Oleh: Ibrahim Soetomo
Pada sebuah perhelatan seni pertunjukan kontemporer yang apik, sekomplot serdadu lengkap dengan seragam formal dan topi petnya terlihat sedang bermain gamelan. Di belakang para pemain, terdapat bangunan menyerupai gerbang candi atau pura yang dipadati oleh pepohonan meninggi rimbun. Di depan para pemain, terdapat tiga ekor anjing dalam posisi berbeda—tidur, berdiri, dan merangkak—yang menambah suasana santai di tengah-tengah ritual musik yang tertib. Inilah salah satu adegan ajaib karya pelukis Oototol (l. ?–2009) dalam pameran Warna Hidup di Komunitas Salihara dan ROH, Jakarta.
Oototol lahir dengan nama Dewa Raram di desa Pengosekan, Bali, yang menjadi rumah banyak seniman. Di tengah lingkungan ini, Oototol mengembangkan bahasa visual yang menyimpang dari konvensi “seni rupa Bali” dengan memadukan sapuan kuas yang kasar, format lukisan yang tidak biasa, serta fokus utama pada sosok serdadu yang digambarkan hidup dalam berbagai kegiatan sehari-hari maupun skenario ganjil.
Oototol memiliki hubungan artistik yang dekat dengan sekelompok seniman antara lain, I Gusti Ayu Kadek Murniasih “Murni”, Dewa Putu Mokoh, dan Edmondo “Mondo” Zanolini. Di bawah bimbingan Murni dan Mondo, Oototol bereksperimen dengan tinta Cina hitam di atas kanvas menggunakan pena bambu dan kuas. Ia terbiasa bekerja langsung di atas kanvas di lantai studio Murni, dan karya-karyanya kerap memperlihatkan jejak lipatan dan kerutan hasil kebiasaan tersebut. Garis-garis Oototol yang tebal serta pokok perupaannya yang janggal pun sesekali memperlihatkan pengaruh karya Murni dan Moko.
Oototol menjalani kehidupan awalnya di masa Pendudukan Jepang. Ketertarikannya terhadap sosok serdadu konon muncul seiring tumbuhnya minat pada pidato-pidato Sukarno, presiden pertama Indonesia, serta kisah-kisah pahlawan nasional dan jenderal. Namun, tidak seperti penggambaran satu figur tunggal untuk satu identitas tunggal, sosok-sosok dalam semesta Oototol mampu mengerjakan banyak peran dan tugas meskipun atributnya serupa. Serdadu Oototol mampu menduplikasi dirinya seperti menghidupi dunia tanpa aturan dan patriotisme lantang. Siapa yang menugaskan mereka? Apakah mereka sedang menjalankan perintah atau tidak?

Pada satu lukisan, misalnya, Oototol menggambarkan seorang pria berkopiah hitam dan berpakaian nyentrik yang berdiri di atas punggung buaya raksasa, yang juga tampak berpijak di atas air sungai ketimbang berenang di dalamnya. Pria berkopiah itu memegang dua bendera yang disilangkan, yang berdasarkan pembagian warnanya, menyerupai bendera Merah Putih Indonesia. Sosok berkopiah hitam ini dilatarbelakangi awan-awan floral yang dinamis, menjauhkan diri dari kenyataan sejarah yang terjadi.
Baca juga: Tentang Oototol dari Bali
Oototol pun kerap menempatkan serdadunya dalam kejadian mitologis. Pada satu lukisan lain, terdapat dua sosok yang menunggangi seekor makhluk laut menyerupai ikan atau lumba-lumba raksasa dengan mata bundar dan kumis kucing. Sosok pertama yang berada di depan menyerupai tokoh wayang Arjuna yang sedang memegang anak panah yang dililit seekor ular. Duduk di belakangnya si serdadu bertopi pet yang kini mirip polisi atau nakhoda kapal. Seperti si tokoh berkopiah dengan bendera tadi, mereka dilatarbelakangi awan-awan floral dan dikelilingi bingkai dekoratif bermotif bintang atau bunga kecil yang konsisten di seluruh tepi.
Dalam membaca karya Oototol, kita dapat melihat perpaduan beragam unsur budaya dan seni yang melestarikan sekaligus mengaktualisasikan identitas kesenian Bali secara organik. Oototol sendiri barangkali tidak pernah secara sengaja berupaya menciptakan pendekatan gaya tertentu, namun karya-karyanya mampu menjembatani unsur-unsur tersebut dengan penuh nuansa dan lintas batas.
Semesta Oototol adalah bukaan baru yang plastis dan terus menjadi. Seandainya Oototol memang menekuni isu-isu identitas, nasionalisme atau patriotisme, maka ia mengamalkannya dengan cair, rileks dan absurd. Sebuah peran atau identitas bukanlah wujud yang kaku, melainkan terus bergerak, berduplikasi, dan dikendarai menuju kemungkinan maha luas. Disadarinya atau tidak, Oototol telah mengemudikan sejarah dan tradisi ke wilayah yang belum terjamah: sebuah alam piktorial di mana kenyataan dan angan-angan duduk berdampingan tanpa beban.
Melalui Pameran Warna Hidup di Galeri Salihara dan ROH, kita dapat menatap kembali karya Oototol secara mendalam. Pameran berlangsung pada 07 Maret–28 April 2026.