bahwa dia diawasi oleh gubernemen menimbulkan ketakutan pada pimpinan sekolah tempatnya mengajar. Dia dipecat dari sekolah itu dan harus meninggalkan murid-muridnya dengan berat hati.

Sementara itu pemerintah kolonial berusaha menghentikan kegiatan politiknya dengan memaksa ayahnya segera menikahkan dia. Perintah ini disertai ancaman bahwa kalau Siti Soendari  tidak segera dinikahkan, maka abangnya yang sedang belajar di Rotterdam akan dikeluarkan dari sekolahnya. Siti Soendari sendiri kemudian menghilang dan ayahnya juga tak dapat ditemukan. Ternyata sebelum kedua anak-beranak itu raib dari pengawasan pemerintah, sang ayah telah menarik semua uang simpanannya di bank. Beberapa waktu kemudian diketahui bahwa Siti Soendari sudah berada di negeri Belanda bersama Marko, murid Minke. Patut dicatat bahwa setelah kegiatan publik Kartini dapat dihentikan dengan memaksanya dikawinkan dengan Bupati Rembang, pemerintah kolonial rupanya yakin bahwa kegiatan politik perempuan yang punya pikiran bebas dapat dihentikan dengan membawa mereka ke ranjang pengantin. Gubernur Jenderal van Heutsz oleh masyarakat di sekitar istana dianggap menjadi Mak Comblang untuk Minke dan Prinses van Kasiruta. Dengan cara yang lebih primitif Asisten Residen Pekalongan menugaskan Kontrolir untuk mendengar sendiri percakapan Siti Soendari dengan seorang ibu yang diminta oleh ayah Siti Soendari agar membujuk anaknya itu untuk mau dinikahkan. Pembicaraan dilakukan di hadapan ayah Siti Soendari, sementara Kontrolir bersembunyi di balik dinding untuk mendengar. Singkat kata, Siti Soendari menolak tawaran menikah, karena dalam anggapannya pendidikan yang diperolehnya selama 10 tahun, harus dimanfaatkan untuk tujuan yang lebih besar daripada sekadar menjadi istri orang.

Bertentangan dengan pandangan atasannya di kantor Gubernur Jenderal, Pangemanann tetap bertahan untuk tidak menangkap Siti Soendari. Ini bukan hanya karena simpati pribadi tetapi berdasarkan kenyataan politik bahwa pembuangan Minke telah menaikkan jumlah anggota Sjarikat Dagang Islam dengan cepat, sementara penangkapan tokoh politik dan pemimpin organisasi politik cenderung berkoinsidensi dengan pembakaran perkebunan tebu secara besar-besaran. Lagi pula Gubernur Jenderal van Limburg Stirum yang mengganti Gubernur Jenderal Idenburg telah mengeluarkan kebijakan baru untuk merangkul para pemimpin organisasi politik dan melarang penangkapan dan pembuangan mereka. Patut dicatat bahwa tiga orang laki-laki pemimpin organisasi politik, yakni Tjipto, Douwager dan Wardi dibuang oleh pemerintah kolonial ke negeri Belanda. Sebaliknya, Siti Soendari seorang perawan muda berhasil menghindari penangkapan kolonial dan melarikan diri ke negeri Belanda atas kehendak sendiri. Sekali lagi terlihat kecenderungan Pramoedya untuk mengunggulkan perempuan dan perjuangan mereka lebih dari laki-laki.

Nyai Ontosoroh yang berganti nama menjadi Madame Le Boucq, datang ke Betawi bersama anak perempuannya karena mendengar Minke telah kembali dari pembuangannya di Ambon. Dia menghubungi konsul Prancis di Betawi untuk menanyakan bagaimana  caranya dia dapat bertemu dengan Minke. Konsul Prancis mengontak kantor Gubernur Jenderal untuk minta tolong. Pangemanann sebagai tenaga ahli urusan pribumi kemudian ditugaskan oleh kantor Gubernur Jenderal untuk menemui Konsul Prancis. Di kantor konsul itulah Pangemanann dipertemukan dengan Madame Le Boucq, yang minta kepadanya untuk membantu mempertemukannya dengan Minke. Baru pada saat itu pula Madame Le Boucq diberitahu bahwa Minke telah meninggal dunia. Ketika ditanyakan penyakit apa yang menyebabkan Minke meninggal, dan dokter mana yang menolongnya kali terakhir, Pangemanann menyatakan tidak tahu. Memang hanya itu yang dapat dilakukannya, karena Pangemanann sendiri  turut bertanggung jawab atas kematian Minke, yang meninggal karena dokter Jerman yang diminta menolongnya diancam oleh Robert Suurhof, seorang kaki tangan Pangemanann. Suurhof memaksa dokter itu untuk menyatakan bahwa pasien menderita disentri berat dan tidak dapat ditolong lagi. Minke dibawa kembali ke rumah Goenawan, tempatnya menumpang, dan menghembuskan napas terakhir di rumah sahabatnya itu, tanpa banyak diketahui oleh para pengikutnya.

