Belanja

Tema utama Kalam nomor ini adalah "Islam dan Mistisisme Nusantara". Tiga esai pertama membahas sejumlah aspek tasawuf dalam karya sastra Hamzah Fansuri (Melayu), Hasan Mustapa (Sunda) dan Ranggawarsita (Jawa). Tasawuf, sebagaimana diketahui, adalah bagian penting dari penyebaran Islam di Nusantara. Meski dalam praktik formal umat Islam tasawuf kerap dianggap menyimpang dan karenanya ia ditolak, daya tarik tasawuf sebagai jalan lain untuk menuju Tuhan tidaklah surut. Akibat penolakan itu, dalam sejumlah kasus, sang sufi pembawa ajaran tasawuf mengalami nasib buruk. Karya-karya Hamzah Fansuri, misalnya, dibakar. Sementara Ranggawarsita dan Hasan Mustapa bernasib lebih baik.

Yang menarik dari ketiga tokoh ini adalah mereka menggunakan karya sastra sebagai media untuk ajaran tasawuf. Jika syair-syair Hamzah Fansuri dianggap sebagai puisi paling awal yang ditulis dalam bahasa Melayu, maka Hasan Mustapa menurunkan ajaran mistiknya lewat bentuk puisi tradisional Sunda bernama dangding. Ranggawarsita pun menggunakan salah satu bentuk puisi tradisional Jawa dalam memaparkan pikiran-pikiran sufistiknya. Bahasa sastra yang esoterik dan penuh permainan makna tampaknya menjadi pilihan utama para ulama-penyair ini.      

Para penulis esai-esai tematik nomor ini, dengan cara masing-masing, telah mengungkapkan hubungan yang erat antara sastra dan filsafat, terutama filsafat ketuhanan. Bahkan pada telaah mengenai Hamzah Fansuri, Abdul Hadi W.M. menjelajahi secara mendalam metafora, simbol dan piranti sastrawi lainnya yang digunakan sufi tersebut. Pada telaah terhadap karya-karya Hasan Mustafa, Hawé Setiawan lebih banyak mengupas dangding sebagai salah satu bentuk puisi tradisional Sunda, ketimbang segi-segi mistis yang dikandungnya. Sementara Ki Herman Sinung Janutama membawa kita kepada segi-segi terdalam filsafat Jawa dan kaitannya dengan dunia batin orang Jawa, juga tarik-menarik antara Islam dan Kejawen.

Di luar tiga esai tematik di atas, Kalam nomor ini juga memuat sejumlah tulisan lepas yang pernah disampaikan dalam sejumlah program ceramah di Komunitas Salihara. Yaitu, Kosmos dan Masalah Kebebasan Tuhan karya Karlina Supelli, Historiografi dalam Denyut Sejarah Bangsa karya Taufik Abdullah dan Saya dan Seni Lukis Indonesia  karya Srihadi Soedarsono. Sementara Puisi Ekfrasistik karya Goenawan Mohamad disampaikan dalam sebuah acara diskusi sastra dan seni rupa di Selasar Sunaryo Art Space, di Bandung. Meski terlihat tidak berkaitan satu sama lain, esai-esai ini berisi telaah dan pengakuan yang mendalam untuk bidang masing-masing, dan karenanya kami hadirkan mereka kepada sidang pembaca.

Daftar Isi

Abdul Hadi W.M. - Hamzah Fansuri dan Syair-Syair Tasawufnya

Karya sastrawan sufi Nusantara belum banyak diteliti dan dikaji. Padahal peranan dan pengaruh mereka sangat besar bagi perkembangan bahasa, kebudayaan dan sastra Melayu. Lesunya kajian filologi di Indonesia dewasa ini mungkin merupakan salah satu penyebabnya. Tak mengherankan sebagian besar karya penulis lama Nusantara, khususnya penulis sufi, masih berupa naskah dan belum cukup banyak yang dialihaksarakan dan diterbitkan. Lagi pula selama beberapa puluh tahun belakangan ini, kebijakan pendidikan kita tidak memberi perhatian serius terhadap pelajaran sejarah kebudayaan dan tradisi intelektual bangsanya sendiri. Karya-karya Hamzah Fansuri lebih beruntung. Hampir semuanya telah dijumpai dalam bentuk transliterasinya. Bahkan sudah muncul pula beberapa kajian yang cukup ......

Hawé Setiawan - DANGDING MISTIS HAJI HASAN MUSTAPA

Esai ini meletakkan perhatian utamanya bukan pada mistisisme, melainkan pada puisi. Bentuk puisi yang dimaksud di sini dikenal dengan sebutan dangding atau guguritan, yakni puisi terikat yang tumbuh dalam tradisi sastra Sunda sebagai salah satu hasil pergaulan budaya antara masyarakat Sunda dan masyarakat Jawa. Di jagat sastra Sunda dewasa ini, dangding masih hidup meski sebagian besar penyair Sunda kini mencurahkan sebagian besar perhatian mereka dalam pembuatan puisi bebas. Adapun Haji Hasan Mustapa (HHM, 1852-1930), yang dangding-dangdingnya akan dibicarakan di sini, adalah tonggak penting dalam sejarah dangding, terutama karena dangding-dangdingnya dirasakan oleh publik sastra Sunda sebagai puisi yang mengandung mistisisme Islam—karakteristik ......

