Orfeus dan Hasrat Manusia untuk Mengembalikan yang Telah Pergi

Pertunjukan Orfeus karya Melati Suryodarmo berdasarkan sajak karya Goenawan Mohamad

Catatan pendek pertunjukan Orfeus karya Melati Suryodarmo berdasarkan sajak karya Goenawan Mohamad yang dipentaskan pada 01-02 Agustus 2026. 

Dan peron terbujur. Dan loko tak bergerak. Bangku, jam, 
tiang lampu, seakan hanya tableau. Pintu gerbong tetap 
tertutup. Tangga tetap mengidap debu dan tak ia lihat 
jejak.

Setelah sajak tersebut dinarasikan oleh aktor, kemudian muncul tubuh-tubuh membawa serpihan hal-hal yang tak terlihat meski ratusan kali Orfeus mencarinya, mencari Euridice. Dalam momen ini, Melati Suryodarmo seolah menyembunyikan masa lalu yang menjadi harapan bagi Orfeus, kemudian dimunculkan dari tubuh, bunyi, gerak, dan benda-benda yang mengisi panggung. Pertunjukan ini tidak membawa penonton secara buru-buru untuk segera menemui nasib Euridice, ia justru mengajak kita lebih lama merasakan pergerakan waktu melalui pengulangan, penantian, dan sesuatu yang terus-menerus hendak dicapai tapi selalu luput. Dalam pengulangan tersebut, justru penonton tidak dibawa kepada titik bosan, sebab pelan-pelan kita dibawa bercermin melihat gambaran-gambaran masa lalu yang barangkali diilusikan dalam kepala masing-masing penonton, masa lalu yang terus-menerus dikejar karena keindahannya. 

Orfeus adalah salah satu kisah paling tua yang menuturkan perihal kehilangan. Dalam mitologi Yunani, Orfeus turun ke dunia orang mati untuk menjemput Euridice—istri yang belum genap melalui malam pertama dengan Orfeus—yang keburu dibawa maut. Orfeus diberi syarat, ia tidak boleh sama sekali menengok ke belakang untuk melihat bayangan Euridice, jika ia menoleh, maka kekasihnya tak akan kembali. Syarat yang nampak sederhana itu, rupanya tak bisa diikuti oleh kekasih yang kasmaran, sebab tepat sebelum menuju pintu keluar, Orfeus berbalik, dan seperti sajak yang ditulis Goenawan Mohamad: Orfeus, aku tak akan kembali. Euridice pun lenyap untuk selamanya. 

Kisah ini terdengar sederhana, namun menyimpan paradoks tentang sifat manusia, tentang keinginan pada sesuatu yang telah berlalu untuk kembali menjadi kenyataan. Kita ingin mengembalikan orang yang telah pergi, masa yang telah selesai, tubuh yang telah berubah, atau suatu keadaan yang pernah membuat kita merasa utuh. Sayangnya masa lalu tidak pernah benar-benar dapat dibawa kembali. Yang dapat kita lakukan hanyalah terus mengingatnya, membayangkannya, dan mengejarnya. 

Di titik inilah Orfeus terasa seperti kisah pewayangan. Bukan karena ia secara langsung mengadaptasi dunia pewayangan, tapi karena tokoh dan peristiwa di dalamnya seperti membawa kehidupan manusia pada wilayah simbolik. Tubuh manusia tidak semata-mata menjadi tubuh seorang individu, ia menjadi wadah bagi sesuatu yang lebih besar, wadah bagi kehilangan, hasrat, ingatan, dan keterikatan manusia pada sesuatu yang sudah tidak ada. 

Manusia dalam Orfeus adalah manusia yang menoleh. Ia adalah manusia yang terus melihat ke belakang, kepada sesuatu yang dianggap lebih indah, lebih lengkap, atau lebih bermakna daripada apa yang sedang dihadapinya. Masa lalu menjadi semacam bayangan yang terus dipanggil. Ia tidak hadir sebagai kenyataan, tapi sebagai ilusi yang justru karena tidak mungkin diraih membuat manusia terus mengejarnya. Karena itu, masa lalu dalam pertunjukan ini bukan sekadar waktu yang telah lewat. Ia menjadi ruang imajinasi. Ruang yang terus kita bangun di dalam kepala, meskipun kita tahu bahwa kita tidak mungkin benar-benar kembali ke sana.

Tubuh yang Menanggung Kerentanan

Sebagai koreografer, Melati Suryodarmo tidak secara verbal menunjukkan gagasan tentang sisi kerentanan yang selalu dibawa tubuh manusia. Ia menunjukkannya melalui tubuh-tubuh penari yang bergerak dengan pelan. Gerakan-gerakan yang mengingatkan pada dasar-dasar butoh: tubuh yang berat, rentan, dan sadar terhadap setiap perubahan kecil. Pada beberapa bagian, kualitas geraknya juga terasa seperti tari bedaya yang membawa bentuk-bentuk sumeleh, ketenangan, ketertiban, dan kesadaran terhadap ruang yang dibangun melalui gerak yang terukur. Jika kita amati lagi, gerak-gerak pelan ini tidak hanya menunjukkan estetika gerak yang elastis, ia juga menunjukkan tawaran bagaimana memperlakukan waktu. 