Madame Le Boucq minta Pangemanann mengantar dia dan anak perempuannya ke makam Minke. Pangemanann menyanggupi dan membawa ibu dan anaknya ke sana. Ketika sampai di makam ketahuan bahwa nisan di kubur Minke telah ditutup dengan ter hitam. Pangemanann merasa tak enak hati dan berusaha meyakinkan Madame Le Boucq bahwa bukan dia yang menutup tulisan itu dengan ter. Dia memanggil seorang tukang doa di pemakaman itu untuk memberi konfirmasi bahwa beberapa hari lalu dia membawa kembang ke makam Minke dan nisan itu belum tertutup ter. Madame Le Boucq rupanya menaruh curiga terhadap Pangemanann dalam hubungan dengan kematian Minke. Dia menjawab Pangemanann dengan kalimat yang penuh kata-kata bersayap:”Aku percaya Tuan tidak ikut campur dalam pengeteran itu, pastilah Tuan melakukan yang selebihnya” (RK, 499).

III

Dalam perspektif ketiga empat novel Pulau Buru ini melukiskan perjuangan tiap tokoh merebut posisinya dalam hubungan produksi, dan dengan cara itu mengubah pula kedudukannya dalam masyarakat. Istilah “hubungan produksi” digunakan di sini dalam pengertian sosiologi Marxian yang standar, yaitu sejauh mana seseorang atau sekelompok orang menguasai alat produksi seperti modal dan keahlian teknis. Seseorang yang tidak menguasai alat produksi hanya dapat menjual tenaga kerjanya dan menempatkan dirinya sebagai pihak yang selalu tergantung pada mereka yang menguasai alat-alat produksi. Saya berpendapat bahwa keempat novel Pulau Buru Pramoedya memberi perhatian khusus kepada hubungan produksi ini.

Setelah Sanikem diserahkan kepada administratur pabrik gula Tulangan untuk dijadikan gundiknya, perempuan desa ini yang rupanya dikaruniai inteligensi yang tinggi dan kemauan yang kuat, berusaha sekuat tenaga untuk tidak hanya hanyut dalam kesedihan. Secara teratur dia mulai belajar bahasa Belanda di bawah bimbingan tuannya, menguasai bahasa itu secara lisan dan tertulis, di samping belajar membantu Herman Mellema mengelola perusahaan susu dan perkebunan yang demikian luas dengan banyak tenaga kerja. Dia akhirnya tahu membuat perhitungan pemasukan dan pengeluaran perusahaan, sanggup mengawasi pemerah susu dan berapa banyak yang harus mereka hasilkan dalam sehari, dapat membuat pembukuan, dan sanggup memberi perintah secara efektif kepada para pekerja di perkebunan.  Sebagai pembantu tuannya dalam mengurus perusahaan, Sanikem mendapat gaji bulanan yang lumayan baik, yang selalu ditabungnya di bank. Anaknya, Annelies, terpaksa dikeluarkannya dari sekolah untuk membantu dia bekerja, setelah Herman Mellema mulai kehilangan kepercayaan dirinya dan menghabiskan waktu dengan menenggak minuman keras dan mengunjungi rumah bordil setiap hari. Tagihan dari rumah bordil kepada Nyai Ontosoroh adalah f45 setiap bulan. Annelies dididik oleh Nyai menjadi mandor pemerah susu, dan ini artinya dia sendiri harus dapat memberi contoh bagaimana cara memerah susu yang produktif dan berapa banyak waktu kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan susu yang banyak.

Sejak tahun-tahun pertama bersama Herman Mellema Nyai Ontosoroh sudah menabung dan bisa menyimpan f100 di bank setiap bulan. Sebagai perbandingan, beasiswa yang diberikan oleh pemerintah kolonial kepada siswa STOVIA besarnya tidak lebih dari f40 per bulan. Perjalanan dengan kapal laut dari Surabaya ke Amsterdam biayanya f120. Tabungan Nyai Ontosoroh bertambah dengan cepat karena selain upah bulanan, dia juga diberi bagian dari keuntungan perusahaan selama  lima tahun. Bagian keuntungan yang diterimanya besarnya f5.000. Pada saat Annelies dibawa ke negeri Belanda, tabungan Nyai Ontosoroh sudah mencapai belasan ribu gulden. Sebagai gundik yang tak mempunyai hak apa pun dalam sistem hukum kolonial, dia sadar bahwa setiap saat dia dapat diusir dari rumah tuannya, atau ditinggal terlantar begitu saja kalau tuannya memutuskan kembali ke negeri Belanda. Dia sudah memperhitungkan bahwa kalau apa yang dicemaskannya itu terjadi, maka dia sudah dapat membuka usaha sendiri dengan modal yang ada dengan kepandaian kerja dan keterampilan yang telah dipelajarinya di Boerderij Buitenzorg.

Persiapannya untuk mandiri ditunjang juga oleh sikap tuannya, yang telaten dan keras dalam mengajarkan beragai hal kepadanya. Di pihak Nyai Ontosoroh ada kemauan dan disiplin untuk belajar segala sesuatu dengan cepat dan dengan tekun. Betapa pun Herman Mellema amat baik kepadanya dan memperlakukannya sebagai pasangan sederajat, Nyai tetap pada keyakinannya bahwa dia bukanlah istri Herman Mellema, melainkan harta milik tuannya, yang telah membelinya dengan harga tertentu yang sudah dibayar kepada orangtuanya. Ketika anak perempuannya, Annelies, bertanya kepadanya apakah dia pernah mencintai orang yang menjadi papa Annelies, Nyai menjawab bahwa dia tak tahu apa itu cinta. Dia hanya tahu bahwa tuannya dan dia masing-masing punya kewajiban. Yang satu berkewajiban memelihara, yang lain berkewajiban melayani, membantu dan bekerja.