Ki Herman Sinung Janutama - RADEN NGABEHI RANGGAWARSITA

Saya menyusun tulisan ini semula hanya mengikuti permintaan panitia diskusi di Komunitas Salihara. Beberapa catatan diberikan kepada saya. Seperti, bagaimana “persenyawaan” antara Islam dengan Kejawen? Bagaimana ajaran Ranggawarsita mengenai hal tersebut? Apa inti dari ajaran Ranggawarsita? Dan seterusnya dan seterusnya. Bagi orang awam yang bernaung di bawah lindungan tradisi, seperti saya ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut jelas-jelas keliru. Terdapat beberapa alasan mengapa saya menyatakan demikian. Pertama, pertanyaan tersebut berangkat dari anggapan bahwa Islam dan Kejawen atau Jawa[1] adalah dua hal berbeda. Bahwa pembahasan keduanya harus mengikuti definisi kekinian yang bergayut kepada imperative category modern. Bagi saya, tentu saja hal ......

Karlina Supelli - KOSMOS DAN MASALAH KEBEBASAN TUHAN

Di bawah bayang-bayang perang yang kelihatannya akan lebih buruk daripada Perang Dunia Pertama, penulis fiksi Olaf Stapledon menerbitkan Star Maker (1937). Narator dalam cerita itu dapat mengembarakan pikirannya dan memasuki ruang kosmis dengan kecepatan fantastis. Ia bisa bolak-balik antara masa lalu dan masa depan. Memakai kekuatan telepati, pikirannya terhubung dengan pikiran makhluk dari jagat lain. Bersama-sama mereka bertualang melintasi ruang dan waktu dan menyaksikan kehidupan di jagat yang berbeda-beda. Tidak ada jagat yang persis sama. Jenis penghuninya pun beraneka rupa. Ada yang kurang cerdas sehingga tak mampu mengatasi persoalan sehari-hari, ada yang cerdas tetapi tidak punya kemauan sosial/politik dan ada pula ......

Goenawan Mohamad - PUISI “EKFRASISTIK”

Ada sebuah cerita yang terselip di tengah gemuruh Perang Troya, yang kemudian jadi penting dalam perbincangan kesusastraan: menjelang saat pertempuran yang menentukan dalam Iliad, Akhiles mendapatkan sebuah perisai pengganti yang diraut sendiri oleh Dewa Hefaestus. Perisai itu perkasa, tapi juga cantik, dan Homeros, sang penyair buta, membuat deskripsi tentang alat perang itu dalam Buku ke-18. Saya kutip dan saya terjemahkan sebisanya: Yang pertama diciptakannya: sebuah perisai besar dan kokoh, diraut rapi. Di tepi luarnya, dipasangnya tiga lapis lingkaran yang berpendar-pendar di sinar matahari. . . Kemudian ditatahnya  bumi, dan langit, dan samudra dan matahari yang tak pernah lelah, dan bulan yang penuh, dan gugus bintang ......

Taufik Abdullah - HISTORIOGRAFI DALAM DENYUT SEJARAH BANGSA

Jika teks-teks yang memantulkan suasana renungan kesejarahan sempat kita perhatikan maka tampaklah bahwa kritik pertama tentang penulisan sejarah dari wilayah yang kini bernama Indonesia dilancarkan oleh seorang putra bangsa yang sedang belajar di negeri asing. Kritik ini dilancarkan oleh Muhammad Hatta (1902-1980), Ketua Perhimpunan Indonesia, pada 1928 ketika ia dihadapkan ke pengadilan Den Haag,  karena ia  dan  tiga orang  kawannya dituduh merencanakan “persekongkolan” anti-pemerintah kolonial. Dalam pidato pembelaannya yang berjudul Indonesie Vrij (Indonesia Merdeka), Hatta tidak sekadar membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya dan kawan-kawannya tetapi juga memaparkan proses tumbuhnya cita-cita nasionalisme Indonesia. Ia menguraikan landasan historis perjuangan organisasinya dan membayangkan ......

Srihadi Soedarsono - SAYA DAN SENI LUKIS INDONESIA

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Salam sejahtera kepada para hadirin, Bapak, Ibu dan rekan-rekan. Selamat malam. Pertama-tama saya panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberkahi kita semua dan memberikan yang terbaik dan terindah. Terlebih dahulu pada kesempatan ini, saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Srihadi Soedarsono, lahir di Solo, Jawa Tengah, 04 Desember 1931 pada Jumat Legi. Saudara Asikin Hasan pernah mengundang saya untuk berpameran tunggal berupa sketsa-sketsa saya dari tahun 1946-an dan lukisan cat minyak di Komunitas Utan Kayu pada Agustus-September 1999. Pameran tersebut dikuratori oleh Jim Supangkat dan Asikin Hasan, bersama dengan perluncuran buku Srihadi dan ......

REDAKTUR NOMOR INI

Ayu Utami, Goenawan Mohamad, Hasif Amini, Mohamad Guntur Romli, Nirwan Dewanto, Zen Hae. DESAINER: Pat Adele

Berbagi