Belanja

Merekam Kota yang Tumbuh Beradab

Dari balik lensa kamera, Erik Prasetya menangkap ekspresi penghuni kota selama 20 tahun. Membaca ulang Ibu Kota.

Gadis remaja dengan rambut panjang dicat cokelat itu berdiri setengah menyandar di samping tangga di depan halte Polda Metro Jaya. Matanya tak fokus pada novel yang dibacanya, tapi melirik pada seorang pemuda yang lewat di depannya. Senyum si gadis dan pemuda itu mengembang kala beradu tatap. Momen romantis itu berhasil ditangkap Erik Prasetya dengan kameranya.

Erik mengabadikan emosi, momen-momen keseharian para pendudukJakarta, dalam pameran fotonya berjudul “Estetika Banal”. Pameran ini digelar di Salihara mulai 18 hingga 31 Januari 2015 mendatang. Kumpulan rekaman kejadian keseharian ini merupakan proyek idealistis Erik sejak lebih dari 20 tahun lampau. Ia, misalnya, mengabadikan wajahwajah penuh kekesalan para calon penumpang yang tak sabar menunggu bus di halte sambil berdiri. Foto itu dibidik pada 1999. Beberapa tahun kemudian, Erik kembali membidik halte yang sama, dengan para calon penumpang yang menunggu bus sambil duduk di bangku halte.

Ada 41 foto hasil bidikan Erik yang dipamerkan. Dari foto-foto itu, pengunjung bisa menangkap bahwa perempuan lebih banyak menjadi korban kejamnyakotadan jalanan, termasuk polusi di jalan, trotoar yang tak rata dan berlubang, hingga moda transportasi umum yang tak manusiawi.

Erik mengaku telah lama ingin membuat foto-foto seperti itu. “Awalnya ketika saya datang keJakartadari kampung diPadangpada 1977.Kotaini megah, dan saya ingin mengabadikan suatu saat,” ujar Erik kepada Tempo kemarin. Mimpinya baru terwujud setelah dia lulus dari Institut Teknologi Bandung. Sempat bekerja di bidang pertambangan, Erik kemudian memutuskan menjadi fotografer pada 1988.

Ketertarikan Erik memotretJakartadan seluruh isinya kian kuat kala dia mengisi salah satu rubrik di majalah Tempo. “Saat itu motret kereta api Jabotabek,” katanya. Merasa disiplin dan estetika ilmu fotografinya belum memadai, pria 57 tahun itu mulai mengembangkan sendiri estetika fotografinya, dari foto jalanan, estetika banal, hingga keseharian. “Untuk menemukan keindahan dari yang biasa dan membaca ulang keseharian,” ujarnya.

Apa yang dilakukan Erik rupanya juga menjadi referensi tersendiri dalam dunia tatakota. Berdasarkan survei Invisible Photographer Asia, Erik merupakan satu di antara 20 fotografer berpengaruh diAsiapada 2012. Fotonya sering dipresentasikan menjadi bahan diskusi dengan para arsitek, perancangkota, untuk mencari solusi masalahkotaini.

Erik mengaku tertarik memotret orang-orang di jalan karena ingin menggambarkan masyarakat dankotayang dicintainya ini tumbuh. Untuk mendapatkan foto yang diinginkannya, ia harus menangkap emosi subyeknya dengan detail. Erik harus melakukan pendekatan candid sehingga lingkungan atau orang-orang di sekitar lokasinya menjadi terbiasa dan tak mempedulikan keberadaannya. Dia pun harus berbaur dengan subyek fotonya, misalnya harus ikut berdesak-desakan di dalam bus, ikut lama menunggu bus, ikut berbasah-basah dalam hujan, dan sebagainya.

Erik bercerita, dalam seminggu biasanya dia menghabiskan waktu dua hingga tiga hari untuk memotret. Jika bosan atau tak mendapatkan foto yang bagus di suatu tempat, dia akan mencari lokasi baru. Itu pun tak selalu berhasil. Dalam sebulan, dari ratusan frame, kadang hanya satu atau dua foto yang ia nilai memuaskan.

Erik terus merekam momenmomen keseharian, melihatkotadan penghuninya mulai berkembang, belajar, dan mulai beradab, sepanjang 20 tahun. Dia melihat hal-hal kecil yang mungkin nyaris tak terpikirkan oleh masyarakat kebanyakan. Tapi dari sanalah dia mulai melihat geliat megapolitan yang ruwet perlahan mulai berbenah.

Warga Jakarta, misalnya, mulai mengenal budaya antre. Infrastrukturkotajuga mulai dibenahi, seperti disediakannya kursi untuk calon penumpang. Setidaknya, perubahan itu terpancar dari wajah-wajah wargaJakartayang tertangkap kameranya. Dari ekspresi bahagia yang mereka tunjukkan, menurut Erik, ada harapan yang muncul dan sedikit meringankan beban hidup yang keras. ”Ya, masih banyak keruwetan, kemacetan, tapi setidaknya masyarakat dankotaini baik,” ujarnya.

Dian Yuliastuti, dimuat di Koran Tempo, 30 Januari 2015