Ada dua peristiwa yang semakin mempertajam kesadarannya tentang hubungan yang tidak setara antara dirinya sebagai pribumi dan mereka yang dilindungi oleh kekuasaan dan hukum kolonial. Peristiwa pertama ialah kedatangan Ir. Maurits Mellema ke Boerderij Buitenzorg untuk mendamprat ayahnya, Herman Mellema, karena ayahnya tak pernah secara resmi menceraikan ibunya Mevrouw Amelia Mellema-Hammers, sehingga selama lebih dari 20 tahun ibunya tak dapat menikah lagi. Sementara itu—begitu kata Maurits Mellema lebih lanjut—ayahnya bersenang-senang dengan seorang gundik yang tidak dinikahinya dan hidup bersama dalam suatu hubungan gelap selama bertahun-tahun. Menghadapi dampratan putranya itu Herman Mellema bukan saja tidak bisa membela diri secara patut, tetapi dia ternyata tidak bisa membela Nyai Ontosoroh dan anak-anak mereka yang dituduh lahir dari hubungan tidak sah. Sejak peristiwa itu Herman Mellema berubah, dia kehilangan kepercayaan dirinya, sering tidak pulang ke rumah, dan kalau pun pulang selalu dalam keadaan kacau dan mabuk. Nyai Ontosoroh hilang hormatnya kepada tuannya, sama seperti dia tidak lagi menaruh respek kepada orangtuanya yang dianggap hilang atau mati, karena tak sanggup melindungi dirinya. Nyai segera mengambil alih pimpinan perusahaan yang dijaga dengan setia oleh seorang pendekar Madura yang amat setia bernama Darsam. Perusahaan tidak boleh merugi karena nasib banyak orang tergantung kepada perusahaan itu. Dengan sebuah keputusan Pengadilan Amsterdam, Annelies diambil dan dibawa ke negeri Belanda, dengan ditemani seorang pegawai yang diam-diam diselundupkan oleh Nyai Ontosoroh ke atas kapal. “Kita kalah Ma” kata Minke dengan sendu. “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” jawab Nyai Ontosoroh dengan tegar. Tak lama kemudian Annelies meninggal di Rumah Sakit Huizen, Belanda.

Peristiwa yang kedua adalah ketika Ir. Maurits Mellema datang untuk kedua kalinya, untuk mengambil alih perusahaan sebagai ahli waris, setelah ayahnya Herman Mellema kedapatan mati mabuk di rumah bordil Kebun Jepun. Nyai berusaha menyelamatkan perusahaan itu dengan menyewa beberapa ahli hukum, yang gagal menolongnya, entah karena kedudukan hukum Nyai Ontosoroh terlalu lemah, atau juga karena pusat perhatian para ahli hukum itu hanya pada besarnya honorarium yang diterimanya. Sejak saat itu kepercayaannya kepada hukum hilang sama sekali, karena beberapa sebab. Pertama, Pengadilan Amsterdam sama sekali tak mempertimbangkan dirinya dan sumbangan yang telah diberikannya kepada perusahaan selama lebih dari 20 tahun. Kedua, anak perempuannya, Annelies, diambil darinya untuk ditempatkan di bawah perwalian ibu Maurits Mellema, karena Annelies dianggap masih di bawah umur dan belum menikah, padahal dia sudah menikah secara sah dengan Minke menurut hukum Islam, yang tidak diakui sama sekali oleh Pengadilan Amsterdam.

Sebuah debat antara Ir. Maurits Mellema dan Nyai Ontosoroh dapat melukiskan pandangannya tentang hukum kolonial. Ketika Maurits datang ke Boerderij Buitenzorg untuk mengambil alih perusahaan, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menyatakan belasungkawa kepada Minke dan Nyai atas kematian Annelies. Ketika dia mengulurkan tangan terjadilah pembicaraan sebagai berikut.

 

NO (Nyai Ontosoroh):     Tidak perlu itu.  Hilangnya anakku tak dapat diganti dengan jabatan tangan pembunuhnya.

MM (Maurits Mellema): Itu terlalu keras Nyai.  Aku mengerti betapa besar dukacita Nyai. Tapi tuduhan pembunuh itu terlalu keras. Tidak benar.

NO:                                      Tuan tidak kehilangan apa-apa kecuali kehormatan di hadapanku dan kami. Sebaliknya Tuan mendapat segala-galanya dari kehilangan kami.

MM:                                    Aku tak bisa terima itu.  Semua ada aturannya.

NO:                                      Betul, semua ada aturannya bagaimana merugikan kami dan menguntungkan Tuan.

MM:                                    Bukan aku yang membuat peraturan itu.

NO:                                      Dan Tuan dengan baik telah berusaha gunakan aturan itu buat keuntungan Tuan.

MM:                                    Tapi Nyai bisa gunakan advokat.

NO:                                      Seribu advokat tak bisa kembalikan anakku padaku. Tak satu advokat pun bersedia mengurus perkara pribumi lawan totok. Tidak ada cara di sini.

MM:                                    Apa boleh buat, kalau kehendak Tuhan sudah demikian.

NO:                                      Ya. Kehendak Tuan telah menjadi kehendak Tuhan. Semua yang Tuan tidak mau bertanggungjawab, Tuhan yang Tuan suruh bertanggungjawab. Indah sekali. Mengapa tak mau mempertanggungjawabkan padaku? Ibunya? Yang melahirkan, membesarkan, mendidik, dan membiayainya? (ASB, 387-388).

