Belanja

DANGDING MISTIS HAJI HASAN MUSTAPA

Esai ini meletakkan perhatian utamanya bukan pada mistisisme, melainkan pada puisi. Bentuk puisi yang dimaksud di sini dikenal dengan sebutan dangding atau guguritan, yakni puisi terikat yang tumbuh dalam tradisi sastra Sunda sebagai salah satu hasil pergaulan budaya antara masyarakat Sunda dan masyarakat Jawa. Di jagat sastra Sunda dewasa ini, dangding masih hidup meski sebagian besar penyair Sunda kini mencurahkan sebagian besar perhatian mereka dalam pembuatan puisi bebas. Adapun Haji Hasan Mustapa (HHM, 1852-1930), yang dangding-dangdingnya akan dibicarakan di sini, adalah tonggak penting dalam sejarah dangding, terutama karena dangding-dangdingnya dirasakan oleh publik sastra Sunda sebagai puisi yang mengandung mistisisme Islam—karakteristik yang hingga kini belum menemukan tandingannya dalam dangding-dangding mutakhir. Dengan membicarakan dangding-dangding mistis HHM, esai ini sekadar berupaya mengajak publik sastra yang lebih luas untuk berkenalan dengan salah satu pencapaian yang patut dihargai di dalam sastra Sunda, yaitu jagat sastra yang mengandalkan bahasa Sunda sebagai saluran ungkapannya. Berturut-turut, kita akan membicarakan sosok HHM selayang pandang, keberadaan dangding dalam sastra Sunda dan karakteristik dangding HHM.

 

Sosok Haji Hasan Mustapa

Tentang sosok pribadi HHM, tidak banyak yang saya ketahui. Catatan singkat mengenai dirinya antara lain terdapat dalam Ensiklopedi Sunda suntingan Ajip Rosidi dkk.[1] Bahan bacaan mengenai sosok dan karya HHM yang sejauh ini paling lengkap ialah buku Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana (Haji Hasan Mustapa dan Karya-Karyanya) susunan Ajip Rosidi[2] yang menjadi salah satu rujukan utama esai ini. Dari HHM sendiri, sebagian kecil riwayat hidupnya dituturkan dalam bentuk dangding. Kadang-kadang, dalam rangkaian dangdingnya, terselip rujukan pada sosok dirinya sendiri. Berdasarkan bahan-bahan bacaan yang tersedia sejauh ini, dapat dikatakan bahwa HHM dikenal sebagai pujangga, penghulu Islam zaman kolonial, tokoh tasawuf, penulis risalah keagamaan dan pemerhati kebudayaan, khususnya adat istiadat Sunda. HHM berasal dari Cikajang, Garut, Jawa Barat, dan sejak kecil hingga dewasa belajar di lingkungan pesantren, baik di Tatar Sunda maupun di Jawa dan Madura. HHM juga belajar Islam di Arab Saudi. Ketika baru berumur sembilan tahun, dia diajak oleh ayahnya berlayar ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Setelah dewasa, selama lebih kurang sepuluh tahun, HHM bermukim dan mengajar di Arab Saudi, sebelum kembali ke Hindia Belanda dan bekerja sebagai Hoofd Penghoeloe Bandung. HHM pernah berkeliling Jawa dan bekerja di Aceh untuk membantu Snouck Hurgronje. Di Jawa Barat HHM dikenal pula dengan julukan “Bagawan Sirna di Rasa”, dan namanya diabadikan sebagai nama jalan raya di Bandung: Jalan PHH Mustofa. Pernah pula di Jawa Barat ada komunitas pengikut atau pengagum HHM, yaitu Galih Pakuan. Pada 1977 Presiden Soeharto memberikan Anugerah Seni kepada HHM sebagai “Sastrawan Daerah Sunda”. Pada 30 Juni 1994 organisasi Daya Mahasiswa Sunda (Damas) menyelenggarakan acara Nembangkeun Karya Akbar Haji Hasan Mustapa (Melantunkan Karya Akbar Haji Hasan Mustapa) di Hotel Savoy Homann, Bandung, sebuah pertunjukan tembang Sunda yang liriknya berasal dari dangding-dangding karya HHM. 

Gambaran mengenai sosok HHM dalam ingatan kolektif, terutama dalam ingatan para pengagumnya, cenderung diliputi banyak anekdot, terkesan mahiwal atau kontroversial, disangka menganut ajaran wahdatul wujud dan sebagainya. Anak HHM yang bernama Toha Firdos (1889-1921) adalah pemusik keroncong dan pemimpin grup keroncong Sangkuriang. Toha wafat karena kecelakaan lalu lintas di Nagreg, Jawa Barat. Konon, pada hari ketika Toha hendak dikebumikan, HHM mengundang grup keroncong Sangkuriang untuk mengiringi keranda ke kuburan (Haji Hasan Mustapa, 59).

HHM menulis terutama dalam bahasa Sunda—bahasa yang, dalam kata-kata HHM sendiri, keur kaula leuwih kaharti manan nu séjén, ti barang kaula dilahirkeun nepi ka kaula ngarti sawaréh basa-basa nagri nu padeukeut, jeung ku éta basa kaula napsirkeun firman Allah Nu Mulya (Bagiku lebih dapat dipahami daripada bahasa lain, sejak aku dilahirkan hingga aku mengerti sebagian bahasa negeri yang dekat, dan dengan bahasa itu aku menafsirkan firman Allah Yang Mulia) (Haji Hasan Mustapa, 463). HHM juga menulis dalam bahasa Melayu, Jawa dan Arab. Karya-karya HHM, secara umum, dapat dibagi ke dalam dua golongan: puisi dan prosa. Dalam golongan pertama, kita mendapatkan banyak dangding yang masing-masing terdiri atas ratusan padalisan (larik) dan pada (bait). Dalam golongan kedua, kita mendapatkan uraian mengenai pokok masalah tertentu—yang biasanya diselipi dangding—dan dialog dalam bentuk tanya jawab. Banyak karya HHM, terutama yang berbentuk dangding, yang tersebar melalui kegiatan salin-menyalin dari tangan ke tangan. Dangding-dangding yang akan dijadikan rujukan dalam esai ini pada umumnya berasal dari hasil penelitian Ajip Rosidi yang mendapatkan naskahnya dari Universiteit Bibliotheek (UB) di Leiden, Belanda.

