Belanja

TRAGEDI 1965 DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK

Ronggeng Dukuh Paruk[1] karya Ahmad Tohari dibuka dengan lanskap tatapan burung (dalam arti sebenarnya, yakni sepasang burung bangau yang terbang di atas dukuh), untuk memaparkan latar “sejarah” yang akan terjadi di sana. Ruang: Dukuh Paruk yang dikelilingi ribuan hektar sawah kerontang. Waktu: dibuka di satu musim kemarau panjang, 11 tahun setelah 1946. Juga ditekankan bahwa penduduk dusun tersebut, yang tinggal di 23 rumah, berasal dari keturunan yang sama. Mereka terikat persaudaraan darah dan daging. Ini penting untuk melihat bagaimana peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian mencoba mencerai-beraikan ikatan persaudaraan mereka.

Kedua tokoh utama segera diperkenalkan. Rasus, saat itu masih bocah berumur 13 tahun. Ia digambarkan sebagai pemimpin di antara teman-temannya, paling tidak, sebagai bocah paling cerdas. Ketika mereka kesusahan mencabut pohon singkong disebabkan tanah yang kering, sementara tak ada air untuk melunakkan tanah, ia muncul dengan gagasan mengencingi tanah di sekitar pangkal batang singkong tersebut, dan berhasil mencabutnya.

Tokoh kedua, si gadis kecil Srintil. Ia masih berumur 11 tahun ketika pertama kali diperkenalkan. Tak seorang pun pernah mengajarinya berdendang atau menari ronggeng, tapi ia bisa melakukannya nyaris sempurna. Itu membuat orang percaya bahwa roh indang telah merasuki tubuhnya. Indang adalah semacam wangsit di dunia ronggeng, ketika orang yang dirasukinya dipercaya akan terpilih menjadi ronggeng. Rasus dan Srintil bersahabat sejak kecil. Lebih dari itu, Rasus tampak mulai “cemburu” ketika Srintil terpilih menjadi ronggeng, yang artinya Srintil telah menjadi milik semua orang.

Meskipun cerita banyak berputar di sekitar kedua tokoh ini, terutama hubungan asmara mereka yang tarik-ulur, tentu saja Ronggeng Dukuh Paruk memaparkan dunia yang lebih luas dari itu. Hal paling penting, yang akan kita tengok ke depan, tentu saja bagaimana novel ini menyikapi tragedi paling berdarah dalam sejarah Indonesia modern: peristiwa penghancuran Partai Komunis Indonesia (PKI), dan pembantaian simpatisan mereka yang terjadi kemudian.

Terlebih menyangkut kedua tokoh utama ini, keduanya harus terpisah oleh sebuah peristiwa sejarah ini. Rasus, kelak akan diperkenalkan dengan identitasnya yang baru sebagai tentara. Sangat menarik bagaimana seorang prajurit (dalam hal ini Rasus) melihat dan terlibat dalam tragedi 1965 ini. Di sisi lain, juga akan muncul Srintil dengan identitasnya yang juga baru, sebagai penari ronggeng untuk propaganda kaum merah (PKI), dan bagaimana ia melihat dirinya di situasi itu.

 

Dari Ronggeng Dukuh Paruk ke Ronggeng Rakyat

 

Ihwal PKI dan kegiatan mereka, baru muncul di novel kedua, Lintang Kemukus Dini Hari. Judulnya mungkin menyiratkan mengenai kemunculan PKI di masa itu. Terbit dengan sangat benderang, meninggalkan ekor yang sangat panjang dan memudar. Lintang dalam bahasa Jawa berarti “bintang”, sementara kemukus berarti “berasap/berekor”. Bintang berekor yang dimaksud adalah komet Ikeya-Seki, yang memang muncul di sekitar masa itu.[2] Pemilihan judul tersebut besar kemungkinan untuk memperlihatkan kecenderungan novel ini menghubungkan segala peristiwa besar dengan fenomena alam yang juga besar atau unik.

Kisah kemunculan komet ini dan hubungannya dengan tragedi yang menimpa PKI tidak hanya (tampaknya) hidup di benak masyarakat, tapi pada tingkat tertentu telah diromantisasi di dalam karya sastra. Selain di novel ini, lintang kemukus juga hadir di novel Blues Merbabu karya Gitanyali,[3] sebuah novel yang kurang-lebih juga berlatar peristiwa 1965: “Begitu pun Ayah, yang seingatku menatap bintang itu dengan bibir komat-kamit. Banyak yang bilang, lintang kemukus pada dini hari menjadi pertanda akan hadirnya bencana besar, huru-hara, zaman penuh malapetaka” (Blues Merbabu, 40).

