Catatan Pinggir yang Menjelma dalam “Teks, Gambar, Kitab”

Pameran Teks, Gambar, Kitab. Foto: Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara Arts Center.

Selama lebih dari lima puluh tahun, publik mengenal Goenawan Mohamad (GM) sebagai penyair, esais, dan penulis Catatan Pinggir. Melalui rubrik yang terbit sejak 1977, GM membangun sebuah cara berpikir yang khas, ia berangkat dari peristiwa kecil, tokoh sejarah, mitologi, karya sastra, atau fragmen pengalaman sehari-hari untuk memasuki pertanyaan-pertanyaan yang lebih besar tentang manusia, kekuasaan, ingatan, dan waktu. Alih-alih menawarkan jawaban yang tuntas, Catatan Pinggir justru merawat keraguan dan membuka kemungkinan-kemungkinan tafsir. Pameran Teks, Gambar, Kitab yang diselenggarakan di Galeri Salihara dapat dibaca sebagai perpanjangan dari proyek intelektual yang selama ini dijalankan GM melalui tulisan. Jika Catatan Pinggir merupakan arsip verbal dari perjalanan gagasan dan kegelisahannya, maka karya-karya yang dipamerkan dalam Teks, Gambar, Kitab dapat dipandang sebagai arsip visual dari perjalanan yang sama.

Pembacaan ini menjadi menarik karena hubungan antara tulisan dan gambar dalam karya GM bukanlah hubungan ilustratif. Gambar tidak hadir untuk menjelaskan teks, sebagaimana teks tidak bertugas menerangkan gambar. Keduanya berdiri berdampingan dalam ruang yang sama, saling berdekatan tetapi tetap menjaga jarak. Relasi semacam ini mengingatkan kita pada struktur Catatan Pinggir. Dalam banyak tulisannya, GM sering mempertemukan berbagai tokoh, peristiwa, dan gagasan tanpa harus mengikat semuanya ke dalam kesimpulan yang tunggal sekaligus memunculkan ruang kontemplasi yang terbuka.

Baca juga: Tentang Kitab dalam Teks, Gambar, Kitab

Cara kerja tersebut tampak jelas dalam seri Kitab Kurawa. Tokoh-tokoh Mahabharata yang hadir dalam karya-karya ini tidak tampil sebagai figur heroik yang utuh. Mereka hadir dalam bentuk yang terdistorsi, rapuh, bahkan kadang menyerupai sketsa yang belum selesai. Karna, Gandari, dan para Kurawa tidak diperlakukan sebagai tokoh pewayangan yang sudah memiliki makna baku. Mereka hadir sebagai figur yang terus dipertanyakan.

Kitab Kurawa karya Goenawan Mohamad.
Foto oleh Witjak Widhi Cahya.

Pilihan ini mengingatkan pada bagaimana GM memperlakukan tokoh-tokoh sejarah dan mitologi dalam Catatan Pinggir. Tokoh-tokoh tersebut bukan contoh moral yang siap digunakan untuk menjelaskan dunia. Mereka adalah pintu masuk untuk memikirkan ulang berbagai persoalan manusia. Karna bukan sekadar lambang kesetiaan, sebagaimana Gandari bukan hanya simbol pengorbanan. GM mereka menjadi figur yang menyimpan kontradiksi dan ambiguitas.

Baca juga: Goenawan Mohamad dalam Pameran Teks, Gambar, Kitab

Kecenderungan serupa terlihat dalam Kitab Hantu. Dalam kebudayaan populer, hantu sering dipahami sebagai makhluk yang menakutkan atau hadir untuk menegaskan batas antara dunia hidup dan dunia mati. Namun hantu-hantu GM justru tampil sebagai sosok yang ganjil, kadang lucu, kadang melankolis. Mereka lebih menyerupai jejak yang tertinggal daripada ancaman yang datang dari luar.

Seri Kita Hantu karya Goenawan Mohamad.
Foto oleh Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara.

