Goenawan Mohamad dalam Pameran Teks, Gambar, Kitab

Karya Goenawan Mohamad
Ilustrasi: Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad (GM) lahir di Batang, Jawa Tengah pada 1941, lebih dikenal sebagai penyair, esais, penulis Catatan Pinggir, dan intelektual publik. Sejak pameran tunggalnya pada 2016 di Plataran Djoko Pekik, Yogyakarta, publik diajak melihat sisi lain dari GM sebagai seorang perupa yang selama puluhan tahun diam-diam membangun dunia visualnya sendiri. Di atas kertas dan kanvas, GM menggambar, membuat grafis, melukis, sekaligus menulis. Namun, jauh sebelum itu sejak awal 1960-an GM sudah akrab dengan seni rupa ketika ia tinggal bersama para perupa Sanggar Bambu dan belajar melukis pada Danarto, Syahwil, dan Mulyadi W, juga dekat dengan Nashar dan Zaini. 

Kedekatan GM dengan para perupa bukan hanya sekadar hubungan pertemanan lintas disiplin. Di lingkungan Sanggar Bambu, seni tidak dipahami sebagai benda yang selesai, tapi sebagai proses pencarian yang terus bergerak. Para perupa di sekelilingnya hidup dalam suasana kerja yang cair, yang tetap melukis, namun juga membaca puisi, berdiskusi politik, hingga berbicara tentang kemiskinan dan kehidupan sehari-hari. Atmosfer demikian kemudian tampak dalam karya-karya visual GM yang tidak pernah benar-benar tunduk pada batas medium.

Baca juga: Oototol: Kanvas dan Dunianya

Meski publik lebih mengenalnya melalui tulisan-tulisannya, hubungan GM dengan seni rupa berlangsung diam-diam dan panjang. Ia menggambar hampir setiap hari, sering kali di sela pekerjaan menulis. Gambar-gambar itu mula-mula hadir sebagai catatan personal, seperti garis-garis spontan, figur-figur kabur, wajah yang muncul lalu lenyap, tubuh yang seakan bergerak di antara mimpi dan ingatan, juga coret-coret jenaka yang ia lakukan di tengah-tengah kesuntukan rapat. Dalam banyak karya, GM tidak berusaha mengejar presisi bentuk. Ia membiarkan goresan bekerja seperti puisi yang terbuka, rapuh, dan penuh kemungkinan tafsir.

Karya-karya visual GM sering memperlihatkan hubungan yang erat antara teks dan citra. Kata-kata tidak sepenuhnya hilang dari karya drawing atau lukisannya, sebaliknya, tulisan hadir sebagai bagian dari tubuh visual itu sendiri. Ada kaligrafi yang terputus, fragmen kalimat, atau coretan yang tampak seperti catatan harian. GM seakan memperpanjang tradisi Catatan Pinggir ke dalam ruang rupa sebagai upaya menangkap dunia melalui serpihan, bukan kesimpulan. Pengaruh sastra dan filsafat juga terasa kuat dalam karya-karyanya. Sosok-sosok yang muncul di kanvas GM sering tampak seperti tokoh yang sedang melintas dari dunia mitologi, sejarah, atau kitab-kitab kuno. Kadang muncul figur perempuan, hewan, malaikat, atau wajah yang samar. Namun, semua itu tidak hadir sebagai ilustrasi cerita. GM lebih tertarik pada suasana batin yang ditinggalkan oleh cerita-cerita tersebut. Karena itu, drawingnya kerap terasa seperti ruang meditasi yang sunyi, gelap, tapi menyimpan percakapan panjang dengan ingatan manusia.

Baca juga: Abstraksi sebagai Sikap

Pameran tunggalnya pada 2016 menjadi titik penting karena untuk pertama kali publik melihat secara lebih utuh perjalanan visual yang selama ini tersembunyi di balik reputasinya sebagai penulis. Banyak orang terkejut melihat betapa produktifnya GM sebagai perupa. Ia bukan sekadar “penulis yang melukis”, ia juga seseorang yang memang hidup di antara kata dan gambar. Dalam sejumlah wawancara, GM menyebut menggambar sebagai aktivitas yang memberinya kebebasan berbeda dari menulis. Bila tulisan menuntut argumen dan struktur, gambar memberinya ruang untuk bergerak tanpa harus menjelaskan. Dalam perkembangan berikutnya, karya-karya rupa GM semakin menunjukkan keberanian eksperimental. Ia menggunakan berbagai medium seperti tinta, akrilik, kolase, hingga teknik grafis. Salah satu yang menonjol ialah seri Kitab, rangkaian drawing dan karya cetak grafis yang memadukan fragmen teks, guratan spontan, simbol-simbol purba, dan bidang-bidang abstrak yang menyerupai lembaran manuskrip kuno. Dalam seri ini, GM tidak menghadirkan “kitab” sebagai sesuatu yang utuh dan pasti, namun sebagai ruang tafsir yang retak, terbuka, dan terus bergerak. Melalui lapisan tinta, noda, dan susunan bidang yang tampak acak, GM seperti mengajak kita memasuki wilayah antara ingatan, puisi, dan reruntuhan pengetahuan. 

GM juga mengembangkan sejumlah seri Kitab, seperti Kitab Kurawa, Kitab Hantu, Kitab Hewan, dan Kitab Badut. Dalam Kitab Kurawa, tokoh-tokoh pewayangan tidak tampil sebagai figur heroik, namun sebagai tubuh-tubuh yang ganjil, rapuh, dan sering kali grotesk yang membuka tafsir tentang kuasa, kekerasan, dan sisi gelap manusia, misalnya munculnya tokoh Karna dan Gandari dalam seri ini. Kitab Hantu menghadirkan sosok-sosok samar yang seolah muncul dari kabut ingatan, figur-figur yang tidak sepenuhnya hadir, tapi terus menghantui, bahkan dimunculkan dalam sosok-sosok hantu yang jenaka. Sementara dalam Kitab Hewan, GM banyak mengeksplorasi bentuk binatang sebagai metafora naluri, ketakutan, dan absurditas kehidupan. Lalu yang terbaru yaitu Kitab Badut, memperlihatkan wajah-wajah karikatural yang jenaka sekaligus muram, seperti sindiran terhadap dunia sosial dan politik yang penuh sandiwara. Keseluruhan seri tersebut memperlihatkan kecenderungan GM yang bergerak di antara mitologi, humor gelap, puisi, dan refleksi eksistensial, dengan drawing sebagai medium utama yang memberi kebebasan spontan bagi gestur dan imajinasinya. Perjalanan seni rupa GM tidak bisa dipisahkan dari perjalanan intelektualnya. Seni rupa baginya bukan pelengkap dari dunia sastra, ia adalah medan lain untuk berpikir dan merasakan. Keduanya saling mengisi. Karya-karya drawing GM yang ia buat pada 2017 hingga 2026, karya grafis terbarunya, juga seri Kitab dapat kita lihat pada pameran tunggal Teks, Gambar, Kitab yang dapat dikunjungi dari 23 Mei hingga 28 Juni 2026 di Galeri Salihara. 

Mari menjadi bagian dari Sahabat Salihara! Bergabung di saluran resmi Salihara Arts Center.

Dapatkan berbagai kabar terbaru seputar program mulai dari pertunjukan, pameran, kelas, diskusi, hingga festival yang akan datang.