Ke dunia Dukuh Paruk, perihal PKI (atau apa pun yang berhubungan dengannya) dibawa pertama kali oleh Pak Ranu, seorang penggawa kantor kecamatan. Kedatangan Ranu ke Dukuh Paruk adalah untuk mengundang Srintil dan kelompok ronggengnya, agar berpentas di perayaan Agustusan. Meskipun awalnya Srintil tak berminat memenuhi undangan tersebut, tapi akhirnya ia menerimanya juga. Dan terbukti perayaan Agustusan tersebut tak semata-mata perayaan Hari Kemerdekaan, tapi telah menjelma menjadi arena propaganda politik. Seseorang bahkan menyodorkan secarik kertas berisi daftar dan lirik lagu. Tembang-tembang itu sudah mereka kenal sebelumnya, hanya saja di beberapa tempat lagu-lagu tersebut diselipi kata rakyat dan revolusi.

“Agitasi, propaganda, serta slogan kutukan membakar seluruh lapangan dalam kepalan ribuan tangan serta riuhnya bunyi tambur” (Ronggong Dukuh Paruk, 180). Apakah Pak Ranu (atau Pak Camat yang mengutusnya) adalah kaki tangan orang-orang Komunis? Apakah upacara Agustusan tersebut adalah ajang kampanye politik PKI? Memang tidak secara jelas disebutkan, tapi di bagian lain, merujuk ke upacara yang sama, diperlihatkan tanda-tanda melalui dialog (Sakum yang buta dan anaknya) berikut ini: “‘Wah! Merah, merah, Pak. Bapak tidak melihat, ya?’/‘Apa yang merah?’/‘Semua, banyak sekali. Orang-orang bertopi kain merah. Bendera-bendera merah. Tulisan-tulisan merah’” (181). Meskipun merah tidak dimonopoli oleh PKI, tapi warna itu memang identik dengan partai tersebut.

Tentu saja ini diperkuat dengan hubungan Srintil dan Dukuh Paruk, dengan orang-orang dan rapat-rapat besar di kemudian hari, yang jelas mewakili partai berlambang palu dan arit ini.

Dalam pentas Agustus itu pula, rombongan ronggeng Srintil yang awalnya hanya dikenal sebagai Ronggeng (dari) Dukuh Paruk, tiba-tiba disebut, “. . .seniman-seniman rakyat! Rakyat yang perkasa, rakyat yang demikian tangguh, sehingga mereka masih tetap menyanyi dan menari meskipun telah berabad-abad hidup tertindas” (187). Tanpa mereka ketahui atau kehendaki, Ronggeng Dukuh Paruk telah mengawali langkah kecil mereka yang tak terelakkan untuk mendekat ke kelompok merah, kelompok pembela rakyat tertindas, kelompok orang-orang Komunis, yang kelak akan sangat menentukan nasib mereka.

Keterlibatan Srintil dan kelompok ronggengnya dengan orang-orang Komunis semakin mendalam dengan kehadiran Bakar, meskipun sebagaimana kasus keterlibatan mereka di upacara Agustusan, juga bukan atas kehendak mereka.

Dalam hal ini, orang-orang Komunis digambarkan tidak dengan cara simpatik. Mereka merekrut kader baru (dalam hal ini Srintil dan kelompok orang-orang Dukuh Paruk), meskipun awalnya tampak dengan cara halus tetapi pada dasarnya juga memasang jebakan. Jika hal demikian dianggap gagal, mereka bahkan bisa melakukan tindakan yang memaksa. Kita bisa mulai dari apa yang dilakukan Pak Ranu (jika kita sepakat bahwa ia adalah kader PKI). Ketika Srintil menolak untuk menari di acara Agustusan (yang kemudian berubah jadi arena kampanye membela rakyat tertindas), Ranu langsung mengancam: “Pikirkanlah baik-baik, wong Dukuh Paruk. Kami tidak rugi bila sampean menampik permintaan ini. Sebaliknya, sampean bisa menghadapi kesulitan karena telah mengecewakan pihak kecamatan” (162).

Bakar melakukannya lebih pintar daripada Ranu.

Bakar diperkenalkan sebagai “orang yang selalu berpidato berapi-api” (228). Ia muncul ke Dukuh Paruk dengan sikap yang ramah dan kebapakan. Tak hanya Srintil yang menganggapnya ayah, tapi seluruh penduduk “yang bersahaja serta-merta menerima Bakar sebagai orang bijak yang bisa memimpin dan melindunginya” (228). Ia juga selalu membayar Srintil dengan upah tinggi sekaligus sikapnya dingin terhadap tujuan-tujuan erotis. Tak hanya itu, kepada rombongan ronggeng tersebut, Bakar memberi seperangkat alat pengeras suara, dan penduduk Dukuh Paruk sangat membanggakan peralatan elektronik yang pertama kali masuk ke dukuh mereka tersebut.

Dengan semua kebaikannya tersebut, Bakar diterima di Dukuh Paruk bagaikan seorang kamitua. Mereka menuruti kata-kata dan pengaturannya, sehingga ia bisa meminta mereka memasang lambang partai di gerbang masuk ke dukuh, serta papan nama di depan rumah Kartareja, si dukun ronggeng.