Jika dibaca melalui kacamata Catatan Pinggir, hantu-hantu ini dapat dipahami sebagai metafora ingatan. GM kerap kembali kepada tokoh, gagasan, dan peristiwa dari masa lalu yang dimunculkan kembali untuk diajak berdialog dengan masa kini. Masa lalu, dalam pandangan GM, tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus hadir dalam bentuk bayangan, serpihan, dan gema yang menghantui kehidupan sekarang. Hantu dalam karya-karyanya tidak hanya berbicara tentang kematian, mereka juga bicara tentang ingatan yang menolak hilang.

Hubungan antara gambar dan Catatan Pinggir juga tampak dalam Kitab Hewan. Hewan-hewan yang muncul dalam karya-karya ini tidak dimaksudkan sebagai representasi dunia fauna. Mereka lebih dekat kepada metafora atau alegori. Akan tetapi, berbeda dari tradisi fabel yang cenderung memberikan pesan moral yang jelas, hewan-hewan milik GM justru mempertahankan ketakterbacaannya. Seekor burung, badak, atau kucing tidak sedang mewakili satu sifat tertentu. Mereka tetap menyimpan ruang gelap yang tidak seluruhnya dapat dipahami.

Seri Kitab Hewan karya Goenawan Mohamad.
Foto oleh Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara.

Di sinilah letak kedekatannya dengan Catatan Pinggir. Sebagaimana tulisan-tulisannya yang selalu menghindari kesimpulan yang terlalu cepat, gambar-gambar tersebut juga menolak menjadi simbol yang sepenuhnya transparan. Pembaca atau pengunjung pameran dipersilakan memasuki kemungkinan makna yang beragam tanpa diarahkan menuju satu penafsiran yang dianggap paling benar.

Hal yang mungkin paling menarik muncul dalam seri terbaru, Kitab Badut. Figur badut memiliki posisi yang unik dalam sejarah kebudayaan. Ia adalah sosok yang lucu sekaligus menyedihkan, penghibur yang sering menyimpan luka, tokoh pinggiran yang justru mampu mengungkapkan kebenaran yang tidak dapat diucapkan orang lain. Dalam tradisi pewayangan Jawa, kita mengenal punakawan. Dalam tradisi Eropa, ada pelawak istana yang diperbolehkan mengkritik raja. Badut selalu hidup di antara tawa dan tragedi.

Seri Kitab Badut Goenawan Mohamad.
Foto oleh Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara.

Badut-badut ciptaan GM tampaknya bergerak di wilayah yang sama. Wajah-wajah mereka yang karikatural tidak sekadar menghadirkan humor. Mereka juga memantulkan ironi kehidupan sosial dan politik. Di tengah dunia yang dipenuhi pertunjukan, pencitraan, dan berbagai topeng identitas, badut menjadi metafora yang tepat untuk menggambarkan manusia modern. Sebagaimana banyak Catatan Pinggir yang memandang politik melalui ironi dan paradoks, figur-figur badut ini memperlihatkan bahwa yang tragis sering kali tampil dalam bentuk yang lucu.

Pameran Teks, Gambar, Kitab memperlihatkan bagaimana cara berpikir yang selama puluhan tahun hadir dalam bentuk tulisan menemukan medium lain untuk bekerja. Garis, warna, figur, dan fragmen teks menjadi sarana untuk mengajukan pertanyaan yang sama tentang manusia, sejarah, ingatan, dan kekuasaan. Jika Catatan Pinggir dapat dipandang sebagai laboratorium pemikiran Goenawan Mohamad dalam bahasa, maka Teks, Gambar, Kitab adalah laboratorium yang sama dalam bentuk visual. Keduanya lahir dari sumber yang serupa, dari rasa ingin tahu yang tidak pernah selesai, ketidakpercayaan terhadap makna yang final, dan keyakinan bahwa dunia selalu lebih luas daripada apa yang dapat dijelaskan oleh satu cerita, satu konsep, atau satu gambar.

Pameran Teks, Gambar, Kitab masih dapat dikunjungi hingga 28 Juni 2026 di Galeri Salihara. 

Mari menjadi bagian dari Sahabat Salihara! Bergabung di saluran resmi Salihara Arts Center.

Dapatkan berbagai kabar terbaru seputar program mulai dari pertunjukan, pameran, kelas, diskusi, hingga festival yang akan datang.