Belanja

PERTANGGUNGJAWABAN TIM JURI

UNDANGAN TERBUKA HELATEATER SALIHARA 2019

Jumat, 23 November 2018

Kami menerima 25 proposal—setelah masa penerimaan naskah diperpanjang hingga satu bulan—yang datang dari pelbagai kota di Indonesia: Banda Aceh (1), Bandung (2), Bangkalan (1), Bandar Lampung (1), Jakarta (7), Jember (1), Malang (1), Mataram (1), Medan (2), Padang (1), Padangpanjang (2), Surabaya (1), Sumedang (1), Sumenep (1), Yogyakarta (2).

Sebagaimana telah kami tegaskan dalam maklumat Undangan Terbuka, dengan tema “Teater Adaptasi” kami menghendaki proposal pementasan teater yang menyadur naskah asing atau naskah asli ke dalam budaya Indonesia atau budaya daerah tertentu di Indonesia. “Adaptasi” berarti “memindahkan konteks naskah asing/asli ke latar budaya Indonesia atau budaya daerah tertentu; menyunting naskah; menambah-kurangi tokoh dalam naskah.”

Melalui teater adaptasi ini pula kami hendak menjaring kelompok-kelompok teater yang anggota-anggotanya relatif muda (maksimal berusia 35 tahun). Dengan kata lain, kami memihak kepada pertumbuhan bakat-bakat baru dalam dunia teater kita—di luar mereka yang telah mapan dan beroleh pengakuan nasional. Namun, bukan hanya soal muda dan tengah bertumbuh yang menjadi perhatian kami, melainkan juga tawaran adaptasi yang menarik. Itulah mengapa kami mengundang mereka untuk mengajukan tawaran pementasan teater adaptasi yang bisa memperkaya khazanah bentuk teater Indonesia yang ada hari ini.

Masalah utama yang kami hadapi dalam tahap pertama penjurian adalah tertib administrasi. Meski menawarkan rencana pementasan yang menarik, beberapa dari pelamar kurang patuh terhadap persyaratan yang sudah ditetapkan. Terutama mengenai anggaran, batasan umur dan jumlah awak produksi. Dari yang memenuhi persyaratan administrasi itulah kami kemudian memperdebatkan rencana-rencana produksi yang mereka ajukan.

Banyak dari pelamar yang memaknai adaptasi sekadar memindahkan naskah asing atau naskah asli ke budaya Indonesia atau budaya daerah tertentu. Misalnya, sekadar mengganti bahasa pengantar dengan bahasa daerah dan nama-nama tokoh yang dilokalkan. Sementara segi bentuk pementasan relatif konvensional. Jika tidak menggunakan pola pemanggungan realis yang jamak, mereka mengambil satu bentuk teater rakyat yang ada sebagai bentuk baru.

Penyaduran naskah pada akhirnya juga mesti berhitung dengan keberanian seorang sutradara dan awak produksinya untuk memberikan nalar baru kepada naskah yang semula dianggap asing. Naskah itu, katakanlah, mesti direbut dan didudukkan ke dalam khazanah kebudayaan yang telah dipilih untuk selanjutnya ditampilkan dalam bentuk yang lebih menyegarkan yang karenanya khalayak penonton mendapatkan kembali sesuatu yang berharga dalam menikmati tegangan antara teater dan kehidupan sehari-hari.

Terkait dengan ini, kami juga berhadapan dengan sejumlah rencana pementasan yang seakan-akan hendak keluar dari naskah-naskah yang sudah kami sediakan dan menggunakan semua itu hanya sebagai batu loncatan kepada bentuk yang lain lagi—semacam hasrat untuk meninggalkan seni peran dan melebur sepenuhnya ke dalam aneka citra yang ditampilkan melalui kekuatan multimedia. Tentu saja, adaptasi yang kami kehendaki adalah pengalihwahanaan naskah yang masih cukup bersetia kepada naskah sumbernya, bukan hanya menggunakan naskah tersebut dengan label “terinsipirasi oleh”.