 

Kematian Herman Mellema di rumah bordil dan kehadiran penghuni Boerderij Buitenzorg telah membawa Nyai Ontosoroh dan Minke berhadapan dengan pengadilan di Surabaya, yang mengakibatkan Nyai harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar ongkos berperkara dan membayar honorarium  para penasihat hukumnya. Di tengah suasana yang yang panas itu Minke pernah bertanya kepada Nyai apa tidak sebaiknya dia dan Annelies segera menikah. Nyai menjawab:” Apa boleh buat, Nak, menyesal belum bisa meluluskan. Hari-hari persidangan telah banyak merugikan perusahaan. Kemerosotan harus disusul lebih dahulu. Karena, Nak, tanpa perusahaan berjalan baik, keluarga ini akan kehilangan kehormatannya. Aku harap kau bisa mengerti” (BM, 325). Nyai sudah sadar bahwa perusahaan cepat atau lambat akan diambil-alih oleh anak Herman Mellema. Pengadilan yang sengaja dibuat bertele-tele itu mempunyai dua sasaran. Pertama, diusahakan mendapat bukti keterlibatan Nyai dan Minke dalam kematian Herman Mellema. Kedua, pengadilan itu akan mengganggu konsentrasi Nyai dalam mengurus perusahaan, sehingga bisa dibuktikan berdasarkan pemeriksaan akuntan, bahwa sepeninggal Herman Mellema, perusahaan menjadi tak terurus dan terbengkalai dan karena itu layak diserahkan ke pihak yang lebih sanggup mengelolanya dengan baik.

 

*

Minke adalah anak bupati yang tidak tertarik kepada jabatan bupati. Dia enggan memakai atribut kepriyayiannya. Satu-satunya yang dipertahankan adalah gelar Raden Mas yang memberinya hak menggunakan Forum Privilegiatum, yaitu hak untuk menolak diadili oleh pengadilan untuk pribumi dan hanya diadili dalam forum yang sederajat dengan pengadilan bagi orang Eropa. Dia menyatakan sikap menolak menghormati ayahnya hanya karena ayahnya mempunyai jabatan bupati. Dengan garang dia menentang Bupati Serang, Ahmad Djajadiningrat, yang menuntut penghormatan khusus pada waktu Minke beraudiensi.

Sebagai siswa HBS Surabaya dia bekerja dengan mencari order lukisan untuk sahabatnya Jean Marais, seorang pelukis berkebangsaan Prancis, veteran Perang Aceh, yang kehilangan satu kakinya karena perang tersebut. Kemudian sebagai siswa STOVIA di Betawi dia mencari tambahan uang saku dengan menjadi penulis teks iklan untuk koran lelang. Tarif untuk tiap teks iklan adalah setalen untuk teks bahasa Melayu, tiga talen untuk teks bahasa Belanda, dan satu rupiah untuk teks bahasa Inggris. Sudah sejak di Surabaya dia mengumumkan tulisan dan artikel dalam bahasa Belanda dengan menggunakan nama pena Max Tollenaar. Lingkungan pergaulannya bukanlah kaum priyayi, tetapi para penulis, wartawan dan pelukis. Wartawan-wartawan yang menjadi teman diskusinya ialah Maarten Nijman, redaktur koran S.N. v/d D. di Surabaya, Jean Marais, dan penulis berbahasa Melayu bernama Kommer, dan aktivis Angkatan Baru Tiongkok, Khouw Ah Soe, yang datang ke Hindia Belanda untuk menyebarkan cita-cita mereka di Surabaya. Dia juga bersahabat dengan Darsam, pendekar Madura yang menjaga keamanan perusahaan. Padanya Darsam tiap sore belajar membaca dan berhitung. Di Betawi dia berkenalan dengan Ter Haar wartawan koran Semarang de Locomotief. Dari Ter Haar Minke belajar tentang paham-paham demokrasi liberal (Vrijzinnige Democraat). Koran Semarang ini mempunyai sejarah khusus karena dia diterbitkan untuk memperingati masuknya lokomotif untuk pertama kali ke Pulau Jawa, 36 tahun sebelumnya. Di Betawi pula Minke berkenalan dengan Marie van Zegellen, wartawan dan penulis perempuan yang sangat kagum akan perjuangan rakyat Aceh mempertahankan kemerdekaannya terhadap tentara pendudukan Belanda dalam perang yang berlangsung seperempat abad. Wartawan dan penulis ini juga menentang rencana Gubernur van Heutsz yang melalui maklumat pendek atau korte verklaring menuntut ketaklukan dari daerah-daerah yang masih merdeka kepada kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Melalui pergaulannya dengan Ter Haar Minke akhirnya berkenalan dengan Gubernur Jenderal van Heutsz dan mendapat perhatian khusus dari jenderal itu.

