Ibrahim Soetomo
Goenawan Mohamad (GM) telah menerbitkan empat bundel kitab: Kurawa (2022), Hewan (2022), Hantu (2023) dan yang termutakhir, Badut (2025). “Kitab” di sini dimaknai sebagai sekumpulan karya yang dibukukan. Penyusunan kitab ini meneruskan tradisi artist’s book, sebuah karya seni yang mengeksplorasi bentuk buku sebagai medium berkarya. Umumnya, artist’s book diterbitkan dalam cetakan terbatas, atau bahkan menjadi karya unik tanpa edisi. Pameran tunggal GM, Teks, Gambar, Kitab, menghadirkan satu per satu karya asli dalam bentuk drawing maupun cetak grafis, serta implementasinya dalam bentuk kitab-kitab.

Foto: Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara Arts Center.
Kitab-kitab ini memungkinkan gambar hadir dalam berbagai macam eksplorasi pembukuan. Seri karya Kurawa, misalnya, menggambarkan tokoh-tokoh dalam wiracarita Mahabharata—seperti Bhisma, Durna, dan Yudhistira—lewat goresan tinta hitam yang sederhana. Ketika dibukukan, gambar-gambar tersebut dipadukan dengan sajak-sajak Kurawa ke dalam bentuk buku akordeon yang menyuguhkan pengalaman membaca dan melihat yang mengesankan. Selain itu, seri kitab juga memungkinkan eksplorasi kertas buatan tangan (handmade), seperti Kitab Hantu yang dicetak di atas kertas daluang bertekstur serat tajam.

Foto: Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara Arts Center.
Pada Kitab Hewan, GM mengandalkan kekuatan intaglio, atau cetak dalam, demi menciptakan kedalaman ruang dan menyuguhkan suasana misterius. Seri ini menggambarkan hewan-hewan—ular, badak, ikan—atau figur-figur manusia yang hidup dalam lingkungan alam yang ganjil, sesekali surrealistis. Salah satu karya yang mengerahkan kualitas intaglio tersebut adalah Melihat Bayangan (2022): Figur putih raksasa berdiri di kaki langit, memandangi figur menari dan sepotong tangan kanan yang memancarkan bayangan panjang dan pekat. Sedangkan Burung Singgah (2022) memperlihatkan seekor burung yang terbang hendak melintasi sebuah miniatur rumah bercerobong asap.
Baca juga: Goenawan Mohamad dalam Pameran Teks, Gambar, Kitab

Foto: Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara Arts Center.
Kitab Badut, seri termutakhir GM, menggambarkan berbagai macam figur para pelawak. Setelah bereksplorasi dengan seni cetak grafis pada Kitab Hewan dan Kitab Hantu, pada seri ini GM kembali pada goresan pena dan sapuan tinta yang cenderung minimalis. Penggambaran para pelawak ini mengambil referensi dari berbagai macam budaya, seperti tokoh-tokoh sirkus tradisional (Whiteface dan Auguste), atau tokoh-tokoh pantomim seperti Pierrot bertopi kerucut, atau Jester bertopi berujung banyak. Badut-badut dalam seri ini melambangkan paradoks kemanusiaan yang mendasar; memadukan gembira dan sedih. Badut-badut tersebut seolah mengejek struktur sosial yang kaku, serta menyoroti absurditas kehidupan. Melalui kelakuan konyol yang disengaja inilah para pelawak itu seperti menyingkap sifat tersembunyi manusia yang penakut, dan barangkali pemarah, yang membutuhkan lelucon demi melampiaskan emosi-emosi terpendam tersebut.

Foto: Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara Arts Center.
Aspek unik dari seri kitab GM adalah perpaduan gambar dengan teks. Garis-garis yang membentuk wujud-wujud grotesk dapat bertemu dengan teks dalam bentuk fragmen maupun kutipan bebas. Teks tersebut bisa bersifat lelucon, seperti bait-bait kocak dalam seri Kitab Hantu, maupun berindikasi “serius” seperti kehadiran penggalan cerita pendek sastrawan Jorge Luis Borges, yang dalam bahasa Inggris, berjudul “The Immortal” (1949), untuk mengawali Kitab Hewan:
To be immortal is commonplace; except for man, all creatures are immortal, for they are ignorant of death; what is divine, terrible, incomprehensible, is to know oneself immortal.
Penggalan cerita pendek tersebut bisa jadi ditujukan untuk mengantar isi kitabnya. Namun, seperti amatan kurator Asikin Hasan, gambar dan teks dapat berdiri sendiri. Gambar tidak mengilustrasikan teks, dan sebaliknya, tulisan tidak bermaksud mendeskripsikan gambar. Keduanya hadir dalam ruang yang merdeka.
Penyusunan kitab-kitab GM tidak bisa lepas dari peran seni cetak grafis yang mampu melipatgandakan gambar-gambar. Kitab ini, pada akhirnya, juga meneruskan tradisi pembukuan karya grafis oleh para seniman Indonesia. Pada 1946, misalnya, seniman Baharuddin Marasutan dan Mochtar Apin menyusun Monumen Grafis 17 Agustus 1946 yang berisi cetakan-cetakan lino bertemakan perjuangan, dan diterbitkan untuk memperingati satu tahun kemerdekaan Indonesia. Lalu pada 1967, sebelas seniman Bandung termasuk Mochtar Apin membentuk Grup 11 merilis seri cetakan lino untuk memperingati 20 tahun kemerdekaan Indonesia bertajuk Liberte Kemerdekaan Sebelas Tera – Lino. Pada 1971, Apin juga mengoordinasikan pameran dan penerbitan karya seni cetak saring dari delapan belas pelukis asal Bandung yang menamai dirinya Grup 18.
Pameran Teks, Gambar, Kitab merayakan buku dan tradisi pembukuan sebagai ruang bagi teks, gambar, sejarah, dan pengalaman pribadi, untuk hidup berdampingan dan saling memerdekakan.





