Shop

To manage an “arts center” is to develop a shared learning experience and process

It is to encourage a variety of experiments in art, and to stimulate the emergence of new artistic and art-managerial talents; these are always interconnected with the efforts to create a society of discerning audience. Creativity is for everyone: artists, arts stakeholders, and the audience. An advanced and democratic society is a society that nurtures imagination and creativity. Increasing educational content is an important part of our work these past three to four years. We have held a series of creative writing classes and acting classes; our philosophy courses, for instance, are open to the public. Literary tours to Bogor and Surakarta, in addition to the Yogyakarta arts tour received encouraging appreciation. In terms of performing arts and visual arts programs, we try as best we can to involve the audience through artist meet-and-greets, discussions, and workshops. A number of society’s leading figures engage in public lectures on various social issues. We will continue to develop an environment of learning such as this. This year’s series of mini festivals comprises of Jazz Buzz, Theaterfest and Dancefest, showcasing young talents and new works. We will host Salihara Literary Biennale (for the ninth time), highlighting Latin America as its theme. It is a way for ...
Details

Puisi Chairil Anwar di Balik Lukisan Bio Fantasy Melissa Sunjaya

Penulis: Unoviana Kartika Setia Liputan6.com, Jakarta Para pecinta Chairil Anwar kini dapat menikmati karya-karya puisinya dalam bentuk yang berbeda. Tak hanya membaca puisi atau sajaknya, Anda juga dapat melihat lukisan Melissa Sunjaya bertajuk Bio Fantasy. Bio Fantasy memaparkan puisi lengkap Chairil Anwar didampingi dengan 75 karya visual abstrak dan karya tulis oleh Melissa. Kutipan puisi Chairil Anwar ditulis dengan kaligrafi secara tersenyembunyi di balik karya 75 karya visual abstrak tersebut dan hanya dapat dibaca melalui lensa merah. Interaksi aktif dari pembaca dengan lensa merah menjadikan para pembaca bagian dari instalasi seni bermakna ganda tentang "rasa puisi". Melissa juga menuliskan narasinya dari untuk karya-karya Chairil. Dengan tinta hitam, ia menulis di dinding pandangannya tentang karya Chairil. Misalnya untuk puisi Chairil yang berjudul "Betina"-nya Affandi, Melissa menilai Chairil bisa melihat wanita dari sudut pandang wanita. Ia sangat mengagumi itu. Karya Bio Fantasy dipamerkan di Komunitas Salihara selama 13-28 Agustus 2016. Melissa berharap karya yang dihasilkan dari riset selama dua tahun itu bisa menjadi referensi bagi masyarakat yang lebih luas. "Semoga ini bisa menjadi referensi buat banyak orang, mereka bisa ambil ini buat kerjaan mereka juga. Yang berharga itu risetnya," kata pendiri brand Tulisan ini kepada Liputan6.com, akhir pekan lalu di Jakarta.
Details

Cinta yang Sulit bagi "Mereka"

Penulis: Pradhany Widityan Cinta adalah anugerah paling besar yang diberikan Tuhan pada manusia. Anugerah yang rasanya semua Tuhan dari semua agama sepakat tanpa perdebatan bahwa untuk bisa menemui-Nya di surga nanti, rasa cinta kepada-Nya-lah yang akan mengantarkan kita. Tuhan itu Maha Mencinta. Tapi cinta kasih Tuhan kepada makhluk-Nya tentu tidak sesulit realitas cinta kasih di dunia manusia. Karena cinta Tuhan tidak memiliki faktor-faktor yang bisa melunturkan. Sedangkan di dunia manusia banyak kerikil dan tiang-tiang beton besar yang bisa menghadang cinta.  Dalam arti sempit, cinta diartikan sebagai hubungan kasih antara dua manusia. Dengan lingkup sesempit itu saja, hambatan bercinta masih sangat banyak. Itulah yang diangkat menjadi topik pementasan Sakti Actor Studio pada 22–23 Maret 2016 lalu. Lebih menarik lagi karena bukan naskah-naskah cinta macam Romeo dan Juliet, Trisnan-Isolde, atau Ramayana yang diangkat. Dengan berani Eka D. Sitorus sebagai sutradara menyajikan kisah cinta kaum homoseksual atau gay. The Many Taboos of Being Gay judulnya. Dari judulnya, secara ekplisit pentas teater ini mengangkat cerita soal kesulitan menjadi kaum homoseksual. Tidak hanya gay, termasuk juga lesbian, biseksual dan transgender (LGBT). Namun dalam pentas berdurasi sekitar 90 menit ini, mereka diwakili kaum gay yang diperankan oleh enam lelaki dalam empat naskah pendek. Gay memang menjadi salah satu perdebatan ...
Details

