Sastra sebagai Peta Pemikiran Bangsa

Lokakarya Peta Sastra Kebangsaan pada 30 Oktober hingga 1 November 2026. Melibatkan 22 guru SMA dari wilayah Jakarta Raya,

Komunitas Salihara Arts Center kembali menyelenggarakan Lokakarya Peta Sastra Kebangsaan pada 30 Oktober hingga 1 November 2026. Melibatkan 22 guru SMA dari wilayah Jakarta Raya, lokakarya ini bertujuan memperkenalkan metode pengajaran sastra Indonesia yang lebih terbuka, fleksibel, dan melibatkan partisipasi aktif murid. Program ini didukung oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Peta Sastra Kebangsaan merupakan program yang diinisiasi Komunitas Salihara sejak 2017. Peta Sastra Kebangsaan 2026 adalah tahun kedua melibatkan para guru-guru secara langsung, lokakarya sebelumnya berlangsung pada 2024. Program ini berangkat dari pemikiran bahwa pengenalan sastra dan pemikiran Indonesia kepada pelajar merupakan bagian penting dalam membangun tradisi intelektual bangsa. Melalui metode ini, sastra Indonesia diperkenalkan tidak semata-mata berdasarkan urutan waktu atau periodisasi, melainkan melalui kata-kata kunci yang membuka hubungan antara karya, tema, dan gagasan.

Peta yang dimaksud bukanlah peta geografis, tapi peta logis-naratif atau mind map. Metode ini memungkinkan guru dan murid mengembangkan tafsir serta menyusun hubungan antarkarya secara lebih luwes, sesuai konteks pembelajaran dan pengetahuan murid. Dengan demikian, sastra tidak hanya menjadi materi yang dipelajari, tetapi juga ruang untuk membangun pemahaman dan pemikiran.

Kali ini, sekolah dari Jakarta Raya termasuk Kepulauan Seribu turut hadir dalam proses lokakarya. Sekolah tersebut antara lain, SMAN 28 Jakarta, INISS (Intelligentsia Nurul Ilmi Integrated Islamic School), MAN 10 Jakarta Barat, SMA Notre Dame Jakarta Barat, SMKN 37, SMA Gonzaga, SMA Tarakanita Gading Serpong, Binus School Serpong, SMK Bintang Nusantara Binusa, Sekolah Murid Merdeka–Pajajaran Bogor, SMA Global Mandiri Jakarta Timur, SMAS Al-Khairiyah, SMAN 69 Kepulauan Seribu, SMA Yakobus Jakarta Utara, Nizamia High School, SMA Santa Ursula Jakarta Pusat, MAN 3 Jakarta, SMAN 4 Depok, dan SMA Marsudirini Matraman Jakarta Timur. 

Lokakarya Peta Sastra juga menghadirkan fasilitator Christina M. Udiani, Debra Yatim, Halida Bunga Fisandra, Udiarti, dan Willy Fahmy Agiska. Menghadirkan pemateri Ayu Utami, Debra Yatim, Nirwan Dewanto, dan Zen Hae yang dimoderatori oleh Areispine Dymussaga Miraviori dan Wahyu Novianto. Nama-nama tersebut adalah orang-orang yang aktif dalam kerja-kerja seni, sastra, pemikiran, dan gagasan. 

Berbagi Pengalaman dan Mengembangkan Peta Sastra

Selama tiga hari, para peserta mengikuti rangkaian sesi pengenalan metode, berbagi pengalaman, serta latihan menyusun peta sastra. Lokakarya dibuka dengan pengenalan metode Peta Sastra Kebangsaan oleh Ayu Utami, dilanjutkan dengan pengenalan strategi lokakarya melalui permainan “Sidang Penyusunan Diplomasi Budaya”.

Pada hari kedua, peserta mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman dan membicarakan persoalan yang mereka hadapi dalam pengajaran sastra di sekolah. Sesi berbagi bersama Debra Yatim, Nirwan Dewanto, dan Zen Hae membuka ruang bagi para guru untuk memperluas perspektif tentang perkembangan seorang sastrawan, pengalaman membaca dan menulis, serta cara menginspirasi murid melalui sastra.

Pengalaman para guru menjadi bagian penting dalam lokakarya ini. Dengan latar sekolah dan lingkungan pembelajaran yang beragam, peserta dapat saling bertukar pandangan mengenai tantangan memperkenalkan sastra kepada murid. Diskusi tersebut juga menjadi pijakan untuk mengembangkan metode pengajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan masing-masing sekolah.

Selanjutnya, peserta berlatih mengembangkan peta sastra, menyusun narasi, dan memilih contoh teks melalui metode “Sidang Penyusunan Diplomasi Budaya”. Dalam proses ini, guru tidak hanya mempelajari metode, tetapi juga mencoba merancang materi yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar-mengajar. Menariknya, guru-guru ditantang untuk mengimajinasikan membuat narasi atau rancangan yang akan disampaikan seorang murid untuk diplomasi budaya membicarakan pemikiran Indonesia melalui Sastra Indonesia. 

Pada hari terakhir, setiap kelompok mempresentasikan hasil pengembangan Peta Sastra Kebangsaan. Presentasi ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk saling melihat kemungkinan hubungan antarkarya, tema, dan gagasan dalam sastra Indonesia. Rangkaian kegiatan ditutup dengan evaluasi dan refleksi atas proses lokakarya.

Melalui Lokakarya Peta Sastra Kebangsaan, Komunitas Salihara berharap para guru dapat mengembangkan cara pengajaran sastra yang lebih partisipatif dan kontekstual. Guru menjadi penghubung penting dalam memperkenalkan khazanah sastra Indonesia kepada murid, sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya pemahaman terhadap sastra sebagai bagian dari tradisi intelektual bangsa.

Mari menjadi bagian dari Sahabat Salihara! Bergabung di saluran resmi Salihara Arts Center.

Dapatkan berbagai kabar terbaru seputar program mulai dari pertunjukan, pameran, kelas, diskusi, hingga festival yang akan datang.

Komunitas Salihara membuka kesempatan seluas-luasnya kepada sutradara, koreografer, komposer, kelompok tari, musik, dan teater di seluruh Indonesia untuk menjadi penampil Musim Seni Salihara 2027.