Bakar tidak mempergunakan kepandaiannya “berpidato berapi-api” di dusun itu. Ia hanya menginginkan Srintil dan rombongannya sebagai alat penarik massa. Untuk tujuan tersebut, tentu saja Bakar telah berhasil mempergunakan Srintil dan teman-temannya. “Pokoknya massa amat banyak telah berkumpul dan dia berkesempatan mengolah emosi mereka. Hanya emosi, karena seorang dengan kepala penuh teori seperti Bakar pasti tahu bahwa lebih dari itu, tentang kesadaran ideologi misalnya, sulit dimengerti oleh orang-orang dusun” (231).

Semua itu diperoleh Bakar dengan segala kebaikan yang diberikannya kepada Srintil dan orang-orang dukuh. Srintil sendiri, setelah menghadapi semua kebaikan Bakar, menjadi tak kuasa berkata tidak setiap kali utusan Bakar datang untuk memintanya ambil bagian dalam acara mereka. Hingga pada 1964 itu, kelompok Srintil praktis telah menjadi bagian dari “kelompok Bakar”. Bahkan nama Srintil dan Ronggeng Dukuh Paruk, telah memperoleh nama baru di masa tersebut: Ronggeng Rakyat.

Tentu saja perubahan nama dan suasana ketergantungan tersebut dengan segera membuat gelisah Srintil dan teman-temannya. Mereka hanya orang-orang dusun yang ingin meronggeng, bukan berpolitik. Kegelisahan tersebut semakin menjadi-jadi ketika setiap kali seusai rapat dan mereka mengisi acara kesenian, acara itu menjadi awal bagi aksi merojeng padi. Itu tindakan massa yang mengamuk, merampok padi yang menguning, hingga terjadi kerusuhan antara perampok padi dan pemilik sawah.

Bakar memiliki alasan untuk tindakan seperti itu: “Yang sedang terjadi adalah sebuah aksi massa, sebuah gerakan kaum miskin yang sekian lama mengalami ketidakadilan. Mereka berkeringat mengerjakan sawah para pemilik tanah. Tetapi mereka tak pernah ikut memetik hasilnya kecuali sekadar untuk hidup, bahkan kurang dari itu. Kini saatnya menuntut hak” (233).

Di titik ini, Srintil dan orang-orang dukuh memutuskan untuk mengundurkan diri. Untuk tidak lagi tergabung dengan kelompok Bakar ataupun kegiatan politik lainnya. Apa yang mereka peroleh untuk penolakan ini? Suatu hari, mereka menemukan cungkup makam Ki Secamenggala, nenek moyang dan pusat kehidupan batin serta spiritual mereka, porak poranda. Dengan segera mereka mengambil kesimpulan, semua itu ulah Bakar, karena mereka tak lagi mau mengikuti kemauannya.

Kemarahan itu mereda ketika tak lama kemudian mereka menemukan caping bercat hijau. Pertama, penduduk dukuh tak memiliki caping seperti itu, maka boleh jadi itu caping si perusak cungkup makam. Kedua, kelompok Bakar tidak menggunakan atribut berwarna hijau, tetapi berwarna merah. Merah dan merah di mana-mana. Ketiga, ada kelompok dan partai lain yang mempergunakan atribut  berwarna hijau. Kita tahu, meskipun tak secara jelas diungkapkan di novel ini, partai-partai Islam mempergunakan warna hijau untuk identitas mereka. Di masa itu, sangat besar kemungkinan ini merujuk ke Partai Nahdlatul Ulama.[4] Demikian juga kita bisa mengerti mengapa orang-orang Islam tak akan menyukai makam Ki Secamenggala yang dikeramatkan dan bahkan disembah. Novel ini hanya menuliskan secara tersamar “pada tahun 1965 itu siapa pun tahu kelompok petani mana yang suka berpawai atau berkumpul dalam rapat dengan tutup kepala seperti itu” (236).

Persoalannya, kelompok “hijau”, Islam, ataupun Partai NU tak pernah muncul sebelumnya di dalam persoalan Dukuh Paruk, seolah-olah urusan dunia mereka hanya mengenai ronggeng dan kemudian orang-orang Komunis. Dalam hal ini, bisa jadi “caping hijau” tidak lebih dari jebakan Bakar dan teman-temannya. Kita bisa memahami ini dengan melihat bagaimana akibat peristiwa tersebut. Karena mereka tidak tahu siapa orang yang melakukan itu, “Akhirnya orang Dukuh Paruk menemukan jalan buat melampiaskan murka. Bukan dengan jalan mengayun parang atau meninju kepala orang-orang bercaping hijau, melainkan dengan cara menerima ajakan Bakar untuk meramaikan kembali rapat-rapat propaganda” (236).

