Belanja

PATUNG DALAM SENI RUPA KONTEMPORER INDONESIA

Patung dan aspek-aspek utamanya

Di dalam ranah seni klasik/tradisi, pengertian patung identik dengan arca (statue), yaitu artefak yang berupa figur-figur manusia/dewa, pada umumnya terbuat dari batu, kayu, terakota atau perunggu. Sedangkan kata patung di dalam seni modern digunakan sebagai padanan kata sculpture (Inggris) yang mengacu kepada salah satu media seni rupa yang bersifat tiga dimensi. Pengertian patung dengan demikian mencakup pengertian yang lebih luas daripada arca, karena berlaku dalam berbagai ekspresi artistik yang pada perkembangannya kemudian menghasilkan berbagai macam bentuk, serta menggunakan berbagai macam material, sesuai dengan pengembangan dan eksplorasi di dalam media patung itu sendiri.

Berbagai perwujudan patung modern dari masa ke masa adalah hasil proses pencarian dan pengembangan bentuk-bentuk tiga dimensi. Patung-patung figuratif yang ada adalah hasil pengolahan bentuk yang bersumber dari bentuk tubuh manusia melalui berbagai analisis dan interpretasi. Patung-patung figuratif realistik menunjukkan upaya untuk merepresentasikan bentuk alami tubuh manusia secara akurat dan sempurna, untuk menggambarkan kehidupan. Sedangkan karya-karya patung abstraksi figur adalah hasil pengubahan bentuk tubuh (deformasi), untuk menampilkan esensi tubuh itu sendiri. Penambahan elemen-elemen bentuk atau penyederhanaan bentuk yang dilakukan adalah untuk mengakomodasi gagasan estetik sang seniman, sesuai dengan tema.

Ketika seniman lebih percaya kepada ide-ide bentuk murni, maka lahirlah karya-karya patung abstrak, yang tidak lagi mengacu kepada bentuk-bentuk alami yang ada, yaitu tubuh manusia, hewan dan sebagainya. Elemen-elemen visual berupa sosok, bidang, garis, warna, tekstur dan cahaya kemudian menjadi subyek yang digarap untuk tujuan keindahan bentuk, yang kemudian menciptakan kaidah-kaidah estetik baru.

Meskipun telah mengalami berbagai perubahan dan perkembangan di dalam perjalanan sejarahnya, terdapat beberapa aspek di dalam patung yang masih tetap sama, salah satunya adalah aspek “kebentukan”. Di dalam berbagai perwujudan patung, bentuk adalah hasil upaya manusia merepresentasikan pemahaman atas realitas di sekelilingnya.

Aspek utama lain dalam praktik penciptaan patung adalah “keruangan”. Sebagai benda tiga dimensi, karya patung tidak saja selalu menempati ruang, namun sekaligus menciptakan ruang. Dengan demikian, penciptaan karya patung adalah persoalan menciptakan ruang. Kenyataan bahwa sebuah karya patung hadir secara nyata di dalam ruang yang sama dengan diri kita, membangkitkan kesadaran kita atas ruang serta menegaskan keberadaan ruang itu sendiri.

Selanjutnya, satu aspek utama di dalam patung yang tidak dapat dilepaskan adalah aspek “material”. Karya patung dihadirkan melalui material atau bahan. Di dalam khazanah penciptaan patung, material selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aspek lainnya, bahkan sering kali merupakan bagian dari ide karya. Selain memiliki sifat fisik yang khas, masing-masing material juga mengandung narasi tersendiri, sehingga pemilihan sebuah material oleh pematung dimaksudkan sebagai artikulasi dari gagasan tertentu. Sebagai contoh adalah penggunaan barang-barang bekas sebagai material sebuah karya. Tanpa memandang bentuk visualnya sekalipun, material tersebut sudah menyiratkan persoalan budaya masyarakat yang konsumtif serta isu-isu lingkungan. Dengan demikian, pemilihan material alami atau material industrial dalam sebuah karya, misalnya, tentu didasarkan atas pertimbangan kesesuaiannya dengan konsep karya, bukan sekadar pertimbangan teknis saja.

Berkaitan dengan material adalah “teknik”, dalam hal ini penguasaan pengetahuan atas material dan perlakuannya serta keterampilan di dalam mengolah dan memanipulasi media sehingga menghasilkan wujud visual yang sesuai dengan kehendaknya. Kepiawaian seorang perupa dalam mengolah medianya ini sering disebut sebagai craftsmanship. Namun demikian, craftsmanship sebenarnya bukan sekadar keterampilan teknis semata, melainkan kapasitas personal seorang seniman di dalam mengembangkan dan mewujudkan ide seninya ke dalam wujud visual.

