Oototol lahir dengan nama Dewa Raram di Desa Pengosekan, sebelah selatan Ubud, Bali, sebuah wilayah yang dikenal sebagai tempat tumbuhnya banyak pelukis tradisional dari aliran Pita Maha sebelum perang. Lingkungan ini membentuk dasar visualnya, tetapi Oototol justru mengembangkan bahasa rupa yang menyimpang dari konvensi. Ia memadukan sapuan kuas yang mentah, format yang tidak lazim, serta fokus dominan pada figur tentara yang dihadirkan dalam situasi keseharian maupun adegan yang melampaui batas kewajaran.
Masa kecil Oototol berlangsung dalam bayang-bayang Pendudukan Jepang di Bali. Nama “Raram” sendiri merupakan rujukan onomatope terhadap bunyi pesawat perang yang melintas di langit. Pengalaman historis tersebut menjadi latar batin yang tak terpisahkan dari imajinasi visualnya. Ketertarikannya pada figur tentara semakin menguat ketika ia menaruh minat pada pidato-pidato Soekarno, Presiden pertama Indonesia, serta kisah para pahlawan nasional dan jenderal. Namun, dalam kanvas Oototol, tentara tidak pernah tampil sebagai lambang tunggal kekuasaan. Sosok yang Oototol ciptakan dalam karyanya ini bergerak dalam spektrum tindakan yang luas, misalnya memanen padi, berbagi makanan, bercengkerama, melahirkan, membunuh, hingga bermain dengan hewan. Seolah-olah tidak ada aktivitas manusia yang berada di luar jangkauan seragam. Di sinilah letak ketegangan yang khas antara kekerasan dan kelembutan hadir berdampingan, berayun cepat dalam satu bidang gambar. Oototol tidak menyederhanakan kontradiksi itu menjadi kritik yang gamblang. Ia justru membiarkan ambiguitas bekerja, dan menolak penafsiran yang terlalu pasti.
Perjalanan artistiknya mengalami titik penting ketika ia secara tidak sengaja menemukan karya perupa Bali almarhum I Gusti Ayu Kadek Murniasih, yang dikenal sebagai Murni. Pertemuan tersebut membawanya ke dalam lingkar dialogis bersama Murni, Dewa Putu Mokoh, dan Edmondo “Mondo” Zanolini. Dalam kebersamaan yang nyaris menyerupai keluarga angkat itu, Oototol menemukan ruang eksperimen. Di bawah bimbingan Murni dan Mondo, ia menggunakan tinta hitam Cina di atas kanvas, dengan pena bambu dan kuas sebagai medium utama. Kondisi kerja yang sederhana meninggalkan jejak fisik pada karyanya. Ia kerap melukis langsung di atas kanvas yang dibentangkan di lantai studio Murni. Lipatan dan kerutan yang muncul bukanlah cacat, melainkan bagian dari tubuh lukisan itu sendiri. Praktik hariannya menunjukkan konsistensi yang kuat, meskipun ia tidak pernah bekerja dalam seri yang terpisah secara ketat. Setiap lukisan berdiri sendiri, tetapi tetap terhubung dalam jaringan gagasan yang cair.
Baca juga: Abstraksi sebagai Sikap: Menelusuri Realitas dalam Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme
Selain figur tentara, Oototol juga menaruh perhatian pada moda transportasi dan imaji kosmologis. Pesawat terbang, sepeda motor, hingga makhluk mitologis hadir sebagai wahana perlintasan antara dunia. Dalam satu adegan, dewa-dewa Bali menari di bawah perut pesawat; dalam adegan lain, tentara mengendarai sepeda motor bermerek Honda. Juxtaposisinya mengundang renungan tentang sejarah modernitas Indonesia, termasuk jejak teknologi pada masa Pendudukan Jepang, serta tentang bagaimana mitos dan sejarah saling berkelindan dalam kesadaran kolektif. Eksperimen formalnya memperluas kemungkinan narasi visual. Dalam salah satu karya berbentuk gulungan sepanjang lebih dari sepuluh meter, ia menghadirkan perspektif yang melampaui pengalaman mata manusia. Sebuah pesawat digambarkan terbelah, memperlihatkan bagian dalamnya dari sudut lateral yang mustahil ditemui dalam kenyataan. Lukisan menjadi instrumen untuk mengguncang asumsi tentang ruang, waktu, dan cara kita memahami peristiwa.
Dalam merefleksikan keseluruhan karyanya, tampak adanya perpaduan organik antara unsur budaya lokal dan pendekatan eksperimental. Oototol menunjukkan bahwa lukisan dapat berbicara tentang hal-hal yang paling remeh sekaligus paling batiniah dalam pengalaman manusia, tanpa batas yang kaku.
Melalui Pameran Warna Hidup di Galeri Salihara dan ROH, kita dapat menatap kembali karya Oototol secara mendalam. Pameran berlangsung pada 07 Maret–28 April 2026.