Belanja

Paras Seni Dalam Mode

 

Perupa Eko Nugroho berkolaborasi apik dengan label busana MajorMinor. Persenyawaan seni rupa dan mode ini tersaji dalam pertunjukan yang khidmat mengesankan hasil garapan Rama Soeprapto.

Ruang pertunjukan berangsur gelap diiringi musik pelan. Tak lama, model perempuan berbusana putih berjalan perlahan. Dalam kegelapan itu, setiap langkahnya diikuti tembakan sinar dari arah atas, sepotong demi sepotong, yang lalu membentuk tapak cahaya sebagai jalur untuk berjalan.

Tapak cahaya yang terbentuk menjadi jalur itu kemudian berfungsi serupa landas peraga (runway ) dalam pergelaran busana. Setiap menjelang akhir babak, sepotong demi sepotong, tapak cahaya itu menghilang di belakang model, mengikuti langkah kakinya yang kembali ke balik panggung.

Busana yang ditampilkan dalam pertunjukan peragaan busana di Teater Salihara, Jakarta, Sabtu (21/11), itu merupakan hasil kolaborasi kreatif antara perupa Eko Nugroho dan label busana siap pakai MajorMinor yang didirikan pasangan Ari dan Sari Seputra. Sebagian dari koleksi musim semi dan panas 2016 yang tampil petang itu digelar pula dalam Paris Fashion Week (30 September-7 Oktober) dan Jakarta Fashion Week (24-30 Oktober).

Peragaan busana ini satu rangkaian dengan pameran tunggal karya-karya Eko Nugroho bertajuk ”Landscape Anomaly” di Salihara hingga 21 Desember. Eko merupakan perupa asal Yogyakarta yang pada 2013 juga berkolaborasi dengan Louis Vuitton (LV). Rumah butik dunia itu mengeluarkan scarf dari koleksi musim gugur dan dingin yang memuat karya lukis Eko berjudul ”Re - publik Tropis” dalam jumlah terbatas. LV sebelumnya menjalin kerja samaserupa dengan seniman dunia, seperti Takashi Murakami, Yayoi Kusama, dan Cindy Sherman.

Eko dikenal sebagai perupa yang gemar mengembuskan isu dan kritik sosial politik terkini dengan personifikasi yang bernas dalam berbagai karyanya, mulai dari lukisan, mural, patung, bordir, hingga instalasi. Karya-karyanya juga kerap dipamerkan di sejumlah negara.

Sementara MajorMinor merupakan label busana siap pakai yang berdiri sejak 2011 yang dikenal dengan garis rancang sederhana, bersih, tegas, asimetris, dan dinamis. Selain di Jakarta, koleksi MajorMinor juga dapat dijumpai di sejumlah pusat belanja di Singapura, Hongkong, Tiongkok, dan Inggris. Baik karya Eko maupun MajorMinor sama-sama memiliki karakter napas urban yang dinamis dan tegas.

Menahan

Kerja sama Eko dan Ari sebagai desainer dari MajorMinor tersebut tersaji dengan baik dalam pertunjukan peragaan busana yang mengesankan. Bagi yang terbiasa mengunjungi peragaan busana pada umumnya, atmosfer yang terbangun dalam pertunjukan di Salihara tersebut terasa lain dari yang lain. Tidak ada musik ingar-bingar atau dekorasi apa pun yang mencolok. Peragaan busana ini terkemas sederhana, namun sekaligus terasa meditatif.

Rama Soeprapto, direktur kreatif pertunjukan, mengungkapkan, dirinya secara khusus menemui Eko di studionya di Yogyakarta demi memahami karakter karya-karyanya. ”Mas Eko selalu punya mata yang lain dalam melihat berbagai hal. Ada nuansa mistis yang saya tangkap. Kesan itu yang lalu menginspirasi saya untuk membuat pertunjukan yang mengajak orang seperti mengintip sesuatu,” kata Rama yang berlatar belakang dunia teater.

”Elemen penting yang diramu oleh Rama, selain para model, adalah pencahayaan, multimedia, dan musik. Ketiganya diolah Rama dengan saling mendukung, namun tidak serba berlebihan atau saling mendahului. Karakter desain MajorMinor yang cenderung minimalis juga ditangkap Rama agar kemasan pertunjukan tetap satu napas.

”Saya mengemasnya dengan serba menahan, seperti orgasme yang ditahan, untuk membiarkan penonton mempunyai ruang interpretasi sendiri,” ucap Rama.

Sebagai latar dari landas peraga, terpasang layar yang menampilkan motif-motif dalam busana yang sedang dibawakan setiap model yang muncul. Potongan-potongan video pada layar seolah bagai kaca pembesar yang membuat penonton dapat mencerna detail busana lebih mudah serta bagaimana proses kolaborasi berlangsung.

”Titen”

Kedelapan busana yang ditampilkan dalam landas peraga cahaya itu merepresentasikan persenyawaan yang luwes antara karya seni rupa Eko dan busana rancangan Ari. Menurut Eko, dirinya menyediakan berbagai imaji gambar atau karya yang pernah dibuatnya untuk kemudian direspons lebih lanjut oleh MajorMinor dalam wujud busana.

Eko pun memberi keleluasaan MajorMinor untuk merespons karyanya, entah itu dengan mengubah warna, merepetisi motif, menggabung-gabungkan gambar, atau menyusun ulang. Dengan demikian, karya-karya Eko yang diolah MajorMinor tidak di bawah payung tema pameran ”Land - scape Anomaly” sekalipun digelar dalam satu rangkaian.

Perupa yang dikenal lewat karya, ”Daging Tumbuh”, ini mengail inspirasi dari banyak hal, mulai dari tradisi budaya Jawa yang diakrabinya hingga atmosfer sosial politik masyarakat urban yang diamatinya. Pola geometris yang termuat dalam koleksi Major-Minor, misalnya, merupakan stilasi atau penyederhanaan dari bentukan visual budaya Jawa, seperti sesajen, bentuk Candi Borobudur, motif di kain batik, dan struktur bangunan tradisional Jawa.

Salah satu filosofi Jawa yang memengaruhi Eko dalam berkarya adalah ilmu titen. Titen secara bebas dapat diartikan sebagai kebiasaan mengamati, mencermati, dan menandai. Dengan mengamati pula, Eko menangkap gairah masyarakat Indonesia kini yang meluap-luap dalam berpolitik setelah reformasi 1998. Mata yang muncul di berbagai wujud karyanya mencerminkan masyarakat itu sendiri. Sementara gambar-gambar topeng serta sosok mitologis mewakili wajah masyarakat urban modern yang membutuhkan berbagai identitas dalam beradaptasi dengan berbagai lingkungannya.

Kerja sama Eko dengan MajorMinor ini merupakan bentuk kolaborasi pertama kali dengan dunia mode untuk menghasilkan koleksi yang utuh. Sebagai seniman, Eko merasa perlu menjadi fleksibel untuk mengeksplorasi berbagai metode dan medium untuk berkesenian. ”Konsep berkesenian saya sangat terbuka dan cair,” ujar Eko.

Sarie Febriane, dimuat di Kompas, 29 November 2015