Belanja

Kalam nomor ini memuat delapan esai tentang seni rupa yang berasal dari pelbagai acara di Komunitas Salihara. Mulai dari diskusi, kuliah umum hingga pengantar kuratorial pameran seni rupa. Masalah yang dibahas pun sangat beragam, mulai dari problem dasar seni rupa modern di Indonesia, yakni seni sebagai peristiwa, tradisi patung modern di Indonesia, erotisme dalam seni rupa, lukisan abstrak, hingga lukisan palsu. Bukan hanya itu, tampak pada masing-masing tulisan perbedaan gaya masing-masing penulis. Luasnya bidang perhatian yang ditampilkan nomor ini memperlihatkan masih banyaknya masalah dalam dunia seni rupa kita yang layak mendapat kajian serius—dengan gaya penulisan yang berbeda satu sama lain. Memang tidak semua soal dibicarakan dan tertampung dalam nomor ini, tetapi inilah sepilihan tulisan yang mengetengahkan kemajemukan problem seni rupa modern di Indonesia. 

Daftar Isi

St. Sunardi - SENI SEBAGAI PERISTIWA (EVAKUASI SUBYEK)

Seni sebagai peristiwa. Ya, ini sebuah perspektif yang menarik dan menantang untuk melihat seni. Peristiwa! Suatu ungkapan yang menunjuk suatu kejadian yang tidak bisa kita maknai sepenuhnya namun justru karena itu kita ingin kembali ke sana terus-menerus. Peristiwa menjadi titik tolak dan referensi hidup manusia. Hidup kita sehari-hari—baik pribadi maupun kolektif, entah sadar atau tidak—senantiasa bertitik tolak dari suatu peristiwa dan senantiasa menanti peristiwa-peristiwa baru. Orang-orang di sekitar Gunung Merapi, Jawa Tengah, misalnya, menjadikan erupsi terakhir sebagai titik berangkat (entah karena rumah mereka hancur, kehilangan anggota keluarga, atau bahkan rumah mereka menjadi bagus) dan entah sadar atau tidak, siap untuk terjadinya peristiwa erupsi selanjutnya dengan akibat yang belum diketahui. Dengan demikian hidup ibarat mencoba membuat ritme peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya tidak bisa dibuat. Tapi sering hasilnya getir. Begitu ada ritme, suatu peristiwa menginterupsi kembali dan semuanya seakan mulai dari titik nol. Apa artinya mendekati seni sebagai peristiwa? Sejujurnya, setiap seniman dan para pendukungnya pasti berharap agar karya seni yang sedang diselenggarakan (pameran, pentas, pemutaran) bisa menjadi peristiwa bagi mereka yang menikmatinya. Bukalah katalog atau sinopsis pameran atau pertunjukan. Di sana kita akan diyakinkan bahwa seni yang akan diselenggarakan itu pasti bisa menjadi bagian peristiwa kehidupan, baik sang seniman maupun orang kebanyakan. Peristiwa apa? Kita tidak tahu. Yang jelas, dari satu sisi kita secara diam-diam mengharapkan seni bisa menjadi peristiwa kehidupan. Tanpa menjadi peristiwa, seni bisa menjadi rutinitas yang membosankan. Namun dari sisi lain kita masih terombang-ambing peristiwa macam apa sebenarnya yang kita nantikan dalam dan lewat seni. Justru “jenis peristiwa macam apa” inilah yang patut menjadi pemikiran para seniman maupun para pengamat seni. Untuk membatasi diri pada jangkauan yang begitu luas ini, saya mau bertitik tolak dari sebagian tulisan dari buku kumpulan tulisan Vodka dan Birahi Seorang “Nabi” (Jalasutra, 2012), karena dalam buku ini saya bisa mengenali kembali pengalaman saya bersentuhan dengan dunia ......