Pengalaman-pengalaman politik yang diperolehnya dari lingkungan pergaulan di Betawi dan dorongan dari Ang San Mei yang dinikahinya dengan restu Bunda, membuatnya semakin terlibat dalam kegiatan jurnalistik dan membawanya berurusan dengan masalah-masalah publik.  Istrinya Ang San Mei sering mengajukan kritik bahwa kaum tepelajar pribumi di Hindia Belanda terlalu banyak berpikir dan bergerak sendiri-sendiri,  padahal kekuatan untuk mengubah keadaan hanya diberikan  oleh organisasi. Tanpa organisasi setiap orang hanya menjadi sebatang lidi yang mudah dipatahkan. Dalam kaitan ini, dua perempuan telah memberinya kesadaran tentang syarat-syarat perjuangan yang berhasil. Nyai Ontosoroh menyadarkan Minke tentang pentingnya modal, dan Ang San Mei mendorongnya mendirikan organisasi. Amat menarik bahwa dalam pembicaraan dengan orang-orang dari lingkungan terdekat, selalu ditekankan pentingnya landasan materil tiap usaha. Kata Nyai kepada Minke, tanpa perusahaan yang berhasil orang tak akan menghormati kita. Kata Ter Haar kepada Minke “sepandai-pandai orang, dan Stevenson manusia unggul di abad ini pun, takkan dapat berikan lokomotif pada dunia, kalau modal nihil. Hanya dengan modal dia dapat perintah(kan) mendung menggerakkan lokomotif yang puluhan meter panjangnya. Tanpa modal orang tak bisa perintahkan petir menghidupkan telegrap dan telepon . . . . Tanpa modal pembesar-pembesar  itu tinggal jadi wayang kulit tanpa gapit” (ASB, 294). Karena itu, begitu kata Ter Haar, gubernemen  tidak punya fungsi lain dari menjaga keselamatan modal, dan tiap orang di daerah jajahan hanya dilihat dan diperhitungkan sebagai sumber keuntungan. Selanjutnya kata Ang San Mei kepada Kartini ketika berkunjung ke Jepara, “Akhir-akhirnya  kasih sayang adalah juga benda, sekalipun mujarat, abstrak, dan setiap benda harus tunduk pada manusia . . . terserah pada manusia itu bagaimana menggunakannya”. Jawab Kartini, “seperti penaklukkan atas hukum-hukum alam.” Kata Ang San Mei kembali “itu hanya sebagian daripadanya” (JL, 117).

Percobaan pertama yang dilakukan Minke dalam mewujudkan organisasi ialah menghubungi para pejabat pribumi untuk mendirikan Sjarikat Priyayi dan kemudian menerbitkan organ organisasi berupa koran mingguan  yang diberi nama Medan dan menggunakan bahasa Melayu Pasar. Baik organisasi maupun mingguan Medan dibiayai dengan iuran anggota. Menurut rencana, akan didirikan pula sekolah dan asrama, dan dibentuk Badan Fonds Kemajuan untuk memberi beasiswa kepada pelajar-pelajar cerdas tapi tak mampu. Organisasi ini segera mandek pertumbuhannya karena sebagian besar dana dikorup oleh pengurus. Akibatnya anggota mulai enggan membayar iuran. Di pihak lain mingguan Medan berkembang pesat dan terus naik tirasnya, terutama setelah koran ini menyediakan ruangan untuk penyuluhan, konsultasi dan advokasi hukum. Dalam ruangan ini pembaca dapat memperoleh penjelasan tentang peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Pertanyaan-pertanyaan dan keluhan pembaca dilayani dan dijawab oleh Mr Frischboten, suami Miriam de la Croix, yang menjadi sahabat Minke sejak dia masih belajar di HBS Surabaya. Pembaca mengadukan masalah dan ketidakadilan yang menimpa mereka dan Mr Frischboten memberikan konsultasi dan bahkan membawa perkara mereka ke pengadilan. Medan lambat-laun dikenal sebagai mingguan yang dapat mencegah terulangnya ketidakadilan yang menimpa pembaca dan memulihkan hak-hak mereka yang dirampas.

Akan tetapi segera tampak bahwa Pramoedya sebagai pengarang memainkan dialektik sejarah dengan cara yang indah sekali. Nyai Ontosoroh atau Madame Le Boucq tetap mengikuti kegiatan bekas menantunya dari Paris. Diperingatkannya Minke bahwa hukum dan peraturan bukanlah segala-galanya dalam hidup manusia. Sukses Minke yang mulai bersinar terang akan mengundang iri hati dan usaha-usaha dari orang yang dengki hatinya untuk menggagalkan usahanya atau membahayakan hidupnya. Dia sebaiknya segera merekrut satu dua orang pendekar untuk melindungi dia dan perusahaan penerbitannya, seperti Darsam melindungi Boerderij Buitenzorg di Wonokromo dulu. Lain dari itu Nyai juga mempertanyakan mengapa Minke sebagai orang partikelir membantu gubernemen dengan penyuluhan hukum dan penerangan tentang aturan-aturan pemerintah. Bukankah penyuluhan seperti itu adalah tugas pemerintah? Mengapa Minke harus mengeluarkan banyak biaya untuk membantu gubernemen, bukankah gubernemen yang harus membayar dia untuk jasa-jasanya memberi penjelasan dan penyuluhan hukum dan aturan pemerintah?

Menarik untuk melihat bagaimana pengarang menguji paham materialisme historis yang demikian ditonjolkan dalam diri beberapa tokohnya melalui antitesis yang diciptakan melalui tokoh lainnya. Antitesis itu diberikan oleh Tuan L. kepala arsip pusat (‘s landscharchiev), yang mempunyai keahlian khusus dalam kebudayaan Jawa. Diskusi tentang kebudayaan Jawa dalamRK mempunyai sekurang-kurangnya dua tujuan. Pertama, Jawa menjadi representasi dari akibat kolonialisme yang terlalu lama, dan kedua, akibat penjajahan yang lama dan beban yang ditanggung dalam perjumpaan dengan berbagai kebudayaan besar di dunia telah melahirkan suatu defense mechanism dengan dampak kebudayaan yang khas. Menurut teori Tuan L., suatu bangsa yang menghadapi gelombang-gelombang kebudayaan dari luar yang datang beruntun dan kemudian menderita penjajahan politik dalam ukuran abad, akan memilih di antara dua kemungkinan: dia dapat berkompromi dalam prinsip dan filsafatnya  dengan kekuatan-kekuatan luar supaya dapat bertahan hidup, atau dia tetap mempertahankan prinsip dan filsafatnya dan kemudian berperang untuk mempertahankan prinsip itu tanpa kompromi, dengan akibat bahwa dia mungkin akan dihancurkan oleh kekuatan luar dan kemudian sirna dari muka bumi. Bangsa Indian Amerika misalnya tidak dapat mengkompromikan prinsip dan filsafat mereka dengan paham yang dibawa dari Eropa dan menderita banyak kehancuran dirinya. Sebaliknya, Jawa tetap dapat bertahan karena kebudayaan ini mengkompromikan prinsip dan filsafatnya. Kekalahan Jawa dalam perang melawan Belanda disebabkan oleh kekalahan filsafatnya.

Saya tidak mempunyai keahlian cukup untuk menilai pendapat dan teori Tuan L. sebagaimana dilukiskan oleh Pramoedya. Namun demikian, tetap penting untuk melihat bagaimana Pramoedya yang menonjolkan kekuatan materialisme historis dalam beberapa tokoh utamanya,  memberikan antitesis dengan menunjuk peran dan kekuatan filsafat dan prinsip melalui pandangan Tuan L. Menurut ahli ini setelah Majapahit runtuh pada 1478 Jawa hanya sanggup berkompromi dan menyesuaikan diri dan tidak dapat lagi membuat peninggalan untuk dunia seperti yang dilakukan pada masa-masa sebelumnya.

Ada beberapa tahapan dialektik dalam perkembangan pandangan pengarang. Bunda, Ibu Minke adalah perempuan Jawa dari kalangan priyayi yang hidup dengan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa kehidupan akan aman, selamat dan tenteram, kalau tiap orang tahu tempatnya dalam masyarakat, kalau petani tidak mencoba menjadi priyayi, atau kalau priyayi tidak berpretensi dapat memacul di sawah. Pembesar selalu akan ada supaya rakyat kecil mempunyai pihak yang dapat dipatuhinya. Di pihak lain Nyai Ontosoroh berusaha melupakan kejawaannya karena menurut dia kebudayaan ini tidak memberi kekuatan yang dapat memberi perlindungan kepada orang yang tidak mempunyai kekuasaan. Dengan menyangkal kedua orangtuanya, yang menjual dia kepada seorang administratur pabrik, dia praktis menolak sejarahnya dan kebudayaan yang telah melahirkannya. Dalam kehidupannya bersama tuan yang telah mengambilnya sebagai gundik dan mendidiknya untuk bekerja dalam sebuah perusahaan modern, dia akhirnya menemukan bahwa hal yang akan memberinya martabat baru hanyalah modal yang dihasilkan oleh perusahaan yang dikelola dengan baik. Keyakinan tentang pentingnya modal ini semakin diperkuat oleh pengarang dengan memunculkan tokoh Ter Haar, yang menganggap bahwa perkembangan dunia dikendalikan oleh modal dan bahkan gubernemen tidak mempunyai tugas lain selain mengamankan modal. Lalu muncul Ang San Mei, anggota Angkatan Muda Tiongkok yang yakin dan meyakinkan Minke bahwa kekuatan untuk perubahan hanya diberikan oleh organisasi yang kuat. Tanpa organisasi tak mungkin orang menciptakan kekuatan politik dan keunggulan ekonomi. Terhadap pandangan-pandangan Nyai, Ter Haar dan Ang San Mei pengarang menghadirkan tokoh Tuan L. ahli kebudayaan Jawa yang berpendapat bahwa kekuatan suatu bangsa dan suatu kebudayaan ditentukan oleh kekuatan filsafat dan keteguhan prinsip yang dianutnya. Kekalahan dalam setiap perang dan pertempuran pada akhirnya tidak lain dari kekalahan filsafat dan kekalahan prinsip.

 

 

IV

 

Pada bagian akhir uraian ini perlulah dijelaskan dengan sedikit pertanggungjawaban mengapa ketiga perspektif ini telah diterapkan dalam membaca keempat jilid novel-novel Pulau Buru, meskipun ada berbagai faset lain yang sama menariknya untuk dijadikan pokok pembicaraan dan diskusi. Amat menarik misalnya untuk mempertanyakan apa gerangan yang menyebabkan keempat novel ini menimbulkan gema yang demikian luas, tidak saja di Indonesia tapi juga dalam kalangan sastra dunia. Dilihat dari bentuk dan komposisinya novel-novel ini ditulis dengan cara yang serba- konvensional. Tidak ada usaha dan pretensi pengarang untuk melakukan pembaruan apa pun dalam teknik, gaya, atau pun struktur cerita. Masing-masing cerita disusun dengan menggabungkan secara sederhana plot linear dan flashback. Tokoh-tokoh cerita adalah manusia biasa dengan watak yang normal dan tidak memperlihatkan ideosinkrasi yang berlebihan. Dengan demikian, kekuatan novel-novel ini tidak terletak pada aspek pembaruan yang dibawanya, tetapi pada kekuatan pesan yang disampaikannya.

Pesan pertama yang amat jelas ialah bahwa ada pertarungan abadi antara kebebasan dan subyektivitas manusia dan kekuatan obyektif sejarah yang dihadapinya. Obyektivitas sejarah itu tampil sebagai kekuatan yang tak bisa dihindari dan tak terlawankan, yang dapat mengambil bentuk sistem budaya di mana anak-anak tak dapat menampik kehendak orangtua khususnya kemauan sang ayah. Sanikem dan Surati harus menyerah kepada perintah ayah mereka untuk datang menyerahkan diri kepada administratur pabrik gula dan tinggal di sana selama tuan mereka suka dan sampai saat mereka diusir kembali karena tuan mereka sudah merasa bosan. Namun demikian, diperlihatkan juga bahwa subyektivitas manusia tak dapat dibinasakan seluruhnya oleh kekuatan sejarah itu. Sanikem bertumbuh menjadi pengusaha yang pandai dan terampil dan berhasil memimpin sebuah perkebunan besar dan pabrik susu dengan banyak pekerja. Surati menyerahkan diri kepada administratur Vlekkenbaaij dan sekaligus membunuhnya dengan penyakit cacar yang sengaja ditularkan ke dirinya sendiri sebelum datang kepada tuannya. Kemudian Minke melakukan percobaan untuk menentang kebudayaannya. Dia enggan menjadi bupati dan menolak hak-hak kepriyayiannya. Akan tetapi penolakan itu tidak membuatnya menjadi seorang gelandangan secara budaya, karena Bundanya amat mencintai dia, dan dia juga mempunyai suatu hubungan afektif yang amat kuat dengan Bundannya. Minke yang berontak terhadap ayahnya, selalu siap sujud di kaki Bundanya untuk mendengar nasihat-nasihat yang telah diwariskan para leluhurnya.

Selain sistem budaya, obyektivitas sejarah juga mengambil bentuk kekuasaan politik dan kekuatan hukum kolonial. Setelah menjadi gundik, Sanikem tidak mau mengakui lagi orangtuanya, tidak lagi peduli dengan adat-istiadat Jawa, dan berusaha membentuk dirinya menurut pola kebudayaan Barat, khususnya kebudayaan Belanda. Hal yang sama dilakukan oleh Minke melalui pendidikan yang diperolehnya di HBS Surabaya. Sebagai penulis dia lebih dulu menulis dalam bahasa Belanda dan baru kemudian dalam bahasa Melayu, tetapi tak pernah menulis dalam bahasa Jawa, sekali pun hal ini berkali-kali diminta oleh Bundanya. Dengan keadaan dan pilihan seperti itu baik Nyai Ontosoroh maupun Minke mengalami akhir yang sama. Perusahaan susu yang maju dan berhasil dikelola oleh Nyai Ontosoroh akhirnya harus diserahkan ke anak Herman Mellema dari istri yang sah di Belanda, sementara harta kekayaan Minke sebagai pemimpin mingguan Medan dan  pemimpin Sjarikat Dagang Islam akhirnya dibekukan oleh pengadilan dan pemerintah, setelah Minke dibuang ke Ambon. Minke gagal memperoleh kebebasannya kembali dan akhirnya meninggal dengan cara yang mengenaskan di Betawi. Nyai Ontosoroh akhirnya mendapatkan kebebasannya tapi harus meninggalkan Hindia Belanda dan pindah ke Prancis. Kekuatan sejarah memang tak terlawankan, tetapi subyektivitas manusia tak tertaklukkan.

Dalam perspektif kedua ditampilkan peranan yang dimainkan oleh laki-laki dan perempuan. Disengaja atau tidak, dimaksudkan atau tidak, banyak sekali tokoh laki-laki yang mengalami kebangkrutan moral dan kemerosotan dalam perkembangan jiwa mereka. Laki-laki yang mempunyai kekuasaan besar cenderung tertimpa kelemahan moral yang amat mencolok. Pada tingkat kekuasaan tertinggi di Hindia Belanda para Gubernur Jenderal yang mempunyai hak-hak luar biasa (exorbitante rechten) memperlihatkan cacat yang luar biasa pula dalam watak dan perangai mereka. Van Heutsz, penakluk Aceh, adalah pembunuh berdarah dingin yang tak tahan melihat ada kantong-kantong yang masih merdeka. Bali menolak takluk tapi hampir semua rakyatnya, laki-laki dan perempuan, pangeran dan rajanya gugur mempertahankan diri dalam Perang Puputan. Gubernur Jenderal Idenburg dilukiskan sebagai orang yang hanya mengenal jabatan dan pejabat, tetapi tak mempunyai kepekaan sosial-politik untuk memahami kebangkitan baru di Hindia Belanda. Roseboom adalah Gubernur Jenderal benyali kecil, yang gentar ketakutan ketika Putera Mahkota Rusia mampir di Priok dengan armadanya. Para administratur pabrik gula adalah Tuan Besar Kuasa yang mempunyai selera rendah yang sama terhadap anak perempuan pegawainya. Para bupati mempunyai satu kesibukan yang sama: menyembah Asisten Residen sebagai atasannya, dan minta disembah oleh rakyatnya. Jacques Pangemanann, intelektual lulusan Prancis menjadi pejabat tinggi kolonial sambil berusaha sia-sia membunuh nurani intelektualnya. Kekuasaan rupanya membawa serta kemerosotan dalam moral, dan besarnya kekuasaan berbanding lurus dengan tingkat dekadensi.

Di pihak lain, nama-nama perempuan muncul dengan keagungan dan keanggunannya masing-masing. Bunda, ibu Minke, adalah wanita tradisional Jawa yang tak tergoyahkan dalam ketenangannya, karena dia hanya percaya pada nilai-nilai yang diwariskan dari para leluhurnya. Sanikem menjadi gundik, tetapi segera membuktikan dirinya sebagai gundik yang sanggup beremansipasi dengan sukses. Ang San Mei, perempuan muda dari Tiongkok mempersembahkan hidupnya untuk perjuangan Angkatan Muda Tiongkok yang hendak mengakhiri kekuasaan kaisar. Prinses van Kasiruta tampil sebagai perempuan Maluku yang sanggup melindungi diri dan sanggup pula melindungi suami, bila perlu melalui perkelahian dan duel senjata api. Juga Piah, pembantu rumah tangga Minke dan Prinses, ternyata seorang anggota Sjarikat Dagang Islam yang bersumpah akan selalu mengenang pemimpinnya dalam pembuangan.

Dalam empat jilid novel ini tak ada perempuan yang berwatak jahat. Secara hampir hitam-putih semua laki-laki menjadi representasi kekuasaan dan sifat-sifat kekuasaan yang menindas. Laki-laki yang mencoba melawan kekuasaan itu seakan ditakdirkan untuk kalah dan menderita bengisnya kekuasaan. Ini terjadi pada Minke yang terpelajar hingga ke Trunodongso, petani buta huruf yang mencoba mempertahankan tanah miliknya yang diambil oleh perkebunan tebu. Timbul pertanyaan: mengapa sifat-sifat moral lebih muncul pada tokoh perempuan daripada tokoh laki-laki? Sangat mungkin ini terjadi karena laki-laki diidentifikasi dengan kelas dominan yang berkuasa, di mana kedudukan dominan ini dibenarkan dan diperkuat oleh patriarki yang berurat berakar dalam kebudayaan selama berabad-abad. Sebagai kelas dominan laki-laki akan sibuk dengan kekuasaan dan ini membuat mereka juga menderita sifat kekuasaan yang cenderung korup. Cara pandang ini mengandung risiko tersendiri, karena ada semacam idealisasi yang romantis di dalamnya. Perempuan masih mempunyai kebajikan moral karena mereka belum menjadi bagian dari kelas dominan dan belum mempunyai kekuasaan. Emansipasi perempuan akan menghadapi dilema: untuk tetap bermoral  perempuan harus menghindari kekuasaan, karena sekali dia mengambil bagian dalam kekuasaan laki-laki dia akan jatuh ke dalam watak kekuasaan yang mengabaikan moral.

Dalam perspektif ketiga akan terlihat bahwa emansipasi pribumi terhadap pihak penjajah dan emansipasi perempuan terhadap dominasi laki-laki tidak begitu berhasil kalau dilakukan melalui  jalan politik, dan lebih berhasil kalau dilakukan dengan merebut tempat yang lebih kuat dalam hubungan hubungan produksi. Siti Soendari, perempuan lulusan HBS yang menjadi propagandis organisasi politik dan menulis artikel-artikel politik yang tajam segera menarik perhatian gubernemen. Dia diawasi dan dibuntuti kemana pun dia pergi. Dia hanya selamat karena berhasil melarikan diri ke Belanda dengan dibiayai oleh uang ayahnya, dan di sana dia tidak dapat melakukan banyak aktivitas politik.  Khouw Ah Soe dan tunangannya Ang San Mei masuk secara gelap ke Hindia Belanda untuk mengobarkan semangat Angkatan Muda Tiongkok menggulingkan kaisar. Keduanya mati di negeri asing. Mereka yang lebih berhasil ialah yang berusaha melalui perebutan tempat yang lebih baik dalam hubungan produksi. Sebagai gundik Nyai Ontosoroh mungkin tidak dihormati, tetapi jelas dia tidak bisa diremehkan. Dia mampu mengelola sebuah boerderij seluas 180 ha dan mengurus pabrik susu yang mempekerjakan banyak tenaga kerja. Hukum kolonial merampas perusahaan itu darinya, dan menyerahkannya kepada Maurits Mellema sebagai ahli waris Herman Mellema. Tetapi Nyai tidak menyerah, dia pindah ke Wonocolo dan berhasil membangun perusahaan baru dengan tabungannya, hingga dia pindah ke Prancis. Demikian pun Darsam, pendekar Madura penjaga keamanan di boerderij Buitenzorg, yang belajar baca-tulis pada Minke dalam waktu senggangnya, kemudian terbukti sanggup mengelola perusahaan di Wonocolo, setelah ditinggalkan oleh Nyai Ontosoroh yang pindah ke Prancis.

Dikatakan secara singkat, perubahan sosial di Hindia Belanda tidak terjadi karena perubahan status atau meningkatnya jabatan, tidak juga oleh pergantian priyayi lama dan priyayi baru tamatan sekolah tinggi. Perubahan sosial itu muncul karena didorong oleh munculnya secara perlahan borjuasi pribumi, yang sanggup memberi kekuatan nyata kepada pribumi untuk beremansipasi terhadap kekuatan kolonial, dan memberi sarana yang sama kepada kaum perempuan untuk beremansipasi terhadap dominasi laki-laki.

 

Jakarta, 10 September 2011

 

Berbagi

- KEKUASAAN, GENDER DAN HUBUNGAN PRODUKSI: Perspektif Tetralogi Pulau Buru