Figur: Tubuh yang Tak Pernah Selesai

Pameran Figur, Galeri Salihara

Dengan pencahayaan yang sedikit temaram, kita tetap bisa melihat bentuk-bentuk figur dalam rupa dan ukuran yang beragam. Bahkan kita bisa menyaksikan setiap detail material yang lintas di atas figur-figur itu. Pameran Figur membawa kita bertamasya bentuk melalui 12 seniman yang menorehkan gagasannya di atas fiberglass, aluminium, kayu, batu, resin, perunggu, kawat baja, tembaga, keramik dan membentuknya menjadi patung.

Sekitar tujuh dekade lalu, patung figur di Indonesia pernah berdiri di ruang terbuka halaman depan kantor DPRD Yogyakarta. Karya-karya para pematung yang tergabung dalam Sanggar Pelukis Rakyat dibuat dari batu andesit dengan semangat kerakyatan dan kebangsaan. Teknik pahat dipelajari secara otodidak; bahkan ada kisah bahwa keterampilan itu diperoleh dari para pembuat batu nisan. Di antara karya-karya tersebut, figur Jenderal Sudirman berdiri hampir dua kali ukuran manusia biasa, muncul dengan rupa tubuh yang tampak ringkih, tetapi memancarkan daya hidup dan semangat perjuangan.

Tubuh dalam seni patung Indonesia telah menempuh perjalanan yang panjang. Batu dan kayu tidak ditinggalkan, tapi kini mereka berbagi ruang dengan logam, serat gelas, resin, keramik, hingga teknologi cetak tiga dimensi. Meski material berubah dan teknik berkembang, tapi pertanyaan tentang figur tetap berdengung. Pertanyaannya bukan lagi seberapa tepat sebuah patung menyerupai manusia? Namun kini menjadi apa yang dapat dikatakan oleh sebuah tubuh ketika ia tidak lagi harus menyerupai tubuh? 

Pameran ini mempertemukan dua belas pematung dari lintas generasi. Mereka datang dengan sejarah, pendidikan, pengalaman, dan cara kerja yang berbeda. Mereka dipertemukan pada satu titik, yaitu perihal figur sebagai pangkal keberangkatan. Dari sana, masing-masing bergerak menuju arah yang berbeda. Ada yang mempertahankan bentuk manusia sebagaimana ia dikenali. Ada yang membengkokkannya. Ada yang membiarkannya mengambang. Ada yang menjadikannya simbol. Ada pula yang menjadikan tubuh sebagai material itu sendiri.

Pada karya Sidharta, figur menjadi ruang pertemuan antara tubuh dan sesuatu yang melampauinya. Dalam praktiknya, ia bergerak dari abstraksi, eksperimen, mekanika, hingga karya kinetik. Namun figur tetap menjadi salah satu bahasa pentingnya. Patung salib karyanya memperlihatkan bagaimana satu bentuk dapat terus berubah ketika berhadapan dengan waktu, pengalaman, dan tafsir. Pada Nyoman Nuarta, figur mengambil jalan menuju ruang yang lebih luas. Ia mempertahankan pilihan terhadap figur ketika kecenderungan abstrak menguat dalam lingkungan pendidikannya. Tubuh kemudian tumbuh menjadi monumental, keluar dari ruang galeri, dan mengambil tempat di ruang publik. Tubuh tidak lagi hanya dilihat, ia menjadi bagian dari lanskap tempat manusia bergerak dan hidup.

“Untitled” karya Gregorius Sidharta
Foto oleh Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara.

Sementara itu, tubuh dalam karya Dolorosa Sinaga seolah datang dari tempat yang berbeda. Ringkih, kurus, hampir tak berdaya, tapi dengan kepalan tangan yang menyimpan ketegangan. Tubuh perempuan dalam karya-karyanya tidak sekadar anatomi, ia adalah tubuh yang mengalami dunia, tubuh yang berhadapan dengan ketidakadilan, protes sosial, dan persoalan perempuan di ruang publik. Pada Yani Mariani Sastranegara, tubuh justru seperti hendak melepaskan beratnya sendiri. Ia berputar, melayang, mengambang, dan seperti akan terbang. Tubuh masih dapat dikenali, tapi detail realis tidak menjadi tujuan. Yang dicari adalah gerak, keluwesan, dan kesan kehidupan yang tersimpan dalam struktur.

