Belanja

SETIAP DUA TAHUN—yaitu pada tahun genap, seperti tahun 2018 ini—kami menghadirkan sebuah program sangat istimewa yang berlangsung selama sebulan penuh. Program ini bernama SIPFest, Salihara International Performing-arts Festival.

Pada SIPFest 2018 akan hadir seniman maupun kelompok seni tari, teater dan musik dengan reputasi tinggi, sudah mencapai status “kanonik”, maupun mereka yang muda-segar dan akan menjadi penting di tahun-tahun mendatang.

Grup dari Prancis, Kanada, Australia, Taiwan, Malaysia, Belgia dan Indonesia ini akan memberikan tontonan bermutu tinggi selama 4 Agustus—9 September mendatang.

SIPFest kali ini menjadi lebih istimewa lagi, karena ia menyertai ulang tahun Komunitas Salihara yang ke-10, yaitu pada tanggal 8 Agustus 2010.

Dengan SIPFest 2018 ini, kami hendak mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada masyarakat penonton yang selama satu dasawarsa ini telah mendukung kami mengembangkan kreativitas dan pendidikan dengan penuh kegembiraan.

Selaku bagian dari masyarakat Jakarta yang berubah cepat, Komunitas Salihara berpendapat bahwa ibukota Republik kita ini layak setara dengan kota-kota besar terkemuka di dunia ini.

Dengan 1001 masalah yang harus dipecahkannya, ternyata Jakarta bisa memiliki sejumlah peristiwa seni-budaya yang edgy, yang membuat ia punya tempat tersendiri di peta seni pertunjukan kontemporer dunia. SIPFest adalah salah satunya.

Masyarakat Jakarta, sebagaimana diwakili oleh penonton Komunitas Salihara, membuktikan bahwa Jakarta bisa melompat tinggi dan jauh ke depan. Membuat Jakarta bergaya dan bergengsi.

Di seni senang, begitu kata SIPFest. Happy go artsy. Seni itu menyenangkan, justru ketika ia mengajak kita menyelam lebih dalam ke dalam kehidupan. Seni itu menggoda, mengejutkan, sekaligus menyenangkan.

Itulah yang akan diberikan kelompok-kelompok Lucy Guerin Inc, Quatuor Bozzini (bersama empat komponis Indonesia Marissa Sharon Hartanto, Arham Aryadi, Stevie Jonathan Sutanto dan Mathius Shanboone), Ju Percussion Group, Quasar Quatuor de Saxophones, Toccata Studio, Five Arts Centre, Compagnie X-Press, Ayelen Parolin, naskah Nassim Soleimanpour yang akan tampil dalam SIPFest 2018.

Untuk menggarisbawahi keistimewaan SIPFest kali ini, kami juga secara khusus memproduksi sebuah karya tari kontemporer berdasarkan khazanah lengger Banyumasan bersama koreografer Otniel Tasman, serta sebuah karya teater Monolog Sutan Sjahrir bersama sutradara Rukman Rosadi, aktor Rendra Pamungkas dan penulis naskah Ahda Imran.

Yang baru dalam SIPFest kali ini adalah juga ceramah-pertunjukan, lecture as performance, bersama Ananda Sukarlan (musik), Didik Nini Thowok (tari), dan Jim Adhi Limas (teater). Ada pula show case, forum bagi karya-karya para seniman tari dan teater yang sedang tumbuh.

Di ruang-ruang terbuka Salihara, akan terpampang karya-karya seni instalasi oleh Krisgatha Achmad, Meliantha Muliawan perupa asal Jakarta dan Gabriel Aries Setiadi, perupa asal Bandung.

SIPFest 2018 adalah forum bagi para seniman dan masyarakat penonton untuk berbagi kreativitas, kebaruan dan kegembiraan. ***

KEMBALI