 

Dangding dalam sastra Sunda

Dangding dapat dimasukkan ke dalam kategori “sajak bermatra” (metrical verse). Bentuk puisi tradisional ini memiliki aturan baku yang, sebagaimana akan dipaparkan di bawah, membatasi tiap-tiap lariknya. Larik-larik dangding, sebagaimana lazimnya larik-larik sajak bermatra, antara lain diatur dengan apa yang disebut sebagai “kisi-kisi kematraan” (metrical grid). Dalam hal ini, esai ini bertolak dari empat anggapan sebagaimana yang dipaparkan dalam studi Fabb dan Halle atas sajak bermatra:

Pernyataan utama studi ini adalah bahwa setiap larik sajak bermatra yang tersusun dengan baik tidak hanya terdiri atas fonem dan suku kata yang menentukan pelafalannya, melainkan juga terdiri atas  apa yang kita sebut kisi-kisi kematraan, yakni pola yang, meskipun tidak diucapkan, menentukan pencerapan atas satuan suku kata sebagai larik sajak bermatra, ketimbang sebagai sekelumit prosa biasa. Pernyataan kami selanjutnya adalah bahwa setiap kisi merupakan hasil penghitungan yang masukannya berupa bentangan suku kata yang membentuk larik sajak: kisi-kisi itu tidak dirancang terlebih dahulu lalu dilekatkan pada larik, melainkan dibentuk secara terpisah dari setiap larik. Pernyataan kami yang ketiga adalah bahwa penghitungan itu terdiri atas penerapan yang tertata dari seperangkat aturan baku yang dipilih dari seperangkat aturan yang dibatasi. . .(Seperangkat aturan disebut "baku" jika aturan itu diikuti oleh suatu aliran atau tradisi puisi.) Pernyataan kami yang terakhir adalah bahwa larik sajak tersusun dengan baik dalam hal metrumnya jika dan hanya jika kisi-kisinya tersusun dengan baik pula (dalam arti, kisi-kisi itu merupakan hasil dari seperangkat aturan baku) dan jika suku-suku kata yang membentuk larik memenuhi syarat-syarat tertentu.[3]

Pada dasarnya dangding digubah oleh penyair dan untuk pembaca yang bersenandung. Bentuk puisi yang juga disebut guguritan ini terikat oleh sesusun aturan baku mengenai melodi, khususnya menyangkut jumlah suku kata pada tiap larik, jumlah larik pada tiap bait serta variasi rima akhir (lihat Tabel 1).

Aturan-aturan persajakan yang mengikatnya, dalam banyak hal, dapat pula dipahami sebagai aturan komposisi musikal. Aturan tersebut dapat dibagi dua: guru wilangan yang menekankan jumlah suku kata pada tiap larik serta jumlah larik pada tiap bait dan guru lagu yang menekankan bunyi vokal di ujung larik. Tidak mengherankan jika kelanggengan tradisi dangding antara lain ditopang oleh seni karawitan tembang. Istilah dangding itu sendiri barangkali pada mulanya merupakan kata yang menirukan bunyi. Sementara istilah guguritan ‘gubahan’ (dari kata dasar gurit ‘menggubah’) menekankan kegiatan menulis atau menggubah karangan, istilah dangding kedengarannya menekankan bunyi yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut. Setidak-tidaknya, istilah dangding terdengar musikal. Berdasarkan aturan persajakannya, nyanyian puitis ini terbagi ke dalam 17 pupuh: asmarandana, balakbak, dangdanggula, durma, gambuh, gurisa, jurudemung, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, sinom dan wirangrong. Mengenai rincian aturan persajakan tiap-tiap pupuh, kita dapat mengacu pada S. Coolsma.[4] Nyanyian-nyanyian itulah yang dilantunkan oleh pembaca, yang biasanya didengarkan oleh pembaca lain dalam pertemuan, khususnya pembaca wawacan, yakni untaian pupuh yang lazimnya berisi kisah atau uraian.

 

Pupuh

Jumlah larik dan suku kata tiap bait

Urutan bunyi kata akhir tiap larik

Kinanti

6 larik, 8 suku kata

u – i – a – i – a - i

Sinom

9 larik (larik 1- 4: 8 suku kata; larik 5: 7 suku kata; larik 6: 8 suku kata; larik 7: 7 suku kata; larik 8: 8 suku kata; larik 9: 12 suku kata)

a – i -  a – i – i – u – a – i – a

Asmarandana

7 larik; 8 suku kata (kecuali larik 5: 7 suku kata)

i – a – é/o – a – a –u –a

Dangdanggula

10 larik (larik 1-2: 10 suku kata; larik 3: 8 suku kata; larik 4: 7 suku kata; larik 5: 9 suku kata; larik 6: 7 suku kata; larik 7: 6 suku kata; larik 8: 8 suku kata; larik 9: 12 suku kata; larik 10: 7 atau 8 suku kata)

i – a – é/o – u – i – a – u – a – i – a

Tabel 1. Aturan persajakan empat pupuh terkenal yang dicatat oleh S. Coolsma

Hal ini memperlihatkan harapan tersendiri atas bentuk puisi ini. Manakala berhadapan dengan dangding, pembaca kiranya tidak sekadar menempatkan dirinya dalam situasi membaca dalam hati (silent reading). Pertama-tama, pembaca dangding harus mengenal langgam tiap-tiap pupuh beserta kekhususan aturan persajakannya. Pada titik ini terlihat persinggungan antara bentuk sastra ini dengan tradisi lisan: sebagai sebentuk tulisan yang berpola dan melodius pula, dangding mudah dihafal oleh pembaca.

Dangding atau guguritan dikenal dalam tradisi sastra Sunda sebagai salah satu pengaruh dari geguritan yang dikenal dalam tradisi sastra Jawa. Dahulu, terutama ketika politik dan kebudayaan Sunda berpaling ke Jawa, pengetahuan dan keterampilan di bidang bahasa dan sastra Jawa kiranya dianggap bagian dari ciri-ciri keterpelajaran orang Sunda. Dalam Bujangga Manik, naskah Sunda Kuna warisan abad ke-16, misalnya, disebutkan bahwa salah satu kelebihan tokoh Bujangga Manik alias Ameng Layaran alias Pangeran Jaya Pakuan adalah “bisa carék Jawa” (pandai berbahasa Jawa).[5] Tidak mengherankan jika geguritan sebagai salah satu hasil olah bahasa dari Jawa kemudian masuk ke Sunda dan pada gilirannya menjadi guguritan atau dangding sebagai salah satu bagian dari kekayaan sastra Sunda.

Cukup panjang masa terbentang, bahkan hingga sekarang, manakala dangding dipelajari di sekolah. Dengan sendirinya, kemampuan mengekspresikan diri dalam gita Sunda ini tampaknya menjadi bagian dari keberadaan kaum terpelajar pada masanya. Wahyu Wibisana, salah seorang penyair Sunda terkemuka, mulai menulis dangding ketika dia baru duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.[6] R.A.A. Kusumahningrat alias Dalem Pancaniti, Bupati Cianjur (1834-1862), menulis surat kepada istrinya dalam bentuk dangding.[7] Demikian pula HHM saling berkirim surat dengan rekannya, Kiai Koerdi, mengenai masalah-masalah agama dalam bentuk dangding. R.A.A. Wiranata Koesoema (1888-1965), bupati Bandung, menyusun buku Riwajat Kangdjeng Nabi Moehammad s.a.w.[8] yang di dalamnya terkandung terjemahan atas beberapa ayat Quran dalam bentuk dangding—kreativitas literer yang dewasa ini diteruskan oleh Hidayat Suryalaga dengan adaptasinya atas seluruh isi Kitab Suci itu dalam bentuk dangding.

