Seri Gagasan Diskriminasi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

07, 10, 14, 21, 24 Juni 2020

Diskriminasi dan rasisme, mau sampai kapan? ‘Stay A(r)t Home’ Kali ini kami akan menampilkan secara daring program-program yang pernah membahas soal diskriminasi dan rasisme di Indonesia dan dunia. Sebelumnya, yuk simak dulu tulisan berikut ini.

Diskriminasi terhadap suatu kelompok belum sepenuhnya hilang. Kasus meninggalnya George Floyd (25/05/2020) karena perlakuan polisi di Minneapolis, Amerika Serikat, adalah yang terbaru dari sekian banyak kasus diskriminasi di dunia.

Diskriminasi yang serupa dalam bentuk lain juga sering kita temukan di banyak negara, termasuk Indonesia. Sentimen dan diskriminasi terhadap warga Papua dan Tionghoa sejak masa kemarin sampai hari ini masih sering kita temukan.

Serta beberapa kasus diskriminasi lain terhadap Timor Leste (ketika masih menjadi bagian provinsi Indonesia), orientasi seksual, agama/kepercayaan minoritas, pilihan politik berbeda dan masih banyak lagi, seakan tidak pernah berakhir.

Mereka mengalami perisakan, persekusi bahkan pembunuhan karena dianggap berbeda dari warga mayoritas, yang punya lebih banyak kuasa, akses di parlemen, bahkan kecenderungan akan kekerasan bersenjata. Kasus-kasus diskriminasi dan mengalienasi kelompok minoritas di Indonesia atau di negara mana pun membuktikan adanya ketimpangan atau ketidakadilan.

Kenapa ini terus terjadi dan bagaimana kita bersikap untuk menghadapi hal ini? Komunitas Salihara berupaya, melalui seri program daring ini kita bisa belajar dari berbagai perspektif, seniman dan peneliti, tentang pentingnya menerima perbedaan sebagai bagian dari diri kita.

Program yang kami tampilkan juga menawarkan cara melihat sejarah dengan beragam narasi (inklusif), bukan hanya dari satu sisi (eksklusif) yang gagal membangun kebhinekaan. Sebagai pembuka, kita bisa menyimak penampilan kolaborasi seniman Indonesia, Indo-Belanda dan Suriname.

Pentas Sastra ini hendak menampilkan sudut pandang sejarah melalui cerita-cerita keluarga. Kita juga bisa menyimak tiga podcast tentang bagaimana menyikapi ujaran kebencian yang mendiskriminasi agama minoritas; melihat kembali keindonesiaan dan ketionghoaan; dan diskusi tentang akar kekerasan.

Selain itu, kami menyajikan ceramah Nancy Jouwe, peneliti Belanda yang sebenarnya dekat dengan Indonesia karena ia berasal dari keluarga yang mengungsi akibat peristiwa politik di Papua Barat pada 1960-an.

Tak ketinggalan, penampilan Felix K. Nesi yang membaca petikan dari Orang-Orang Oetimu, sebuah novel yang berlatar peristiwa kekerasan di sebuah tempat di Pulau Timor.

Semoga materi-materi ini bisa memberi fondasi yang kokoh bagi semangat kebhinekaan kita sebagai bangsa Indonesia. Terus ikuti informasinya di media sosial kami. #DiSeniSehat #StayArtHome

Untuk mengetahui detail pertunjukan sila kunjungi sosial media Komunitas Salihara: Twitter @salihara | Instagram @komunitas_salihara atau hubungi: media@salihara.org/0822-2552-3959 (Muhammad Ridho)

Shopping Basket

Berlangganan Newsletter