Musik "Sans Frontières" di Panggung Jazz

Musik adalah karya seni paling universal. Ia bisa menjangkau semua kalangan masyarakat. Dari yang menonton pertunjukan di tengah lapangan becek hingga yang menonton di gedung opera. Ia bisa dinikmati sambil berjoget bersama atau sambil mengerjakan pekerjaan rumah, bisa juga dinikmati dengan khidmat sambil memejamkan mata. Segmen musik sangat luas. Dari sekadar hiburan semata, proses ekperimen musisinya hingga media untuk menyampaikan berbagai pesan. Pesan perdamaian bisa melewati musik; kritik bisa melewati musik; doa pun bisa disisipkan dalam musik. Aliran musik dengan segmen yang berbeda pun muncul di mana-mana. Hampir semua daerah di dunia ini memiliki warna musiknya sendiri. Musik etnik, begitu namanya. Lain lagi dengan musik pop yang easy listening dan realtif lebih banyak penggemarnya. Musik rock yang cadas namun paling vokal menyuarakan pemberontakan pada keanehan dunia juga tak kalah menarik. Bagi anda yang merasa melankolis atau feeling blue, musik blues bisa menjawab perasaan anda. Kaum eksekutif yang berpakaian rapi, minimal kemeja, akan lebih menikmati musik jazz dan duduk di gedung-gedung pertunjukan. Ada pula musik yang konon bisa meningkatkan kecerdasan bayi. Komposisi yang mengalun teratur dalam musik klasik bagus diperdengarkan bagi ibu-ibu hamil. Dengan musik sebagai karya seni yang sangat luas, bahkan bisa dibilang paling banyak peminatnya, tidak mungkin Komunitas Salihara tidak memasukkan ...
Details

Pemandangan, Anomali

GIRANG, riuh rendah, renyah, main-main—inilah sifat-sifat yang kita dapat ketika memandang karya-karya Eko Nugroho. Tapi pada pandangan kedua, ketiga dan seterusnya, kita akan segera menyadari bahwa karya-karya itu mengajak kita bersoal jawab dengan masalah tertentu, dan sering pula masalah itu serius. Pada pameran ini kita melihat tabung-tabung gas biru (yang “bermata”) yang tersusun mengerucut; dan selubung dengan motif berulang dari simbol pedang dan warna hijau bendera Arab Saudi. Pada titik ini, karya-karya itu berubah menjadi politis. Namun, suara politis itu tidak pernah terdengar terlalu keras—tidak menghardik, tidak menghasut, tidak menusuk. Bersama Eko Nugroho, kita mengalami protes dalam humor; ya, mengalami dengan seluruh tubuh, bukan hanya mendengar dengan telinga. Eko Nugroho adalah eksponen gelombang ketiga dari khazanah “seni rupa pop” Yogyakarta (untuk mengadaptasi sekaligus memiuhkan makna pop art yang pernah berlaku dalam khazanah seni rupa global). “Seni rupa pop” ini merangkul “seni rupa bawah”: budaya massa (komik, kartun dan seterusnya), kesenian jalanan dan kesenian rakyat. Eko bukan hanya mengambil dan mengadopsi; ia, misalnya, bekerja dengan para pembordir untuk menghasilkan aneka lukisan bordir. Boleh dikatakan juga bahwa “seni rupa pop” ini adalah jawaban terhadap “seni murni” maupun “seni terlibat” yang merupakan dua arus utama seni rupa modern Indonesia sampai dengan akhir 1980-an. Para ...
Details

