Belanja

Nomor ini mencoba menjawab kelangkaan kritik sastra. Mengatasi kelangkaan bukan dengan cara mengeluhkannya—hal yang kerap kita dengar di ruang seminar dan diskusi sastra—tapi dengan mengerjakan apa yang dianggap sedikit itu, agar ia membanyak. Kritik sastra dalam hal ini bukan lagi sekadar bagaimana menjembatani karya sastra dengan khalayak pembaca, tetapi juga berurusan dengan kenikmatan pembacaan dan peluang menemukan cara pembacaan baru. Dengan demikian, kritik sastra adalah sebuah seni tersendiri, yang berdiri sejajar dengan karya sastra, atau, jika dianggap perlu, menjadi cermin bagi keperajinan pengarang.

Tulisan-tulisan dalam nomor ini membahas puisi-puisi Goenawan Mohamad, novel Putu Wijaya dan Ahmad Tohari. Meski terbilang pembahasan yang kesekian terhadap karya-karya tersebut, tulisan-tulisan ini berhasil memilih fokus pembacaan yang menarik untuk dibagi kepada khalayak pembaca. Misalnya, apakah keunggulan puisi-puisi Goenawan Mohamad jika dibandingkan dengan puisi segenerasinya dan apa pula kaitannya dengan puisi pedahulunya dan puisi dunia? Mengapa realisme dalam novel Putu Wijaya menjadi penting dan membuatnya berbeda dari ragam realisme yang ada? Bagaimana sebenarnya duduk perkara Tragedi 1965 di mata warga Dukuh Paruk?

Pembaca budiman, selamat membaca.

 

 

Daftar Isi

Nirwan Dewanto - GERIMIS LOGAM, MAYAT OLEANDER

Membaca puisi Goenawan Mohamad adalah berperkara dengan pembacaan. Itulah puisi yang pada pembacaan pertama dan kedua terlihat mustahil: ketika ia menuju bentuknya yang terbaik, ada yang tetap tak terucapkan olehnya, ada yang dihindarkannya dari kesempurnaan. Mencerap puisi demikian adalah menghadapi “separuh ilusi”: setiap kali saya berharap bahwa puisi yang cemerlang adalah yang merasuk ke dalam diri saya dalam segenap keutuhannya, keseluruhannya, maka justru hal ini tidak terjadi—atau tidak segera terjadi jika saja saya masih memberikan diri kepadanya. Puisi adalah lukisan, tetapi lukisan yang urung: jika lukisan rupa sejati membentangkan diri sekaligus, tanpa awal dan akhir, maka puisi memberikan dirinya kepada kita tahap demi tahap, frasa demi frasa, kalimat demi kalimat, bait demi bait. Namun begitu saya selesai membacanya, saya pun segera sadar bahwa ia pun urung juga menjadikan dirinya sebagai urutan frasa, kalimat atau bait: ia adalah kejadian yang tampil dalam keserentakannya. Sia-sia belaka usaha saya untuk membacanya sebagai malihan cerita atau tamsil. Atau, setiap kali kita mengira bahwa puisi yang baik adalah yang unsur-unsurnya kait-mengait, saling memperkuat, untuk membentuk semacam tata yang membuatnya kokoh, kita mendapatkan yang sebaliknya. Bagi pemburu pesan, puisi akan jadi fluida yang selalu luput dari genggaman. Demikianlah pokok kita dengan puisi Goenawan Mohamad. Jika sebuah prosa mengantarkan kita sampai ke tujuan sesuai janjinya, sekalipun jalan-jalan yang harus kita lalui tidak lurus lempang, maka sebuah sajak tak pernah melunasi janjinya, atau ia seakan menyeret kita ke dalam labirin tanpa memberikan peta apa pun. Ia tidak membiarkan kita menjejak, namun membuat kita mengambang; di akhir puisi, kita tak mencapai apa pun, dan kita membacanya lagi dari awal, dan begitulah seterusnya. Dengan semacam rasa teracuni atau terbius, kita mengais ke balik unsur-unsurnya, mencoba mendapatkan intinya. Mengais terus-menerus, tampaknya kita tak akan menemukan inti apa pun. Di titik ini barangkali saya mengharapkan pembaca berpengalaman, yakni pembaca yang merasa menguasai—atau dikuasai—tradisi perpuisian tertentu, ......