Dalam kehidupan sehari-hari, waktu adalah hal yang selalu harus dikejar. Kita bergerak agar lekas sampai tujuan bahkan mengejar waktu untuk segera menyelesaikan pekerjaan. Orfeus seperti membalik logika tersebut, bahwa gerak yang lambat membuat waktu terasa sebagai sesuatu yang dapat dihuni. Tubuh penari dihadirkan pelan untuk tidak hanya bergerak di dalam ruang, tapi ia juga seperti sedang membentuk ruangnya sendiri. Ruang tersebut juga dibentuk oleh musik yang diolah dan dihadirkan oleh komposer Sri Hanuraga. Bunyi tidak sekadar menjadi latar bagi koreografi, tapi turut menentukan bagaimana penonton mengalami keluasan dan kedalaman panggung. Musik memberi kemungkinan bagi ruang untuk muncul secara perlahan, sementara gerak tubuh memperpanjang pengalaman temporalnya. Ruang dan waktu akhirnya tidak berdiri sebagai dua unsur yang terpisah, keduanya bertemu melalui tubuh. Di dalam kelambanan itu, kerentanan manusia menjadi terlihat. Tubuh yang bergerak perlahan adalah tubuh yang tidak dapat bersembunyi di balik kecepatan. Itulah kenapa setiap perubahan posisi dan adegan dalam pertunjukan Orfeus ini justru menjadi sebuah peristiwa.  

Kereta, Dusun, dan Hal Fana

Jika masa lalu adalah sesuatu yang selalu hendak dikejar, maka kereta menjadi salah satu citra penting untuk memahami pertunjukan ini. Kereta membawa gagasan tentang perjalanan, keberangkatan, perpindahan, sekaligus sesuatu yang terus bergerak meninggalkan kita. Kereta datang, membawa kemungkinan, lalu pergi. Kita dapat menunggu kereta berikutnya, tapi kita tidak dapat membuat kereta yang telah berlalu kembali ke stasiun yang sama. Dalam citra tersebut, kefanaan menjadi sesuatu yang konkret. Apa yang telah pergi tidak sekadar berada jauh, ia telah menjadi bagian dari waktu yang tidak dapat diputar kembali. Maka keinginan Orfeus untuk membawa Euridice kembali pada akhirnya merupakan bentuk harapan yang mustahil. Ia bukan hanya gagal karena menoleh. Bahkan sebelum ia menoleh, keinginannya sudah berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yaitu hukum kefanaan. Tragisnya, pertunjukan ini mengingatkan kita tentang bagaimana manusia berusaha mengalahkan hal-hal yang fana itu dengan senjata berupa ingatan. Pada akhirnya sekeras apa pun melawannya, yang muncul kemudian hanyalah bayangan diri kita sendiri. 

Selain kereta, kita juga akan menemukan citra dusun dalam Orfeus versi puisi Goenawan Mohamad dan koreografer Melati Suryodarmo. Di halte dusun itu ia terdiam, demikianlah puisi yang diucapkan oleh aktor Rebecca Kezia. Dusun memberi makna tentang suatu kehilangan sebab ia cenderung berada pada pilihan ditinggalkan, lalu menjadi senyap, menjadi, hening, seolah segala benda berhenti bergerak. Citra ini diperkuat dengan hadirnya video karya sinematografer Anto Doso yang diputar di belakang sebagai latar. Kepulan asap tipis yang menguar di seluruh area stasiun sunyi suatu dusun, membawa kita pada ingatan tentang tempat yang sempat dihuni dan kemudian ditinggalkan. Dusun kemudian menjelma menjadi dunia bawah yang dilewati Orfeus untuk mencari kekasihnya. Barangkali kita selalu bisa kembali ke dusun itu, selayaknya Orfeus yang bisa kembali ke dunia bawah, namun tak pernah bisa membawa kembali segala hal yang sempat ada bersama kita sebelumnya. 

Salah satu bagian yang tidak kalah penting dari pertunjukan ini adalah bentuk performatif yang dilakukan oleh para penari, aktor, dan juga musisi. Dengan membawa baskom berisi air, mereka dengan pelan berjalan dan memilih titik-titik berhenti mereka. Meletakkan baskom itu pada lantai, menelungkupkan tubuh, dan pelan-pelan memasukkan wajah mereka ke dalam baskom berisi air. Satu per satu, wajah yang gelagapan itu muncul. Seolah terlukis duka, kesakitan, dan kehilangan yang dibenturkan pada kenyataan bahwa semua itu, harapan indah di masa lalu itu, tak akan pernah bisa kembali. Tak akan pernah bisa kita raih. 

Pertunjukan selesai, tapi sesuatu seperti tetap tertinggal.

Mungkin itulah paradoks Orfeus. Pertunjukan tentang sesuatu yang tidak dapat kembali yang justru meninggalkan jejak dan membuat kita ingin kembali kepadanya. Seperti masa lalu, ia telah selesai begitu kita mengalaminya. Yang tersisa hanyalah ingatan tentang tubuh yang bergerak pelan, musik yang membentuk ruang, bayangan yang berulang, kereta yang pergi, dan sebuah dunia yang pernah ada tapi kini ditinggalkan. Kita tidak dapat kembali dan anehnya kita tetap ingin menoleh. Barangkali karena manusia memang hidup di antara dua gerak yang bertentangan, berjalan menuju sesuatu yang belum diketahui dan terus mengejar sesuatu yang sudah tidak mungkin diraih. Di antara keduanya, tubuh bergerak dengan pelan. Dan untuk sesaat, kita percaya bahwa yang telah pergi masih mungkin menyusul.

Mari menjadi bagian dari Sahabat Salihara! Bergabung di saluran resmi Salihara Arts Center.

Dapatkan berbagai kabar terbaru seputar program mulai dari pertunjukan, pameran, kelas, diskusi, hingga festival yang akan datang.

mss-2027-1 copy

Komunitas Salihara membuka kesempatan seluas-luasnya kepada sutradara, koreografer, komposer, kelompok tari, musik, dan teater di seluruh Indonesia untuk menjadi penampil Musim Seni Salihara 2027.