Bakar, dengan perilaku yang kebapakan, dengan tangan bersih tanpa noda, akhirnya tergambarkan sebagai sosok serigala berbulu domba. Licik dan bengis di belakang. Dengan caranya, Bakar menjerat Srintil dan teman-temannya ke dalam perangkap sejarah. Ia tidak hanya menjadikan mereka “ronggeng rakyat”, tapi juga melibatkan mereka dalam gejolak zaman yang barangkali terlampau besar untuk ukuran orang-orang Dukuh Paruk. Apa pun, itulah yang kemudian terjadi. Srintil dan orang-orang Dukuh Paruk pada akhirnya menjadi bagian tragedi nasional, ketika rumah-rumah mereka dibakar dan Srintil ditangkap tentara.

 

Bencana sebagai kelalaian membaca perlambang

 

Sebelum membicarakan tragedi 1965 yang ditandai dengan ratusan ribu (ada yang menyebut lebih dari satu juta) orang menjadi korban pembantaian (sebagian besar simpatisan PKI), ada baiknya kita melihat bagaimana cara pandang novel ini atas bencana. Sejak awal, novel ini telah memperkenalkan kepada kita nama Ki Secamenggala. Ia diriwayatkan sebagai nenek moyang Dukuh Paruk dan penduduk dukuh memujanya. Kehidupan mereka berputar di sekitar kuburan Ki Secamenggala. “Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana” (10).

Ki Secamenggala adalah roh penjaga dukuh. Jika ada malapetaka, mereka percaya, roh ini sedang tidak senang.

Seolah sebagai pembuka untuk meramalkan bencana yang lebih besar, kita diajak untuk menengok masa lalu Srintil (si gadis perawan calon ronggeng), di sekitar peristiwa keracunan tempe bongkrek. Peristiwa itu melibatkan ayah dan ibu Srintil, pembuat tempe bongkrek, yang di satu pagi tanpa mereka sadari telah membuat tempe bongkrek beracun. Dalam peristiwa itu, sembilan orang dewasa dan 11 anak-anak meninggal. Itu termasuk ayah dan ibu Srintil, yang ikut memakan tempe bongkrek buatan mereka sendiri untuk membuktikan makanan tersebut tidak beracun.

Pada dasarnya penyebab kematian-kematian tersebut disebutkan dengan jelas: keracunan (meskipun tak disebutkan racun jenis apa, mungkin memang berlebihan untuk alam pikiran orang-orang dusun, hanya disebutkan: “barangkali engkau merambang bungkil dengan bokor tembaga” (26). Para penduduk memercayai itu. Juga dibuktikan oleh kematian si pembuat yang memakan tempe bongkrek buatannya sendiri. “Kebodohan memang pusaka khas Dukuh Paruk. Namun setidaknya orang-orang di sana bisa berpikir mencari sebab malapetaka hari itu” (24-25). Dengan kata lain, sebodoh-bodohnya mereka, orang-orang ini bisa berpikir rasional. Lihat pula apa yang dikatakan salah satu penduduk: “Santayib. Engkau anjing! Asu buntung. Lihat, bokor ini biru karena beracun. Asu buntung. Engkau telah membunuh semua orang. Engkau, engkauaaasssu. . . .” (26).

Hanya Santayib yang berpikir dengan cara berbeda: “Tidak bisa! Siapa tahu kejadian ini adalahpageblug. Siapa tahu kejadian ini karena kutuk roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Siapa tahu!” (26).

Santayib menyebut-nyebut roh pelindung desa mereka, yang kemungkinan besar marah karena lama tidak diberi sesaji (situasi dukuh saat itu tengah menghadapi kemarau panjang, sehingga bahkan penduduk mulai makan nasi gaplek, atau terpaksa menumbuk padi yang rencananya untuk benih). Santayib menghubungkan malapetaka kematian warga dukuh kepada sesuatu yang supernatural: kemarahan Ki Secamenggala.

Dalam pertentangan dua alam pikiran orang-orang dukuh ini, justru menarik apa yang dikisahkan oleh sang narator.

Diceritakan mengenai kedatangan cahaya kemerahan dari langit menuju Dukuh Paruk. Di atas dukuh, cahaya itu menyebar ke segala arah. Narator mengatakan, seandainya ada manusia Dukuh Paruk yang melihatnya, dia akan berteriak sekeras-kerasnya, “Antu tawa. Antu tawa. Awas, ada antu tawa! Tutup semua tempayan! Tutup semua makanan!” (22).

Narator menyebut “seandainya”, sebab kenyataannya tak seorang pun melihatnya. Semua orang tidur nyenyak. Tak seorang pun di Dukuh Paruk tahu. Dengan kata lain, hanya narator dan pembaca yang mengetahui hal itu. Dengan kata lain pula, narator ingin menyelipkan pengertian ini kepada pembaca, bahwa penyebab malapetaka kematian orang-orang yang makan tempe bongkrek adalah kedatangan antu tawa, justru bertentangan dengan kepercayaan penduduk yang melihat bencana itu disebabkan oleh “merambang bungkil dengan bokor tembaga”. Seolah ingin menegaskan hal ini, ditulis pula, “Cahaya alami yang dipercaya sebagai pembawa petaka datang tanpa seorang pun melawannya dengan tolak bala” (22).