Hal ini menunjukkan bahwa dangding adalah bagian dari kelembagaan sastra tersendiri. Karena telah melembaga, dangding melekat pada cara berekspresi orang Sunda pada masanya.

Zaman keemasan dangding memang telah surut. Namun, hingga kini sejumlah penyair Sunda masih menggubah dangding, selain menggubah sajak bebas. Di antara mereka dapat disebutkan, misalnya, Wahyu Wibisana (Riring-riring Ciawaking), Yus Rusyana (Guguritan Munggah Haji), Dedy Windyagiri (Jamparing Hariring), Apung S. Wiratmadja, Dyah Padmini (Jaladri Tingtrim), Etti R.S., Dian Hendrayana dan Tatang Sumarsono. Hingga batas tertentu, dapat dikatakan bahwa puisi bebas—yang di lingkungan sastra Sunda tumbuh sejak dasawarsa 1950-an—dan dangding berjalan seiring, terlepas dari telah surutnya masa keemasan wawacan—bentuk karangan yang isinya berupa rangkaian dangding dan banyak di antaranya yang berisi kisah—terutama sejak para pengarang Sunda kian mengandalkan cerita pendek dan novel.

Dalam sejumlah dangding karya Wahyu Wibisana terasa ada kesadaran untuk terus memperbaharui tema yang diwadahi dengan dangding. Berbeda dari para penyair Sunda sezaman yang masih menggubah dangding, Wahyu tampak beringsut dari tema-tema yang berkaitan dengan cinta. Dalam salah satu dangdingnya, kiranya sambil bergurau, Wahyu bahkan mengatakan bahwa borok pun dapat disinomkan.

 

Dangding Haji Hasan Mustapa

 

Setiap kali membaca dangding-dangding HHM, saya merasa seperti mendekati arus sungai besar. Betapapun dalam diri saya ada dorongan untuk menyentuh arus yang deras itu, tapi pada saat yang sama saya merasa takut hanyut karena saya merasa belum mampu atau sanggup mengarunginya. Karena itu, gugusan gagasan dalam esai ini berkisar di sekitar “jasmani” dangding HHM, yakni raga sajak yang dijalari “rohani” mistik.

Aturan baku yang mengikat dangding dipelihara secara turun-temurun. Membaca dangding, dengan demikian, dapat berarti menyimak kreativitas penyair menyiasati konvensi. Memang, berlebihan jika orang mempersoalkan setinggi apa kutilang dalam sangkar dapat mengepakkan sayapnya. Namun, setidak-tidaknya, orang dapat memperhatikan sebebas apa subyek yang terkurung itu memperdengarkan nyanyiannya. Jika pola dangding diibaratkan dengan tata bahasa, dangding HHM adalah ungkapan tersendiri dalam kerangka tata bahasa itu.

Bagi penyair mistik seperti HHM, ragam puisi itu sendiri barangkali bukan hal terpenting. Boleh jadi, ia menggubah puisi bukan demi puisi itu sendiri, melainkan demi percikan permenungan yang hendak ia sampaikan. Bahkan tidak mustahil puisi-puisi itu “lahir dengan sendirinya” seperti mengepulnya uap dari cerat manakala air yang dijerang di atas tungku telah menghangat. Kalaupun demikian, hal itu justru menunjukkan bahwa sang penyair telah menguasai betul teknik persajakan. Penyair yang dalam tempo dua atau tiga tahun mampu menghasilkan dangding lebih dari 10.000 bait (Haji Hasan Mustapa, 88), kiranya tergolong penyair yang sudah jauh melampaui rintangan teknis persajakan. Betapapun, para pembaca dangding HHM tak dapat mengabaikan daya tarik tersendiri pada pencapaiannya mengolah teknik dangding. 

Pengalaman mistik itu sendiri hanya dapat dipahami atau dihayati sepenuhnya oleh sang mistikus. Sementara kata-kata dan perkakas linguistik lain yang ia andalkan dalam proses menulis puisi pada dasarnya selalu merupakan perkakas yang kemampuannya terbatas. Kata-kata yang terdapat dalam kamus, yang hanya mengandung pengertian umum, selalu bermasalah manakala hendak diandalkan untuk menyampaikan pengalaman, penglihatan atau perasaan yang amat spesifik. Pada titik inilah penyair, terlebih-lebih penyair mistik, tergerak untuk mencari dan menemukan idiom serta metafora—dengan kata lain, mengatasi keterbatasan bahasa sehari-hari, dan dengan demikian sedikit banyak memperbaharui bahasa itu dengan caranya sendiri.

Karena itu, tanpa maksud mengabaikan pentingnya mistisisme, esai ini menekankan perhatian pada olah bahasa. Kalaupun dalam esai ini, mau tidak mau, kita menyinggung-nyinggung mistisisme, hal itu dibicarakan sebatas pokok soal (subject matter) puisi. 

Jika dibandingkan dengan bentuk puisi bebas yang diandalkan oleh sebagian besar penyair Sunda dewasa ini, dangding kiranya dapat disebut sebagai puisi klasik. Dalam hal ini, kita dapat memperhatikan salah satu amatan mengenai karakteristik “puisi klasik”—yang dibedakan dari “puisi modern”—dalam studi sastra. Meskipun amatan dimaksud cenderung terpaut pada konteks perkembangan sastra di kawasan lain, tetapi di dalamnya terdapat sejumlah hal yang kiranya dapat membantu kita memperdalam amatan atas dangding:

Arus klasik merupakan kelangsungan elemen-elemen yang tetap padat; arus ini terpaut pada tekanan emosional yang sama, dan meringankan elemen-elemen itu di hadapan setiap kecenderungan timbulnya makna perseorangan yang tampaknya seketika ditemukan. Perbendaharaan puitika itu sendiri terpaut pada pemakaian, bukan pada penemuan: citraan-citraan di dalamnya dapat dikenali dalam suatu kerangka; citraan-citraan itu tidak terwujud dalam isolasi; citraan-citraan itu terhubung dengan kebiasaan lama, bukan dengan kreasi orang per orang. Fungsi penyair klasik, dengan demikian, bukanlah menemukan kata-kata baru, berikut kerangka atau kecemerlangan baru, melainkan mengikuti tatanan ritual kuna, menyempurnakan simetri atau kepadatan relasi, membawa permenungan secara tepat menurut panduan metrum. Pencapaian klasik mencakup hubungan-hubungan, bukan kata-kata: tersebar membentuk permukaan, sejalan dengan urgensi maksud yang elegan atau dekoratif. Pencapaian itu menyenangkan kita karena formulasinya yang padu, bukan karena kekuatan atau keindahannya sendiri.[9]

Dangding-dangding HHM, sebagaimana yang akan kita lihat, juga turut menunjukkan tercapainya kesesuaian kreativitas menggubah puisi dengan “tatanan ritual kuna” dalam puitika Sunda, “simetri atau kepadatan relasi” antarelemen persajakan serta “metrum” dangding yang disenyawakan dengan permenungan mistik. Meski disadari bahwa telaah seperti ini tidak akan banyak artinya bagi pembaca yang hendak berenang mengarungi arus deras dangding-dangding HHM menuju muara tasawuf, tapi setidaknya penelusuran bantaran kali ini barangkali dapat turut meresonansikan bunyi arus deras itu.

