Cerita Residensi: Andrita Yuniza

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Ketika saya melewati masa residensi di Gyeonggi Creation Center, Korea Selatan, ada pengalaman yang membuat saya terpesona kepada sebuah ide, di mana sesuatu yang abstrak punya andil kendali besar atas sesuatu yang tampak berjarak dengannya. Seperti halnya free will atau kehendak bebas seseorang dapat mengubah lingkungan kehidupannya. Kehendak bebas atau intensi (keinginan) seyogyanya memang tidak berbentuk, namun berdampak. Internet sebenarnya terbuat dari radiasi elektromagnetik—tidak berbentuk tetapi menyimpan banyak sekali informasi. Maka saya membuat beberapa karya eksperimental untuk menelusuri ide ini. Yang pertama adalah tentang hubungan antara Korea Selatan dengan Cina, yang ditautkan laut dan angin. Yang kedua membahas tentang gubahan gen atau DNA manusia; dan yang ketiga membahas tentang realitas hibrida (hybrid reality).

Korea Selatan dan Cina saling mempengaruhi satu sama lain secara tidak langsung dengan perantaraan alam. Kekuatan alam mempengaruhi ekosistem lingkungan, seperti bagaimana gelombang lautan datang silih berganti, atau bagaimana angin membawa partikel-partikel dari bagian bumi lain. Gyeonggi Creation Center terletak dekat dengan Haesolgil Track, dengan beting yang menghadap Laut Kuning, yang tersibak dua kali sehari setiap surut. Laut Kuning menghubungkan Korea Selatan dengan Cina, maka saya pun menganggap bahwa gelombang lautan pasti membawa ombak yang pernah menyentuh kedua daratan. Gelombang terjadi karena bulan mempengaruhi bumi. Dari pengamatan ini, saya menyadari bahwa pasang surut di area saya mirip dengan gelombang beta pada otak kita, yang menunjukkan keterjagaan otak kita di sebuah titik waktu. Hal ini terjadi ketika kita larut dalam sebuah aktivitas atau percakapan, seperti halnya hubungan antara Korea Selatan dan Cina. Tak hanya lautan, angin pun membawa serta debu kuning, atau kabut beracun yang timbul dari limbah industri. Hampir kasat mata tetapi dampaknya sungguh besar.

Melalui observasi ini, muncul ide untuk merekam gelombang sebagai karya cetak, atau print, mirip detektor gelombang seismik gempa bumi. Saya menggunakan etching, sebuah teknik cetak di mana cairan asam (acid) digunakan untuk menggerus pelat logam, dan apa yang tersisa dari reaksi kimia tersebut digunakan untuk membuat jejak gambar. Saya terpikir untuk menggunakan air laut alih-alih cairan kimia asam untuk menggerus logam. Tetapi air laut tidak sekeras air asam, sehingga hanya meninggalkan karat. Maka karya ini tidak selesai karena bagian yang terkorosi tidak cukup dalam untuk membuat cetakan, kecuali kalau saya ingin mencetak karat-karat tersebut. Tetapi saya tidak mau melakukannya.

Saya kemudian berpikir bagaimana saya dapat menciptakan bentuk angin, dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan bebunyian. Saya meminta orang-orang tua dan muda untuk mengutarakan pemikiran mereka tentang “damai” dan harapan masa depan, dengan cara berbisik. Orang akan berbisik pada salah satu dari dua kondisi berikut: ketika sedang berbagi rahasia, atau ketika sedang berdoa. Saya menggunakan bisikan untuk menggubah suara angin. Saya ingin menyampaikan ajakan: mengapa kita tidak mengirimkan sesuatu yang baik, seperti doa atau harapan baik? Jangan kirimkan kabut beracun atau hal-hal yang merusak.

Sudah beberapa tahun saya memperhatikan perihal operasi plastik di Korea Selatan tetapi saya tidak tahu bahwa DNA pun dapat digubah. Saya tidak membahas mengenai operasi plastik tetapi saya kira sangat menarik bagaimana kita dapat mengubah bentuk/tampilan kita dengan mengatur sesuatu yang ukurannya mikroskopis, yaitu DNA. Ide ini mendorong saya untuk menelusuri kemungkinan adanya makhluk buatan atau artifisial di dunia pasca-manusia. Maka, saya menelusuri lebih jauh perihal biomaterial seperti biopolimer, untuk menciptakan makhluk baru.

Kali pertama saya mendengar tentang hybrid reality adalah ketika saya menghadiri simposium yang diadakan di MMCA Seoul. Di sana, seorang peneliti menjelaskan bahwa sekarang ini ada banyak ruang publik, dan salah satunya adalah internet. Kita mendiami dua alam, realita (kenyataan) dan realita internet (kenyataan maya). Sebagai seorang seniman yang dahulu banyak bekerja di ruang terbuka, ide ini tentu menantang pemahaman tentang konsep/ide ruang yang selama ini saya pegang. Maka, saya membuat sebuah proyek eksperimental dengan mencetak poster berisi kalimat-kalimat yang saya ambil dari Twitter. Biasanya kita mengunggah hal-hal dari realita kita ke internet. Sekarang, bagaimana jika hal-hal dalam internet itu kita bawa kembali pada realita, entah sebagai teks biasa atau sebagai angka biner?

Secara keseluruhan, saya gunakan waktu senggang untuk mengunjungi 25 pameran, 3 open-studio yang diadakan seniman residensi lain, lebih dari 10 museum seni, dan berbagai acara budaya. Saya takjub mengetahui ada begitu banyak art platform dan ruang seni di Korea Selatan; di Gyeonggi-do saja ada cukup banyak. Ada yang merupakan ruang milik negara, ada juga ruang milik pribadi atau perusahaan. Banyak perusahaan besar memiliki galeri seni. Maka, selalu ada hal untuk dilihat, selalu ada pembukaan pemeran untuk dihadiri, dan selalu ada kesempatan bertemu dengan seniman residensi lainnya. Saya jadi tahu lebih banyak mengenai bagaimana lanskap seni Korea Selatan kini menjadi sebuah destinasi bagi seniman internasional, karena begitu banyaknya program and seminar yang mengundang penggiat seni mancanegara. Negara ini juga melestarikan budaya tradisional mereka dengan tepat, sehingga menarik untuk dipelajari dan disaksikan. Saya menonton pertunjukan shaman yang berlangsung dua malam suntuk di sebuah teater tradisional di depan sebuah istana; sangat melelahkan tetapi sangat menarik.

Saya belum pernah mengikuti sebuah program residensi di tempat yang mempunyai program setahun penuh seperti di Gyeonggi Creation Center. Mereka memiliki program residensi satu tahun penuh khusus untuk seniman Korea Selatan. Pesertanya dipilih dari ratusan pemohon yang masuk; yang terpilih diberikan dana untuk berkarya. Maka ada lebih dari dua puluh seniman berkumpul di satu tempat. Terkadang, kami bersama-sama pergi mencari makan malam, menghadiri pembukaan pameran, atau ikut serta dalam bengkel seni yang diadakan seniman yang mengajar di institusi itu. GCC juga memiliki program pendidikan di mana seniman mengampu kelas atau bengkel seni bagi anak kecil atau lansia.

Shopping Basket

Berlangganan Newsletter