Belanja

Sejak edisi “Fotografi dan Budaya Visual” (2007),kalam hadir dalam versi online. Tetapi sejak itu pula kalam berhenti terbit. Kini kami hadir kembali dan dengan perwajahan yang baru pula. Tentu saja ini semacam percobaan untuk menguji daya tahan kami, para redaktur, untuk membangkitkan kembali kalam yang sempat “berhenti” terbit selama hampir enam tahun. Untuk sementara kami hanya menerbitkan makalah-makalah yang pernah disampaikan di acara diskusi, ceramah atau seri kuliah umum di Komunitas Salihara.

Di nomor ini kami sajikan empat tulisan karya Arif Bagus Prasetyo, Ignas Kleden, Manneke Budiman dan Sapardi Djoko Damono. Mereka mencoba memetakan kembali pertumbuhan kesusastraan Indonesia dalam satu abad terakhir, juga sejumlah pemikiran tentang Indonesia dalam karya sastra, baik Indonesia sebagai negara yang masih dicita-citakan maupun sebagai negara merdeka. Telaah mereka berfokus kepada puisi, novel/roman, lakon, cerpen, juga kritik sastra, yang ditulis dalam bahasa Melayu Balai Pustaka, bahasa Melayu Peranakan dan bahasa Indonesia modern.

Daftar Isi

Zen Hae - Pengantar: SIHIR NAMA

Indonesia adalah proyek abad ke-20. Sebelum itu, Indonesia sebagai bangsa, tanah air dan bahasa belum lagi lahir. Sutan Takdir Alisjahbana menyebut masa ini sebagai “prae-Indonesia” atau “jahiliah keindonesiaan”. Sebuah masa ketika kita hanya mengenal Hindia Timur Belanda atau Hindia Belanda dan kerajaan-kerajaan pribumi yang pernah berjaya di masa silam. Begitulah, hingga akhir abad ke-19 di gugusan Nusantara ini hidup sejumlah kerajaan pribumi, besar dan kecil, yang telah ditaklukkan atau mengakui kekuasaan Belanda. Namun, di luar daerah taklukan Belanda itu, sebagaimana dicatat G.J. Resink, sebenarnya masih ada kerajaan besar dan kecil lainnya yang tetap merdeka, yang disebut “daerah asing” oleh administrasi kolonial, di antaranya Aceh, Batak dan Goa—kerajaan-kerajaan yang “tidak berdiri di bawah, melainkan di samping Gubernemen Hindia Belanda.” Bahkan beberapa dari mereka baru berhasil ditaklukkan Belanda setelah 1910. Kendati demikian, upaya penamaan daerah jajahan Belanda di Asia Tenggara yang berbatasan langsung dengan jajahan Inggris di utara dan jajahan Portugis di Pulau Timor ini sudah dimulai pada pertengahan abad ke-19. Seorang pelancong Inggris yang tinggal di Singapura, George Windsor Earl, menciptakan dan menggunakan nama Indu-nesians pada 1850, ketimbangMalayunesians. Di beberapa tulisannya, James Richardson Logan, rekan Earl, kemudian menggunakan Indonesia, yang bermakna “Kepulauan India”, sebagai sinonim yang lebih ringkas untuk Indian Archipelago. Sementara, Adolf Bastian, etnolog Jerman, menggunakan namaIndonesien dalam lima jilid bukunya: Indonesien oder die Insein des Malayischen Archipel(Berlin, 1884-1894); sebagaimana Multatuli, pengarang roman Max Havelaar, memperkenalkanInsulinde yang sama maknanya dengan Indonesia. Penggunaan nama baru Indonesia sejauh ini berguna untuk bidang-bidang keilmuan yang memerlukannya, tetapi belum berdampak penting pada bangkitnya kesadaran kebangsaan di kalangan rakyat Hindia Belanda. Kebangkitan nasionalisme di negeri ini justru terjadi setelah semakin banyak kaum priyayinya yang menikmati pendidikan Belanda—di samping pendidikan Islam. Tak bisa dimungkiri, lewat Politik Etis yang bergulir sejak 1901 pemerintah Hindia Belanda memperluas kesempatan anak-anak golongan priyayi untuk menikmati pendidikan tingkat dasar dan menengah berbahasa Belanda. Perluasan kesempatan ini pada mulanya demi menjamin ketersediaan tenaga administrator kolonial ......