Sebagian besar dangding HHM masih tersimpan dalam bentuk manuskrip di perpustakaan, khususnya di UB, dan di sejumlah tempat lainnya. Tampaknya, banyak pula dangding HHM yang tersebar dalam bentuk stensilan. Iskandarwassid dkk. dalam Naskah Karya Haji Hasan Mustapa membuat catatan sebagai berikut:

. . .untuk sementara, jumlah dangding karya Haji Hasan Mustapa yang telah diketahui ada 10.815 pada. Dari jumlah itu yang masih ada hanya 9.472 pada, yang tersebar di mana-mana: pada koleksi Wangsaatmadja, di Perpustakaan Universitas Leiden, di Bagian Naskah Museum Nasional, dan koleksi perseorangan. Kemungkinan masih ada yang belum ditemukan. Sekalipun masih jauh mencapai jumlah 20.000 pada, namun jelas sudah lebih dari 10.000 pada. Sebagai perbandingan bisa disebutkan bahwa wawacan Purnama Alam (1922) karya R. Soeriadiredja yang merupakan wawacan paling panjang dalam bahasa Sunda yang ditulis oleh seorang, seluruhnya terdiri dari 6.197 pada.[10]

Danding-dangding HHM yang akan dibicaran di sini ditulis dalam bahasa Sunda dengan menggunakan aksara Arab kemudian dialihaksarakan oleh filolog. Ada pula dangdingnya yang ditulis dalam bahasa Jawa, yakni dangdanggula berjudul Mila ningsun mider anderpati. Baru sebagian kecil di antaranya yang telah dialihaksarakan ke dalam aksara Latin. Ada sembilan dangding, yang dialihaksarakan dari naskah koleksi UB, dalam Naskah Karya Haji Hasan Mustapa susunan Iskandarwassid dkk. Kesembilan guguritan tersebut adalah Nu Pengkuh di Alam Tuhu, Alam Cai Alam Sangu, Jung Indit deui ti Bandung, Gaduh Panglipuran Galuh, Asmarandana nu Kami, Hariring nu Hudang Gering, Koléang Kalakay Kondang, Kidung Pucuk Mégamendung dan Ngelmu Suluk Isuk-isuk. Sementara buku Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana karya Ajip Rosidi memuat lima dangding—satu di antaranya sama dengan yang terdapat dalam Naskah Karya Haji Hasan Mustapa: Puyuh Ngungkung dina Kurung, Hariring nu Hudang Gering, Dumuk Suluk Tilas Tepus, Sinom Pamake Nonoman dan Amis Tiis Pentil Majapait. Sementara itu ada sejumlah dangding HHM lainnya, juga dari koleksi UB, yang sudah ditransliterasikan oleh filolog Ruhaliah dan diterbitkan pada tahun 2009.[11]

No.

Judul Dangding

Pupuh

Jumlah Bait

1

Puyuh Ngungkung dina Kurung (PNgdK)

Kinanti

180

2

Dumuk Suluk Tilas Tepus

Kinanti

100

3

Kinanti Kulu-Kulu

Kinanti

203

4

Sinom Pamake Nonoman

Sinom

165

5

Sinom Barangtaning Rasa (SBR)

Sinom

101

6

Sinom Wawarian

Sinom

101

7

Hariring Nu Hudang Gering (HNHG)

Asmarandana

171

8

Asmarandana Nu Kami

Asmarandana

261

9

Amis Tiis Pentil Majapait

Dangdanggula

100

10

Dangdanggula Sirna Rasa (DSRRP)

Dangdanggula

102

Tabel 2. Sebagian dangding karya Haji Hasan Mustapa

 

Tinjauan persajakan

Pilihan kata

Diksi adalah salah satu elemen persajakan yang kiranya penting diperhatikan dalam upaya membaca dangding-dangding HHM. Lagi pula, bahasa dangding—untuk meminjam kata-kata HHM sendiri—termasuk basa beunang ngahampelas ‘bahasa yang diperhalus’. Dalam hal ini, sedikitnya, ada dua gejala yang dapat diamati sehubungan dengan diksi HHM dalam dangdingnya. Pertama, terdapat sejumlah kata Sunda yang kurang familiar, setidaknya untuk penutur bahasa Sunda dewasa ini, tapi menunjukkan kreativitas penyair menciptakan semacam idiom baru. Kedua, terdapat sejumlah kata yang diserap dari bahasa Arab, dan pada kasus-kasus tertentu kata-kata serapan itu dibentuk melalui pola pembentukan kata bahasa Sunda. Sehubungan dengan kedua hal tersebut, kita dapat mengacu pada beberapa kamus, antara lain kamus Hardjadibrata,[12] kamus Satjadibrata[13] dan kamus Danadibrata.[14]

Pertama-tama, kita dapat memperhatikan masalah imbuhan -um-. Bentuk kata dengan -um- dikatakan terpengaruh bahasa Jawa, dan arti serta bentuknya sangat tidak beraturan (Tata Bahasa Sunda, 111). Pada dasarnya -um- merupakan sisipan, seperti pada gumilang (dari kata dasar gilang) tapi jika kata dasarnya diawali dengan huruf hidup imbuhan ini menyerupai awalan seperti pada umangkeuh (dari angkeuh). Makna atau konotasi yang terkandung dalam bentuk kata dengan sisipan -um- adalah: 1. Konotasi gerak seperti pada lumaku; 2. Konotasi gerak yang berulang atau sambung-menyambung seperti pada jumegur (menggelegar lebih dari sekali), yang dapat dibandingkan dengan ngajegur (menggelegar sekali); 3. Konotasi yang menunjukkan keadaan tidak sesungguhnya atau tidak sepatutnya, seperti pada gumeulis (dari kata geulis).[15]   

Dalam dangding HHM terdapat cukup banyak bentuk kata dengan imbuhan -um-, misalnya tumurun, umaing, bumatur, umeta, sumaha, gumantung, gumelar, gumilang, tumulus, gumuling (PNgdK); humaleuang (HNHG); gumelaring, sumangga, tumurun, humandeuar (dari handeuar ‘mengeluh’ (HNHG); kumawula, rumasana (DSRRP); kumalayang, gumelar, gumilang, tumega, rumingkang, mumukti?, sumembah (SBR); dan di sejumlah tempat lainnya.

Kata-kata seperti umaing (dari kata ganti orang pertama tunggal aing), uméta (dari kata dasar penunjuk eta) dan sumaha (dari kata tanya saha) kini tidak lazim dalam percakapan sehari-hari. Contoh-contoh bentuk kata demikian juga tidak terdapat dalam Kats dan Soeriadiradja (1982). Betapapun, bentuk-bentuk kata itu bersifat fungsional dalam dangding HHM. Makna yang tersirat dari bentuk-bentuk kata tersebut tampaknya lebih mendekati makna atau konotasi ketiga di atas. 