Yang Dinamis dan Eksperimental dari Tesla Manaf

Jazz, menurut  Andrew Gilbert, adalah jenis musik yang unik karena mampu menyerap pengaruh musik apa saja dan menjadikan pengaruh tersebut sebagai bagian dari dirinya. Menurut Idang Rasjidi, lagu apa saja, baik itu rock, dangdut maupun musik tradisional Nusantara dapat digubah menjadi jazz. Dengan kata lain, jazz adalah jenis musik yang sangat terbuka terhadap kreasi sebebas apa pun. Sifat yang sangat terbuka tersebut menjadikan banyak karya musik jazz, dalam perkembangannya kini, berpotongan dan berbatasan dengan genre-genre musik lain dari seluruh dunia. Hal inilah yang akhirnya diangkat sebagai tema dari Jazz Buzz Salihara 2016: Jazz Sans Frontières yang diselenggarakan di Teater Salihara, 20-21 dan 27-28 Februari 2016. Setelah dibuka dengan lecture concert jazz oleh Tjut Nyak Deviana Daudsjah pada 17 Februari, perhelatan tahunan ini menampilkan empat kelompok musisi yang tidak hanya mengusung genre jazz namun juga beragam rupa aliran musik hasil persilangan seperti rock progresif dan neo-klasik: Trodon, Tesla Manaf, I Know You Well Miss Clara, Manticore Project. Salah satu penampil yang paling ditunggu adalah gitaris muda kelahiran Bandung yang telah merilis album mancanegara perdananya di Amerika Serikat, Tesla Manaf. Tesla yang tampil pada Minggu malam (21/02) tidak sendirian mengisi panggung. Bersamanya tampil pula tiga musisi muda lainnya: Desal Sembada (drum), Rudy Zulkarnaen (bas ...
Details

Program Magang 2006

Anda berminat terjun ke dunia industri kreatif atau pengelolaan seni?   Komunitas Salihara membuka Program Magang 2016 I dengan Ayu Utami (penulis & kurator). Periode kerja: Maret-Agustus 2016 Bidang kerja: Asisten Kurator, Asisten Manajer Program   Kriteria: Berusia antara 19-26 tahun, Masih atau pernah kuliah, Berminat pada seni, sastra dan aktivisme sosial, Membaca sastra Indonesia atau dunia, Bersedia mengikuti seluruh progam.   Apa yang didapat dan dituntut dalam Program Magang I ini? Pemagang belajar mengelola program budaya dari awal hingga akhir satu tahap (dari perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi). Termasuk dalam kerja Asisten Kurator adalah merancang dan mematangkan isi program. Sedangkan Asisten Manajer Program mengelola pendanaan, relasi dan kerja sama. Dengan demikian, pemagang belajar aspek intelektual maupun keterampilan manajemen. Pemagang bisa mengatur waktu kerja fleksibel. Tidak harus hadir setiap hari. Pemagang wajib mengikuti penataran awal mengenai pekerjaannya pada Sabtu-Minggu, 21-22 Februari 2016. Pemagang akan mendapatkan evaluasi berdasarkan kriteria yang diberitahukan sebelumnya, serta sertifikat dan surat rekomendasi berdasarkan prestasinya setelah menyelesaikan program. Komunitas Salihara memberikan biaya tugas.   Bila anda berminat, sila kirim surat lamaran, daftar riwayat hidup, pas foto (enam bulan terakhir), foto kopi kartu mahasiswa atau ijazah, contoh tulisan/artikel (ulasan buku, opini, berita), alamat blog atau website (jika ada), akun media sosial (Twitter, Facebook, Instagram) ke program@salihara.org atau melalui pos ke Komunitas Salihara Jl. Salihara 16, Pasar Minggu Jakarta Selatan 12520   Sebutkan preferensi bidang kerja Asisten ...
Details

