Belanja

Simbol Mata, Topeng, dan Teknik Bordir

 

Pameran tunggal EkoNugroho bertajuk Landscape Anomaly terletak di lantai dua Galeri Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Memasuki ruang pameran, tiga karya Ekomenggunakan teknik bordir diletakkan tepat di depan pintu masuk. Di depan ketiga karya itu, diletakkan dua patung saling berhadapan.

Di bagian dinding juga diletakkan beberapa karya dari Eko berupa instalasi berupa tangan yang memegang pedang digenggamannya. Ada pula patung serba pink yang memegang dinding pada sisi sebelah kanan.

Eko menampilkan karyakarya bordir yang menjadi cirri khasnya, dan juga menampilkan karya instalasi, patung, dan mural. Sebanyak 25 karya seni Eko Nugroho siap mengubah ruangan Galeri Salihara menjadi lebih hidup dan berwarna.

Seluruh karyanya itu merupakan karya terbaru dari Eko. Kehidupan modern di kawasan urban, maupun perubahan sosial politik masyarakat yang hadir lewat cirri komik dan seni jalanan (street art), serta akar budaya Jawa yang hadir melalui batik dan wayang.

“Cuplikan berbagai macam fenomena masyarakat di kacamata saya, baik secara global maupun dalam negri. Semua saya tuangkan ke dalam karya seni saya dan ini menjadi isu yang sangat menarik di sekitar kita,” kata Eko.

Sementara itu, kata anomaly pada tema pameran tunggalnya diartikan Eko sebagai cara memandang seseorang yang muncul ketika melihat hasil sebuah seni dari karyanya. Setiap orang bisa mengartikan karya seni secara berbeda-beda dan mengandung beberapa lapisan makna.

Lanskap yang dialami di ruang pameran adalah anomaly dari berbagai komponen pembentuknya yang bersifat standar dan alamiah. Akan banyak makna yang timbul ketika seseorang melihat karya-karyanya dengan jarak jauh dan dekat.

Misalnya, patung menyerupai bentuk petani yang mengenakan topeng harimau di wajah dan tirai janur membungkus dada, gambar-gambar seperti itu akan menimbulkan makna ganda bagi setiap orang yang melihatnya. Atau patung manusia berupa alien yang digambarkan dengan banyak lilitan di atas kepala dan membawa buku di tangan kirinya, menimbulkan banyak makna.

“Gambar saya itu selalu dinamis, nantinya menjadi banyak makna bagi orang lain. Visual saya absurd dan banyak fantasi,” ucapnya.

Memiliki banyak makna, Eko menghadirkan bentuk mata di setiap karyanya. Mata yang seakan hidup tersebut menjadi salah satu ciri khasnya dalam menghasilkan sebuah karya seni.

Tumpukan tabung gas biru ditampilkan dengan sepasang mata di bagian tengah setiap tabung gas. Penggambaran mata berbeda-beda, ada yang berbentuk mata sehat dengan bola mata berwarna hitam, namun, ada pula yang digambarkan dengan mata sedikit berair disekitaran bola mata.

Mata-mata lainnya ditampilkan Eko pada patung manusia setengah alien, patung manusia berpakaian seragam batik, hingga kotak merah yang sering diletakkan di pinggir jalan.

Kehadiran mata di setiap karyanya memiliki arti bagi Eko. Menurutnya, menjadi seorang seniman yang berkembang di zaman reformasi membuat dirinya melek akan teknologi yang sudah berkembang pada zaman itu.

Mata diartikan sebagai panca indra yang bisa melihat perkembangan teknologi di sekitarnya. Seseorang bisa melihat informasi di internet tentunya juga menggunakan mata. Hal ini lah yang ia jadikan visualisasi di setiap karyanya.

Namun, simbol mata yang dihadirkan Eko tak serta merta diartikan pada makna sebenarnya. Dia juga menjadikan simbol mata sebagai kritikan yang terjadi pada generasi yang terlahir setelah tahun 1998. Dia melihat banyak di antara mereka yang menjadikan teknologi hanya sekadar sumber informasi saja tanpa melakukan sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

“Ini sebagai refleksi dari generasi saya di mana akses informasi sudah sangat bebas dan luas. Kita jadi banyak membaca namun sedikit melakukan sesuatu. Itu yang terjadi pada generasi sekarang,” katanya.

Simbol lain yang sering ditampilkan Eko pada karyanya adalah topeng. Dalam pameran tunggalnya kali ini, Eko menghadirkan beberapa topeng dikenakan pada patung bergambar manusia.

Misalnya, patung petani yang membawa cangkul ia buat menggunakan topeng harimau di bagian wajah. Ada pula patung bertubuh manusia yang wajahnya ditutupi sejenis karung dengan tulisan-tulisan kritis yang ia buat.

“Secara kritis topeng ini bagian dari identitas seseorang. Anda akan beradaptasi dengan lingkungan di sekitar menggunakan topeng tersebut,” ujarnya.

Kesukaannya terhadap topeng sudah muncul sebelum dirinya terjun ke dunia seni. Setiap kali ada pertunjukkan wayang di sekitar rumahnya, ia selalu memilih untuk melihat wayang dari belakang layar.

“Saya selalu mau melihat wayang dari belakang agar bisa melihat bayangannya. Saya suka dengan animasi yang dibuat pada wayang karena walaupun absurd tapi saya bisa mendengar ceritanya berkaitan dengan kebaikan dan keburukan tentang kehidupan,” ujarnya.

Selain simbol mata dan topeng, Eko juga membuat sebuah karya dari bordir. Karya bordirnya ia tunjukkan dengan tiga buah gambar yang ia letakkan pada lembaran kertas panjang dan dipajang dengan bantuan tiang di sisi kiri dan kanannya.

Tiga buah gambar beserta tulisan mengkritik ditampikan Eko dengan teknik bordir di seluruh bagian. Dua kepala orang beradu dengan tulisan di atasnya Share Shrink Heart Hurt, lalu tulisan I Love You Really Love You, hingga gambar orang sedang mencekik leher orang dengan tulisan Cash of Clash, dibuat Eko menggunakan bordiran dibantu kerabatnya dari Yogyakarta.

“Ekspolarsi bordir ini sudah ada sejak tahun 2000. Waktu itu saya buat karya bordiruntuk street art saja. Ditempel temple di jalan dan hanya di Yogyakarta,” kata Eko.

Namun kali ini, Eko menampilkan karya bordir dengan metode yang berbeda pada umumnya. Ia memulainya dengan menggambar di atas kanvas kemudian hasil lukisannya dibordir oleh rekan yang ahli dalam membordir.

Tetesan cat, keliaran kuas, hingga kesalahan goresan pada gambar, sengaja ia tampilkan pada tiga karya bordirannya itu. Ia ingin membuat visualisasi pada karya tersebut agar saat dilihat dari jauh terlihat sebuah lukisan namun ketika dilihat dari dekat dan seksama akan terlihat sebuah teknik khusus.

“Saya sudah eksplorasi metode seperti ini satu tahun yang lalu, tapi baru saya keluarkan sekarang. Eksplore teknik bordir dengan metode yang berbeda,” ujarnya.

Bonita Ningsih, dimuat di Harian Nasional, 30 November 2015