Hendro Wiyanto - SENI DAN PERISTIWA

Pokok tulisan ini adalah seni dan peristiwa dalam dua dekade terakhir, khususnya di Indonesia. Tapi untuk sedikit mendiskusikan hal ini, agaknya kita justru mesti menyusurinya agak jauh ke belakang, pada jejak-jejak yang ditinggalkan pada pertengahan dekade 1970-an. Di sekitar masa itulah isu mengenai representasi—khususnya seni rupa—mengalami guncangan. Kita boleh menyebutnya sebagai krisis representasi, sebelum seni bertubi-tubi datang sebagai “peristiwa”.   Danarto dan kesurupan Pada mulanya adalah Danarto. Pada 1974 seniman serbabisa ini “menulis” sebuah “cerita pendek” dengan tajuk yang tidak lazim: sebuah gambar, jalur-jalur penanda notasi dengan gelombang cak dan ngung.[1] Tapi menulis cerita pendek bagi Danarto tidak cukup menghasilkan ragam tulisan; ia juga menggambar, mengetengahkan berbagai citraan. Seperti seorang perancang tipografi yang piawai, Danarto menggubah, menyusun dan memain-mainkan susunan kata dan ragam aksara layaknya menata gambar. Sebuah cerita bagi Danarto agaknya memerlukan wadahnya yang lain, yang tidak sekadar mengikuti standar karya sastra, misalnya saja kelancaran alur cerita. Wadah itu bagi sensibilitas Danarto yang jamak adalah komposisi atau tata rupa, yang memungkinkan cerita—sistem-sistem penandaan melalui struktur yang bermakna—dapat beralih rupa sebagai obyek-obyek gambar. Kata-kata mengantarkan pesan, tetapi kata adalah juga obyek rupa, raut geometri yang memiliki asosiasi tertentu dengan satuan-satuan ekspresif perupaan. Memasuki struktur cerita karya Danarto dengan demikian tak dapat dilepaskan dari menikmati keartistikan dan susunan rupa-gambar. Danarto agaknya ingin menggiring kita untuk mengalami apa yang “permukaan” pada penanda, yakni ragam rupa tulisan, menyadari kehadiran mediumnya yang asali, yakni aksara sebagai citra atau imaji. Apakah citra atau imaji (image, imitari) itu adalah batas pemaknaan atau malah mau meluaskannya? Menikmati karya itu adalah memasuki wilayah abu-abu yang menerobos batas-batas representasi bahasa dan gambar. Apakah gambar—sebagai sistem atau representasi analogis, sebagai imitari—justru dimaksudkan untuk berdamai ketimbang bertentangan dengan sistem-sistem penandaan atau makna (bahasa)? Apakah yang inteligibel, pernyataan-pernyataan yang dapat kita tangkap, sebagaimana kita memahami pesan sebuah kalimat, perlu menjadi antipati terhadap ......