“Untitled” karya Dolorosa Sinaga
Foto oleh Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara.

Generasi berikutnya membawa figur ke wilayah yang semakin beragam. Koko Sondaka, Bambang Winaryo, Dunadi, dan Purjito memperlihatkan kesinambungan antara tubuh manusia, keterampilan teknis, dan pengalaman mengerjakan patung monumental. Pada Abdi Setiawan, tubuh membawa kita ke kehidupan subkultur perkotaan dan masyarakat pinggiran. Kayu dipahat, diberi warna, lalu menjadi semacam catatan tentang kehidupan yang bertahan di antara kepadatan kota. Adi Gunawan memilih tubuh-tubuh tambun dan humor sebagai cara lain untuk melihat manusia.

Tubuh semakin dekat dengan dirinya sendiri.

Alfiah Rahdini tidak membuat model untuk kemudian menciptakan figur. Ia menjadikan tubuhnya sendiri sebagai medium. Tubuh sebagai bentuk positif yang menghasilkan cetakan negatif. Proses tersebut membawa seni patung menuju wilayah pascapatung, sekaligus membuka kemungkinan bahwa proses pencetakan tubuh dapat menjadi sebuah peristiwa performatif. Dzikra Afifah, di sisi lain, kembali pada tanah liat, material yang dekat dengan gagasan tentang awal dan akhir kehidupan. Figur dibakar dalam bagian-bagian, kemudian disusun kembali menjadi instalasi. Tubuh tidak lagi hadir sebagai sesuatu yang utuh. Ia menjadi pecahan yang menemukan kemungkinan keutuhannya sendiri dalam susunan baru.

“Caught in Matter” karya Dzikra Afifah
Foto oleh Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara.

Barangkali di situlah salah satu hal penting yang dapat kita lihat dalam Figur, bahwa tubuh selalu berada dalam keadaan menjadi dan tidak ada bentuk yang benar-benar selesai. Bahkan patung yang telah selesai dipahat masih membawa jejak dari proses panjang yang mendahuluinya, percobaan, kesalahan, pengulangan, perubahan material, dan keputusan-keputusan kecil yang diambil tangan seorang pematung. Sebagian besar proses itu tidak terlihat ketika karya telah berdiri di ruang pamer. Yang tampak hanyalah bentuk akhirnya. Namun di balik bentuk tersebut tersimpan perjalanan menuju bentuk pengetahuan yang ditemukan melalui kerja berulang terhadap material.

Maka figur dalam pameran ini tidak hanya berbicara tentang tubuh manusia. Ia berbicara tentang cara manusia memandang dirinya sendiri. Tubuh dapat menjadi ingatan. Ia dapat menjadi sejarah. Ia dapat menjadi doa, perlawanan, humor, gerak, atau kesunyian. Ia dapat berdiri tegak, duduk, membungkuk, mengambang, terpotong, atau kehilangan wajahnya. Ia dapat berubah menjadi monumen, menjadi benda kecil, menjadi jejak tubuh, atau menjadi pecahan tanah liat. Namun dalam semua kemungkinan itu, sesuatu tetap bertahan, yaitu dorongan untuk kembali kepada figur, kepada tubuh sebagai titik mula untuk memahami sesuatu yang lebih luas daripada tubuh itu sendiri.

Tujuh dekade setelah tubuh-tubuh batu berdiri di ruang terbuka Yogyakarta, figur kembali hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran. Kali ini ia membawa lebih banyak kemungkinan pada pertanyaan yang sama tentang apa yang sebenarnya kita lihat ketika kita melihat tubuh? Di antara kayu, batu, logam, resin, keramik, dan jejak tubuh, Figur mengajak kita berhenti sejenak pada pertanyaan itu dan memikirkannya pada sela-sela melihat detail-detail material yang terpahat menjadi bentuk-bentuk tubuh. 

Pameran Figur masih bisa dikunjungi hingga 22 November di Galeri Salihara. 

Mari menjadi bagian dari Sahabat Salihara! Bergabung di saluran resmi Salihara Arts Center.

Dapatkan berbagai kabar terbaru seputar program mulai dari pertunjukan, pameran, kelas, diskusi, hingga festival yang akan datang.

Komunitas Salihara membuka kesempatan seluas-luasnya kepada sutradara, koreografer, komposer, kelompok tari, musik, dan teater di seluruh Indonesia untuk menjadi penampil Musim Seni Salihara 2027.