Urban Chat: Fashion And Art, Here Dancing at Last

A while back an esteemed London-based fashion and art writer expressed his shock upon learning from a small group of Indonesian journalists that fashion major wasn’t de rigueur in our art schools.  How you could separate the two when fashion was derived from art, he exclaimed. Some of the art schools have a textile major, I offered a consolation. Nice but not quite fashion now is it, he huffed. The man had a point. Fashion and art worlds in Indonesia are often worlds apart. I’ve met too many artists who’d turn their nose down at fashion for being hedonistic, or a snooty art curator who’d look down upon fashion weeks for that matter. On the other side, the fashion community often found artists generally to be too brooding and uncooperative. Quite a shame, as elsewhere bridges between the two worlds had long been built and maintained. If you were to revisit 18th century French aristocrats, it was clear that the dynamics of art not only inspired, but influenced high fashion a great deal. Conversely, artists were known to have been one of the first adopters, if not initiators, of the latest wardrobe style, in the age when ...
Details

Wallace

Ilmu dimulai dengan sifat seorang anak yang takjub. Dalam salah satu catatannya, Alfred Russel Wallace -- orang Inggris yang bersama Charles Darwin menemukan "teori evolusi" -- menyatakan betapa ia, bak seorang anak, terkesima melihat kumbang. Kumbang adalah "keajaiban di tiap ladang". Siapa yang tak mengenalnya "melewatkan sumber kesenangan dan keasyikan yang tak pernah pudar". Kesenangan dan keasyikan itulah yang membuat Wallace bertahun-tahun mengamati mahluk hidup dari pelbagai jenis dan habitat. Meskipun ia bukan ilmuwan dalam arti yang lazim. Karena orang tuanya jatuh miskin,  pada umur 14 ia harus putus sekolah. Kemudian ia pindah ke wilayah Wales membantu kakaknya yang punya usaha survei pertanahan. Di pedalaman itu-lah ia terpikat kehidupan tumbuh-tumbuhan. Ia mulai menelaah pelbagai tanaman dengan penuh antusiasme.  "Siapa yang pernah melakukan sesuatu yang baik dan besar kalau bukan seorang yang antusias?," ia pernah berkata.  Pada usia 25 ia berangkat ke rimba Brazil, di sekitar Sungai Amazon dan Rio Negro -- menjelajah lebih jauh. "Di sini, tak seorang pun, selama ia  punya perasaan kepada yang tak tepermanai dan yang sublim, akan kecewa", tulisnya dari belantara tropis itu. Ia seakan tak bisa berhenti menyebut pepohonan besar yang rimbun, akar dan serat yang tergantung-gantung, burung langka dan reptil yang cantik. Keajaiban, kata orang, tak ada lagi di dunia modern. Tapi pesona?  Bagi ...
Details