Frekuensi yang cukup tinggi juga terlihat pada pemakaian bentuk kata berakhiran -ing. Tampaknya bentuk kata dengan imbuhan seperti ini pun terpengaruh bahasa Jawa. Dalam dangding-dangding HHM sering kita temukan idiom-idiom seperti sirnaning, jatnikaning, alaming, wateking, dinaning, bangsaning (HNHG); aherating, alaming, napsiahing, asaling, tuhuing, satuhuning (?), tumpuring, kulaning, dorakaning (DSRRP); barangtaning, birahining, menggahing, katunggalaning, sukmaning, tunggaling, jatining, tarajuning, sasamaning, alaming, kalanggenganing, kasampurnaning, karaméaning, sihaning, lawaning, utusaning (SBR).

Kasus menarik terlihat pada pemakaian kata meletus dalam larik “meletus bijil ti laku/meletik bijil ti biwir” (PNgdK). Orang mungkin cenderung membandingkan kata ini dengan kata yang sama dalam bahasa Melayu. Namun, dalam dangding HHM, bentuk kata ini kiranya berasal dari kata dasar Sunda betus ‘meledak’. Bentuk kata ini unik, sebab dalam tata bahasa Sunda tidak ada awalan me-. Yang pasti, kata meletus dan meletik tampak sebangun, dan pada masing-masing larik itu HHM tampak mengupayakan tercapainya asonansi, sampai-sampai ketimbang memakai kata meleték ia memakai kata meletik. Ungkapan turun-manurun (DSRRP, HNHG) juga menarik: ketimbang memakai tumurun (bentuk kata dengan -um) HHM memakai manurun. Mungkinkah dalam hal ini HHM terpengaruh oleh bentuk kata dalam bahasa Melayu, ataukah hal ini terpaut pada masalah transliterasi?

Mengenai banyaknya kata dari bahasa Arab dalam dangding-dangding HHM, pembaca dapat mengacu pada Daftar Istilah di bawah. Hal yang kiranya perlu ditekankan di sini ialah bahwa penyerapan kata dari bahasa Arab dalam dangding-dangding HHM tetap mengindahkan kaidah gramatikal bahasa Sunda. Terdapat sejumlah contoh pemakaian istilah Arab yang dibentuk dengan pola pembentukan kata bahasa Sunda: “nu qiyamuhuna bi nafsih” (DSRRP), “lahutan kapangéranan” (PNgdK) atau “nu pirobbun susuk muntu” (PNgdK). Dalam contoh tersebut akhiran -na pada istilah qiyamuhuna, akhiran -an pada kata lahutan, serta awalan pi- pada kata pirobbun jelas merupakan bagian dari gramatika Sunda. Di sejumlah tempat tampak kreativitas HHM menjadikan penyerapan istilah Arab ke dalam tata bahasa Sunda tidak terasa janggal, seperti dalam kinanti PNgdK  berikut ini:

 

La ilaha ilallahu,                                   La ilaha ilallahu,

pokpokan nu beurat lain,                     ujaran nan ringan adanya,

ilallah nu beurat enya,                                     ilallah nan berat sungguh,

Allahu méh taya lain,                           Allahu nyaris tiada lain,

hu bitu ngan kari enya,                                    hu pecah tinggal benar adanya,

hakéki ngan kari budi                          hakikat tinggal semata budi

 (104)

 

Perhatikan ungkapan “hu bitu” yang luar biasa. Kata ganti orang ketiga tunggal Arab hu(wa), yang jika dilekatkan pada subyek menjadi kata ganti posesif, diserap menjadi kata yang berdiri sendiri serta membangun purwakanti dengan kata bitu.

 

 

Rancang bangun

Jika dangding-dangding HHM kita tinjau selayang pandang, di dalamnya terlihat adanya sejumlah bait, khususnya pada bagian permulaan, yang kiranya agak “mustahil dibaca”. Posisi bait-bait seperti itu dalam keseluruhan bangunan dangding sepertinya dapat dilihat seperti posisi sampiran dalam puisi tradisional Melayu, atau mungkin lebih tepat dikatakan seperti posisi rajah dalam tradisi carita pantun Sunda. Untuk melihat contohnya, berikut ini adalah petikan bait dari asmarandana HnHG yang mengolah citraan pelihatan dan citraan pendengaran:

 

Japati hiber ka bumi,                           merpati terbang ke bumi,

macokan kembang dalima,                 mematuk-matuk kembang delima,

hayam jago ngéplék jawér,                 ayam jantan lemas pial,

rubak dada lébar jangjang,                  lapang dada lebar sayap,

kalayang ka tanah wétan,                               melayang ia ke tanah timur,

diburu ku hayam tukung,                                diburu ayam tak berekor,

koléang kana taweuran.                                  melayang ia ke teritis.

 

Waliwis hiber ti peuting,                                  Belibis terbang malam hari,

eunteupna kana bangbayang,                        hinggap ia di bangbayang

diboro ku hayam katé,                                    diburu oleh ayam kate,

koléang kana suhunan,                                   terbang ia ke atas atap,

barina kokoréakan,                             sambil memperdengarkan suaranya,

kurulung si beurit jantung,                   kurulung si beurit jantung

eusina kumaha dinya.                         isinya terserah kamu.

            (126)

 

Larik terakhir dalam kutipan di atas (eusina kumaha dinya ‘isinya terserah kamu’) sepertinya menunjukkan humor HHM. Ia membuat semacam sampiran dengan tidak menegaskan atau menekankan isi. Pembaca, yang barangkali berharap mendapatkan wejangan dari HHM, seakan diminta menerka atau memikirkan sendiri makna yang (mungkin) terkandung dalam larik-larik sebelumnya.

Bahkan pada bagian-bagian awal dangding kinanti PNgdK, “permainan sampiran” seperti itu terasa lebih menonjol. Ia seakan hendak mengatakan bahwa isi lariknya wallahualam ‘hanya Allah yang Tahu’ dan moal sacangkang saeusi ‘tak kan secangkang seisi’. Kita petik:

 

Sindir sapada ti indung,                       sindir sebait dari ibu,

hiji ti bapa pribadi,                                satu dari bapakku,

nu sapada sisindiran,                          yang sebait sisindiran,

pangasuh aing keur leutik,                  pengasuhku di masa kanak,

eusina wallahualam,                            isinya wallahualam,

moal sacangkang saeusi.                   tak kan secangkang seisi.

            (91)

 

Dengan kata lain, dalam dangding-dangding HHM tampaknya selalu tersedia semacam ruang-ruang kosong tempat pembaca dapat menentukan posisinya. Jika ruang-ruang kosong itu ditempatkan di awal dangding, fungsinya jadi seperti rajah pamuka dalam carita pantun yang dengannya pembaca dapat mengalami sejenis pengondisian psikologis sebelum masuk ke relung-relung permenungan mistik. Jika ruang-ruang kosong itu ditempatkan di tengah rangkaian larik dangding, fungsinya jadi seperti interlud. 

