Belanja

ALEX SUPARTONO - Pengantar

M. FIRMAN ICHSAN - Fotografi dan Budaya Visual

NIRWAN AHMAD ARSUKA - Sontag: Citra Waktu

QARIS TAJUDIN — Helmut Newton dan Dunia Mode

 

Daftar Isi

Alex Supartono - PENGANTAR FOTOGRAFI DAN BUDAYA VISUAL

Bersama mesin uap dan telegraf, fotografi telah memperpendek jarak antarorang dan antarruang sejak dua abad lalu. Mesin uap sebagai perpanjangan otot telah memperbesar kemungkinan aksi dan mimpi manusia, telegraf mengubah pola komunikasi, dan fotografi menjadi mata yang terus bekerja memberi tatapan baru terhadap dunia. Dilihat dari dalam, fotografi adalah kerja ilmiah panjang mewujudkan mimpi mengabadikan pantulan citra di cermin. Mimpi melanggengkan apa yang pernah kita lihat atau lakukan dan menjadikannya jejak (atau bahkan saksi) sejarah yang kita bangun. Rekaman visual dalam bentuk lukisan dan karya grafis, selain terlalu mahal, dianggap tak lagi memenuhi tuntutan kecepatan dan efisiensi modernitas. Fotografi adalah bagian dari percepatan zaman yang terobsesi efisiensi mekanis. Prinsip fisika kerja pinhole atau camera obscura (kamar gelap) ditemukan jauh sebelum menjadi praktek fotografi. Dalam camera obscura, pemandangan di luar terpantul melalui sebuah lubang kecil (pinhole) ke dinding di seberangnya secara terbalik. Pada abad ke-11 para ilmuwan Arab sudah memakainya sebagai hiburan dengan menjadikan tenda mereka sebagai camera obscura, sebelum Leonardo da Vinci di akhir abad ke-15 menggambar rincian sistem kerja alat yang menjadi muasal kata "kamera" itu. Seabad kemudian—berbentuk kotak dan mudah dibawa ke mana-mana—piranti ini sudah menjadi salah satu alat kerja para pelukis yang umum dipakai, membantu mereka mendwimatrakan realitas tiga dimensi yang akan mereka lukis. Perkembangan teknologi lensa kemudian tidak hanya membuat citra itu semakin jelas tapi juga tidak terbalik, dan camera obscura pun mulai menjadi benda umum. Masalah berikutnya adalah bagaimana meninggalkan jejak citra di dalam camera obscura. Pada tahun 1727, ilmuwan Jerman Johann Heinrich Schulze menemukan kimia perak yang menghitam ketika terkena cahaya. Penemuan ini dilanjutkan oleh koleganya dari Inggris, Thomas Wedgwood, yang mulai berhasil merekam citra secara fotografis. Percobaan Wedgwood ini menghasilkan citra primitif bayangan berbagai obyek. Tetapi ternyata citra ini terus menggelap sampai tak ada lagi yang bisa dilihat. Dengan lain kata, Wedgwood tak berhasil mewujudkan citra ......

M. Firman Ichsan - FOTOGRAFI DAN BUDAYA VISUAL

Semenjak kehadirannya fotografi disebut sebagai alat perekam dan penghadir ulang kenyataan yang paling ampuh.[i] Kepekaannya terhadap detail dan ketepatannya akan waktu membuat kita, manusia modern, mengagungkannya sebagai bagian dari kemajuan manusia dalam merekam sejarah umum maupun diri kita sendiri—foto ulang tahun, perkawinan, kelahiran anak, dan seterusnya. Terlebih ketika kurang dari seabad setelah kelahiran fotografi, televisi masuk ke rumah-rumah[ii] dan menjadi acuan berita dan pola kehidupan masyarakat lokal maupun masyarakat yang lebih luas. Kenyataan itu turut menggiring kita kepada anggapan bahwa fotografi merupakan media penghadir kenyataan yang obyektif. Perkembangan masyarakat modern yang amat tergantung pada kecepatan dan ketepatan informasi serta komunikasi juga menjadikan fotografi salah satu alat paling andal. Namun, sedemikian sederhanakah adanya? Bukankah foto atau citra dihadirkan kembali di media massa bersama teks atau narasi yang merajut konteksnya? Seberapa jauh kemungkinan adanya penyimpangan, baik disengaja atau tidak, di sana?   Sejarah kepercayaan pada lensa Ada anggapan bahwa kepercayaan pada budaya visual yang berasal dari budaya lensa ini lahir pada abad ke-19 ketika kamera ditemukan. Saat Revolusi Industri dengan teknologinya tengah marak, tatanan masyarakat kapitalisme di Barat tentu mulai mengenal dan terpengaruh budaya baru ini. Tetapi anggapan tadi sesungguhnya terlalu sederhana. Sebab jauh sebelumnya, di tahun 1285, telah ditemukan kaca pembesar sederhana yang mengawali wawasan baru pada pandangan ilmuwan.[iii] Sekitar tahun 1550, Girolamo Cardano tercatat sebagai orang pertama yang memasang lensa yang memungkinkan adanya bukaan (aperture) pada camera obscura (kamera lubang jarum). Lensa dari kaca—berbentuk bikonveks seperti butir buah lentil (miju-miju), sebuah kata yang menyebabkan kita menyebutnya lensa—yang dipasang pada kotak kedap cahaya (kamera lubang jarum) telah menjadi alat bantu sangat penting bagi para pelukis di zaman itu. Tiga tahun kemudian Franciscus Maurocylus, seorang ahli matematika dari Italia, seperti dinyatakan dalam catatan berjudul Diaphana (1553), menjadi orang pertama yang menyepadankan lensa kaca dengan lensa kristalin ......

