Formalisme dalam Seni Lukis dan Patung Indonesia

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Dalam sejarah seni rupa Indonesia, formalisme menempati posisi yang kerap diperdebatkan sekaligus menentukan. Ia bukan sekadar gaya atau kecenderungan visual, tapi sebuah cara pandang terhadap seni yang menempatkan bentuk sebagai pusat pengalaman estetik. Formalisme, dalam konteks ini, dipahami sebagai pendekatan yang menitikberatkan pada unsur-unsur visual, seperti garis, warna, bidang, ruang, tekstur, dan komposisi serta relasi di antaranya. Ketimbang menjadikan karya sebagai media penyampai narasi atau pesan tematik yang eksplisit, formalisme memandang karya seni sebagai entitas otonom, yang maknanya lahir dari struktur internalnya sendiri. Oleh karena itu, deformasi bentuk menuju abstraksi menjadi salah satu strategi utama, bukan sebagai penolakan total terhadap realitas, namun sebagai upaya memurnikan pengalaman visual.

Kemunculan karya-karya bercorak formalistis di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari konteks pendidikan seni modern pascakemerdekaan. Pada 1950-an, kecenderungan ini kerap diasosiasikan dengan perupa-perupa Bandung, terutama yang berhubungan dengan lingkungan akademis. Seniman seperti A.D. Pirous, G. Sidharta Soegijo, dan Umi Dachlan menampilkan eksplorasi bentuk yang sadar dan disiplin, memperlakukan kanvas sebagai medan pengujian relasi visual. Abstraksi pada karya-karya mereka tidak hadir sebagai ekspresi spontan semata, melainkan sebagai hasil pengolahan bentuk yang terukur dan reflektif.

Baca juga: Sanggarbambu: Ruang Seni Lintas Disiplin yang Melampaui Batas Seni Rupa

Prinsip serupa juga dapat ditemukan dalam praktik patung. Dalam ranah trimatra, formalisme memperluas persoalan dari bidang dan warna menuju massa, volume, dan ruang. Patung tidak lagi dipahami sebagai tiruan figur atau simbol tertentu, melainkan sebagai konfigurasi bentuk yang berdiri mandiri. Material, misalnya kayu, logam, batu, atau medium lain, tidak sekadar menjadi sarana, tapi bagian integral dari struktur visual yang menentukan pengalaman inderawi penonton.

Meski sering dilekatkan pada Bandung, formalisme dalam seni rupa Indonesia tidak berkembang secara eksklusif di satu wilayah. Seniman Yogyakarta seperti Fadjar Sidik dan Endang Lestari menunjukkan bahwa pendekatan formalistis juga tumbuh dalam konteks yang berbeda. Pada karya-karya Fadjar Sidik, misalnya, geometri dan struktur bidang menjadi alat untuk membangun ketegangan visual yang sistematis. Sementara itu, Endang Lestari menghadirkan eksplorasi patung yang menekankan keseimbangan bentuk dan relasi ruang, menjauh dari figurasi konvensional.

Baca juga: Sanggarbambu: Perjalanan Garis

Perbedaan latar pendidikan dan lingkungan artistik justru memperkaya pemahaman kita tentang formalisme. Dalam perkembangan kontemporer, formalisme tidak lantas ditinggalkan, melainkan terus dinegosiasikan ulang. Seniman seperti Amrizal Salayan, Galih Adika Paripurna, dan Mujahidin Nurrachman menunjukkan bagaimana pendekatan formalistis dapat berkelindan dengan sensitivitas zaman kini. Abstraksi tidak lagi dipahami sebagai pemutusan hubungan dengan realitas sosial atau historis, tetapi sebagai cara lain untuk mengolah pengalaman tersebut melalui bahasa visual yang lebih subtil.

Pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme, melalui pilihan karya lintas generasi, menampilkan karya-karya yang menegaskan bahwa formalisme merupakan salah satu benang merah penting dalam seni lukis dan patung Indonesia. Dikuratori oleh Asikin Hasan dan bekerja sama dengan Artsociates. Lihat lebih detail karya-karya tersebut hanya di Galeri Salihara pada 16 Januari hingga 22 Februari 2026.

Shopping Basket

Berlangganan/Subscribe Newsletter