Abstraksi sebagai Sikap: Menelusuri Realitas dalam Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Memasuki ruang galeri pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme seperti melewati lini masa perjalanan karya seni rupa abstrak di Indonesia. Kita dibawa pada jejak-jejak perupa Bandung dan Yogyakarta yang menggeluti estetika tersebut. Pameran ini juga menyodorkan pertanyaan tentang realitas yang terbentuk dalam tiap-tiap karya yang ditampilkan. Setiap upaya untuk menghadirkan realitas ke dalam karya seni, selalu mengandung kegagalan yang produktif. Realitas tidak pernah sepenuhnya dapat direproduksi di atas kanvas atau medium apa pun, hal ini bukan semata karena keterbatasan teknis, melainkan karena sejak awal realitas telah mengalami transformasi di dalam kesadaran perupa. Sebelum menjadi rupa, realitas lebih dahulu menjelma imaji dan gagasan. Karena itu, perdebatan tentang kesetiaan seni terhadap realitas sesungguhnya telah usang. Yang lebih relevan adalah bagaimana jarak antara realitas dan citra itu dimanfaatkan sebagai ruang estetik dan konseptual. Narasi ini muncul pada karya-karya pameran Imba

Dalam konteks inilah abstraksi menemukan pijakannya. Abstraksi bukan sekadar penghilangan bentuk atau penyederhanaan visual, ia justru sebuah sikap terhadap realitas. Ia berangkat dari kesadaran bahwa apa yang dicerap sebagai “kenyataan objektif” sesungguhnya telah dilewati oleh berlapis-lapis pengalaman, ingatan, dan pengetahuan. Pada karya-karya abstrak yang bertolak dari representasi suatu objek, bentuk-bentuk tidak dihapus secara sewenang-wenang, melainkan disimpangi secara sadar. Proses ini menandai pergeseran dari kepatuhan terhadap kemiripan visual menuju pencarian makna yang lebih esensial.

Namun, ketika abstraksi tidak lagi dipahami sebagai proses individual, tapi menjadi pola yang dipelajari, diajarkan, dan diulang, ia berubah menjadi abstrakisme. Di titik ini, abstraksi berisiko kehilangan daya kritisnya. Ia dapat menjelma sebagai gaya yang mapan, bahkan konvensi baru. Pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme menghadirkan persoalan tersebut secara implisit, yaitu sejauh mana abstraksi masih bekerja sebagai strategi pembacaan realitas, dan sejauh mana ia telah membeku menjadi idiom formal yang diwariskan?

Dengan menampilkan lebih dari 80 karya dari rentang waktu 1950-an hingga 2025, pameran ini memperlihatkan bagaimana abstraksi bergerak dari sebuah sikap eksperimental menuju kecenderungan estetik yang relatif stabil. Pada fase awal, khususnya di era 1950-an, abstraksi tampil sebagai pembaruan radikal di tengah dominasi seni representasional. Kehadiran Simon Admiraal misalnya dengan seri karya bertajuk Untitled, menyimpan beragam bentuk di balik goresan kapur, pensil, dan cat air di atas kertas. Dari kejauhan ia tampak seperti garis-garis warna-warni yang menggumpal, namun ketika sepasang mata kita membelalak tajam menatap kembali karya tersebut, kita akan menangkap siluet tubuh perempuan, seseorang yang menari, hingga hamparan gunung menghijau yang kompleks. Simon Admiraal menempuh pendidikan seni rupa di Bandung dan menandai momen penting dalam sejarah ini. Abstraksi diperkenalkan bukan hanya sebagai pilihan gaya, ia juga sebagai cara berpikir visual yang menekankan struktur, komposisi, dan relasi antarunsur rupa.

 

Karya-karya Simon Admiraal dalam Pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme, Galeri Salihara, 2026. Sumber Foto: Dokumentasi Komunitas Salihara.

 

Pengaruh pendekatan tersebut kemudian menguat dalam lingkungan akademis Institut Teknologi Bandung (ITB). Karya-karya A.D. Pirous, G. Sidharta Soegijo, Mochtar Apin, Umi Dachlan, Kaboel Suadi, dan Amrizal Salayan menunjukkan bagaimana abstraksi berkembang melalui eksplorasi yang relatif konsisten atas bentuk geometris, warna, dan ritme visual. Pada tahap ini, abstraksi tidak lagi semata-mata merupakan pembangkangan terhadap realisme, tapi berubah menjadi bahasa visual yang mapan. Pertanyaannya kemudian: apakah kemapanan ini memperkaya wacana, atau justru menutup kemungkinan adanya pembacaan baru?

 

Karya-karya Umi Dachlan dalam Pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme, Galeri Salihara, 2026. Sumber Foto: Dokumentasi Komunitas Salihara.

 

Pameran ini tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan tersebut, tetapi menghadirkan petunjuk melalui dialog antargenerasi. Misalnya, karya-karya Gabriel Aries, Galih Adika Paripurna, dan Mujahidin Nurrahman, yang ditampilkan berdampingan dengan karya Simon Admiraal, memperlihatkan bagaimana abstraksi diolah ulang dalam konteks yang berbeda. Pada generasi lebih baru, abstraksi tidak selalu berangkat dari persoalan formal semata, tetapi juga dari pengalaman sosial, materialitas medium, dan refleksi personal yang lebih kompleks. Di sini, abstraksi berupaya merebut kembali potensinya sebagai proses, bukan sekadar gaya. Lebih jauh, pameran ini juga menegaskan bahwa abstraksi dan abstrakisme tidak berkembang secara eksklusif dalam satu institusi atau tradisi. Karya-karya Aming Prayitno, Lian Sahar, dan Fadjar Sidik menunjukkan jalur lain dari abstraksi, yaitu jalur yang tidak sepenuhnya tunduk pada disiplin akademis tertentu. Pada mereka, abstraksi hadir sebagai medan eksperimentasi yang lebih cair, membuka kemungkinan pertemuan antara bentuk, pengalaman, dan intuisi.

 

Karya-karya Galih Adika Paripurna dalam Pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme, Galeri Salihara, 2026. Sumber Foto: Dokumentasi Komunitas Salihara.

 

Dalam konteks seni rupa kontemporer, kecenderungan ini menjadi semakin kompleks. Karya-karya Henryette Louise dan Endang Lestari, misalnya, memperlihatkan bagaimana abstraksi berkelindan dengan kajian material dan gagasan konseptual. Material tidak lagi diperlakukan sebagai alat netral, melainkan sebagai bagian dari proses berpikir itu sendiri. Abstraksi, dalam hal ini, bergerak melampaui persoalan bentuk dan memasuki wilayah refleksi yang lebih luas.

 

Karya-karya Henryette Louise dalam Pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme, Galeri Salihara, 2026. Sumber Foto: Dokumentasi Komunitas Salihara.

 

Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme mengingatkan kita bahwa abstraksi bukanlah tujuan akhir. Ia adalah proses yang selalu berada dalam ketegangan antara pembebasan dan pembakuan. Ketika abstraksi kehilangan kesadarannya sebagai proses kritis, ia berisiko menjadi sekadar ornamen visual. Namun, ketika ia terus diuji dan dipertanyakan, abstraksi dapat kembali berfungsi sebagai cara untuk memahami realitas, bukan dengan menirunya, tapi juga dengan mengungkap lapisan-lapisan makna yang tersembunyi di baliknya.

Baca juga: Formalisme dalam Seni Lukis dan Patung Indonesia

Pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme masih dapat dikunjungi hingga 22 Februari di Galeri Salihara.

Shopping Basket

Berlangganan/Subscribe Newsletter