 

Konvensi dan batasan-batasan di dalam patung modern

Berbagai karakteristik yang khas pada media patung telah dieksplorasi dan dielaborasi dengan penghayatan yang sangat intens oleh seniman sepanjang sejarah perkembangan patung modern, sejak masa Auguste Rodin hingga saat ini, sehingga menjadi pedoman, bahkan keyakinan yang absolut di dalam praksis penciptaan karya-karya mereka. Beberapa aspek utama pada media patung diyakini sebagai karakteristik yang khas, yang membangun “kualitas kepatungan” (sculptural quality) pada sebuah karya seni. Secara taken for granted, kualitas inilah yang harus ada dan menjadi kekuatan media patung.

Konvensi atau aturan dalam praksis penciptaan karya patung modern lahir dari keyakinan-keyakinan semacam ini di antara para tokoh patung modern. Truth to materials yang didengungkan oleh Henry Moore (1898-1986), adalah ungkapan respek dan empati sang pematung terhadap keberadaan suatu material dengan segala kualitas yang melekat padanya, sehingga merupakan suatu hal yang “tabu” untuk, misalnya, mengecat sebuah karya patung kayu, karena hal ini berarti meniadakan kualitas yang ada pada material kayu tersebut dan mengingkari kodrat alaminya sebagai kayu.

Sebagai media trimatra (tiga dimensi), aspek keruangan adalah hal yang esensial di dalam patung modern sehingga sebuah karya patung harus “meruang”, dengan demikian harus bisa dinikmati dari segala arah. Karya patung yang cenderung frontal, hanya menghadap ke satu arah, dalam patung modern dianggap mengabaikan aspek keruangan, yang menjadi kekuatan dari media patung.

Bagi beberapa orang, konvensi-konvensi tersebut berlaku secara ketat. Penilaian terhadap karya-karya patung modern selalu didasarkan pada aspek-aspek ini. Perhatian utama adalah pada aspek formal, yaitu pada kualitas fisikal, daripada aspek content, yaitu narasi atau tema karya. Oleh karena itulah patung modern kemudian menjadi berciri “formalistik”.

 

Patung kontemporer dan paradoksnya

Istilah “seni patung kontemporer” digunakan pertama kali oleh G. Sidharta untuk Pameran Seni Patung Kontemporer Indonesia pada 1973. Pameran itu dimaksudkan untuk mengakomodasi berbagai kecenderungan yang ada dalam penciptaan patung Indonesia di masa itu. Selain kecenderungan modernisme yang dominan, beberapa karya waktu itu menampilkan ciri-ciri lokal yang kuat, yang dipengaruhi oleh seni tradisi, seperti karya-karya Suparto, Wiyoso, serta G. Sidharta sendiri. Meskipun istilah “kontemporer” saat itu sekadar dimaknai sebagai “masa kini”, namun ternyata implikasinya cukup luas. Pameran Seni Patung Kontemporer Indonesia 1973 itu telah menyatakan bahwa di dalam wacana seni kontemporer, dikotomi antara seni modern dan seni tradisi tidak berlaku lagi.

Kini, kata kontemporer di dalam wacana seni rupa (terutama di Indonesia) menyandang makna yang cukup rumit, serta terus berkembang. Pengertian kata contemporary (Inggris) sendiri berarti “sezaman” (pada zaman/periode waktu yang sama), atau juga berarti “masa kini”. Namun, dewasa ini, di dalam wacana seni pascamodern, kata contemporary mendapatkan pemaknaan yang lebih ketat, yaitu sebagai sebuah genre di dalam seni dengan ciri-ciri tertentu. Contemporary Art kemudian menjadi kategori karya-karya seni yang dipertentangkan dengan seni modern, karena mengandung ciri-ciri pascamodern. Dengan kata lain, seni kontemporer adalah seni pascamodern.

Salah satu ciri yang ditengarai ada dalam seni kontemporer adalah menghilangnya batas-batas antarmedia seni. Batas antara seni lukis dan seni patung, antara patung dan kriya, atau seni yang lain, menjadi semakin cair. Kotak-kotak yang memisahkan media seni yang satu dengan yang lain tidak ada lagi, sehingga dengan sendirinya berbagai kriteria dan konvensi yang sebelumnya ada menjadi tidak berlaku lagi. Anything goes.

Dalam kondisi seperti inilah kemudian muncul persoalan, ketika pada kenyataannya istilah-istilah seperti “seni patung kontemporer” masih dipergunakan, karena di dalamnya terkandung paradoks, yaitu antara patung yang bersifat “konvensional” dengan kategori “kontemporer” yang bebas konvensi.

 

Media trimatra di dalam seni rupa kontemporer Indonesia

Dalam hampir satu dekade terakhir, dunia seni rupa diramaikan oleh  kemunculan karya-karya tiga dimensi, yang berupa objects, instalasi, readymades ataupun bentuk-bentuk figuratif. Karya-karya trimatra ini hampir mendominasi berbagai peristiwa seni rupa, baik bienal, trienal maupun art fair. Tidak ketinggalan, tren ini pun melanda para perupa kita, sehingga para perupa yang semula bekerja dengan media dwimatra beramai-ramai menampilkan karya-karya trimatra, dalam berbagai perwujudannya yang bercirikan seni kontemporer. Gejala ini oleh banyak orang dianggap sebagai boom patung. Namun, benarkah demikian?

