Jakarta, 20 Agustus 2025 – Komunitas Salihara Arts Center bekerja sama dengan Artsociates menghadirkan pameran seni rupa dengan tajuk Adu Manis, sebuah peristiwa seni kontemporer yang mempertemukan tiga seniman asal Bandung: Gabriel Aries, Reggie Aquara, dan Rendy Raka Pramudya. Pameran ini dibuka pada Sabtu, 23 Agustus 2025, 16:00 WIB dan berlangsung hingga 21 September 2025 di Galeri Salihara.
Kurator Rifandy Priatna menegaskan, Adu Manis bukan sekadar judul pameran, tetapi sebuah metafora yang menghadirkan resonansi baru yang lahir antara seniman, materi, dan penonton.
“Adu Manis adalah ritual pertemuan. Ia mengundang kita untuk menyambung persepsi dengan material, menggesekkan kepekaan dengan permukaan karya, dan merasakan resonansi yang lahir dari kolaborasi diam antara seniman, materi, dan penonton.”
“pameran ini adalah ruang di mana ketegangan bukan musuh, melainkan katalis keintiman baru dengan seni. Agar setiap individu, ruang, pengalaman, ingatan dan kehadiran menjadi bagian dari sambungan sempurna itu.” lanjut Rifandy.
Ketiga seniman dalam pameran ini menafsirkan metafora ini dengan cara yang khas. Gabriel Aries membangun dialog keras antara logam, batu, dan resin; bentuk tegas yang sarat kerentanan tersembunyi. Reggie Aquara menghadirkan kanvas menjadi arsip emosi yang bernapas dan setiap goresan adalah fosil perasaan yang menanti pembacaan ulang.
Terakhir, Rendy Raka Pramudya, dengan bidang abstraksinya, membuyarkan kepastian optik dan mengajak penonton meragukan realitas yang dianggap pasti. Dari pertemuan karya ini, penonton diajak melepaskan ekspektasi akan figur dan narasi, dan justru membiarkan material memimpin pengalaman sensoris.
Pameran Adu Manis menolak dikotomi usang antara seni tinggi dan kerajinan visual. Ia justru mengajak pengunjung untuk merasakan bagaimana logam Aries berbicara lewat bobot fisiknya, cat tebal Aquara berbisik melalui retakan mikroskopisnya, dan ilusi optik Pramudya menggoda persepsi sembari membebaskan imajinasi. Dalam gesekan itulah “manis” ditemukan dalam desah kagum, rasa penasaran, atau ingatan personal yang tiba-tiba hidup kembali.
Bagi calon pengunjung, pameran Adu Manis dapat dikunjungi di Galeri Salihara, mulai 24 Agustus hingga 21 September 2025, setiap Selasa–Minggu pukul 11.00–19.00 WIB (kunjungan terakhir pukul 18.30 WIB). Tiket dapat diperoleh langsung di lokasi dengan harga Rp35.000 untuk hari kerja (Selasa–Jumat) dan Rp50.000 untuk akhir pekan (Sabtu–Minggu). Sementara itu, anak-anak dan pelajar hingga jenjang S1 dapat masuk gratis. Informasi lebih lengkap sila kunjungi tiket.salihara.org.
TENTANG SENIMAN
Gabriel Aries Setiadi (lahir 1984) menyelesaikan studi Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung (ITB). Praktik artistiknya berfokus pada eksplorasi penggunaan material baru setelah sebelumnya menekuni seni pahat batu. Kehadiran material seperti poliresin dan lembaran akrilik memungkinkannya membicarakan kontradiksi dan pertentangan, sekaligus membuka kemungkinan untuk membangun keseimbangan dan harmoni dari dua entitas yang saling bertolak belakang. Ia telah berpartisipasi dalam sejumlah pameran tingkat nasional maupun internasional. Ia juga pernah mengikuti program residensi seniman di Sungai Segget Public Art Programs, Johor Bahru, Malaysia (2017). Pada 2018, ia menggelar dua pameran tunggal berturut-turut, yakni Kontras Materi (Orbital Dago, Bandung) dan Sela Sawala (CG Art Space, Jakarta). Pada tahun yang sama, ia juga menyelesaikan karya pesanan untuk Salihara International Performing Arts Festival.
Muhammad Reggie Aquara (lahir di Bandung, 1 Desember 1982) adalah seniman kontemporer Indonesia yang bermukim di Lembang. Lulus dari Studio Lukis, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB pada 2006, sejak 2005 ia aktif berkarya dan berpameran dengan pendekatan konseptual serta eksperimental. Praktiknya menyoroti relasi antara seni dan persepsi manusia melalui medium minyak, akrilik, dan teknik campuran, menghasilkan ilusi optik serta lapisan visual yang kompleks. Salah satu seri pentingnya, Impressionist Eyes, menampilkan sapuan akrilik tebal menyerupai teknik olesan kue, yang menekankan materialitas sekaligus mengundang penonton menelisik tekstur dan bentuk. Karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai ajang, termasuk pameran bersama Painting Matters oleh AbstraX, dan terus memperkaya wacana seni lukis kontemporer Indonesia.
Rendy Raka Pramudya (lahir 1992) adalah seniman kontemporer muda yang berfokus pada lukisan dan eksplorasi visual abstrak. Lulusan Studio Lukis, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, ia sejak kecil akrab dengan dunia seni berkat lingkungan keluarga. Dalam perjalanannya, Rendy menekuni berbagai gaya—dari formalisme, simbolisme, hingga ekspresionisme—sebelum akhirnya menetap pada abstraksi sebagai medium untuk menyampaikan gagasan filosofis di luar bentuk representasional. Karyanya menggunakan akrilik dan minyak di atas kanvas, kerap dipadukan dengan lembar perspeks berlapis guna menciptakan kedalaman visual yang kompleks. Eksplorasi ruang kosong dalam lukisannya menghadirkan ketegangan sunyi dan spekulasi akan kehadiran, mengajak penonton merenungkan dimensi eksistensial sekaligus metafisik.
Tentang Komunitas Salihara Arts Center
Komunitas Salihara Arts Center adalah sebuah institusi kesenian dan kebudayaan yang selalu menampilkan kesenian terkini dari Indonesia dan dunia, baik yang bersifat pertunjukan maupun edukasi, dalam lingkungan kreatif dan sejuk di tengah keramaian selatan Jakarta.
___________________________________________________________________
Untuk mengetahui detail pertunjukan silakan kunjungi sosial media Komunitas Salihara: Twitter @salihara | Instagram @komunitas_salihara | atau hubungi: media@salihara.org