Belanja

Mengawinkan Fesyen & Seni Rupa

Satu per satu model memasuki panggung peragaan busana di Galeri Salihara, Jakarta, Sabtu (21/11) siang. Di bawah lampu sorot, para model melangkah dengan santai di panggung peragaan. Busana serba putih memulai peragaan busana karya Ari Seputra, Sari Seputra, dan Inneke Margarethe dengan label MAJORMINOR.

Ada 24 busana siap pakai ditampilkan label tersebut. Seluruh motifnya diambil dari karya-karya Eko Nugroho. Ya, setelah empat tahun tidak mengadakan pameran tunggal, kali ini seniman Eko Nugroho mulai kembali menunjukkan eksistensinya di dunia seni Indonesia.

Sembari menggelar pameran bertajuk Landscape Anomaly yang berlangsung 21 November – 21 Desember, Eko juga berkolaborasi dengan MAJORMINOR. Kebetulan, keduanya dipertemukan komunitas Salihara untuk membuat konsep menarik antara seni dan fesyen.

Garis tegas dan asimetris khas MAJORMINOR dikawinkan dengan karya seni rupa Eko. Hasilnya, sebuah rancangan berani dan kekinian dari percampuran yang imbang antara seni rupa modern dan fesyen masa kini. Mengedepankan kenyamanan dan mutu, dengan visual Eko menampilkan pola berulang, topeng, dan makhluk-makhluk mitologi.

Salah satu perancang Ari Seputra mengatakan, dalam kolaborasi ini mengambil motif dari karya Eko, namun tetap diolah kembali. “Kami ganti warnanya sesuai dengan ciri khas kami. Karena karya Eko ini warnanya terlalu kuat, jadi kami ubah menjadi lembut dan pastel. Tentunya atas persetujuan dari Eko,” ujarnya. Selain itu, unsur mata yang menjadi ciri khas Eko juga diterapkan dalam rancangan busana kali ini.

Memiliki tiga lini busana, yakni MAJORMINOR, MAJORMINOR Signature, dan MAJORMINOR Maha, masuk karya-karya Eko ke dalam MAJORMINOR Maha dan Signature. Alasannya, kedua lini tersebut sangat cocok untuk menampilkan hasil karya dari Eko.

“Tiga tingkatan itu yang paling tinggi adalah Maha. Jadi kami memasukkannya ke dalam dua lini tersebut,” kata Sari Seputra. Mendatang, kolaborasi antara seni rupa dan fesyen diharapkan Eko akan terus berjalan. Pasalnya, banyak hal yang masih perlu didalami dari keduanya walaupun sama-sama bergerak di bidang kesenian.

“Ini saya jadikan sebagai pilot project, jadi kami berdua masih sama-sama meraba. Walaupun sama-sama di kesenian tapi wacananya berbeda, permasalahannya juga beda. Jadi ini yang menarik buat saya, dan saya berharap akan ada project-project lainnya,” ujar Eko.

Bonita Ningsih, dimuat di Harian Nasional, 30 November 2015