Musik Rasa Bali hingga Melayu di Salihara

Komunitas Salihara menggelar Forum World Music Salihara 2015 yang menghadirkan serangkaian karya musik baru dari yang berangkat dari khazanah tradisi Nusantara dan dunia. I Wayan Balawan & Batuan Ethnic Fusion, Sinta Wullur, Suarasama, Malacca Ensemble dan Trisutji Kamal menjadi penampil dalam forum yang berlangsung sepanjang Rabu-Minggu (05-09/08) lalu. Khusus Trisutji Kamal, karya-karyanya dimainkan oleh sekelompok pemusik. Tony Prabowo, kurator Komunitas Salihara, menyebut Forum World Music yang baru pertama kali digelar di Komunitas Salihara ini diharapkan mampu menjadi ruang untuk kemunculan inovasi baru di dunia musik Indonesia. “Program ini juga dibuat untuk mendorong apresiasi masyarakat dan membuktikan masih banyaknya materi dan nilai yang bisa digali dari seni musik serta memberikan perspektif baru pada para pelaku dan penonton musik,” katanya. I Wayan Balawan bersama Batuan Ethnic Fusion menjadi pembuka forum ini pada Rabu (05/08) malam dua pekan lalu. Pada malam berikutnya, Iswargia R. Sudarno, Hazim Suhadi, Rachman Noor, I Ketut Budiasa dan Jro Mangku T. Jimbarwana memainkan sepilihan komposisi karya Trisutji Kamal dalam konser bertajuk Tribute to Trisutji Kamal. Sinta Wullur menjadi penampil berikutnya pada Jumat malam disusul Swarasama pada Sabtu (09/08) malam dan Malacca Ensemble pada Minggu (09/08) malam. Sesuai judulnya, Forum World Music menjadi arena pertemuan aneka jenis musik berbeda, dari tradisional hingga ...
Details

Sebuah Helat, Alih Wahana, Empat Catatan

Helateater Salihara 2015 telah selesai pada pekan ketiga April lalu. Festival kecil tahunan tersebut kali ini mengambil tema Persembahan kepada Arifin C. Noer. Ada lima kelompok teater yang membawakan naskah-naskah Arifin dalam beragam bentuk. Mereka adalah Cing Cing Mong (Solo) dengan lakon Madekur dan Tarkeni atawa Orkes Madun I, Bengkel Mime Theatre (Yogyakarta) mengusung Kocak Kacik, Teater Gardanalla (Yogyakarta) mementaskan Sumur Tanpa Dasar, Prodi Teater IKJ (Jakarta) mengusung Mega-Mega, dan Kalanari Theatre Movement (Yogyakarta) membawakan Kapai-kapai (atawa Gayuh). Sejak masih dalam rencana, Helateater Salihara 2015 dirancang sebagai sebuah festival yang menghadirkan kembali naskah-naskah Arifin C. Noer dalam aneka bentuk pemanggungan. Karena itu, adaptasi atau alih wahana menjadi tak terhindarkan. Gardanalla mencoba menghadirkan naskah Sumur Tanpa Dasar dengan pendekatan akting alami untuk naskah surrealis, Prodi Teater IKJ melepas tanda-tanda latar geografis Mega-Mega. Ada pula panggung pantomim dari Bengkel Mime Theatre, teater boneka tradisional berupa wayang golek dan wayang kulit oleh Cing Cing Mong, hingga pertunjukan kelindan drama modern dengan “seni lapangan” yang lazim ada di panggung-panggung ketoprak tobong, wayang orang keliling, jathilan, jaran kepang dan pertunjukan tradisional lainnya dari Kalanari Theatre Movement. Tidak ada satu pun kelompok dalam festival kali ini yang naik panggung dalam ketakziman dan kesetiaan seratus persen kepada naskah Arifin. Berhadapan ...
Details

