Cerita Residensi: Wildan Indra Sugara

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Pada akhir tahun 2019 saya berkesempatan untuk menjadi seniman residensi di Zentrum für Kunst und Urbanistik (ZK/U) Berlin, sebuah lembaga seni rupa dan hal-hal yang menyangkut kota dan manusia. Koridor dan kertertarikan personal dalam karya saya一saya sengaja tidak merencanakan bentukan karya akhir yang akan saya presentasikan一adalah hubungan antara manusia dan obyek konsumsi.

Sesampainya di Berlin, saat berjalan menuju ZK/U untuk pertama kali, saya tak menyangka bahwa kondisi akses pedestrian yang sebetulnya nyaman kadang dipenuhi oleh tumpukan obyek hasil konsumsi masyarakat setempat. Benda habis pakai seperti furnitur, elektronik, bahkan otomotif tergeletak bahkan menumpuk di sisi trotoar atau ujung taman. Hal tersebut menjadi poin menarik untuk saya angkat sebagai karya selama residensi di ZK/U.

ZK/U sendiri memiliki program seniman OPENHAUS yang diadakan tiap dua bulan sekali secara berkala dalam satu tahun. Menuju OPENHAUS pada bulan Januari, para seniman residensi ZK/U melakukan beberapa kali diskusi, sehubungan dengan konsep besar yang bertepatan dengan Transmediale 2020, rangkaian festival seni dan budaya digital. Tahun itu mengangkat tema “network”. Para seniman residensi sepakat menerjemahkan “network” sebagai hubungan-jejaring, entah itu hubungan antar manusia, manusia dan memorinya, manusia dan benda, dan lainnya.

Selama proses berkarya, saya menggunakan flaneur sebagai metoda berkarya. Saya menelusuri pedestrian di sekitaran Moabit dan beberapa sudut kota Berlin untuk meriset keberadaan obyek-obyek bekas pakai yang ditinggalkan. Beberapa obyek yang saya temukan kemudian saya bubuhi dengan teks kata kerja lampau yang berelasi dengan setiap obyek. Persentase keberadaan obyek yang dianggap obsolet di area publik lebih besar di area yang berdekatan atau berada di daerah pemukiman warga, sedangkan di luar itu yang ditemukan hanya sisa-sisa konsumsi produk-produk harian seperti residu pangan dan sejenisnya.

Budaya menumpuk benda obsolet seolah lumrah di kota itu. Padahal menurut kabar dari masyarakat setempat sebetulnya ada regulasi dari pemerintah yang mengatur tentang hal ini. Masyarakat yang ingin membuang benda bekas pakai seharusnya menghubungi dinas kebersihan setempat untuk mengadakan kesepakatan waktu dan biaya angkut yang harus mereka tanggung. Tapi lebih banyak dari mereka abai karena menghindari tanggungan biaya. Mereka membiarkannya sampai kurang lebih dua minggu sampai ada pihak yang bertugas mengambilnya atau menjadi target vandal masyarakat urban lainnya.

Kegiatan program residensi di ZK/U selain OPENHAUS adalah presentasi mingguan, kunjungan kurator, seniman, ahli dan open studio. Presentasi mingguan diadakan tiap senin, dengan menghadirkan dua seniman residensi sebagai pemateri presentasi. Materi presentasi tidak dibatasi pada satu tema atau bahasan. Pemateri dapat memaparkan karya-karya sebelumnya, proyek yang sedang dilakukan, membedah karya, atau bahkan melakukan performans.

Di sela-sela program residensi saya pun mengunjungi beberapa museum, pameran, presentasi, performans, dan studio visit. Di antaranya adalah Hamburger Bahnhof – Museum für Gegenwart, ACUD Macht Neu, CTM Festival 2020, KW Institute for Contemporary Art, Haus der Kulturen der Welt, Transmediale 2020, DDR museum, MMK museum of modern art Frankfurt, Ambiente 2020 dan lain sebagainya. Sembari melakukan kunjungan ke tempat tersebut saya lebih banyak berjalan kaki dengan tujuan sekaligus mengamati kondisi keberadaan benda-benda yang ditinggalkan di area publik.

Kunjungan ke beberapa tempat tersebut membuka cakrawala baru bagi saya baik dalam hal kemutakhiran bentuk kekaryaan yang memanfaatkan kemajuan teknologi atau mengapresiasi karya-karya seniman idola seperti Joseph Beuys atau Robert Rauschenberg secara langsung. Saya juga berjejaring dengan seniman-seniman yang berkarya di Berlin atau seniman Indonesia yang berkarya di Berlin.

 

Shopping Basket

Berlangganan Newsletter