Goenawan Mohamad - TUTUR, GUMAM DAN REALISME: Menyusur Novel-Novel Putu Wijaya

1   Novel bisa berkisah, novel bisa bergumam. Dalam sejarah sastra Indonesia,  Putu Wijaya adalah satu-satunya sastrawan yang pernah menghadirkan kedua kemungkinan itu. Dan ia meyakinkan. Di satu sisi ada Putri (terbit pertama kali pada 2004). Di sisi lain, sebelumnya, ada Telegram(terbit pertama kali pada 1971) dan Stasiun (terbit pertama kali 1977). Kedua “sisi” itu mewakili dua peran dan kemampuan kreatif yang berjauhan. Keduanya juga contoh bagaimana novel bertaut dengan realitas—atau kehidupan—dalam dua modus yang berbeda. Saya ingin menyusuri pertautan itu. Dengan novel-novel itu saya juga ingin menengok kembali apa yang saya pahami sebagai realisme—pokok yang praktis terabaikan dari pembicaraan tentang Putu Wijaya. Umumnya orang melihat dalam teaternya, dan juga pelbagai cerita pendeknya, yang fantastis dan absurd menyusup di mana-mana. Novel, sementara itu, menuntut sesuatu yang lain. Novel adalah “keratan  kehidupan” (saya pinjam perumpamaan seorang dramawan Prancis). Menulis novel adalah mengerat satu fragmen dari sebuah keseluruhan yang tak jelas tepinya, lantas memberinya bentuk. Bentuk adalah reduksi yang meringkus dan meringkas data yang bertaburan, susup-menyusup, berubah terus, centang perenang. Bentuk itu bermula ketika tiap kali sang novelis memandang ke dunia, ia memandangnya melalui sebuah “jendela” yang memberinya sebuah pigura pada hamparan kehidupan dalam tatapannya. Hasilnya: sekerat kehidupan yang menjadi berarti karena imajinasi sang novelis membangunnya. Menghadirkan kembali kehidupan dalam keratan itu berarti juga mengubahnya. Realisme, dalam perspektif ini, bukanlah cerminan, melainkan transformasi atas kehidupan.   2 Tentu saja dengan sedikit catatan. Putri, dua jilid cerita yang terbangun dari sekitar 1.000 halaman berada dalam tradisi realisme yang di Indonesia bermula sejak awal abad ke-20: dalam novel-novel Marah Rusli dan Marco Kartodikromo, Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis: sebuah karya yang menuturkan (bukan menghadirkan) tokoh dan dunianya kepada pembaca, melalui bagian demi bagian yang menyusun (bukan menciptakan) satu bentuk. Dalam majalah Horison (1984) Putu Wijaya pernah mengatakan karya-karyanya seperti lukisan Bali: “Di situ tidak ada perspektif. . .Kanvas penuh sesak. Semuanya penting.” Tapi Putri justru sebuah kanvas besar yang, meskipun menampilkan banyak tokoh lain ......

Zen Hae - SE(R)IKAT PUISI DARI TANAH AIR TANPA BATAS

Sepotong situasi: 1950-an Goenawan Mohamad hadir di gelanggang sastra Indonesia sekitar satu dasawarsa setelah kematian Chairil Anwar. Dalam esainya “Potet Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang” Goenawan menulis: “Pada umur yang kedelapan-belas (yakni, 1959—ZH), seorang anak muda menulis sajak.”[1] Tapi, karyanya yang paling awal dan berhasil dikumpulkan dalam Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 adalah puisi bertitimangsa 1961, atau puisi yang ditulis ketika ia berusia 20 tahun.[2] Perbedaan satu dasawarsa ini tidak serta-merta memisahkan Goenawan dengan Chairil, tetapi, sebaliknya, menghubungkan keduanya, juga dengan situasi di sekitar kemunculannya, yakni di pengujung era 1950-an. Kematian Chairil Anwar pada 28 April 1949 menimbulkan perkara serius dalam gelanggang sastra Indonesia. Setelah kematiannya orang mulai menyoal, antara lain, nasib Angkatan 45, pengaruh persajakan Chairil terhadap penyair-penyair sesudahnya, krisis penciptaan sastra akibat kepulangan Chairil selaku tokoh terpenting angkatan tersebut, plagiarisme yang ditujukan kepada beberapa puisi Chairil, hingga soal kemunculan angkatan baru setelah Angkatan 45. Begitulah, meskipun sejumlah eksponen Angkatan 45—bahkan Pujangga Baru—masih tetap berkarya setelah kematian Chairil—sekadar menyebut beberapa nama: Asrul Sani, Rivai Apin, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Sitor Situmorang, pada awal 1950 mulai muncul keluhan akan krisis atau kelesuan di dalam kesusastraan Indonesia modern, dan itu berlangsung hingga pertengahan dasawarsa itu.[3] Malah, Soedjatmoko, salah seorang pemikir kebudayaan yang aktif di masa itu, menyebut kriris sastra itu sebagai akibat dari “krisis kepemimpinan politik”.[4] Memang, saat itu telah muncul satu generasi sastrawan baru yang cukup menonjol—seperti Kirjomulyo, Ajip Rosidi, Rendra, Ramadhan K.H., Nugroho Notosusanto, Subagio Sastrowardoyo—tetapi dengan kualitas dan orientasi budaya yang berbeda dari Angkatan 45. Setidaknya, mereka tidak lagi sibuk dengan proyek meraih pengakuan sebagai “ahli waris kebudayaan dunia”—sebagaimana dinyatakan dalam “Surat Kepercayaan Gelanggang”.[5] Mereka lebih tergolong ke dalam generasi pengarang yang “menjadi Indonesia”, sebuah situasi kebudayaan yang berlangsung sepanjang 1950-1965.[6] Malah, Nugroho Notosusanto, dalam esainya “Situasi 1954”, bagian 4, esai yang ditulisnya untuk Ramadhan K.H. dan dimuat di ......

