Belanja

SENI SEBAGAI PERISTIWA (EVAKUASI SUBYEK)

Seni sebagai peristiwa. Ya, ini sebuah perspektif yang menarik dan menantang untuk melihat seni. Peristiwa! Suatu ungkapan yang menunjuk suatu kejadian yang tidak bisa kita maknai sepenuhnya namun justru karena itu kita ingin kembali ke sana terus-menerus. Peristiwa menjadi titik tolak dan referensi hidup manusia. Hidup kita sehari-hari—baik pribadi maupun kolektif, entah sadar atau tidak—senantiasa bertitik tolak dari suatu peristiwa dan senantiasa menanti peristiwa-peristiwa baru. Orang-orang di sekitar Gunung Merapi, Jawa Tengah, misalnya, menjadikan erupsi terakhir sebagai titik berangkat (entah karena rumah mereka hancur, kehilangan anggota keluarga, atau bahkan rumah mereka menjadi bagus) dan entah sadar atau tidak, siap untuk terjadinya peristiwa erupsi selanjutnya dengan akibat yang belum diketahui. Dengan demikian hidup ibarat mencoba membuat ritme peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya tidak bisa dibuat. Tapi sering hasilnya getir. Begitu ada ritme, suatu peristiwa menginterupsi kembali dan semuanya seakan mulai dari titik nol.

Apa artinya mendekati seni sebagai peristiwa? Sejujurnya, setiap seniman dan para pendukungnya pasti berharap agar karya seni yang sedang diselenggarakan (pameran, pentas, pemutaran) bisa menjadi peristiwa bagi mereka yang menikmatinya. Bukalah katalog atau sinopsis pameran atau pertunjukan. Di sana kita akan diyakinkan bahwa seni yang akan diselenggarakan itu pasti bisa menjadi bagian peristiwa kehidupan, baik sang seniman maupun orang kebanyakan. Peristiwa apa? Kita tidak tahu. Yang jelas, dari satu sisi kita secara diam-diam mengharapkan seni bisa menjadi peristiwa kehidupan. Tanpa menjadi peristiwa, seni bisa menjadi rutinitas yang membosankan. Namun dari sisi lain kita masih terombang-ambing peristiwa macam apa sebenarnya yang kita nantikan dalam dan lewat seni. Justru “jenis peristiwa macam apa” inilah yang patut menjadi pemikiran para seniman maupun para pengamat seni.

Untuk membatasi diri pada jangkauan yang begitu luas ini, saya mau bertitik tolak dari sebagian tulisan dari buku kumpulan tulisan Vodka dan Birahi Seorang “Nabi” (Jalasutra, 2012), karena dalam buku ini saya bisa mengenali kembali pengalaman saya bersentuhan dengan dunia seni selama beberapa tahun terakhir. Dengan kata lain, saya mau bertitik tolak dari pengalaman saya terlibat di bidang seni. Berkaitan dengan perspektif seni sebagai “peristiwa”, saya akan menggunakan perspektif Lacanian guna melihat dimensi-dimensi yang tercakup dalam peristiwa.  

 

Peristiwa seni sebagai sublimasi

Sejauh bacaan saya tentang Lacan cukup memadai, Lacan sendiri sebenarnya tidak membahas seni sebagai peristiwa. Lacan menempatkan seni sebagai satu di antara tiga bentuk sublimasi (dua lainnya adalah ilmu pengetahuan dan agama). Saya berani menggunakan gagasan Lacan tentang seni sebagai sublimasi karena dalam perkembangan subyek, peristiwa sublimasi adalah peristiwa paling penting sekaligus krusial. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika kemudian Lacan menggunakan seni sebagai sublimasi sebagai model etikanya (yang ia kontraskan dengan etika Kant). Sublimasi bisa disebut peristiwa terpenting dalam perkembangan subyek karena dalam sublimasi orang menciptakan penanda-penanda baru dari ketiadaan (ex nihilo)—penanda-penanda yang tidak sekadar diderivasi dari penanda utama yang sudah ada (atau metafora paternal).

Seni sebagai sublimasi dimaksudkan untuk menghadapi subyek yang terus-menerus terombang-ambing antara keinginan manusia untuk senantiasa mencapai jouissance di satu sisi dan keniscayaan manusia yang terkungkung oleh bahasa. Dalam pandangan Lacan, subyek adalah hasil irisan antara jouissance dan bahasa. Seni, menurut Lacan, adalah bentuk simbolisasi pengalaman subyek ketika berhadapan dengan infinite jouissance tanpa mereduksinya ke dalam simtom atau tanpa harus melakukan represi. Berdasarkan kajiannya tentang Antigone karya Sophocles Lacan bahkan menyatakan bahwa seni menjadi etika psikoanalisis di mana kategori baik diganti dengan indah atau persisnya splendor.