Selain menyediakan ruang-ruang kosong, HHM juga sering asyik bermain musik, dalam arti mengolah bunyi kata secara leluasa. Pada larik-larik seperti itu, kata-kata seakan dilepaskan dari ikatan maknanya, kemudian dikembalikan kepada bentuknya yang paling purba. Dari kinanti PNgdK, misalnya, kita dapatkan bait sebagai berikut, yang variannya cukup banyak baik dalam dangding tersebut maupun dalam dangding lain:

 

Ngalantung batur sakurung,

kurang pakurang pakuring,

kuring pakurang pakurang,

kurang pakurang pakuring,

kuring pakuring pakurang,

kurang pakurang pakuring.

(94)

 

Namun, perlu segera ditambahkan bahwa di tempat lain, HHM juga membawa ungkapan-ungkapan yang kiranya dapat disebut formulaik, atau ungkapan yang tersedia dalam tradisi permainan sajak Sunda, secara lengkap: sampiran berikut isinya, hanya penempatan kedua aspek itu cenderung dipisahkan. Contohnya terdapat dalam Asmarandana nu Kami, yang terdiri atas 261 bait, terdapat bait-bait yang mengandung sisindiran, antara lain sebagai berikut:

 

225

 

Eusina sindir nu kami,

minangka rujak siloka,

kacang bae roay bae,

tuturus kembang samoja,

leumeung teundeut cocongoan,

jalanna ka Rajagaluh,

Sundana ti babaheula.

 

226

 

Heula sindir batan eusi,

siloka batan perbuka,

hayang bae moal bae,

teu tulus aya nu boga,

meungpeung deukeut sosonoan,

jaga mah urang pajauh,

deukeutna cara ayeuna.

(86)

 

Contoh lain dari dangding yang sama adalah:

 

240

 

Waliwis di mana mandi,

mandina di pangguyangan,

teu hayang borondong jagong,

teu bisa mocelanana,

japati belang jangjangna,

sok asa ngarebab jangkung,

nya ati bari nalangsa

 

241

 

Nu geulis di mana jangji,

jangjina di pakalangan,

teu hayang ka urang gedong,

teu bisa ngotelanana,

belapati ti anggangna,

iraha palupuh nangtung,

iraha rek kapimilikna.

(90-91)

 

Dalam contoh di atas dapat kita perhatian larik-larik yang di sini dicetak tebal. Larik-larik pada bait sebelumnya merupakan sampiran bagi larik-larik pada bait sesudahnya. Dengan kata lain, kiranya tidak seperti penempatannya dalam tradisi, sampiran dan isi itu oleh HHM ditempatkan dalam bait-bait terpisah.

Dalam contoh di atas dapat pula kita perhatikan betapa HHM juga menyelipkan wawangsalan, yakni permainan sajak berupa teka-teki yang mengharuskan pembaca menebak isinya berdasarkan susunan bunyi dan asosiasinya: ungkapan sok asa ngarebab jangkung/nya ati bari nalangsa mendorong pembaca untuk mencari pertautan atara rujukan makna ngarebab jangkung dan bunyi akhir nalangsa. Dalam karawitan Sunda, ada instrumen gesek yang bernama rebab, dan sosoknya seperti biola. Ada pula sejenis rebab tetapi tangkainya lebih tinggi, dan biasanya dimainkan untuk mengiringi carita pantun. Nama instrumen itu mengandung bunyi akhir yang sama dengan nalangsa, yakni tarawangsa.

Dalam sejumlah dangdingnya, kita dapat melihat kecenderungan HHM merangkaikan bait demi bait dengan cara menjadikan kata di akhir sebuah bait menjadi kata di awal bait yang menyusulnya, dan begitu seterusnya. Contohnya dapat kita perhatikan dari Sinom Wawarian, sebagai berikut:

 

25

 

Sorangan nu wawarian,                           Diriku usai kenduri,

ngentep piring ngentep pisin,                               kemas piring kemas pisin,

ngentep kembang papajangan,                            kemas kembang usai pajang

ngentep papaesing tadi,                                 kemas perhiasan tadi

niru alam pribumi,                                               niru alam pribumi

gugulung urut ngaguruh,                          mengemas bekas gemuruh,

jamak runtag karia,                                             galib berakhir pesta,

mulangkeun injeuman tadi,                                  kembali pinjaman tadi,

bisi majar hanteu milu ambariang.                      jangan disangka tak ikut ambariang

 

26

 

Ambariang cara urang,                          Ambariang cara kita,

urang menak urang kuring,                                  kaum menak kaum cilik,

da geus kitu alam urang,                                     begitulah alam kita,

meungpeung hayang meungpeung eling,        mumpung ingin mumpung ingat,

ngajaring nu areling,                                           mengasuh orang sadar,

tandaning riung mungpulung,                               tandanya himpun berkumpul,

mungpulungkeun nu urang,                                 menghimpun milik kita,

bisi kagiling kagiring,                                          jangan tergiling tergiring,

kawisaya kasambang ku Sang Guriang               terjerat tersesatkan Sang Guriang.

 

27

 

Guriang ratu siluman,                                        Guriang raja siluman,      

siluman jatining diri,                                            siluman hakikat diri,

kelangan kabawa ngayang,                                 mabuk terbawa terbang,

nyiluman matak teu eling,                                   terbang hingga tak sadar,

teu elingna ku eling,                                           tak sadar sebab sadar,

ka nu ngapung ka nu nguwung,                           pada yang membumbung tinggi,

sukma karuncang kundang,                                sukma terbawa jauh,

tadina kurang caringcing,                                    tadinya kuranglah gesit, 

kawisaya ku ciciptaning sorangan.                       terjerat oleh ciptaanku sendiri.

(25-26)

 

Pokok renungan

Tugas tersulit yang saya rasakan adalah meninjau pokok sajak. Saya merasa termasuk ke dalam golongan pembaca yang mengalami kesulitan untuk menangkap pokok renungan dalam dangding-dangding HHM. Terlepas dari kesenangan menikmati jalinan antarkata dalam tiap-tiap lariknya, yang sering mencengangkan, saya selalu merasa terombang-ambing dalam alunan dangding-dangding itu, seakan hendak menangkap sesuatu tapi segera menyadari bahwa sesuatu itu rasanya cepat luput. Sesuatu itu seperti “engkau” dalam sajak Amir Hamzah yang terkenal: engkau pelik menarik ingin/serupa dara di balik tirai. Barangkali hal seperti inilah yang tersirat dalam saran Ajip Rosidi bahwa untuk memahami guguritan HHM, pembaca memerlukan pengetahuan mengenai ajaran Islam, kandungan Quran, bahasa Arab, budaya Sunda dan budaya Jawa. Pengetahuan saya sendiri mengenai hal-ihwal tersebut sangat jauh dari memadai. Namun, setidaknya, saya harus mempertanggungjawabkan istilah yang saya gunakan sendiri dalam esai ini, yakni dangding mistis.

