Belanja

Lukisan: Haris Melawan Lupa, Mengingat Luka

Haris Purnomo yang lemah lembut dan murah senyum itu menyimpan luka. Luka semenganga luka-luka bangsa. Melalui 13 lukisan potret yang dipamerkan di Galeri Salihara, 26 April-11 Mei, Haris membagi luka-luka bangsa.

Memasuki ruang pamer, pengunjung disergap dengan deretan lukisan yang memampang wajah para tokoh (180cm x 200 cm cat minyak dan akrilik). Tato dan plester menjadi penanda setiap lukisan. Lukisan itu mengelilingi 60 sosok fiber berbalut kain kasa yang tengah sujud dengan setengah kepala terbenam. Kepala mereka menyala seperti ketika para nabi menerima wahyu. Juga terdengar bunyi mesin ketik yang menjadi ilustrasi video art bergambar kepala, yang ditempeli plester sambil ditempelengi tangan-tangan misterius, berdurasi 3 menitan.

Haris menggunakan plester, kain kasa, dan tato sebagai simbol luka. Luka fisik, psikis, sekaligus ideologis. Luka-luka yang mengeluarkan darah dan nanah hingga luka-luka sejarah. Luka-luka di sekujur tubuh bangsa dipenuhi luka yang harus kita tanggung bersama.

Plester, kain kasa, dan tato menjadi pintu masuk untuk mengajak masyarakat berdialektika. Deretan lukisan itu menggugah ingatan kolektif bangsa yang mulai lupa. Lupa terhadap para pembuat luka. Lupa kepada para korban yang terluka.

Bukan tentang tokoh

Disana ada Munir yang dahi pelipis hingga pipi kirinya dipenuhi tato naga. Munir adalah sosok satir di negeri ini. Pejuang hak asasi manusia, ini tewas diracun oleh orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab atas tegaknya HAM. Dia terluka karena cita-citanya ditikam dari belakang.

Lukisan Hoegeng yang juga bertato menemani Munir. Kepala Kepolisian RI yang rela miskin demi kejujuran itu barangkali tak tenang di alamsana. Penerusnya sibuk memperkaya diri, alih-alih melindungi dan melayani. Ketika rakyat mangais-ngais tanah untuk mempertahankan nyawa, polisi-polisi malah menumpuk harta secara tak lumrah. Kasus Simulator SIM dan rekening gendut jenderal adalah penanda paling nyata.

Apatisme terhadap polisi dan keluhuran budi Hoegeng itu memancing almarhum Gus Dur melucu. Hanya ada tiga polisi jujur di negeri ini, katanya. Mereka adalah patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng. Gus Dur pun terluka. Tengoklah lukisan wajah Gus Dur yang juga bertato wajahnya. Gus Dur yang sedang tersenyum itu sebenarnya tengah terluka. Dia adalah pejuang toleransi tapi anak bangsa menciptakan luka dengan membiarkan kekerasan atas nama agama. Rumah ibadah dibakar, digembok, dan umatnya diusir. Negara seolah absen.

Sekelompok orang berjubah putih meneriakkan nama Tuhan sembari meneror, merusak, dan berebut kekuasaan. Mereka menempuh cara pedang. ”Sebagai orang beragama, saya sedih. Saya malu. Makanya saya buat seni instalasi ini,” kata peraih penghargaan The Schoeni Prize dari Sovereign Art Foundation, Hongkong, itu sambil menunjuk 60 sosok berbalut kain kasa putih yang tengah bersujud. Saking malunya Haris, dia lampiaskan dalam sosok-sosok yang membenamkan setengah wajahnya ke tanah.

Simak juga tatapan tajam lukisan berjudul ”Kerudung TKI”. Pipi dan dahi perempuan berjilbab putih itu bertato dan hidungnya berplester dengan tulisanIndonesia. Pahlawan devisa itu menanggung luka badan dan jiwa. Devisanya dinikmati bangsa sementara luka-lukanya dia tanggung sekuat tenaga.

Negeri ini negeri paradoksal. Kita hidup di atas sumber daya melimpah mulai bahan pangan sampai tambang emas, tetapi rakyat tetap papa. Wajah-wajah orang Papua di atas kanvas Haris mewakili paradoks itu.

Bagi Haris, lukisan-lukisannya bukan tentang tokoh-tokoh.Paratokoh hanya titik-titik atau manik-manik yang dia rangkai menjadi gelang perlawanan untuk menggugat ingatan kita tentang hal lebih besar, tentang luka bangsa, dan tentang cita-cita yang belum menyata.

Jika kita menutup mata,Indonesiakelihatan baik-baik saja. Bukalah mata, baca sejarah, dan bertindaklah. Itu dorongan yang disorongkan Haris seperti terlihat dalam lukisan ”MelihatIndonesia”. Disanatergambar wajah penuh plester hingga menutup mata dan tertulis ”betapa indahnyaIndonesia”

Hiperealitas

Haris termasuk dalam kelompok yang mengetengahkan seni rupa baru dengangayarealisme. Belasan lukisan itu berangkat dari foto-foto yang dia perbesar melalui proses digital dan dia sketsa pada kanvas. Plester dan tato dia tambahkan di luar kenyataan obyek foto. Haris seolah merebut fungsi fotografi ke dalam kanvas.

Kurator pameran, Asikin Hasan, memuji Haris karena mampu melahirkan karya dengan teknik dan keterampilan tinggi. Ketajaman lensa kamera yang mengontrol akurasi dipadu dengan kemampuan artistik Haris menghasilkan karya melebihi realitas obyek lukisan. Bukan hanya realisme, tapi juga surealisme. Lebih pas, karya-karya itu merupakan hiperealitas, realitas baru yang melampaui realitas itu sendiri.

Membaca Haris adalah membaca konsistensi. Pameran ini mempertegas jejak perlawanannya yang pernah dia lancarkan bersama Dede Eri Supria, Wagiono S, Agus Tjahyono, Gendut Riyanto, FX Harsono, dan kawan-kawan lainnya terhadap garis pemerintah Orde Baru tentang seni rupa pada medio 1980-an. Mereka membentuk Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia menentang hegemoni penguasa yang mengatur gaya berkesenian.

Tahun 2006-2013, Haris juga memamerkan karya serupa: bayi-bayi bertato. Lukisan-lukisan itu dipamerkan di berbagai belahan dunia, seperti MiFA Gallery Melbourne, Australia (2013);PrimaeNoctisArtGallery, Lugano (2012); dan CoCA Seattle (2009). Setelah melanglang buana, kini lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu menetap dan berkarya di Studio Roemah 9A di Cibubur sejak 2012. Dari rumah itu, Haris melawan lupa dengan mengingatkan luka-luka di sekujur tubuh bangsa.

M Hilmi Faiq, dimuat di Kompas, 4 Mei 2014