Asmudjo J. Irianto - SENI LUKIS ABSTRAK INDONESIA

Seni abstrak—tepatnya seni lukis abstrak—memang menjadi bagian penting dalam perjalanan seni rupa modern Indonesia. Walau harus diakui membicarakan (perjalanan) seni abstrak dalam konteks masa kini, yaitu masa seni rupa kontemporer, terasa cukup aneh. Bagaimanapun seni rupa kontemporer yang kembali mementingkan aspek representasi merupakan antitesis seni abstrak. Demikian pula pada saat semangat seni rupa kontemporer memiliki keyakinan melampaui sejarah (post-historical), bahkan a-historical, maka tinjauan terhadap konstruksi sejarah yang telah terbangun tampaknya agak ganjil. Bukankah para seniman kontemporer saat ini tidak harus peduli sejarah? Bukan hal yang aneh jika para seniman muda di Indonesia saat ini tak ingin tahu dan tak paham perjalanan sejarah seni rupa modern Indonesia. Namun, mencoba memahami konstruksi sejarah seni rupa modern Indonesia tentu bukan hal yang merugikan. Tulisan ini mencoba menunjukkan periode awal kemunculan seni lukis abstrak dalam medan seni Indonesia. Tentu tak ada yang baru dalam tulisan ini, karena memang mengacu pada sumber-sumber tertulis yang telah ada. Berbicara tentang seni lukis abstrak di Indonesia tentu tak lepas dari pengaruh seni abstrak di Barat. Karena itu ada baiknya saya paparkan secara ringkas seni abstrak Barat terlebih dahulu.   Seni lukis abstrak: Manifestasi seni rupa modern Barat Menurut paham pascamodern, seni rupa modern memiliki dosa besar. Seni abstrak dalam seni rupa modern memang telah mengeksklusi berbagai kecenderungan estetik dan seni lain sebagai bukan-seni, atau seni yang inferior. Dengan prinsip-prinsip Kantian-Hegelian seni rupa modern melakukan penyaringan yang ketat berkenaan dengan seni rupa modern yang “pantas”. Dengan perangkat teori dan wacananya seni rupa modern formalis mampu menjustifikasi keberadaannya dengan mengorbankan kecenderungan dan kelompok lain (seniman perempuan, homoseksual, minoritas, non-Barat). Seni rupa modern mengklaim bahwa seni rupa abstrak adalah seni rupa yang bersifat universal melampaui sekat-sekat etnisitas dan nasionalitas. Pasalnya, yang dianggap berhak menetapkan nilai-nilai keutamaan seni rupa modern adalah kaum laki-laki, kulit putih, elite-terpelajar, yaitu gambaran kaum borjuis Barat. Pada kenyataannya supremasi seni rupa modern ......

Goenawan Mohamad - TATAPAN JAKA TARUB

“. . .mata dalam ereksi”—Pablo Picasso   “. . .sang mata. . .menjadi pengintip di satu pihak, dan penindas di pihak lain”—Nirwan Dewanto   I Dalam cerita rakyat Jawa ada seorang pemuda bernama Jaka Tarub. Ia bernasib mujur: di tempat ia berburu ada sebuah telaga. Ke sanalah bidadari, ada tujuh, mandi. Mereka melepaskan pakaian mereka dan meletakkannya di tepian air.  Syahdan, dari semak-semak di tepi danau itu Jaka Tarub mengintip. Dikisahkan kemudian, pemuda itu menyembunyikan pakaian salah seorang dari ketujuh bidadari itu. Akibatnya, yang kehilangan busana tak bisa terbang kembali ke langit. Jaka Tarub kemudian mengembalikan pakaian itu dan dengan demikian ia bisa menuntut sang bidadari, Nawang Wulan, jadi istrinya. Tampak bahwa Nawang Wulan berada dalam posisi lemah bukan karena ia telanjang, tapi karena ia telanjang dan diintip. Dan Jaka Tarub berada dalam posisi yang lebih unggul: ia melihat ketelanjangan itu dan pada saat yang sama menguasai sarana anti-ketelanjangan. Pelukis Basuki Abdullah menurunkan kisah Jaka Tarub dalam sebuah kanvas yang tampaknya direproduksi dan diminati di mana-mana. Berbeda dari beberapa lukisan rakyat tentang dongeng ini, kanvas Basuki Abdullah menangkap saat ketelanjangan yang, jika ditelaah dengan baik, ditampakkan untuk kita, yang memandang kanvas itu. Dengan memakai dongeng itu, kita jadi pengintai atau penatap.  Kita jadi Jaka Tarub sebelum menyodorkan selendang Nawang Wulan kembali (Gambar 1). Sang pelukis mengasumikan, kita akan menyukai itu—dan melihat populernya gambar ini, ia agaknya benar. Tatapan Jaka Tarub adalah sebuah gejala umum, gejala scopophilia ‘kenikmatan memandangi liyan’. Unsur erotik tak bisa dilepaskan dari gejala ini, dan ini agaknya berlaku secara universal. Bila kita simak Gambar 2, sebuah lukisan lama Persia, kita memang tak bisa mengetahui reaksi apa yang timbul dalam diri lelaki pengintai di balik pohon itu. Tapi sang perupa tak akan menampakkannya begitu terkesima memandang perempuan-perempuan mandi telanjang. ...