Untuk menunjukkan karakteristik mistis dari dangding-dangding HHM, perkenankan saya di sini mengomentari salah satu kinanti HHM yang disebut melalui larik awalnya, yakni Dumuk Suluk Tilas Tepus (Berdiam Suluk Setuntas Lacak) (Haji Hasan Mustapa, 161-177). Dumuk adalah verba yang menunjukkan tindak berdiam atau berada di tempat tertentu, sementara suluk adalah sejenis tembang yang biasanya diiringi petikan kecapi atau instrumen lainnya seperti nyanyian dalang sebelum mementaskan wayang, adapun tilas tepus merupakan ungkapan sehari-hari yang menunjukkan tuntasnya pencarian, pelacakan atau upaya tertentu. Dengan memilih dangding ini, siapa tahu, sedikit banyak dapat tergambar pokok renungan yang cenderung terkandung dalam dangding-dangding HHM pada umumnya. Dangding ini terdiri atas 100 bait, dan—sebagaimana lazimnya kinanti—tiap-tiap baitnya terdiri atas enam larik.

Sejauh yang dapat saya tangkap, dangding ini sepertinya merupakan alegori mengenai pengalaman mencari dan menghayati hal yang hakiki atau hal yang asali. Dalam dangding ini, hal tersebut terisyaratkan antara lain melalui idiom hakeki, jati, kawitining jadi, alam pasti, alam sirna, bali geusan ngajadi (istilah yang disebutkan terakhir ini berasal dari idiom umum yang biasa digunakan untuk menunjuk kampung halaman atau tanah kelahiran). Hal yang hakiki itu dibedakan dari lawannya, yakni paesan jati, alam jasmani dan sebagainya.

Dengan pijakan pada tradisi sastra Sunda (seperti yang terlihat antara lain dari idiom, majas dan posisinya dalam keseluruhan bangunan puisi) serta kepekaan atas (bunyi) kata, HHM tampaknya meniupkan semacam roh baru pada perkakas persajakan tradisional. Dangding yang lazimnya dimanfaatkan untuk mewadahi kisah atau uraian mengenai suatu perkara, seperti yang sering kita dapatkan dalam wawacan, dijadikan sebentuk nampan puitika yang mewadahi pengalaman, penghayatan serta pemahaman HHM sehubungan dengan mistisisme Islam. 

Namun, karena muatan mistisisme berada di luar jangkauan esai ini, di sini saya hanya akan mengomentari salah satu pola persajakan yang berkaitan dengan hal itu yang terasa menonjol. Pola tersebut kiranya dapat dikenali pada larik-larik yang mengolah paradoks. Jika kita kembali pada kinanti PNgdK, kita dapat memetik sebait contoh yang variannya juga cukup banyak:

 

Sapanjang neangan kidul,                               Sepanjang mencari selatan,

kalér deui kaler deui,                           senantiasa utara dijumpa,

sapanjang néangan wetan,                             sepanjang mencari timur,

kulon deui kulon deui,                         senantiasa barat didapat,

sapanjang neangan aya,                                 sepanjang mencari ada,

euweuh deui euweuh deui                              senantiasa tiada didapat

 (97)

 

Bandingkan pula paradoks seperti itu dengan paradoks lainnya dalam dangding yang sama sebagai berikut:

 

Ngalantung memeh ngalantung,                     Berjalan sebelum berjalan,

ngalinjing memeh ngalinjing,               maju mundur sebelum maju mundur,

neangan memeh neangan,                 mencari sebelum mencari,

nepi ka memehna indit,                                   tiba di tempat berangkat,

datang samemehna iang,                    datang sebelum hengkang,

indit samemeh mimiti.                          pergi sebelum dimulai.

(98)

 

Ungkapan seperti nepi ka memehna indit ‘tiba ke tempat berangkat’ terasa luar biasa. Jika kita berupaya membaca larik seperti itu secara visual, akan kita dapatkan sebentuk lingkaran (hermeneutik?) yang titik awal dalam tarikan garisnya sekaligus menjadi titik tujunya.

Sehubungan dengan nuansa Islami yang sedemikian kuatnya dalam dangding HHM—tapi lagi-lagi berada di luar jangkauan esai ini—kita dapat mencatat bahwa dalam dangding-dangdingnya HHM turut mengolah idiom-idiom yang tampaknya berasal dari zaman pra-Islam tapi tentu saja akrab dengan publik sastra Sunda pada masanya. Contohnya dapat dibaca dalam Sinom Barangtaning Rasa sebagai berikut:

 

Pundungan sili puntangan,                  Sama tersinggung saling bergantung,           

ati gering ku kaeling,                           batin sakit karena sadar,

dangiang pérang ku melang,               rona pucat sebab waswas,

beak lebak beak lamping,                   habis lembah habis tebing,

putra-putri dipaling,                              putra-putri dicuri,

kasambat Batara Guru,                                  tersebut Batara Guru

keur suka pada suka,                                     selagi saling menyukai,

peutingna midadareni,                                     malam hari midadareni, 

nya kasambang jampana taya eusina.           terbawa usungan tak bermuatan.

(24)

. . .                                                       . . .

 

Sampurna alaming rasa,                     Sempurnalah alam rasa,

lali kana pancakaki,                            lupa pada silsilah,

kakina panceranana,                          asal mula pijakannya,

panarik alaming pasti,                                     penarik alam nan pasti,

pastina kapilali,                                    pasti terlupa adanya,

ka luhur ka Sang Rumuhun,               ke atas ke Sang Rumuhun,

ka handap ka Sang Batara,                ke bawah ke Sang Batara,

Batara Wisnu sajati,                            Batara Wisnu sejati,

jati waras kasampurnaning sorangan.            jati waras sempurnanya diri.

(28)

 

Timbul pertanyaan yang jawabannya akan memerlukan konsultasi dengan ahli tasawuf: apakah pemilihan pupuh dalam dangding-dangding HHM ditentukan atau dipengaruhi oleh kekhususan pengalaman atau pemahaman mistik yang hendak diungkapkannya? Pertanyaan seperti ini kiranya lumrah manakala kita ingat bahwa tiap-tiap pupuh sesungguhnya mewakili suasana hati yang berbeda satu sama lain. Jenis pupuh yang diolah HHM dalam dangding-dangdingnya yang telah diketahui atau ditransliterasikan ke dalam aksara Latin sejauh ini adalah kinanti, sinom, asmarandana, dangdanggula, pucung, magatru, pangkur dan mijil.

 

Akhirulkalam

Dewasa ini orang cenderung lupa bahwa dangding, tak terkecuali dangding karya HHM, sesungguhnya bukan hanya merupakan konstruksi verbal, melainkan juga merupakan konstruksi musikal. Efek puitik dangding akan terasa sepenuhnya manakala puisi itu tidak sekadar dibaca, melainkan juga dilantunkan sesuai dengan jenis pupuhnya. 

Catatan-catatan seperti itu pada gilirannya barangkali dapat mendorong kita untuk memperhatikan sedekat mungkin rincian persajakan. Dengan demikian, kian terbuka peluang untuk menjadikan dangding-dangding peninggalan HHM sebagai referensi kolektif yang amat kaya, khususnya bagi komunitas sastra Sunda untuk mengembangkan puisi Sunda itu sendiri, dalam kaitannya dengan pengolahan kembali dasar-dasar puitikanya.