Bencana itu datang karena tak ada orang yang tahu, dan tak ada yang mempersiapkan tolak bala. Tak ada yang melihat perlambang.

Perlambang adalah petunjuk penting dalam dunia meramal orang Jawa. Dengan cara pandang terhadap waktu yang tak melulu linear, dan peristiwa adalah kesinambungan sebab-akibat yang pasti, kemampuan membaca perlambang adalah suatu keharusan. Persoalan waktu dalam kosmologi Dukuh Paruk ini bisa kita lihat dari wejangan Sukarya, kakek Srintil, kepada orang-orang dukuh, “. . .kehidupan tidak maju ke depan dalam lintasan lurus, melainkan maju sambil mengayun ke kiri dan ke kanan dengan jarak yang sama jauhnya” (321). Untuk orang Dukuh Paruk, pengetahuan semacam itu bulanlah ilmu, melainkan ngelmu. Dan mengenai “ngelmu”, kita bisa merujuk soal ini ke telaah Denys Lombard, misalnya, di Nusa Jawa: Silang Budaya, “. . .ilmu yang sejati, ngelmu, terdiri atas kepandaian untuk ‘membaca’. Karena waktu terkandung dalam benda, dan masa depan dalam masa kini, ‘bacaan’ yang baik memungkinkan peramalan kejadian-kejadian yang akan datang”.[5]

Di dunia Jawa orang-orang Dukuh Paruk, bencana atau malapetaka bisa dilihat sebagai ketidakmampuan untuk membaca perlambang tersebut. Jika bencana kemudian terjadi, mereka bahkan bisa “menciptakan” perlambang-perlambang di mana mereka menempatkan diri seolah-olah telah abai terhadap perlambang-perlambang tersebut.

Perihal peristiwa keracunan tempe bongkrek di novel ini misalnya, bertahun-tahun setelah peristiwa itu, orang (melalui Nenek Rasus) mulai berkisah mengenai fenomena di kuburan Dukuh Paruk di malam kejadian. Banyak obor terlihat di atas kerimbunan pohon beringin di atas makam Ki Secamenggala. Juga terdengar tangis bersahutan. Bahkan Ki Secamenggala keluar dan mendatangi setiap mayat. Dan Sukarya, kakek Srintil, mengatakan, ia mendengar Ki Secamenggala mengaku, kematian orang-orang itu sebagai kehendaknya. Ia berutang nyawa sebanyak itu, dan harus dibayar oleh keturunannya.

Bagian-bagian itu tak muncul di masa peristiwa itu terjadi (jadi diragukan apakah benar-benar terjadi atau tidak), dan hanya diceritakan beberapa tahun kemudian.

Dengan merujuk ke (atau bahkan menciptakannya di kemudian hari) perlambang, maka pada dasarnya orang-orang Dukuh Paruk menempatkan semua bencana kembali ke keseimbangan kosmos mereka. Bencana datang karena kelalaian mereka “membaca” pertanda (melihat fenomena alam), atau kelalaian mereka melakukan laku yang benar (tidak memberi sesaji kepada Ki Secamenggala). Dengan kata lain, bencana bisa dilihat sebagai hukuman atas kebodohan (tak mampu atau abai “membaca”) atau kejahatan (tak melakukan laku yang benar).

Bahkan ditekankan di novel ini, “Orang Dukuh Paruk, siapa pun dia, menganggap wangsit sebagai bagian dari hukum yang pantang dilanggar” (40). Perlambang bisa berupa fenomena alam yang ganjil, bisa pula berupa mimpi yang membawa pesan, yang disebut wangsit.

Akan tetapi, bencana sesungguhnya Dukuh Paruk, yang terbesar, bisa dikatakan adalah kehancuran Srintil. Jika menilik latar belakang kehancurannya, kita bisa menemukan jejak-jejaknya sejak awal bahwa proses Srintil menjadi ronggeng, telah menyimpang dari laku yang seharusnya. Srintil telah dikutuk sejak pertama ia menjadi ronggeng.

Meskipun ia sudah dipercaya telah dirasuki indang, Srintil baru berhak menyebut dirinya ronggeng jika ia telah melewati dua tahapan adat lagi. Yang pertama adalah upacara pemandian yang secara turun-temurun dilakukan di depan cungkup makam leluhur mereka, Ki Secamenggala. Di depan makam, Srintil bahkan menari dan Kartareja kemudian kerasukan roh Ki Secamenggala, pertanda upacara tersebut diterima oleh sang leluhur.

Syarat kedua adalah upacara bukak-klambu. Ini adalah sayembara yang terbuka untuk laki-laki mana pun untuk memperoleh keperawanan Srintil. Untuk memperolehnya, peserta harus bisa memenuhi syarat tertentu (biasanya sejumlah uang) yang ditentukan oleh dukun ronggeng. Jika ada lebih dari satu yang bisa memenuhi syarat tersebut, dipilih siapa yang bisa membayar lebih tinggi sampai waktu yang ditentukan telah habis.