Eka Kurniawan* - TRAGEDI 1965 DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK

Ronggeng Dukuh Paruk[1] karya Ahmad Tohari dibuka dengan lanskap tatapan burung (dalam arti sebenarnya, yakni sepasang burung bangau yang terbang di atas dukuh), untuk memaparkan latar “sejarah” yang akan terjadi di sana. Ruang: Dukuh Paruk yang dikelilingi ribuan hektar sawah kerontang. Waktu: dibuka di satu musim kemarau panjang, 11 tahun setelah 1946. Juga ditekankan bahwa penduduk dusun tersebut, yang tinggal di 23 rumah, berasal dari keturunan yang sama. Mereka terikat persaudaraan darah dan daging. Ini penting untuk melihat bagaimana peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian mencoba mencerai-beraikan ikatan persaudaraan mereka. Kedua tokoh utama segera diperkenalkan. Rasus, saat itu masih bocah berumur 13 tahun. Ia digambarkan sebagai pemimpin di antara teman-temannya, paling tidak, sebagai bocah paling cerdas. Ketika mereka kesusahan mencabut pohon singkong disebabkan tanah yang kering, sementara tak ada air untuk melunakkan tanah, ia muncul dengan gagasan mengencingi tanah di sekitar pangkal batang singkong tersebut, dan berhasil mencabutnya. Tokoh kedua, si gadis kecil Srintil. Ia masih berumur 11 tahun ketika pertama kali diperkenalkan. Tak seorang pun pernah mengajarinya berdendang atau menari ronggeng, tapi ia bisa melakukannya nyaris sempurna. Itu membuat orang percaya bahwa roh indang telah merasuki tubuhnya. Indang adalah semacam wangsit di dunia ronggeng, ketika orang yang dirasukinya dipercaya akan terpilih menjadi ronggeng. Rasus dan Srintil bersahabat sejak kecil. Lebih dari itu, Rasus tampak mulai “cemburu” ketika Srintil terpilih menjadi ronggeng, yang artinya Srintil telah menjadi milik semua orang. Meskipun cerita banyak berputar di sekitar kedua tokoh ini, terutama hubungan asmara mereka yang tarik-ulur, tentu saja Ronggeng Dukuh Paruk memaparkan dunia yang lebih luas dari itu. Hal paling penting, yang akan kita tengok ke depan, tentu saja bagaimana novel ini menyikapi tragedi paling berdarah dalam sejarah Indonesia modern: peristiwa penghancuran Partai Komunis Indonesia (PKI), dan pembantaian simpatisan mereka yang terjadi kemudian. Terlebih menyangkut kedua tokoh utama ini, keduanya harus terpisah oleh sebuah peristiwa sejarah ini. Rasus, kelak akan diperkenalkan dengan identitasnya ......

REDAKTUR NOMOR INI

Ayu Utami, Goenawan Mohamad, Hasif Amini, Mohamad Guntur Romli, Nirwan Dewanto, Zen Hae. DESAINER: Ari Prameswari.

Berbagi