Belajar Membaca Etika Politik Kontemporer dalam Kelas Filsafat Salihara

Kelas Filsafat Salihara

Setiap Sabtu, 14 Februari – 07 Maret 2026

Daring

Jakarta, 09 Februari 2026 – Tahun politik seolah tidak pernah selesai di negeri ini. Dalam situasi seperti ini, politik kerap berjalan tanpa refleksi etis dan menyisihkan berbagai tanggung jawab moral, sosial, serta keadilan yang seharusnya bisa menjadi bahan kontemplasi bagi semua pihak. Pada 2025 Kelas Filsafat Salihara hadir membahas kemunduran demokrasi dengan mempertanyakan kembali “Apa itu politik?”, maka kali ini peserta akan diajak untuk bersama membaca etika politik kontemporer melalui kacamata empat filsuf ternama yakni; Emmanuel Levinas, Jürgen Habermas, Axel Honneth, dan Albert Camus

Keempatnya menawarkan lensa berbeda untuk memahami relasi antara kekuasaan, tanggung jawab moral, pengakuan, dialog, dan keberpihakan pada korban yang bisa direfleksikan ke dalam situasi politik saat ini. Dalam Kelas Filsafat Salihara “Filsafat Politik: Etika Politik Kontemporer” kali ini, peserta akan melihat paparan empat pengampu yakni A. Setyo Wibowo, F. Budi Hardiman, Fitzerald K. Sitorus, dan Thomas Hidya Tjaya yang akan membedah pemikiran para filsuf di atas sesuai fokus yang ditentukan dalam empat sesi sepanjang Februari-Maret 2026.

Kelas yang akan dimulai pada 14 Februari mendatang akan dibuka dengan pemikiran Emmanuel Levinas yang mengajak peserta memahami etika yang mendahului politik. Pertemuan antarmanusia menghadirkan ruang etis tersendiri. Karena itu, menurut Levinas, konsep politik seperti keadilan dan hukum baru punya makna yang sejati jika dibangun di atas relasi etis antarmanusia. 

Selanjutnya Jürgen Habermas menawarkan etika diskursus dan politik deliberatif sebagai dasar dalam teori etika kontemporer. Kritik Habermas ini akan ditinjau bersama untuk menemukan apakah kedua teorinya masih relevan di era digital saat ini. Pada sesi ini, peserta akan diajak untuk mengapresiasi serta mengkritisi etika Habermas yang telah berkontribusi dalam etika politis kontemporer serta tantangan apa yang dihadapi di ruang publik.

Berbeda dengan pemikiran Habermas yang menekankan pentingnya diskursus di ruang publik, Axel Honneth–filsuf generasi setelah Habermas–menawarkan pendekatan baru melalui teori Perjuangan untuk Pengakuan. Ia melihat bahwa kebebasan dan keadilan tidak cukup dijamin lewat aturan hukum atau perdebatan yang rapi, melainkan harus berangkat dari pengakuan nyata atas martabat, suara, dan keberadaan setiap orang. Teori ini tidak sebatas teori abstrak, di dalam kelas, peserta akan dibawa untuk melihat bukti konkret yang dirancang Honnet melalui sistem ekonomi dan politik yang dapat mewujudkan pengakuan seluas mungkin bagi setiap warga negara.

Terakhir, kelas ditutup dengan pemikiran Albert Camus yang membawa etika politik ke wilayah yang lebih eksistensial dan tragis. Dalam dunia yang absurd, yang ditandai oleh perang, kekerasan, dan penderitaan massal, Camus menolak penjelasan teoretis yang membenarkan korban. Etika politik baginya bukan soal pembenaran ideologis, melainkan keberpihakan. Melalui figur dokter Rieux dalam La Peste, Camus menawarkan etika keterlibatan, yaitu tetap berada di sisi korban, meski tahu penderitaan tidak pernah sepenuhnya bisa dihapus. Etika politik di sini bukan janji keselamatan, ia adalah kesetiaan pada kehidupan yang terluka.

Kelas ini dirancang untuk memperluas perspektif, wawasan dan mendorong peserta untuk berpikir kritis dalam empat sesi pertemuan. Kelas akan berjalan setiap Sabtu pukul 14:00 WIB, dimulai dari 14 Februari hingga 07 Maret 2026.

Untuk bisa mengikuti kelas daring ini, peserta bisa langsung mendaftarkan diri lewat laman resmi kami di kelas.salihara.org dan media sosial kami. Peserta yang sudah terdaftar akan mendapatkan akses materi ajar, akses untuk menonton siaran ulang materi kelas, serta sertifikat digital.