Arif Bagus Prasetyo - LAUT, BANGSA, PUISI: Menarasikan Keindonesiaan di “Bawah-Sadar” Puisi Indonesia

Menjelang dihukum mati oleh regu tembak tentara kolonial Spanyol, pahlawan nasional dan Bapak Nasionalisme Filipina, Jose Rizal (1861-1896), menulis puisi “Ultimo Adios”.[1] Puisi ini dikutip dalam buku terkenal Benedict Anderson tentang asal-usul nasionalisme, Imagined Communities (1983).[2] Dalam pandangan Anderson, puisi anak negeri jajahan yang ditulis dalam bahasa penjajah ini mencontohkan bagaimana bahasa mengilhamkan suatu keterikatan atau rasa cinta kepada “bangsa”, komunitas rekaan imajinasi itu. Merujuk pada “Ultimo Adios“, Anderson mencatat: Sesuatu yang termasuk intisari cinta politis ini dapat dibaca pada cara-cara bahasa menuturkan obyeknya: entah dalam khazanah kata yang merujuk kekerabatan (ibu pertiwi,Vaterland, patria), atau yang mengacu kepada rumah (heimat atau tanah air). Dua idiom tadi mencandrakan sesuatu yang membuat seseorang terikat secara alami. Seperti telah kita saksikan sebelumnya, segala sesuatu yang “alami” pastilah mengandung sesuatu yang bukan-pilihan. Dengan begitu, kebangsaan dilebur ke dalam warna kulit, gender, keorangtuaan, serta zaman-kelahiran—alias segala hal yang tidak menolong sama sekali. Dan dalam “ikatan alami” ini orang merasakan apa yang mungkin bisa disebut sebagai “keindahan paguyuban(gemeinschaft)”. Dalam formasi diskursif kebangsaan Indonesia pada awal abad ke-20, pandangan Anderson tersebut tampak berlaku pada sejumlah puisi Muhammad Yamin (1903-1962) yang sering dirujuk sebagai karya sastra Indonesia pelopor yang menyuarakan nasionalisme, aspirasi kebangkitan nasional dan persatuan keindonesiaan, terutama puisi “Tanah Air”, “Bahasa, Bangsa”, “Indonesia, Tumpah Darahku” dan “Bandi Mataram”.[3] Sekitar dua dasawarsa sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia dilahirkan di muka bumi, dalam sajak-sajak itu Yamin menyemaikan bayangan/perasaan keindonesiaan dengan mengoperasikan sederet idiom puitik yang menyiratkan ikatan-ikatan “alami” dan “kodrati” yang mengkonstitusi identitas seseorang: tanah, tanah air, tumpah darah, panorama alam tropis, ayah, ibu, istri, anak, ninik, keluarga, moyang, kawan, saudara, handai-tolan, kampung, badan, nyawa; seia sehidup semati, sekata sekumpul seikat sehati, senyawa sebadan sungguh sejati, sedarah-sebangsa. Inilah mata-mata rantai ikatan “alami-kodrati” yang terangkai menjadi “keindahan paguyuban” kebangsaan: “Perasaan serikat menjadi padu / Dalam bahasanya, permai merdu” (“Bahasa, Bangsa”). Yamin mengeksplisitkan sebuah ciri kesadaran nasionalis bahwa, ......

