Belanja

Eksplorasi Budaya Pop Asia

Otak seniman Sam Siren memproses suara dengan cara berbeda dengan orang kebanyakan. Bukan hanya bunyi, perempuan ini juga melihat warna-warni yang muncul dari suara yang didengarnya. “Waktu Anda bicara, misalnya, saya melihat warna kuning,” katanya kepada Tempo.

Synesthesia—begitu kondisi neurologis langka yang dialami Sam—menjadi sumber inspirasi seniman asal Brunei Darussalam ini. Selama tiga hari ia mengejar suara di penjuru Jakarta, dari Pasar Minggu hingga Kota Tua.Setiap warna yang muncul dari suara yang didengarnya, ia terjemahkan dalam karya instalasi berjudul Chasing the Rabbit Sound.

Di bagian tengah instalasi itu tergantung sebuah mp3 player dan headphone, yang memutar rekaman suara perjalanan Sam. Di sekelilingnya, dipasang beberapa plastik transparan, sehingga bentuknya menyerupai tirai. Tiap helai memiliki goresan dalam warna tertentu, mewakili bunyi yang ia dengar. Merah, misalnya, adalah warna yang ia lihat ketika mendengar bunyi kereta api. Adapun di lantai, terdapat susunan origami berbentuk kelinci dan penggalan kalimat round and round, chasing the rabbit sound. “Ini saya angkat dari Alice in Wonderland. Saya adalah Alice yang mengejar bebunyian yang diibaratkan sebagai kelinci,” ujarnya.

Lewat instalasi ini, pengunjung seakan diajak masuk dalam dunia orang dengan synesthesia, untuk mendengar warna dalam suara. “Karya ini cukup personal bagi saya,” ucap Sam.

Sam Siren merupakan satu dari 13 seniman dari Korea dan 10 negara di Asia Tenggara yang ikut serta dalam pameran “New Icon: Pop in Asia” yang digelar oleh Center for Art and Community Management Surya University. Pameran untuk memperingati 25 tahun hubungan Korea dan ASEAN ini digelar di Galeri Salihara, Jakarta Selatan, hingga 7 September mendatang.

Pameran ini bertujuan melihat bagaimana seniman dari masing-masing negara mengeksplorasi budaya populer, yang saat ini begitu menggurita. Jeong-ok Jeon, kurator eksibisi ini, menyebutkan pendekatan personal dalam budaya populer seperti yang dilakukan oleh Sam adalah kecenderungan yang dilakukan seniman Asia. “Berbeda dengan seniman Barat yang lebih banyak menekankan pada aspek reproduksi dalam budaya pop, seniman Asia lebih banyak menggunakannya untuk membagi cerita personal mereka,” ujarnya.

Tengok karya seniman dari Malaysia, Ise, bertajuk The Langkasuka Cookbook Project.Ise membawa ilustrasi penuh warna berisi resep memasak bebek Serati Solor, resep dari kerajaan kuno Langkasuka. Ia melengkapinya dengan video wawancara bersama neneknya, yang memberikan resep ini. Dari wawancara ini baru diketahui bahwa ternyata dulunya neneknya “mencuri” resep ini dari keluarga bangsawan.

Seniman Korea Lee Hyun Jin membawa ilustrasi dan video cheerleader bermata besar dengan tampilan khas manhwa—sebutan komik dari Korea. Meski pemandu sorak ini mengenakan perban di kaki dan sebelah matanya, ia tetap melompat dan mengayunkan pompom dengan semangat.

“Banyak hal buruk terjadi di dunia saat ini yang membuat kita terluka, tapi kita harus tetap bersemangat dan memberikan semangat pada yang lain,” ujar Lee tentang karyanya bertajuk

Love and Peace tersebut. Indonesia diwakili dua seniman, yaitu Serrum dan Adi Dharma alias Stereoflow. Adi membawakan karya muralnya, In a Relationship, menunjukkan sepasang pria dan wanita yang berpegangan tangan. “Saya ingin menunjukkan relasi negara-negara di Asia yang hubungannya seperti orang yang tengah pacaran,” katanya.

Meski membawa perspektif pribadi dari negara masing-masing, kemiripan kondisi antarnegara, khususnya kawasan Asia Tenggara, membuat sebagian karya relevan dengan kondisi Indonesia. Lukisan karya Sokuntevy Oeur dari Kamboja, misalnya, bercerita gempuran globalisasi lewat televisi dan manusia yang makin diperbudak teknologi.

Atau, lukisan dari Thomas D. Daquioag dari Filipina yang mengangkat para pekerja kelas bawah di bawah impitan gedung-gedung pencakar langit. Thomas menggambarkan mereka sebagai tokoh superhero. “Ini adalah penghargaan pada mereka, sosok superhero sesungguhnya yang mampu bertahan dan menghidupi keluarga di tengah kehidupan urban,” ujarnya.

Ratnaning Asih, dimuat di Koran Tempo, 20 Agustus 2014