Persembahan kepada Lengger Terakhir

Otniel Tasman bersama Oneil Dance Community memungkasi Helatari Salihara 2015 dengan karya berjudul Lengger Laut. Lengger Laut berkisah tentang penari Lengger Lanang (laki-laki) Dariah, yang pada 2012 diangkat sebagai maestro tari oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dariah adalah penari Lengger Lanang terakhir dan tertua berumur 85 tahun yang masih hidup di Desa Plana, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Otniel menghadirkan tari tradisional yang hampir punah itu dengan rasa baru. Bukan lagi Lengger yang melulu menampilkan liukan tubuh penari dengan tebaran senyum di sepanjang gerak, tapi juga tubuh bertenaga dalam kelincahan menjelajahi ruang panggung. Di akhir pertunjukan, Otniel sengaja mengajak penonton untuk naik ke panggung dan menari bersama. “Seperti Lengger aslinya, tarian ini tidak memiliki batas kaku antara penari dengan penontonnya,” kata Otniel. Lengger adalah akronim dari kata leng dan jengger, yang berarti “perempuan yang ternyata laki-laki”. Lengger merupakan salah satu kesenian yang berkaitan dengan upacara syukuran keberhasilan panen di daerah Banyumas. Bagi masyarakat Banyumas ia menjadi lambang kesuburan. Tari Lengger yang awalnya lebih sering ditarikan perempuan kini dibawakan oleh enam orang penari laki laki. Karya ini menjadi semacam persembahan bagi kesenian dan pelakunya yang makin langka dan makin ditinggalkan penonton. “Kesenian Lengger semakin ditinggalkan, kalah oleh dangdut dan panggung-panggung hiburan populer lainnya,” kata Otniel.  Otniel Tasman ...
Details

Energi Berlebih Manusia Senja

Usia senja manusia identik dengan tubuh yang melemah. Namun demikian, tubuh renta tak membuat kenangan, kehendak, kegelisahan, keinginan dan perasaan-perasaan lain ikut pupus. Sering mereka yang berada di usia senja justru memiliki energi besar karena hal-hal di dalam diri mereka. Koreografi berjudul Menuai Senja karya Benny Krinawardi bersama Sigma Dance Theatre menunjukkan hal-hal di sekitar manusia pada masa tua semacam itu. Menuai Senja naik panggung pada Sabtu, 06 Juni lalu. Karya ini terdiri atas empat bagian yang dirangkai dalam satu pertunjukan utuh. Pada bagian pertama, muncul kosa gerak yang terinspirasi dari manusia di awal masa tuanya. Tentang kehendak dan keinginan yang tak sesuai keadaan dan memantik kegelisahan. Bagian ini disusul dengan koreografi tentang keterbatasan diri akibat melemahnya tubuh hingga rasa takut yang menghinggapi para orang tua. Tentang kerinduan tak sampai kepada yang dicintai namun hanya berhenti pada angan-angan akibat pemantik rindu telah tiada menjadi bagian berikutnya. Menuai Senja diakhiri dengan kesepian dan ketidakberdayaan manusia atas keadaan yang menggiring pada kepasrahan hidup. Karya ini sejatinya adalah materi yang diajukan Benny saat mengikuti ujian kelulusan di IKJ. “Awalnya dari karya ujian. Tapi dikembangkan di banyak bagian hingga menjadi benar-benar berbeda dari awalnya,” kata Benny. Mengangkat tema tentang usia lanjut bukan berarti Menuai Senja berisi kosa ...
Details

Tiga Bentuk Permata Jawa

Atilah Soeryadjaya menghadirkan Permata Jawa di Helatari Salihara 2015, Rabu-Kamis, 03-04 Juni lalu. Permata Jawa adalah karya yang terdiri atas pembacaan macapat, konser gamelan dan musik cangkeman, serta tari Samparan Matah Ati. Macapat yang dibacakan dalam pentas ini bersumber dari Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV (1811-1881), sedangkan konser gamelan dan musik cangkeman hadir sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas berisi kelindan bebunyian unsur gamelan berbagai wilayah Indonesia. Reportoar ketiga adalah tari bedaya berjudul Samparan Matah Ati yang mengolaborasikan kosagerak koreografi tradisi dengan anasir panggung teater modern. Atilah menyebut Samparan Matah Ati berbeda dari Opera Matah Ati walau bertumpu pada sosok yang sama, Rubiyah, istri Mangkunegara I sekaligus komandan perang pasukan perempuan bangsawan berjuluk Pangeran Samber Nyawa itu. “Samparan Matah Ati lebih banyak mengisahkan Rubiyah sebelum menjadi istri Mangkunegara I,” katanya. Helatari Salihara 2015 menjadi panggung pementasan perdana karya ini. Menurut Atilah, pembacaan macapat, karawitan dan seni tari adalah permata dalam kebudayaan Jawa. “Ketiganya adalah permata yang justru kerap kurang jadi perhatian,” kata Atilah. Pada Permata Jawa, Atilah tidak sendirian. Ada Blacius Subono sebagai penata musik konser gamelan, juga Daryono Darmo Rejono yang menjadi koreografer Samparan Matah Ati. Atilah menjahit tiga bagian pertunjukan itu menjadi satu rangkaian karya. Memasukkan unsur baru pada karya tradisi sejatinya ...
Details