Ignas Kleden - KEKUASAAN, GENDER DAN HUBUNGAN PRODUKSI: Perspektif Tetralogi Pulau Buru

I Empat novel Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer dapat dinikmati dengan beberapa cara baca, karena karya-karya itu menampilkan suasana awal munculnya kesadaran kebangsaan di Hindia Belanda, dengan berbagai faset persoalan yang sama menariknya. Di sini akan diterapkan tiga cara membaca yaitu 1) Melihat keempat novel itu sebagai narasi tentang kehilangan yang harus ditanggung setelah suatu perjuangan panjang dan getir; 2) Membacanya sebagai cerita tentang hubungan antara lelaki dan perempuan dengan simpati besar terhadap peranan perempuan; 3) Meninjaunya sebagai lukisan tentang peranan hubungan produksi dalam perubahan masyarakat, khususnya dalam usaha emansipasi orang terjajah terhadap pihak penjajah, dan emansipasi perempuan terhadap dominasi laki-laki. Jilid I Bumi Manusia (selanjutnya akan disingkat BM) telah ditutup dengan kisah Nyai Ontosoroh kehilangan anak perempuannya, Annelies, yang harus dibawa ke negeri Belanda untuk ditempatkan di bawah perwalian Nyonya Amalia Mellema-Hammers sebagai istri sah Herman Mellema, setelah yang terakhir ini meninggal, dengan meninggalkan dua orang anak dari pergundikannya dengan Nyai Ontosoroh. Kehilangan yang  sama menimpa siswa HBS Surabaya bernama Minke, anak bupati kota B, yang diterima oleh Nyai Ontosoroh untuk tinggal di Boerderij Buitenzorg di Wonokromo, sebagai teman dan kekasih Annelies, dan seterusnya dinikahkan dengan Annelies, setelah dia lulus dari HBS Surabaya sebagai lulusan terbaik di kota itu. Ini juga cerita tentang Nyai Ontosoroh yang kehilangan kedua orangtuanya, yang tidak diakuinya lagi dan tidak pernah dijumpainya lagi dengan sengaja, setelah ayahnya yang ingin naik pangkat menyerahkannya kepada Herman Mellema, yang ketika itu menjadi administratur pabrik gula di Tulangan, Jawa Timur. Masih ada satu kehilangan lagi yang dialami Nyai Ontosoroh, yaitu kehilangan Tuannya, Herman Mellema, yang kedapatan mati mabuk di rumah bordil Kebun Jepun, milik seorang Cina. Jilid II Anak Semua Bangsa (selanjutnya disingkat ASB) ditutup dengan dirampasnya perkebunan dan pabrik susu Boerderij Buitenzorg oleh anak Herman Mellema dari istri sah. Anak ini bernama Ir. Maurits Mellema, pahlawan perang Belanda melawan Inggris di Afrika Selatan, yang datang ke ......

Manneke Budiman - Suara-Suara dari Tepian Negeri

Pengantar Istilah “tanah air” adalah sebuah produk imajinasi yang unik, yang berangkat dari suatu kenyataan bahwa ada sekumpulan daratan dan sekelompok perairan yang dipandang sebagai satu entitas terpadu, tempat sebuah komunitas manusia berdiam. Gagasan yang menyatukan unsur tanah dan air sebagai wadah sekaligus sumber kehidupan bersama ini barangkali bisa dikatakan khas Indonesia, dan langka didapati dalam bahasa-bahasa lain. Ada yang menyebut tanah air dengan istilah “homeland”, “fatherland”, atau “motherland”, tetapi pada umumnya istilah-istilah tersebut tidak mengejawantahkan kesadaran tentang bumi tempat tinggal komunitas manusia yang menyatukan diri sebagai nasion itu sebagai sebuah ruang yang dibentuk secara bersama-sama oleh daratan dan air. Dalam bahasa Indonesia juga dikenal istilah “tanah tumpah darah”, meski pemakaiannya tak sekerap “tanah air”, dan rujukannya adalah pada tanah kelahiran. Juga ada metafora “ibu pertiwi” yang memberi gender feminin pada tanah kelahiran, dan konsep ini memasukkan baik anasir tanah maupun air di dalam pemaknaannya, sebagaimana lirik lagu “Ibu Pertiwi” (penggubah anonim) menyebut “hutan, gunung, tanah, lautan” sebagai kekayaan bangsa. Gagasan tanah air ini lahir pada masa pergerakan nasional dan mengental pada masa revolusi, tetapi seperti kehilangan ruhnya ketika ambisi untuk menyatukan kelompok-kelompok bangsa berbeda dalam ruang bernama negara berubah menjadi obsesi. Pada 1922, Muhammad Yamin sudah memperkenalkan gagasan “tanah air” ini dalam sajaknya yang berjudul sama, meski rujukannya saat itu boleh jadi hanya sebatas Sumatra belaka sebagai tanah kelahiran Yamin. Dalam sajaknya, air, sungai, teluk, samudra, ombak dan laut disebut-sebut bersama-sama dengan sawah, gunung, bukit, hutan dan ngarai. Semangat yang terkandung dalam sajak ini senapas dengan tumbuhnya kesadaran nasional pada masa itu, yakni periode 1920-an. Setelah itu, Nur Sutan Iskandar menerbitkan novel Cinta Tanah Air pada 1944, yang merupakan masa peralihan dari era pergerakan nasional ke era revolusi. Sikap patriotis berbalut kisah percintaan mewarnai alur novel ini. Namun kemudian, gagasan tentang tanah air yang inklusif ini tampaknya mulai tenggelam. Memang benar bahwa, pada masa ......