Di sini perlu saya tambahkan bahwa pengalaman berhadapan dengan infinite jouissance itu muncul ketika subyek bukan hanya sebagai subyek bahasa atau subyek hasrat (subject as desire) melainkan sebagai subject as drive. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sebagai subject as drive, seseorang pertama-tama menjadi subyek tubuhnya. Sebagai subject as drive, orang lebih banyak dikendalikan oleh tubuh daripada oleh bahasa. Persisnya, bahasa sudah menubuh. Akibatnya, subyek tidak lagi tunduk pada bahasa atau aturan-aturan sebagaimana sudah membahasa. (Dalam hal ini gagasan Lacan mirip dengan gagasan Barthes tentang the pleasure of the text yang juga saya ulas dalam buku ini.) Jadi jika dikatakan secara ekstrem, simbolisasi yang muncul lewat proses seni adalah simbolisasi yang keluar dari kebertubuhan atau pengalaman real (dibedakan dari pengalaman simbolik dan imajiner). 

 

Menemui kembali para maestro

Selanjutnya saya akan memberi ilustrasi bagaimana perjumpaan dengan para maestro dan karya-karya mereka bisa mendorong kita pada zaman sekarang untuk menginterogasi praktik berkesenian kita. Interogasi diri ini dibutuhkan khususnya saat fasilitas untuk berkesenian sudah begitu melimpah sehingga berkesenian menjadi rutin atau bahkan tugas belaka. Kebutuhan akan interogasi ini dirasakan ketika orang mengalami keterasingan dengan apa yang dilakukan atau mengalami, meminjam istilah Lacan, “lingkaran permintaan jahanam” (infernal circuit of demand). Maksudnya, orang diputar-putar untuk menghasilkan karya seni terus-menerus oleh pihak lain (Liyan, entah itu pasar atau lembaga) namun pada waktu yang bersamaan orang tidak bisa mencapai jouissance. Saya melihat bahwa hasrat untuk berpaling kembali pada sejumlah maestro dan karya-karya mereka sebagai langkah untuk memutus infernal circuit of demand. Dalam tulisan ini saya hanya akan membatasi diri pada para maestro di bidang seni tradisi (Jawa) yang lazim disebut empu dan seni rupa.

Tanpa saya sadari—dan baru saya sadari sekarang ini—sebagian tulisan yang saya kumpulkan dalam buku ini ternyata adalah tulisan-tulisan yang berkaitan dengan sejumlah maestro dalam berbagai bidang seni seperti seni rupa (Affandi dan Basuki Abdullah), musik (Ki Tjakrawasita), sastra (Rendra, Najib Mahfuz). Di luar buku kumpulan tulisan ini, masih ada tulisan-tulisan serupa misalnya tentang perintis lagu dolanan anak Hardjosubroto dan Ki Hadi Sukatno. 

Apa kaitan tulisan-tulisan tentang para maestro ini dengan pembahasan kita tentang seni sebagai peristiwa? Perlu saya ingatkan di sini bahwa tulisan-tulisan ini biasanya tidak berdiri sendiri. Tulisan-tulisan ini adalah bagian dari suatu acara kesenian tertentu. Tulisan tentang Affandi berkaitan dengan peringatan seratus tahun Affandi. Tulisan tentang Ki Tjakrawasita berkaitan dengan ulang tahunnya yang ke-100. Tulisan tentang Hardjosubroto dan Ki Hadi Sukatno (yang tidak dimasukkan dalam buku ini) muncul dari keprihatinan saya akan minimnya lagu anak-anak. Sejumlah tokoh ini dipilih karena mereka diyakini sudah menorehkan jejak penting dalam sejarah seni di Indonesia akan tetapi (ini penting) pada waktu yang sama kita belum tahu betul di mana letak pentingnya karya-karya mereka.

Jika sejumlah seniman mulai berpaling kepada karya para maestro, maka hal itu pasti pertama-tama bukan dimaksudkan untuk mengabadikan bentuk-bentuk artistik mereka dengan menirunya. Bukan. Juga bukan pertama-tama untuk mengultuskan mereka. Komunikasi dengan karya-karya maestro pertama-tama dimaksudkan untuk menelusuri kembali moment of emergence karya-karya mereka. Bentuk-bentuk artistik bisa usang; sebaliknya, moment of emergence bersifat immortal. Dengan menggunakan kategori Lacanian, lewat karya-karya mereka kita hendak mengalami kembali death drive yang kemudian melahirkan bentuk-bentuk seni seperti adanya sekarang.