Untuk mengakhiri uraian ini, perkenankan saya memetik dua bait puisi dari asmarandana HnHG:

 

Dinyarana kuring santri,                      Sangka mereka aku santri,

sapedah bisa ngajina,                                     hanya karena bisa mengaji,

dinyarana alim kahot,                          sangka mereka alim kawakan,

pedah getol ngawurukna,                    karena getol menggurui,

dinyarana bijaksana,                           sangka mereka bijaksana,

sapedah mulus rahayu,                                  hanya karena selamat sejahtera,

puguh sagala turunan.                                    jelas segala keturunan.

(126)

. . .                                                       . . .

 

Barodona alam nyantri,                                   Bodohnya alam menyantri,

tacan kitab tacan Quran,                    belum kitab belum Quran,

tacan daraek masantren,                    belum mau masuk pesantren,

tacan agama drigama,                                    belum agama belum hukum,

kaula era paradah,                              sungguh aku malu,

sirung ngamomore dapur,                   tunas mengabaikan rumpun,

dapuran kamanusaan.                                    rumpun kemanusiaan.

(127)

 

Rujukan

Culler, Jonathan

1975               Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics, and the Study of Literature. New York: Cornell University Press.

2000               Literary Theory: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press.

Dresher, B. Elan & Friedberg, Nila

2006               Formal Approaches to Poetry: Recent Development in Metrics. Berlin-New York: Mouton de Gruyver.

Kartini, Tini; Djulaeha, Ningrum; K.M., Saini & Wibisana, Wahyu.

1985                           Biografi dan Karya Haji Hasan Mustapa, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Hardjowirogo, R.

1952               Patokaning Njekaraken. Jakarta: Balai Pustaka

Rosidi, Ajip

1966               “Tjatetan-tjatetan Ngeunaan H. Hasan Mustapa” dalam Dur Pandjak. Bandung: Pusaka Sunda.

1995               Puisi Sunda I. Bandung: Geger Sunten.

2009               Manusia Sunda, cet. ke-3. Bandung: Kiblat Buku Utama

2011               Guguritan: Puisi Sunda Jilid IIb. Bandung: Kiblat Buku Utama

                        dan LBSS

Rusyana, Yus

1995               Guguritan Munggah Haji. Bandung: Geger Sunten.

 

 

 

* Hawe Setiawan adalah peneliti sastra Sunda dan pengajar di Universitas Pasundan, Bandung. Sebelumnya ia adalah wartawan.

Esai ini semula disampaikan dalam Seri Kuliah Umum Islam dan Mistisisme Nusantara: Dangding Mistis Hasan Mustapa, di Teater Salihara, 04 Agustus 2012. Esai ini adalah versi revisi atas makalah Hawe Setiawan yang berjudul, “Cangkang Suluk: Dangding Haji Hasan Mustapa sebagai Wadah Mistisisme Islam”. Makalah semula disampaikan dalam seminar mengenai karya-karya Haji Hasan Mustapa yang diselenggarakan melalui kerja sama UIN Sunan Gunung Djati dengan Pusat Studi Sunda dan Universitas Monash, Australia, di kampus UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, 2009. Hawe berutang budi kepada Dr. Julian Millie dari Universitas Monash atas dorongannya kepada Hawe untuk menulis karya-karya Haji Hasan Mustapa.

[1] Ajip Rosidi dkk., Ensiklopedi Sunda (Jakarta: Pustaka Jaya, 2000), 263-265.

[2] Ajip Rosidi, Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana (Bandung: Pustaka, 1989), 507 hlm. Selanjutnya ditulis Haji Hasan Mustapa.

[3] Nigel Fabb dan Morris Halle, Meter in Poetry: A New Theory (Cambridge: Cambridge University Press, 2008), 11.

[4] S. Coolsma, Tata Bahasa Sunda, terjemahan Husein Widjajakusumah dan Yus Rusyana (Jakarta: Djambatan, 1985), 328-334. Selanjutnya ditulis Tata Bahasa Sunda.

[5] Dalam naskah Bujangga Manik terlihat lalu lintas naskah antara satu kabuyutan dan kabuyutan lainnya, yang tidak saja melingkupi Jawa Barat, tetapi melingkupi juga Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Hal ini dimungkinkan adanya rahib atau pendeta pengelana, seperti tokoh Bujangga Manik. Sepulang dari Pemalang, Jawa Tengah, pada perjalanan keliling pertama kali, Bujangga Manik digambarkan oleh Jompong Larang, sebagai pendeta pengelana yang menguasai bahasa Jawa dan buku-buku keagamaan. Lihat J. Noorduyn & A. Teeuw, Tiga Pesona Sunda Kuna, diterjemahkan oleh Hawe Setiawan, teks Sunda kuna oleh Tien Wartini dan Undang A. Darsa, dari Three Old Sundanese Poems, 2006 (Jakarta: Pustaka Jaya, 2009), 285-286.

[6]  Percakapan pribadi, 10 Desember 2008.

[7] Nina H. Lubis, Kehidupan Menak Priangan: 1800-1942 (Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda, 1998), 240-241.

[8] R.A.A. Wiranata Koesoema, Riwajat Kangdjeng Nabi Moehammad s.a.w. (Bandoeng: Islam Studieclub, 1941).

 

[9] Roland Barthes, Writing Degree Zero, terjemahan Annette Layers dan Colin Smith (New York: Hill and Wang, 1968), 45.

[10] Iskandarwassid, Ajip Rosidi, Josep C.D., Naskah Karya Haji Hasan Mustapa (Bandung:Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda [Sundanologi], 1987), 23.

[11] Dangding-dangding itu adalah Dangdanggula Sirna Rasa (Seri Guguritan Haji Hasan Mustapa No. 1), Kinanti Kulu-kulu (Seri Guguritan Haji Hasan Mustapa No. 2), Sinom Barangtaning Rasa (Seri Guguritan Haji Hasan Mustapa No. 3), Sinom Wawarian (Seri Guguritan Haji Hasan Mustapa No. 4), dan Asmarandana nu Kami (Seri Guguritan Haji Hasan Mustapa No. 5). Kelima guguritan tersebut diterbitkan oleh penerbit Kiblat Buku Utama di Bandung pada 2009.

[12] R. Rabindranat Hardjadibrata, Sundanese-English Dictionary (Jakarta: Pustaka Jaya, 2003),896 hlm.

[13] R. Satjadibrata, Kamus Sunda-Indonesia (Bandung: Kiblat Buku Utama, 2011), 376 hlm.

[14] R.A.Danadibrata, Kamus Basa Sunda (Bandung: Panitia Penerbitan Kamus Basa Sunda & Kiblat Buku Utama, 2006), 782 hlm.

[15] J. Kats dan M. Soeriadiradja, Tata Bahasa dan Ungkapan Bahasa Sunda, terjemahan Ayatrohaedi (Jakarta: Djambatan, 1982), 156-158.

 

Berbagi

- DANGDING MISTIS HAJI HASAN MUSTAPA