Nirwan Ahmad Arsuka - SONTAG: CITRA-WAKTU

Jika seni rupa adalah sastra, dan lukisan adalah puisi, maka fotografi adalah bahasa. Antara lain karena kemampuannya yang tanpa preseden dalam mengabadikan dan menggandakan semua citra (bukan hanya yang bisa langsung dicerap), fotografi memang bukan lagi sekadar sebuah bentuk seni; ia lebih luas dari seni. “Fotografi adalah medium yang dengannya seni diciptakan—Susan Sontag menggaritkan kalimat ini di buku On Photography.[i] Pendapat yang menandaskan bahwa fotografi—dan tentu saja sinema—adalah bahasa, sudah muncul juga, misalnya, pada André Bazin.[ii] Dengan memumpunkan perhatian pada fotografi dan menangguhkan pertautannya dengan sinema, Sontag menggarap dan memperkokoh pendirian itu lebih lanjut. Di OP, kitab tipis yang menjadi salah satu “karya terpenting tentang fotografi”,[iii] Sontag bahkan menyebut fotografi sebagai sebuah meta-seni: sebuah medium sekaligus cita-cita tertinggi seni. Di abad ke-19, Walter Pater menyebut bahwa semua seni bercita-cita menjadi seperti musik yang mampu melebur habis bentuk dan isi. Sontag, di abad ke-20, mengoreksi pendapat Pater dan menandaskan betapa semua seni justru bercita-cita menjadi seperti fotografi. Selain sanggup hidup seperti musik yang mengolah mediumnya sebagai isi itu sendiri, fotografi juga berwatak demokratis karena bisa dikerjakan oleh siapapun—serempak mengeram kekuatan revolusioner mendobrak diskriminasi antara seni buruk dan seni indah. Di buku Regarding the Pain of Others,[iv] Sontag kembali mengangkat kekuatan fotografi—khususnya kekuatan yang membuat meta-seni pelukisan dengan cahaya itu sanggup mewujudkan cita-cita mustahil sastra. Watak obyektif pada fotografi adalah sesuatu yang niscaya: hubungan antara fotografi dan obyektivitas adalah hubungan antara garam dapur dan rasa asinnya, antara butir intan dan kerapian struktur karbonnya. Sesuatu bahkan bisa disebut benar-benar terjadi jika ada fotonya—sebuah jaminan sekaligus tilas yang diabadikan bukan oleh makhluk hidup yang bisa subyektif, tetapi oleh benda mati yang tak punya pikiran dalam dirinya sendiri: kamera. Namun, kamera bisa mengabadikan tilas karena ada tangan yang membidikkannya; subyek yang punya pikiran sendiri. Gabungan antara kamera dan...

Qaris Tajudin - HELMUT NEWTON DAN DUNIA MODE

Helmut Newton adalah jenis manusia yang disukai oleh para psikiater. Setiap detail kepribadian dia adalah cerminan masa lalunya. Demikian pun karya-karya fotografinya. Kita dapat menemukan isi laci memori otaknya dalam foto-foto yang menyimpan perjalanan hidup dia yang penuh warna: kabur dari kekejaman Nazi, menjadi gigolo di Singapura, dipecat oleh The Straits Times, dan tinggal di kamp pengungsi di Australia. Pengalaman penuh warna itulah yang memungkinkan dia menghidupkan foto mode menjadi lebih manusiawi. Newton berhasil mengubah foto mode dari gambar-gambar busana menjadi gambar manusia yang kebetulan memakai baju (kata “kebetulan” perlu ditekankan karena Newton juga terkenal sebagai fotografer orang telanjang). Fokusnya bukan pada detail baju dan keliman kain, tapi pada ekspresi para model dan kerutan di kulit mereka. Lewat mata Newton, mode bukan sekadar tren dan desain, tapi juga kegetiran hidup dan isu politik. Dengan demikian, Newton tidak hanya menciptakan genre baru dalam fotografi seni, tapi juga memberi makna pada mode.   2 Helmut Newton berasal dari sebuah keluarga Yahudi kaya raya yang tinggal di kawasan Schoneberg, Berlin. Ia lahir di Minggu pagi musim gugur, 31 Oktober 1920. Seperti dongeng kelahiran seorang satria, hujan yang sedari pagi mengguyur Berlin tiba-tiba berhenti begitu dunia pertama kali mendengar suaranya pada pukul 11.30. Ia diperlakukan berbeda dari Hans, saudara tiri dari mendiang suami pertama ibunya, yang sepuluh tahun lebih tua darinya. Ia dimanjakan dengan kekayaan ayahnya yang memiliki pabrik kancing. Helmie, nama pangilan Helmut, adalah putra utama mereka yang manis (yang didandani seperti anak perempuan sejak bayi), sedang Hans adalah “berandalan” yang sering membuat masalah. Tetapi dari Hans-lah, yang disambangi penyakit kelamin sejak remaja, Helmut belajar tentang perempuan. Lewat Hans pula Helmut yang masih berusia enam tahun mengenal foto-foto telanjang. Ia mencuri-curi kesempatan untuk mengambil majalah-majalah Das Magazin dari laci Hans yang dikunci, pergi ke kamar mandi, dan mempelajari foto-foto perempuan telanjang—mengenakan stoking hitam dan sepatu hak tinggi—dengan ......

REDAKTUR NOMOR INI

Alex Supartono, Ayu Utami, Eko Endarmoko, Goenawan Mohamad, Hasif Amini, Nirwan Dewanto, Sapardi Djoko Damono, Sitok Srengenge, Zen Hae. DESAINER: Ari Prameswari. MANAJEMEN: Zulkifly Lubis

Berbagi