Nirwan Dewanto - JEROAN

1 Lampu itu berbentuk jantung. Atau lebih tepat, lampu itu adalah sebuah jantung. Bukan jantung biasa. Namun jantung berukuran sangat besar yang menumbuhkan sulur-sulur atau belalai-belalai. Seakan-akan jantung itu berusaha menjulurkan diri ke luar sana. Terperangkap dalam sebuah “kuil”, jantung itu mengirimkan cahaya ke luar, menembus empat dinding berkerawang, membentuk permainan siluet pada dinding-dinding galeri. Adapun dinding-dinding “kuil” itu juga bukan dinding-dinding biasa. Sesungguhnya dinding-dinding itu adalah sosok-sosok pipih yang kehilangan latar belakang: para manusia, atau makhluk serupa manusia, yang bermain jalin-menjalin dengan berbagai organ tubuh dan tumbuhan sambil mengambang di atas kekosongan. Hilangnya latar belakang itulah lubang-lubang tempat pancaran cahaya dari si jantung terhambur ke luar. Sosok-sosok manusia dalam berbagai ukuran. Dalam “realisme” Entang Wiharso, yang besar dan yang kecil menjadi sama-derajat. (Sementara itu, dalam karya-karya Entang yang lain, yang menampilkan kerumunan manusia, kita juga tak bisa mengenali kelas sosial, jenis kelamin atau lingkungan budaya.) Menonjol di dinding-dinding “kuil” itu adalah banyak mata, berbagai mata, baik mata yang berlaku sebagai unsur tubuh yang masih berada pada tempat dan fungsinya maupun mata yang berdiri sendiri. Demikianlah, dalam karya-karya Entang Wiharso, mata, jantung, lidah, usus, aneka organ tubuh muncul bersaing dengan badan keseluruhan. Organ-organ itu bisa terbang sendiri, berdiri di atas kaki sendiri, berlaku sendiri. Dan mungkin juga, berpikir sendiri. Dan sering kali, tubuh-tubuh manusia seakan-akan sekadar melengkapi organ-organ itu. Berbagai jeroan itu menjadi ornamen yang begitu menonjol, membuat kita tertarik-tarik oleh teror dan humor.   2 Kita bisa mengenali semacam evolusi sosok-sosok manusia dalam kiprah Entang Wiharso. Pada lukisan-lukisan awalnya, tubuh-tubuh itu—atau bagian-bagian dari tubuh itu—seperti bangkit dari balik kuburan warna. Sangat terasa bahwa sosok-sosok itu bukan tujuan, namun risiko dari baluran dan torehan cat di jalan “ekspresionisme baru”. Ketika itu pun sudah menonjol bahwa aneka wajah, kaki dan tangan sudah bisa mandiri, seperti tak memerlukan tubuh. Juga aneka mata, yang seperti melesat ......

