Cerita Residensi: Argya Dhyaksa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Pada awal residensi saya diperkenalkan pada seniman keramik bernama Eiair. Ia menyewakan tungkunya untuk saya pakai membuat keramik. Ia juga memberitahu di mana lokasi-lokasi membeli material keramik yang saya butuhkan. Karya-karya keramik yang ia buat sangatlah kecil, bahkan saya masih heran bagaimana ia bisa sesabar itu membuat keramik berukuran tidak lebih besar dari satu buku jari. Karya-karyanya mengajak untuk lebih menyadari keberadaan sesuatu yang tidak jarang luput oleh pandangan mata. Ketika saya berada Bangkok, Thailand, Eiair sedang menyiapkan karya-karya untuk pameran di Ceramic Art London yang sayangnya harus batal karena wabah yang menimpa ini.

Karya saya dari hasil residensi selama di Bangkok berjudul Sacred Admirer dan berikut catatan selama saya berada di Bangkok yang mungkin melatarbelakangi lahirnya karya tersebut.

Selama melakukan residensi, hal-hal yang membuat saya tertarik adalah keberadaan benda-benda mistis yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural. Benda-benda itu beredar di masyarakat, bahkan mereka diberikan kebebasan untuk memeluk berbagai macam bentuk kepercayaan. Mereka pun diperbolehkan mengagungkan figur-figur yang keberadaannya dipercaya berdampak bagi kehidupan mereka. Karya saya merupakan perujudan dari hal tersebut. Saya meminjam visual dari hal-hal yang dianggap sakral dan dipuja di masyarakat, misalnya jimat-jimat dan tato “Sak Yant”. Saya memberikan sentuhan dari karakter budaya populer yang mengafirmasi kekuatan tersebut dengan syarat tertentu.

“Jika kamu menyimpan karya ini kamu bisa menjadi kebal peluru, dengan syarat kamu juga memakai rompi kebal peluru atau tidak keluar rumah dan menghindari peluru. Jika kamu memajang karya ini maka kamu bisa menjadi kaya raya, dengan syarat kamu bekerja dengan giat dan tidak memiliki pengeluaran terlalu banyak.”

Jimat-jimat dan benda-benda berbau mistis di Thailand diperjualbelikan secara legal dan terbuka. Bahkan ada tempat khusus yang melayani hasrat klenik atau kebutuhan untuk menuju jalan pintas kemudahan dalam berkehidupan dengan cara-cara supranatural. Amulet Market yang lokasinya sangat berdekatan dengan istana kerajaan menjual barang-barang klenik yang dipercaya berkhasiat untuk mempermudah orang-orang dalam menjalani kehidupan. Hampir semua benda berbau mistis seperti jimat kebal peluru, kesaktian, pelet sampai pesugihan bisa dicari di tempat ini. Saya suka melihat bentuk-bentuknya karena saya menaruh minat pada action figure. Tetapi saya menganggap obyek-obyek ini seperti benda-benda koleksi, ketimbang untuk kebutuhan untuk menuju jalan pintas.

Setelah itu saya mengamati proyek keramik yang diinisiasi oleh Wasinburee Supanichvoraparch. Mereka berkolaborasi dengan seniman muda dari sembilan universitas. Mereka menggabungkan dan mengembangkan motif-motif yang merupakan kearifan lokal dan warisan budaya dengan seni kontemporer. Mereka merefleksikan nilai dari desain untuk komunitas dan perubahan gaya hidup seiring berjalannya waktu.

Kegiatan lainnya, saya berkeliling Bangkok menaiki tuk-tuk, alat transportasi yang mirip dengan bajaj di Indonesia. Saya mengunjungi pembukaan pameran-pameran di sejumlah galeri yang diadakan rutin tiap tahun. Acara yang bertajuk Galleries Night itu digelar hanya dua hari saja dengan rute yang berbeda. Pameran yang membuat saya tertarik adalah pameran keramik di La Lanta Fine Art  dan WTF Gallery.

Thailand merupakan negara di mana filosofi Buddha bercampur dengan mistis dan supranatural. Hal pertama yang membuat saya tertarik ketika berada di sana adalah San Phra Phum atau rumah pemujaan roh/dewa pelindung. Para penduduk membuat sebuah miniatur rumah untuk dewa(?) atau roh(?) pelindung yang dipercaya bisa memberikan keberuntungan. Setiap pagi mereka mempersembahkan berbagai makanan dan minuman, biasanya fanta rasa stroberi karena warna merahnya menyimbolkan darah sebagai perujudan dari kehidupan dan kematian. Mereka hendak mengusir energi jahat di lingkungan San Phra Phum itu berada.

Saya berkunjung di rangkaian acara Bangkok Design Week. Salah satu pameran yang diminati orang banyak adalah pameran Hundred Years Between yang memamerkan karya-karya fotografi dari Thanpuying Sirikitiya Jensen. Beberapa pameran dari Bangkok Design Week ini menarik karena diadakan di sebuah bangunan tua, sehingga hanya beberapa pengunjung saja yang diperbolehkan berada di dalam ruangan.

Terakhir, saya berkunjung ke pameran Spectrosynthesis II- Exposure of Tolerance: LGBTQ in Southeast Asia di Bangkok Art and Culture Centre. Yang menarik perhatian saya adalah karya dari Ramesh Mario Nithiyendran seniman keramik yang berdomisili Australia. Ia kerap membahas isu seksualitas serta simbol-simbol mitos pada alat genital yang dituangkan ke dalam karya-karya keramiknya.

Shopping Basket

Berlangganan Newsletter