Akhirnya, dari sejumlah proposal yang lolos seleksi administrasi dan mengajukan rencana pementasan yang menarik, kami memilih nama-nama berikut ini—yang diurutkan secara alfabetis—sebagai kelompok-kelompok teater terpilih Undangan Terbuka Helateater Salihara 2019. Mereka akan diundang tampil dalam Helateater Salihara yang akan berlangsung pada Maret-April 2019:                  

 

Forum Aktor Yogyakarta (Yogyakarta) dengan naskah Pagi Bening karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero terjemahan Sapardi Djoko Damono

Kelompok teater ini mencoba membawa naskah Pagi Bening ke dalam situasi sosial-politik Indonesia mutakhir. Dengan mengambil latar ruang tunggu sebuah bandara di Yogyakarta, kita akan dihadapkan dengan persoalan politik yang berkelindan dengan seluk-beluk asmara para tokohnya di masa lalu. Kisah cinta yang pada naskah aslinya terasa sangat pribadi, kini berubah menjadi semacam skandal yang bisa mengancam masa depan karier politik seorang calon pemimpin bangsa. Murwah dan Kencana yang pernah saling jatuh cinta dan berjuang, kini saling bermusuhan, saling menjegal, demi ambisi politik salah satu dari mereka. Adukan cinta dan politik pada tafsir baru ini yang semula tampak mematikan akan disegarkan dengan hadirnya humor langgam Yogyakarta.

 

Padepokan Seni Madura (Sumenep) dengan naskah Pagi Bening karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero terjemahan Sapardi Djoko Damono  

Padepokan Seni Madura akan membawa naskah asal Spanyol ini ke sebuah desa nun di pedalaman Sumenep, Madura. Manusia-manusia Andalusia ini akan hadir dengan sosok dan nalar manusia Madura hari ini yang hidup dalam budaya agraris di satu sisi dan sastra lisan yang khas di sisi lain—termasuk juga budaya patriarki yang menuntut seorang perempuan “mencari sorga di bawah kaki suaminya”. Dua tokoh utama lakon ini bukan hanya akan mencocokkan memori asmara masing-masing, tetapi juga akan saling berpantun dengan iringan musik tradisional tong tong.  Modernitas yang hadir melalui bahasa Indonesia dan budaya populer pada akhirnya menjadi keganjilan yang menyegarkan dalam pementasan ini, justru ketika para penyadur hendak mempertahankan apa-apa yang khas dalam naskah aslinya.

 

Teater Gedor (Bandung) dengan naskah Nafsu di Bawah Pohon Elm karya Eugene O’neill terjemahan Toto Sudarto Bachtiar

Dengan naskah teater yang sangat mengandalkan psikologi dan nafsu para tokohnya, Teater Gedor berusaha membawa masalah asmara, perebutan tanah warisan dan impian kekayaan dalam satu keluarga petani Amerika Serikat ini ke dalam kehidupan sebuah keluarga Indonesia yang tengah menghadapi kerusakan lingkungan. Tidak ada lagi lahan pertanian yang permai dan menjanjikan harapan; semuanya telah berganti dengan lahan yang penuh limbah plastik. Bahkan pakaian dan perabot rumah tangga mereka seluruhnya plastik. Adapun “ladang emas California” telah berubah menjadi pertambangan liar yang juga menimbulkan kerusakan lingkungan yang tak kalah parah. Isu lingkungan hidup menjadi sangat kuat dalam tafsir baru ini dan pada saat yang sama mereka tetap mempertahankan kekuatan lakon aslinya yang bukan hanya membenturkan karakter satu dengan lainnya, tetapi juga ketajaman dialog di antara mereka.

 

Teater Pintu (Jakarta) dengan naskah Penjaga Rumah karya Harold Pinter terjemahan Toto Sudarto Bachtiar

Dengan mengedepankan tafsir pentingnya mengangkat isu “kesehatan kejiwaan” dalam panggung teater kita hari ini, Teater Pintu mencoba mempertajam masalah kejiwaan tokoh-tokoh dalam lakon Penjaga Rumah menjadi persoalan mutakhir warga Jakarta. Tiga tokoh utama dalam lakon ini yang semula laki-laki akan menjadi perempuan, sementara satu dari mereka didiagnosis mengidap sindrom bipolar. Situasi rumit yang mereka hadapi akan kian tak tertanggungkan bukan hanya karena pertentangan antar-karakter, tetapi juga akibat situasi sosial yang terus berubah di kota metropolitan yang salah urus ini. Mereka hadir sebagai bukti gentingnya masalah sosial dan kejiwaan dalam kehidupan sehari-hari warga Jakarta. Mereka berlomba untuk bisa menjadi tetap waras dan pada saat yang sama mewaspadai pelbagai ancaman yang mengepung dari sekitar mereka.

Kelompok-kelompok terpilih Undangan Terbuka Helateater Salihara 2019 akan dihubungi Komunitas Salihara untuk proses kontrak dan lain sebagainya.

Keputusan Tim Juri tidak bisa diganggu gugat.

Jakarta, 22 November 2018

 

Tim Juri

Hendromasto Prasetyo
Nirwan Dewanto
Rebecca Kezia
Zen Hae