Asikin Hasan - SIMPANGAN: Seni Patung Baru

Agaknya kini ada dua jalan menuju patung kontemporer. Pertama, kawasan hulu, tempat mereka yang menumbuhkan karya di studio-studio. Di sini mereka tidak sebatas pengide, orang yang mengembangkan teknik dan memahami media, tapi sekaligus mewujudkannya hingga sentuhan terakhir. Kedua, kawasan hilir, tempat mereka yang hanya pengide, sementara persoalan-persoalan kunci trimatra hingga perwujudannya diserahkan penuh kepada pihak lain.   1 INI sebuah pemandangan baru di hilir seni patung. Di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, tengah Juli 2011, berlangsung Pameran Besar Patung Kontemporer Ekspansi. Besar bukan hanya lantaran jumlah pesertanya 110 seniman, melainkan ragam karya dan latar belakang pesertanya juga bermacam-macam. Hampir separuh dari mereka adalah orang-orang baru dalam seni patung; sebelumnya mereka lebih dikenal sebagai pelukis, pegrafis, pekeramik, arsitek, arkeolog, desainer produk, pembuat iklan dan pembuat film. Perayaan itu memang hendak mempertontonkan sebuah pemandangan inklusif bahwa  patung  bisa mengalir dari mana-mana tanpa harus terbebani sebuah keharusan, kepatutan dan kaidah-kaidah baku atau (meminjam istilah Rosalind E. Krauss, pengamat seni patung yang tajam) “the logic of sculpture”. Karya-karya dalam pameran itu sebagian  cenderung  provokatif, tampak  meluap hingga ke luar ruang utama gedung, melebar, meninggi dan meluas, terutama instalasi. Media dalam berkarya juga benar-benar tanpa batas: kayu, bambu, pelat baja, serat kaca, emas, cermin, air, es, api, semen, cat, obyek, bunyi, bau dan seterusnya. Aspek interaktif pada beberapa karya berupaya membangun rasa takut, cemas, lucu, aneh, kegilaan dan lain-lain. Ada pula karya-karya yang tampaknya sengaja atau mungkin tak sengaja, mengabaikan kekuatan aspek trimatra dan menabrak prinsip-prinsipnya. Misalnya, yang ditampilkan hanya bidang datar berisi tulisan-tulisan. Lalu, kita akan geleng-geleng kepala, manakala mata tertumbuk pada  karya berupa tulisan “Berharap Banyak pada Lendir yang Membatu” diterakan pada sebuah karangan bunga, yang tampaknya dipesan khusus dari penjual bunga yang biasa melayani ucapan belasungkawa kematian, selamat pernikahan dan lainnya. Dari segi gagasan, rupa dan media, tentu saja itu bukan hal baru. Provokasi serupa pernah dilakukan ......

Anusapati - PATUNG DALAM SENI RUPA KONTEMPORER INDONESIA

Patung dan aspek-aspek utamanya Di dalam ranah seni klasik/tradisi, pengertian patung identik dengan arca (statue), yaitu artefak yang berupa figur-figur manusia/dewa, pada umumnya terbuat dari batu, kayu, terakota atau perunggu. Sedangkan kata patung di dalam seni modern digunakan sebagai padanan kata sculpture (Inggris) yang mengacu kepada salah satu media seni rupa yang bersifat tiga dimensi. Pengertian patung dengan demikian mencakup pengertian yang lebih luas daripada arca, karena berlaku dalam berbagai ekspresi artistik yang pada perkembangannya kemudian menghasilkan berbagai macam bentuk, serta menggunakan berbagai macam material, sesuai dengan pengembangan dan eksplorasi di dalam media patung itu sendiri. Berbagai perwujudan patung modern dari masa ke masa adalah hasil proses pencarian dan pengembangan bentuk-bentuk tiga dimensi. Patung-patung figuratif yang ada adalah hasil pengolahan bentuk yang bersumber dari bentuk tubuh manusia melalui berbagai analisis dan interpretasi. Patung-patung figuratif realistik menunjukkan upaya untuk merepresentasikan bentuk alami tubuh manusia secara akurat dan sempurna, untuk menggambarkan kehidupan. Sedangkan karya-karya patung abstraksi figur adalah hasil pengubahan bentuk tubuh (deformasi), untuk menampilkan esensi tubuh itu sendiri. Penambahan elemen-elemen bentuk atau penyederhanaan bentuk yang dilakukan adalah untuk mengakomodasi gagasan estetik sang seniman, sesuai dengan tema. Ketika seniman lebih percaya kepada ide-ide bentuk murni, maka lahirlah karya-karya patung abstrak, yang tidak lagi mengacu kepada bentuk-bentuk alami yang ada, yaitu tubuh manusia, hewan dan sebagainya. Elemen-elemen visual berupa sosok, bidang, garis, warna, tekstur dan cahaya kemudian menjadi subyek yang digarap untuk tujuan keindahan bentuk, yang kemudian menciptakan kaidah-kaidah estetik baru. Meskipun telah mengalami berbagai perubahan dan perkembangan di dalam perjalanan sejarahnya, terdapat beberapa aspek di dalam patung yang masih tetap sama, salah satunya adalah aspek “kebentukan”. Di dalam berbagai perwujudan patung, bentuk adalah hasil upaya manusia merepresentasikan pemahaman atas realitas di sekelilingnya. Aspek utama lain dalam praktik penciptaan patung adalah “keruangan”. Sebagai benda tiga dimensi, karya patung tidak saja selalu menempati ruang, namun sekaligus menciptakan ruang. Dengan ......