Tradisi Atau Zona Nyaman?

Tarik-ulur atau perjumpaan atau dialog antara tradisi dan modernitas hingga kontemporer dalam dunia tari adalah cerita lama. Menarik  bahwa hal itu masih perlu ditampilkan secara khusus. Helatari Salihara 2015, festival tari yang pertama kali digelar di Komunitas Salihara, 30 Mei-07 Juni lalu, bahkan mengusung tema “Tari Baru dari Khazanah Tradisi Nusantara”. Menilik kecenderungan bentuk-bentuk pertunjukan yang sering dipentaskan di Komunitas Salihara, pemilihan tema ini sebenarnya agak mengejutkan. Sejauh yang saya amati, Komunitas Salihara lebih cenderung “menyukai” bentuk seni kontemporer. Tony Prabowo, kurator Helatari, mengoreksi kesan ini. Ia mengakui segmen tradisi porsinya memang tak terlalu besar atau jarang dihadirkan di Komunitas Salihara, tapi bukannya tidak pernah sama sekali. Bagi Tony, dialog atau perjumpaan atau tarik-ulur antara tradisi dan kebaruan akan selalu relevan dan punya daya tarik. Yang modern, bahkan kontemporer, dalam seni tari di Indonesia—dan ini juga terjadi di negara-negara Asia lainnya—masih sering memperlihatkan keterkaitan yang kuat dengan apa yang lazim disebut “kanon” karya tradisional. Sardono W. Kusumo, misalnya,  pernah mengatakan “saat membuat hal baru (sekali pun) saya selalu merawat yang lama dan tua di belakang pikiran saya.” Tradisi agaknya memang begitu liat hingga tidak mudah dilepaskan dalam perjalanan tari di Indonesia. Tema “Tari Baru dari Khazanah Tradisi Nusantara” sendiri menyiratkan keyakinan itu. Meskipun ...
Details

Buai Tak Selalu Menimang

Helatari Salihara 2015 dibuka oleh Indra Zubir’s Dance dengan karya berjudul Buai (Udara). Indra Zubir yang menjadi koreografer karya ini memadukan bentuk tari Buai-Buai khas Minangkabau dengan kosagerak tarian modern, di antaranya tarian pop Suffle. Indra merajut paduan antara gerak berbasis tari tradisi dengan modern itu dalam karya yang berarti “ayunan seorang ibu kepada anaknya”. “Tari Buai-Buai saat ini bisa disebut sudah hampir punah. Semakin sedikit yang menarikannya di Padang,” kata Indra. Menurutnya, popularitas Buai-Buai sebagai tarian tradisional kalah bila dibanding dengan tari Piring dan lainnya. Di Padang, Buai-Buai lazim ditarikan pada masa panen. Berbeda dari kebanyakan tari Minangkabau yang pekat dengan gerak silat, Buai-Buai justru tidak. Menurut Indra, Buai-Buai didominasi gerakan mengayun dan cenderung monoton karena motif gerak yang tak banyak bentuknya. Motif gerak Buai-Buai berupa ayunan tangan dan gerak rentak kaki sebenarnya juga lazim muncul dalam tarian lain khas Minangkabau. Di tangan Indra, Buai-Buai yang berkelindan dengan Shuffle dijahit dalam narasi buai kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Dibuka dengan gerak menimang anak, karya ini kemudian berlanjut dengan kosagerak yang tak selalu menunjukkan timang tangan. Motif gerak yang tak berhenti pada timangan ibu kepada anak seturut dengan narasi yang diperdengarkan di panggung. Narasi itu menceritakan laki-laki yang lahir di ranah ...
Details