Profil Pengampu

A. Setyo Wibowo adalah dosen tetap di STF Driyarkara. Ia meraih Baccalauréat Teologi di Universitas Gregoriana, Roma, Italia (1999). Ia menyelesaikan studi Filsafat S2 (2001), DEA (2003) dan S3 (2007) di Université Paris-1, Panthéon-Sorbonne, Paris, Prancis. Beberapa buku termutakhirnya antara lain Paideia: Filsafat Pendidikan-Politik Platon (2017), Gaya Filsafat Nietzsche (2017), Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme (2019) dan Platon: Lakhes (Tentang Keberaian) (2021). Ia juga menerbitkan Filokomik (2020), terjemahan buku komik filsafat dari bahasa Prancis ke bahasa Indonesia.

F. Budi Hardiman lahir di Semarang, 31 Juli 1962, menyelesaikan S1 Filsafat di STF Driyarkara (1988), Magister Artium (1997) dan Doktor der Philosophie (2001) di Hochschule für Philosophie München, Jerman. Ia pernah mengajar di STF Driyarkara (2001-2018) dan kini aktif di Universitas Pelita Harapan. Bukunya antara lain, Demokrasi Deliberatif, Heidegger dan Mistik Keseharian, serta Aku Klik Maka Aku Ada. Ia kerap menjadi pembicara publik di forum nasional dan internasional mengenai demokrasi, pluralisme, dan filsafat. Sejak 2021 menjadi Guru Besar Filsafat Universitas Pelita Harapan. Buku terbarunyanya Jiwa Kolektif: Rampaian Fenomena Massa (Kawah Buku, 2025).

Fitzerald K. Sitorus, dosen ilmu filsafat di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, lulusan Johann Wolfgang Goethe-Universität, Frankfurt, Jerman. Disertasinya mengenai filsafat kesadaran diri transendental Kant (lulus magna cum laude) terbit dengan judul Das transzendentale Selbstbewusstsein bei Kant: Zu Kants Begriff des Selbstbewusstseins im Lichte der Kritik der Heidelberger Schule (Kesadaran Diri Transendental pada Kant: Tentang Konsep Kesadaran Diri Kant Dalam Terang Kritik Mazhab Heidelberg) (Hamburg: Dr. Kovac, 2018). Telah menerbitkan sejumlah penelitian mengenai filsafat Jerman, terutama Kant dan Hegel, juga Honneth, yang merupakan minatnya. Publikasi terakhirnya adalah Kant’s Views on Sex and Marriage and Their Significance for Contemporary Ethics, jurnal Ledalero, Desember 2025. Aktif memberikan seminar, webinar dan kursus filsafat di berbagai forum. 

Thomas Hidya Tjaya lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, pada tahun 1996. Ia memperoleh gelar Master of Arts (M.A.) dalam bidang filsafat dari Fordham University, New York, pada tahun 1998 dan gelar Master of Divinity (M.Div.) dan Master of Theology (Th.M.) dari Weston Jesuit School of Theology, Cambridge, Massachusetts, pada 2003. Mulai pertengahan 2004 ia menempuh studi doktoral dalam bidang filsafat di Boston College, Massachusetts, dan meraih gelar Ph.D. pada bulan Desember 2009. Buku-buku yang sudah diterbitkannya antara lain Humanisme dan Skolastisisme: Sebuah Debat (Kanisius, 2004), Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri (KPG, 2004), Peziarahan HATI (Kanisius, 2011), Emmanuel Levinas dan Enigma Wajah Orang Lain (KPG, 2012), Merleau-Ponty dan Kebertubuhan Manusia (KPG, 2020), dan Fenomenologi Sebagai Sains Pengalaman (KPG, 2025). Saat ini ia mengajar filsafat di STF Driyarkara, Jakarta.

Tentang Komunitas Salihara Arts Center

Komunitas Salihara Arts Center adalah sebuah institusi kesenian dan kebudayaan yang selalu menampilkan kesenian terkini dari Indonesia dan dunia, baik yang bersifat pertunjukan maupun edukasi, dalam lingkungan kreatif dan sejuk di tengah keramaian selatan Jakarta.

_______________

Untuk mengetahui detail pertunjukan silakan kunjungi sosial media Komunitas Salihara:

X: @salihara | Instagram: @komunitas_salihara | Facebook: Salihara.org | Tiktok: @komunitas_salihara |  atau hubungi: media@salihara.org

Mari menjadi bagian dari Sahabat Salihara! Bergabung di saluran resmi Salihara Arts Center.

Dapatkan berbagai kabar terbaru seputar program mulai dari pertunjukan, pameran, kelas, diskusi, hingga festival yang akan datang.