Enin Supriyanto - MEMBIARKAN LUBANG MENGANGA, TERPEROSOK SENDIRI: Pelajaran (Lagi) dari Buku Jejak Lukisan Palsu Indonesia

Timbangan Buku   Judul: Jejak Lukisan Palsu Indonesia Penyunting: Bambang Bujono Penulis: Agus Dermawan T.; Prof. Dr. Agus Sardjono S.H., M.H.; Aminudin T.H. Siregar; Amir Sidharta; Asiong; Bambang Bujono; Mikke Susanto; Rusharyanto, S.H.; Syakieb Sungkar; Wicaksono Adi Kontributor: Dr. Boedi Mranata; Dr. Bunbun Bundjali; Dr. Nicholas Estaugh; Rita Anggraini M.Sc.; Seno Joko Suyono Penerbit: Perkumpulan Pencinta Seni Rupa Indonesia (PPSI) Tempat/Tahun: Jakarta, 2014 Halaman: xxvi + 382.   Buku Jejak Lukisan Palsu Indonesia (PPSI, 2014)[1] ini—memuat berbagai tulisan yang berkenaan dengan perkara peredaran dan kepemilikan lukisan palsu di Indonesia—jelas berharga dan penting karena selama ini perkara lukisan palsu di Indonesia hanya beredar di kalangan terbatas, dalam pertukaran informasi yang remang-remang penuh gunjingan dan desas-desus belaka. Dalam buku ini tersaji laporan penyelidikan jurnalistik, kajian ahli seni rupa dan pengamat, uraian dari segi ilmu dan teknologi, telaah dari segi hukum dan pandangan kolektor. Penyelidikan jurnalistik, berupa pemuatan ulang laporan utama majalah Tempo, edisi 25 Juni-01 Juli 2012, dilengkapi bahan baru berupa ulasan oleh Seno Joko Suyono, memberikan gambaran bagaimana pemalsuan berlangsung nyata, juga ada sindikasinya. Pelacakan Tim Penulis, Syakieb Sungkar dan Amir Sidharta untuk menemui dan menemukan para pelukis pemalsu memperjelas masalah ini (Bab I). Kajian estetika dan sejarah seni rupa, jelas diuraikan khususnya oleh Aminudin T.H. Siregar untuk sejumlah kasus lukisan S. Sudjojono dan Amir Sidharta atas karya-karya Soedibio. Yang juga menarik, buku ini memberi informasi bahwa fasilitas ilmu dan teknologi yang dapat membantu pengujian asli-palsu lukisan secara forensik—instrumen FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) dan XRD (X-Ray Diffraction) juga ada di Indonesia (di laboratorium FMIPA, ITB), meskipun fasilitas tersebut sejauh ini tidak atau belum ditujukan khusus untuk keperluan seni rupa. Ini masih ditambah dengan dua tulisan yang menjelaskan liku-liku penerapan alat dan teknologi untuk keperluan pemeriksaan lukisan, ditulis oleh pakar terkemuka untuk bidang ini, Dr. Nicholas Estaugh, Direktur lembaga Art Access and Research, London. Dari semua bahan yang tersaji di dalam ......

REDAKTUR NOMOR INI

Ayu Utami, Goenawan Mohamad, Hasif Amini, Mohamad Guntur Romli, Nirwan Dewanto, Zen Hae. DESAINER: Ari Prameswari.

Berbagi