Saya mengamati bahwa langkah ini adalah salah satu cara efektif bagi para seniman dan pendukung mereka untuk terus-menerus mengembalikan jiwa kesenimanan mereka yang sewaktu-waktu menguap di tengah jalan karena satu dan lain hal. Niat baik para seniman ini secara tak terhindarkan akan mengantar mereka untuk melakukan reapresiasi karya-karya lama. Hasilnya sering cukup mengejutkan. Sering ditemukan bahwa hubungan para seniman zaman sekarang dengan para pendahulu mereka (in casu seni tradisi) masih sebatas informasi dan keterampilan saja, yaitu bisa memainkan karya-karya mereka. 

Cerita menjadi lain ketika karya-karya mereka juga didekati dari sisi moment of emergence. Ambil contoh gending Ketawang Widyasmara karya Ki Tjakrawasita. Jika kita mendengarkan karya ini dengan saksama (tentu dengan modal kultural yang memadai), kita segera menemukan situasi komunikasi tragis yang terbentuk oleh komunikasi antara gending dan vokal maupun vokal laki-laki dan perempuan yang didukung dengan suara rebab. Situasi ini bisa membawa kita seakan menyaksikan dialog antara subyek dan Liyan yang akhirnya bermuara pada death drive. Ketidakberadayaan akan menghadapi death drive ini disuarakan lewat alunan gambang yang hanya sesekali muncul. Fungsinya mirip dengan figur-figur kepala dalam karya Dali. Di sini ingin saya tunjukkan—walaupun masih dengan cara yang sangat sumir—bahwa perjumpaan dengan karya-karya maestro bisa membuka ruang munculnya death drive sejauh kita benar-benar masuk ke karya mereka.

Hal serupa juga terjadi pada dunia wayang yang tak henti-hentinya melakukan pembaruan bentuk supaya tidak ditinggalkan oleh penonton atau pendengarnya. Akan tetapi mengapa sosok dalang seperti Ki Hadi Sugito sempat menghipnotis para penonton dan masih didengarkan setiap malam oleh para pendengarnya? Dalam kajian kami (yang kami beri judul “Wayang sebagai Neges” namun tidak masuk dalam kumpulan tulisan ini), ditemukan bahwa wayang sebagaimana dibawakan oleh Ki Hadi Sugito bukanlah semata-mata hiburan maupun informasi pesanan melainkan pertama-tama medium histerisasi diri lewat gaya (figure) satire. Hadi Sugito adalah sosok dalang yang benar-benar merakyat dalam arti sesungguhnya. Dia tetap memainkan wayang dalam arti bahwa dia masih memegang cerita. Dia merakyat dalam arti bahwa dia menjadikan kehidupan sehari-hari menjadi obyek penceritaan. Dengan ini saya tidak bermaksud supaya orang meniru humor-humor Hadi Sugito. Saya hanya ingin menunjukkan supaya orang sampai kepada bentuk bahasa yang dipakai oleh Hadi Sugito. Bentuk itu tidak lain adalah satire.

Saya berpendapat bahwa cara menengok kembali para maestro seni tradisi ini bisa menjadi jalan untuk menjadikan seni sebagai peristiwa. Cara menengok para maestro ini sangat berbeda dari usaha masyarakat kita untuk sekadar mematenkan karya-karya kita ke UNESCO. Cara menengok kembali karya-karya para maestro ini dengan sendirinya akan melahirkan komunitas-komunitas rasa yang berbeda, wacana-wacana estetik dan bahkan (walaupun tidak mencolok hasilnya) lembaga-lembaga baru. Cara menengok para maestro ini juga berbeda dari cara menengok secara manajerial. Bertahun-tahun proyek-proyek itu selalu berupa inventarisasi budaya-budaya tradisi!

Kecenderungan untuk bertemu dengan para maestro bukan hanya terjadi dalam seni tradisi melainkan juga dalam seni rupa. Dalam buku ini usaha untuk berkomunikasi dengan maestro perupa bisa dilihat pada tulisan tentang Affandi. Seperti saya singgung di atas, pada tahun-tahun terakhir ini ada sejumlah acara peringatan seniman besar dari masa lalu. Dari satu sisi saya melihat bahwa acara ini bisa digunakan sebagai “alasan” (cause) untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama dan besar-besaran. Secara sayup-sayup saya juga mendengar jeritan para perupa Indonesia untuk mencari cause mereka sendiri dalam berkarya. Atas nama apa saya berkesenian?