Di sinilah, pada dasarnya Srintil gagal melewati upacara tersebut. Seperti kita tahu, di malam tersebut, Srintil menyerahkan keperawanannya kepada satu-satunya lelaki yang ia cintai, Rasus. Sementara dua peserta sayembara masih bertengkar mengenai siapa yang paling berhak memperoleh keperawanan Srintil, gadis itu bertemu Rasus di belakang rumah. Mereka hampir melakukannya pertama kali, tapi tak terjadi sebab saat itu mereka berada di makam Ki Secamenggala. Kini, tanpa ada satu halangan, diselimuti kegelapan, Srintil menyerahkan dirinya kepada Rasus. “Alam sendiri yang turun tangan mengguruiku dan Srintil. Boleh jadi Srintil merasakan sesuatu yang menyenangkan. Tetapi entahlah, karena aku hanya merasa telah memperoleh sebuah pengalaman yang aneh” (76), demikian catatan Rasus kemudian.

Malam itu, Srintil telah melanggar “laku yang benar” sebagai calon ronggeng. Kutukan untuknya segera terjadi, ia tak bisa melupakan Rasus. Ia jatuh cinta kepada Rasus. Memang tak ada salahnya seorang ronggeng jatuh cinta kepada seorang lelaki, tapi masalahnya tak hanya berhenti di sana. Ia tak hanya jatuh cinta, ia ingin menikahi Rasus, dan ingin memiliki anak darinya. Itu bisa berarti akhir dari kariernya sebagai ronggeng. Hingga kemudian ia menyadari, Rasus menolaknya. Rasus tak menginginkannya menjadi istri. Dalam kata-kata Rasus, “Dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, aku memberikan sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk: ronggeng!” (107).

Srintil menjadi ronggeng dengan membawa sejenis kutukan yang membawanya ke bencana hidup. Bencana besar hidupnya (dan hidup orang-orang Dukuh Paruk) pun menunggu di belakang hari. . . .

 

 

Tragedi 1965 sebagai bencana

 

Kita bisa menengok sebentar ke sebuah buku yang belum lama ini terbit, Memecah Kebisuan.[6]Buku ini adalah bunga rampai yang memuat tuturan para penyintas tragedi 1965-1966.

Kisah akan mengutip salah satu cerita mengenai I Ketut Sumarta, yang pada November 1965, “Saya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara tanpa alasan penahanan yang sesuai hukum. Selama di dalam penjara, saya diperlakukan tanpa proses hukum yang jelas, melainkan semata-mata diinvestigasi berdasarkan skenario buatan setelah ditanyai nama dan umur. Meski pada akhirnya saya diberi surat pembebasan, sesudah dua tahun lebih ditahan karena tak ada indikasi jelas yang dapat membuktikan kebenaran tuduhan terhadap saya” (Memecah Kebisuan, 47).

Di sisi lain, kita akan mencoba melihat kisah seorang polisi bernama Beny, ditempatkan di Soe, sebuah kota kecil yang terletak sekitar 110 km arah timur Kupang. Beny mengingat, di tahun itu di seluruh kabupaten tempatnya berdinas, ada sekitar 700 orang dibunuh. Perintah datang dari Jakarta untuk membunuh semua tahanan tanpa pemeriksaan terlebih dahulu. Tahanan dengan berbagai alasan penahanan, seperti pencurian, perkelahian dan pembunuhan, semuanya dihabisi. Ada atau tidak ada hubungannya dengan PKI. “Tentara yang datang dari Kupang memerintahkan untuk membunuh semua tahanan dalam penjara Soe tanpa kecuali” (31). Pengalaman ini nyaris membuat Beny menjadi gila.

Kedua kisah tersebut bisa menjadi gambaran bahwa apa yang terjadi pada September 1965 dan setelahnya adalah suatu kekacaubalauan, kengerian, kekejaman, yang nyaris tak pandang bulu. Kebanyakan dari penyintas tidak menyadari bahwa mereka akan menjadi korban. Petaka itu datang tiba-tiba. Jika tidak ditangkap atau dibunuh, mungkin mereka menjadi pelaku yang menangkap dan membunuh. Ada hubungan dengan PKI atau tidak.

Bahkan untuk seseorang yang dekat dengan kekuasaan PKI pun, apa yang terjadi pada saat itu tetap seperti sesuatu yang datang tiba-tiba, meskipun mungkin tidak terelakkan. Kisah lain di buku itu, datang dari Sutarni. Ia adalah istri dari Njoto, anggota parlemen dari PKI buah Pemilihan Umum 1955, sekaligus Ketua II CCPKI.