Jungkir Balik Sosok Konyol Pahlawan Kesiangan

Sebagai narator, Landung menyebut cerita Miguel de Cervantes tentang Don Quixote sudah diakrabinya sejak masih duduk sebagai pelajar tingkat sekolah dasar. Kisah Don Quixote sebagai seorang petualang, pahlawan kesiangan, lazim jadi bahan tertawaan, sekaligus simbol kekonyolan begitu kental pada naskah Miguel de Cervantes. Hal itu tak muncul dalam Don Quixote karangan Goenawan Mohamad. Sebaliknya, justru banyak refleksi tentang beragam hal di sekitar kehidupan dalam kumpulan sajak itu. “Ini adalah Don Quixote yang diserap GM. Don Quixote dia gunakan untuk merefleksikan banyak hal di sana-sini dan sangat personal,” kata Landung Simatupang, di sela-sela acara Pertunjukan Puisi Don Quixote di Teater Salihara, Sabtu (09/05) lalu. Menurut dia, Don Quixote versi GM justru sarat renungan yang berbeda. Ada rasa liris, sedih dan percaya bahwa di balik sosok serta tingkah kekonyolan Don Quixote ada ketulusan. Landung menangkap sentilan refektif bagi siapa saja untuk melihat diri sendiri sebagai seorang Don Quixote. Bagi Landung, Don Quixote adalah adalah romantisasi yang dibutuhkan kehidupan manusia. Tanpa romantisasi hidup menjadi datar dan biasa-biasa saja. Tidak ada jurus tertentu yang digunakan Landung untuk menghadapi naskah kumpulan sajak Don Quixote karya GM. “Saya tidak pernah punya kategorisasi naskah apa dan dihadapi dengan cara apa. Bagaimana teks itu berbicara kepada saya saja. Sejauh yang saya ...
Details

Pertunjukan Puisi Don Quixote

Pembacaan puisi di atas panggung sejatinya dapat menjadi sebuah arena pementasan khas seni pertunjukan bila memanfaatkan unsur-unsur pemanggungan dengan maksimal. Pembacaan semacam itu dapat menghadirkan pembacaan puisi bukan hanya sekadar pelisanan teks semata. Landung Simatupang dan Niniek L. Karim menunjukkan hal itu di Teater Salihara, Sabtu (09/05) lalu, saat membacakan puisi-puisi Goenawan Mohamad dari buku puisi Don Quixote (Tempo & Grafiti Pers, 2011). Naskah puisi yang dibacakan oleh Landung dan Niniek tidak hadir sendirian. Pembacaan larik-larik puisi ciptaan Goenawan Mohamad itu berdampingan dengan suara dari piano dan organ Hammond yang dimainkan Sri Hanuraga dan Adra Karim. Lalu, di layar yang menjadi latar belakang panggung menjadi bidang dari grafis dan visualisasi lukis pasir dari Niar Lazzar dan Fajrian Fedder. Kelindan antara narasi, musik dan wujud visual di layar kemudian tampil sebagai satu kesatuan pementasan yang utuh. “Yang diutamakan adalah pembacaan teks puisinya,” kata Adra Karim yang selainkan memainkan Hammond juga menyutradarai pertunjukan puisi ini. Menurut dia, pembacaan tersebut tidak harus muncul dalam bentuk pelisanan teks yang terucap dari para narator. Rangkaian nada dari piano, Hammond dan tampilan multimedia tersebut menjadi bentuk pembacaan itu sendiri. Musik dan tampilan visual yang hadir kemudian tidak melulu menjadi pengiring narasi. Namun demikian, Adra mengakui elemen-elemen di luar narasi ...
Details