Di dalam ranah penciptaan seni rupa kontemporer, gagasan menduduki  peran utama. Pemikiran konseptual seorang seniman menjadi penentu nilai karyanya, karena gagasan-gagasannya adalah realitas dalam dirinya yang merupakan cerminan dunia di sekelilingnya. Oleh karena itu, faktor-faktor personal, seperti ekspresi spontan, penghayatan atau kepiawaian teknik, tidak lagi menjadi penting. Dengan demikian, di dalam rangkaian proses penciptaan, eksekusi sebuah karya seni hanya merupakan tahapan teknis, di mana gagasan sang seniman diwujudkan secara visual dan material.

Dengan dasar pemikiran demikian, maka bisa dipahami apabila sebagian peran seniman sebagai pencipta kemudian dialihkan, dalam hal ini kepada artisan, yaitu pihak yang mengambil peran dalam tahapan eksekusi. Persoalan proses “bagaimana” sebuah karya seni terbentuk menjadi kurang penting, dibandingkan dengan persoalan “apa” yang disampaikan oleh karya seni tersebut. Content lebih penting daripada form.

Yang terjadi di dalam praktik penciptaan seni rupa di Indonesia adalah para perupa (yang lebih dikenal sebagai pelukis, pegrafis dan sebagainya) dengan menggunakan peran artisan mewujudkan ide-ide seni mereka lewat karya seni trimatra dalam berbagai macam material. Dengan berbekal sketsa, para artisan-lah yang kemudian berperan menerjemahkan ide-ide perupa ke dalam bentuk trimatra. Yang kemudian sering kali menjadi persoalan adalah bahwa peran artisan kemudian menjadi begitu besar sehingga berhasil atau gagalnya sebuah karya sangat tergantung pada kepiawaian sang artisan yang berada “di balik layar”. Ketika seorang “artisan” (yang kebanyakan berlatar belakang pematung) mengambil peran yang begitu menentukan, maka kedudukannya akan melampaui fungsi “semestinya” sebagai bagian dari proses teknis di dalam seluruh tahapan proses penciptaan karya seni. Tentu, batasan “fungsi semestinya” yang dijalankan seorang artisan di dalam proses penciptaan karya seni tidak bisa begitu saja ditentukan berdasarkan tahapan-tahapan yang sistematik. Namun, ketika suatu rancangan karya yang sama dikerjakan oleh dua artisan berbeda dan menghasilkan wujud karya berbeda, maka dapat dipahami bahwa kedudukan sang “artisan” sebenarnya sudah lebih sebagai artist, yang berkolaborasi dan berperan setara dengan sang artist pemilik gagasan.

Pada karya-karya trimatra tertentu, di mana aspek content mejadi utama, memang faktor eksekusi menjadi sepenuhnya persoalan teknis, sehingga kadang-kadang bahkan tidak dibutuhkan artisan, karena dikerjakan oleh seorang tukang. Seperti pada karya benda-benda yang sudah ada di sekitar seniman, atau lebih ekstrem lagi readymades, maka proses “membuat” digantikan oleh proses “menghadirkan”. Proses “merancang dan membentuk” digantikan oleh proses “memilah dan memilih”. Dalam hal inilah kemudian terdapat perbedaan yang cukup esensial di dalam proses penciptaan, yang tentu saja berimplikasi pada pembacaan karya-karya, antara yang tergolong patung (sculpture) dan karya-karya trimatra yang lain (objects, readymades, installations dan lain-lain).

Dengan demikian, persoalannya bukanlah pada menentukan kategori atau mencari batasan-batasannya, akan tetapi pada bagaimana kita melakukan pembacaan terhadap berbagai karya trimatra dengan mengidentifikasi kosakata yang terdapat di dalam karya-karya tersebut. Mencampuradukkan karya-karya trimatra akan berisiko pada kesalahan pembacaan dan beberapa kualitas yang menjadi faktor esensial pada karya-karya patung akan terlewatkan.

 

Yogyakarta, 31 Juli 2010

 

 


* Anusapati adalah perupa dan dosen ISI Yogyakarta. Pameran tunggalnya, antara lain, Matereality, Sangkring Art Space, Yogyakarta (2012). Sementara pameran bersamanya, antara lain, Simpangan, Galeri Salihara (2012) dan Ekspansi, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2011). Karya-karyanya dikoleksi sejumlah museum di Jakarta, Singapura, Brisbane dan Saitama-ken.

Esai ini pada mulanya adalah makalah untuk diskusi Menimbang Kembali Patung Baru, Serambi Salihara, 28 Juli 2012, sebuah diskusi yang mendampingi pameran Simpangan.

Berbagi

- PATUNG DALAM SENI RUPA KONTEMPORER INDONESIA