Di pengujung November itu, Njoto sedang di rumah. Ia mengikuti rombongan Wakil Perdana Menteri I Soebandrio keliling Sumatra. Subuh memasuki 1 Oktober 1965 itu, Sutarni sedang berada di rumah Tari, adiknya, di Mampang Prapatan. Di rumah adiknya itu sedang ada acara keluarga. Saat itulah ia menerima telepon agar ia dan anak-anak segera pulang. Njoto pulang menjelang tengah malam, dan segera membawa mereka ke rumah mereka di Kebayoran Baru, tempat mereka biasanya menghabiskan liburan. Dari sana mereka menyaksikan bagaimana rumah mereka dan isinya dijarah. Mulailah episode pelarian dalam kehidupan mereka, sebelum tertangkap.

Semua kisah tersebut memberi gambaran peristiwa di sekitar akhir 1965, memberi sedikit perbandingan mengenai apa yang terjadi pada Srintil dan orang-orang Dukuh Paruk. Apa yang terjadi pada mereka barangkali lebih buruk. Mereka tidak mengerti baca-tulis, tidak mengetahui apa-apa mengenai politik dan ingar-bingarnya. Yang mereka ketahui hanya menari ronggeng, lalu pada suatu hari, hal itu menjadi cikal-bakal malapetaka yang menimpa mereka, tanpa mereka tahu mengapa hal itu terjadi.

Kita akan kembali dengan perkenalan anatara orang-orang Dukuh Paruk dengan Pak Ranu, satu babakan yang akan mengawali perjalanan orang-orang dukuh itu dengan dunia politik nasional. Bahkan mengawali perjumpaan tersebut, Sukarya, kakek Srintil telah melihat peristiwa-peristiwa kecil yang bermakna. Perlambang. Pertama, ia melihat seekor burung tlimukan terbang menerobos rumah dan membentur cermin hingga mati seketika. Kedua, sehari sebelumnya ia melihat ayam hutan hinggap di pohon angsana, dan itu adalah pertanda buruk. Ketiga, ia kejatuhan seekor cicak.

Ia segera pergi ke makam Ki Secamenggala untuk memasang sesaji dengan harapan bisa menangkal hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

Tapi yang lebih merisaukan Sukarya adalah ketika rombongan ronggeng Srintil menerima tawaran Ranu untuk tampil di pentas Agustusan, “Aku dilarang mereka membakar dupa, Kang. Juga syarat-syarat lainnya. Wah, hatiku sungguh tidak enak. Bisa terjadi apa-apa nanti” (Ronggeng Dukuh Paruk, 188).

Untuk warga Dukuh Paruk, itu sesuatu yang menyimpang. Setiap penyimpangan akan membawa malapetaka. Hingga penyimpangan itu terjadi lagi ketika mereka bertemu dengan Bakar. Tak hanya penggantian nama menjadi “Ronggeng Rakyat” serta segala tetek-bengek papan nama dan lambang partai, tapi terutama lagi-lagi, “Bagaimana kalau kita selalu dilarang memasang sesaji! Ini pelanggaran adat yang bukan main. Kartareja, aku amat takut menerima akibatnya” (229).

Lalu terjadilah apa yang terjadi di akhir Oktober 1965 tersebut.  Suatu masa yang tak akan dimengerti oleh orang-orang Dukuh Paruk. Mereka hanya menyaksikan betapa kehidupan tiba-tiba menjadi gagu, dan pasar malam tiba-tiba lenyap. Yang biasanya ramai menjadi sepi. Maka ketika tragedi itu terjadi, bagi orang Dukuh Paruk, itu adalah bencana sebagai hukuman atas kelalaian mereka membaca sasmita alam; pengabaian mereka atas kewajiban yang harus dilakukan (memberi sesaji sebelum pentas ronggeng, misalnya).

Ditandai dengan lintang kemukus yang berpijar dini hari, segerombolan orang-orang membakar rumah-rumah penduduk Dukuh Paruk. Kartareja dan Srintil (denyut nadi dukuh tersebut, sebab apalah artinya Dukuh Paruk tanpa seorang ronggeng?) ditangkap. Bahkan meskipun mereka tahu bahwa tragedi itu berskala besar, melibatkan orang-orang yang jauh dari mereka (“Di Jakarta para tentara sedang saling bunuh,” 237), mereka tetap melihat tragedi itu sebagai akibat kesalahan diri atau kelompok mereka.

“Inilah yang dulu kukatakan, dalam hidup segala hal mestilah dilakukan pada batas kewajaran,” kata Sukarya merenungi tragedi tersebut, dan karenanya, “Kita akan slametan. Mara bahaya yang mungkin menimpa kehidupan harus kita tumbal” (238). Mereka hanya dituntut untuk sumarahkepada kersaning zaman.

Lebih jelas lagi apa yang dikatakan oleh Srintil. Baginya, semua orang tidak salah. “Akulah tempat segala kesalahan hidup. Jadi akulah yang harus tahu diri. . .” (288).