Jika dalam Hadi Sugito saya menemukan satire, dalam Ki Tjakrawasita saya menemukan kur dan rebab, dalam karya-karya Affandi saya menemukan garis mentah-liar sebagai trace. Jenis tulisan tentang Affandi ini lahir dalam konteks seni rupa yang belakangan ini ditandai dengan boom pasar. Penguatan pasar seni rupa di Indonesia telah membawa banyak keuntungan bagi para seniman dan pendukung mereka. Di sana-sini muncul fasilitas publik atau semi-publik yang tidak bisa dinikmati pada tahun-tahun sebelumnya seperti galeri dan penerbitan. Akan tetapi saya melihat bahwa cara pengembangan seni rupa yang berpusat pada pasar semacam ini belum bisa memberikan kesempatan maksimal pada kita untuk menjadikan seni sebagai peristiwa. Di sana-sini sering dikeluhkan minimnya interaksi kita dengan seni itu sendiri. Tulisan tentang seni rupa terkesan lebih bersifat self-promotional. Kekosongan semacam ini sebenarnya bisa diisi oleh lembaga akademis yang juga sedang mengalami boom. Akan tetapi, pengembangan perguruan tinggi secara akademis juga mengesankan malah semacam antiseni. Oleh karena itu sulit dibayangkan seni bisa menjadi peristiwa yang nota bene—meminjam kategori Badiou—adalah salah satu kondisi bagi filsafat.

Tulisan saya tentang Affandi harus dibaca dalam konteks di atas. Tulisan ini mencoba melihat secara dekat semacam perbendaharaan rupa dan gramatika karya-karya Affandi sampai akhirnya saya menemukan garis mentah-liar. Saya menemukan dalam karya-kaya Affandi pentingnya garis (bukan garis geometris) sebagai semacam letter atau unit terkecil untuk membongkar bentuk yang sudah jadi. Garis menjadi medium untuk mengatasi diri, garis sebagai medium gerak. Garis menjadi titik berangkat dan tujuan dalam seni rupa. Bagi saya ini menarik karena selama ini saya (paling tidak) sudah diajari bahwa seni rupa harus selalu terkait dengan bentuk dan warna. Begitu saya menemukan garis sebagai titik berangkat, seni rupa menjadi lebih cair. Garis menjadi titik rupture subyek kita.

Dari ulasan di atas saya bisa mengatakan bahwa seni bisa menjadi peristiwa sejauh kita kembali pada karya seni itu sendiri. Kalau kita percaya kepada Lacan bahwa lewat seni orang bisa melakukan sublimasi, dengan kembali pada seni itu sendiri kita bisa mencapai jouissance dan bukan hanya diputar-putar dalam infernal circuit of demand yang justru membuat orang frustrasi. Kembali kepada karya seni itu sendiri berarti bersentuhan dengan seni sampai kita trance dan bukan hanya sok mencari makna. Salah satu kesulitan yang sering dihadapi adalah (ini kesulitan kronis) bekerja sama supaya peristiwa kesenian bukan hanya menjadi peristiwa individual melainkan bisa menjadi peristiwa sosial atau bahkan—menurut Rancière—peristiwa politis. Saya melihat bahwa kesulitan semacam itu masih jauh untuk bisa diatasi sebelum orang bisa mendobrak new managerialism yang kini begitu mengintervensi dunia seni. Sebaliknya, seni bisa kita harapkan untuk mendobrak praktik politik sebagai organisasi positivitas dan bukannya untuk mencari tempat pertemuan baru bagi orang-orang yang terabaikan.

 

Penutup: Seni sebagai peristiwa evakuasi subyek

Mengapa seni harus menjadi peristiwa? Seni harus menjadi peristiwa supaya seni bisa senantiasa mengevakuasi subyek terus-menerus. Di atas saya katakan bahwa subyek adalah hasil irisan antara bahasa dan jouissance. Seni menjadi peristiwa justru karena seni bisa melahirkan penanda baru ketika orang berhadapan dengan kemustahilan dalam mencapai infinite jouissance. Seni dalam artian ini bisa disebut sebagai evakuasi subyek karena pada gilirannya penanda-penanda baru ini bisa dipakai sebagai prinsip baru dalam organisasi penanda-penanda yang sudah ada. Dalam contoh di atas, gema kur yang dikombinasikan dengan gesekan rebab, dagelan satiris yang meletup dalam adegan-adegan wayang yang berwibawa, serta garis mentah-liar yang mengurai bentuk-bentuk mapan—menjadi penanda-penanda utama (persisnya: trace) untuk mengevakuasi subyek kita lewat gending, wayang dan lukisan. Dalam psikoanalisis, penanda-penanda utama itu tidak bisa disejajarkan dengan penanda-penanda lainnya, penanda-penanda itu tidak signify. Sebaliknya, munculnya penanda-penanda utama itu justru sering disebut peristiwa signification dalam arti peristiwa lahirnya penanda baru ketika orang berhadapan dengan infinite jouissance.

 


*St. Sunardi adalah dosen Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pengajar Estetika di Pascasarjana ISI Yogyakarta, serta Pascasarjana Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM Yogyakarta.

Esai ini disampaikan dalam diskusi Seni sebagai Peristiwa: Pengalaman Indonesia 20 Tahun Terakhir di Serambi Salihara, Selasa, 05 Februari 201. 

Berbagi

- SENI SEBAGAI PERISTIWA (EVAKUASI SUBYEK)