Sapardi Djoko Damono - KESUSASTRAAN INDONESIA SEBELUM KEMERDEKAAN[1]

Pengantar Hal pertama yang harus dijelaskan dalam karangan mengenai sastra Indonesia adalah kapan ia lahir. Beberapa pengamat sudah membicarakan hal itu dan pada hemat saya tidak perlu adanya kata sepakat dalam hal ini. Bahasa Indonesia tumbuh dari bahasa Melayu dan dalam perkembangannya ia melibatkan kelompok-kelompok etnik lain yang masing-masing sudah memiliki kebudayaan dan bahasa sendiri—suatu hal yang justru memperkaya khazanah sastra itu sendiri. Yang dibicarakan dalam karangan ini adalah sastra yang dicetak dalam bahasa Melayu dengan menggunakan aksara Latin. Sastra yang ditulis atau dicetak dengan menggunakan aksara Jawi tidak dibicarakan sebab perbedaan penggunaan aksara dan serta penulisannya telah menyebabkan adanya batas antara sastra lama dan sastra modern. Sastra Melayu lama adalah khazanah yang ditulis dengan aksara Jawi, sebab itu memerlukan transliterasi jika disebarluaskan bagi umumnya pembaca sekarang. Di samping itu, sebagian besar khazanah itu ditulis, dan tidak dicetak, sehingga penyebarannya relatif terbatas. Dalam pembicaraan mengenai perkembangan sastra, faktor penyebarluasan dan khalayak tidak bisa ditinggalkan. Karangan ini diawali dengan pembicaraan sepintas tentang puisi.   Puisi dan Media Cetak Perkembangan puisi Indonesia dimulai sekitar pertengahan abad ke-19, ketika di negeri yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda ini masyarakat mulai mengembangkan media massa cetak. Tampaknya, perkembangan sastra kita tidak bisa dipisahkan dari perkembangan penerbitan; sejak awal, dalam berbagai penerbitan disediakan ruangan untuk sastra, terutama puisi. Pengamatan sementara menunjukkan bahwa kebanyakan sastrawan adalah juga wartawan, yang menekankan pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa Melayu sejak lama sudah menjadi bahasa komunikasi lisan di Nusantara, tetapi ketika kalangan pers menggunakannya sebagai alat komunikasi cetak, mereka tampaknya harus mengubah yang lisan itu menjadi tulisan, mengubah bunyi menjadi aksara. Tentu saja mereka sudah juga mengenal bahasa tulis sebelumnya, tetapi dalam perkembangannya bahwa bahasa yang dipergunakan dalam media massa ketika itu tidak bersumber pada bahasa tulis seperti yang kita kenal dari khazanah sastra Melayu lama. Jika memang demikian halnya, maka sumber bahasa Melayu cetak ......

REDAKTUR NOMOR INI

Ayu Utami, Goenawan Mohamad, Hasif Amini, Mohamad Guntur Romli, Nirwan Dewanto, Sitok Srengenge, Zen Hae. DESAINER: Ari Prameswari.

Berbagi