Sikap orang-orang Dukuh Paruk barangkali cermin sikap mayoritas orang, baik didorong ketakutan maupun tidak. Dengan cara pandang seperti itu, pembinasaan manusia atas manusia lain bisa terjadi dengan cepat, dan mereka menerimanya seolah itu kersaning zaman. Kehendak waktu. Sesuatu yang tak terelakkan, akan terjadi dan memang terjadi. Mereka hanya menjalani pakem hidup, memerankan peran yang sudah ditimpakan kepada mereka sebagai nasib.

Atau dengan kata-kata Srintil, semua kegetiran yang dialaminya adalah bagian garis hidup yang harus ia lalui. Ia harus pasrah dan nrimo. Dalam hidup, orang harus menerima jatah: jatah yang manis atau jatah yang getir.

Sebagaimana mereka melihat penyebab zaman dengan cara seperti itu, demikian pula cara mereka menyikapi apa yang harus mereka lakukan setelahnya. Seperti waktu yang mereka pikir selalu berayun ke kanan ke kiri, maka ketika nasib mendorong mereka terlempar ke kiri, mereka harus mengembalikannya ke kanan.

Bagi Srintil, yang melihat nasib buruk dirinya (dan orang-orang kampungnya) berawal justru saat ia menjadi ronggeng, mengembalikan tatanan damai itu adalah dengan berhenti menjadi dongeng. Maka, betapa berbahagia dirinya ketika Sakum (yang buta) berkata, ia mendengar suara Srintil bukan lagi suara seorang ronggeng. Indang tak lagi bersemayan di dirinya. Srintil bukan lagi ronggeng, melainkan perempuan biasa.

Perubahan itu pun segera terlihat. “Ketika masih meronggeng Srintil selalu mandi telanjang dan tenang saja bila ada mata laki-laki mengintipnya, pura-pura tidak merasa sedang diintip atau bahkan sengaja demi mempermainkan jantung laki-laki. Itu dulu. Kini Srintil mandi dengan kainpetelasan sehingga hanya dari dada ke atas yang terbuka” (336).

Demikianlah bagaimana novel ini memandang tragedi 1965, dari kacamata orang-orang di Dukuh Paruk, terutama Srintil. Jika harus diperbandingkan, apa yang terjadi di masa itu barangkali bisa disamakan dalam tatanan waktu sebagai “sandikala”. Ada sebuah adegan ketika di tengah dorongan rasa marah, putus asa, Srintil menari diiringi sepasang pemusik kecapi, Wirsiter dan Ciplak. Demikian larutnya ia dalam tarian (dalam kemarahan dan keputusasaan), ia seolah tak peduli hari menjelang malam. Maka Wirsiter pun mengingatkan: hari sudah sandikala.

Itu waktu yang sangat peka. Senjakala, “Saat keseimbangan ekosistem alam bergoyang karena siang sedang beralih ke malam. . .ketika Bathara Kala turun mencari mangsa” (133). Sandikala, barangkali bisa juga dipergunakan untuk menyebut keadaan alam yang berguncang, dari tatanan nilai lama menuju tatanan nilai baru. Seperti saat senjakala, di puncak perubahan zaman ini, Bathara Kala juga turun mencari mangsa. Manusia hanya harus menerima nasibnya, bahkan sekalipun ia menjadi korban.

 


* Eka Kurniawan adalah novelis dan cerpenis. Lulus dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Novel terbarunya adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas(2014). Sebelumnya Lelaki Harimau (2004) dan Cantik Itu Luka (2002). Sementara buku cerpennya adalah Kumpulan Budak Setan (bersama Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad, 2010), Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (2005), dan Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (2005). Bukunya non-fiksinya adalah Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (1999). Ia anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2013-2015.

Esai ini pernah disampaikan dalam diskusi G 30 S dalam Sastra Indonesia di Serambi Salihara, 12 September 2012, 19:00 WIB.

 

[1] Yang dimaksud dengan Ronggeng Dukuh Paruk adalah keseluruhan novel karya Ahmad Tohari dalam trilogi ini: Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala. Saya mempergunakan edisi yang telah digabung (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, cetakan kedelapan, Desember 2011). Selanjutnya ditulis Ronggeng Dukuh Paruk.

[2] Ada dua komet dengan nama Ikeya-Seki. Yang ini, lengkapnya Ikeya-Seki: C/1965 S1. Pertama kali teramati pada 18 September 1965. Komet ini masih terlihat hingga awal 1966. Lebih lanjut mengenai komet ini, bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Comet_Ikeya-Seki.

[3] Gitanyali, Blues Merbabu (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011). Selanjutnya ditulisBlues      Merbabu.

[4] Persaingan NU dan PKI di Jawa sangat keras. Pada Pemilu 1955 mereka memperoleh peringkat ketiga dan keempat di bawah PNI dan Masyumi. Baca, misalnya, Herbert Feith,Pemilihan Umum 1955 di Indonesia (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 1999).

 

[5] Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya 3 (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), 104.

[6] Putu Oka Sukanta, ed., Memecah Kebisuan (Jakarta: Lembaga Kreativitas Kemanusiaan, 2011).

 

Berbagi

- TRAGEDI 1965 DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK