blogfokus23

Silang Pengaruh Eropa-Nusantara dan Memperluas Tradisi di Sekolah

Catatan Pendek FOKUS! 2023 Sesi 1 dan Sesi 2

Komunitas Salihara menyelenggarakan kembali program seri diskusi FOKUS! dan mengusung tema besar “Musik Baru dan Warisan Nusantara”. Program ini dibagi dalam empat sesi dengan menghadirkan dua pembicara dan satu moderator pada tiap sesinya. Membicarakan perihal musik baru dan warisan Nusantara adalah upaya untuk melihat dan membedah kembali perkembangan musik baru Indonesia dalam perspektif kesejarahan. Selain itu, kita juga diajak untuk memaknai posisi karya-karya para komponis Indonesia yang mengeksplorasi musik baru dan warisan Nusantara. Empat sesi FOKUS! membagi pembahasan tentang gagasan dan karya komponis Indonesia dalam tajuk-tajuk berikut; Silang Pengaruh Eropa-Nusantara (Sesi 1), Memperluas Tradisi di Sekolah (Sesi 2), Jazz-Rock dan Godaan Kampung Halaman (Sesi 3), dan Musik Elektronik dan Suara yang Lain (Sesi 4). Tulisan ini hendak merangkum apa yang menjadi pembahasan pada sesi 1 dan sesi 2. 

 

Saling-Silang Eropa-Nusantara

Sesi 1 menghadirkan pembicara dua komponis muda, yaitu Gema Swaratyagita dan Matius Shanboone. Keduanya membahas perihal musik Eropa dan Nusantara yang saling bertaut dan bersilangan dieksplorasi oleh komponis Indonesia sejak abad 20. Tak hanya membahas bagaimana eksplorasi para komponis, sesi ini juga membedah bagaimana identitas bangsa, nasionalisme, serta pemikiran filsafat tertentu hadir dalam karya mereka. 

Dipandu Halida Bunga Fisandra (Dida) sebagai moderator, narasumber pertama yaitu Matius Shanboone (seorang komponis, konduktor orkestra dan dosen musik) memaparkan presentasinya. Dalam presentasinya “Musik Baru dan Warisan Nusantara: Kaitan dengan Musik Tradisi Eropa, Modernisme abad 20 dan Legasi Abad 21”, ia menyatakan bahwa hari ini kita harus berhati-hati dan menghindari pendefinisian sederhana dan pragmatis atau tidak mengkotak-kotakan musik baru Nusantara dan non-Nusantara berdasarkan aspek-aspek superfisial. Misalnya, penggunaan alat tradisi, penggunaan semangat nasionalisme semu, dan penggunaan atribut-atribut lokal sebagai pencapaian estetika. Salah satu upaya untuk menghindari pendefinisian tersebut adalah dengan menggali lebih jauh bentuk nyata dari musik baru di Indonesia dan nilai-nilai kebaharuan maupun keunikan karya-karya tersebut. 

Matius mengajak kita untuk mengidentifikasi “apa itu musik Nusantara” berdasarkan beberapa aspek, seperti geografis, sejarah, dan pengaruh luar (misalnya pengaruh penjajahan). Matius juga menyinggung tentang kebaharuan dalam konteks musik kontemporer Indonesia. Musik kontemporer di Indonesia memiliki keunikannya masing-masing karena telah mengalami proses kreativitas yang beragam dari para komponisnya. Dalam proses tersebut ada transformasi pengetahuan akan gaya musik tertentu menjadi sebuah karya yang personal. Matius menyebut nama-nama komponis Indonesia sebagai komponis pionir dengan gagasan karya yang terpengaruh budaya musik Barat, di antaranya Slamet Abdul Sjukur, Otto Sidharta, dan Tony Prabowo. Tak hanya sekadar terpengaruh, para komponis ini merefleksikan budaya Indonesia dari pengalaman dan ideologi estetika masing-masing komponis. Selain generasi ‘komponis pionir’, Matius juga menyebut dan menampilkan contoh karya-karya komponis generasi terkini, seperti Arham Aryadi, Nursalim Yadi, dan Irene Tanuwidjaya. 

Presentasi selanjutnya disampaikan oleh  Gema Swaratyagita (seorang komponis, musisi, dan pengajar musik), ia menyinggung persoalan tentang sejauh mana karya komponis Indonesia dianggap penting sebagai identitas musik Nusantara. Gema membedahnya melalui pendekatan genealogi komponis Indonesia yang berkaitan dengan penelusuran hubungan keturunan keluarga, lingkungan pendidikan, komunitas, jaringan kesenian komponis Indonesia, hingga warisan budaya leluhur. Kita patut mempertanyakan ulang narasi ‘warisan Nusantara adalah sebuah identitas negara’. 

 

Tradisi Tumbuh di Ruang Kelas

Kemunculan musik Baru di Indonesia tidak hanya muncul dari komponis yang berlatar pendidikan musik Eropa. Indonesia memiliki komponis musik Baru yang berlatar belakang pendidikan seni, misalnya dari Institute Seni Indonesia. Sesi 2 FOKUS! membahas tentang bagaimana musik tradisi tumbuh tidak hanya di panggung pertunjukan, namun juga tumbuh di ruang kelas, di sekolah, di ranah pendidikan seni. Musik tradisi inilah yang kemudian menjadi salah satu gagasan atau instrumen yang digunakan sebagai bahan menciptakan karya musik Baru oleh beberapa komponis Indonesia, di antaranya Rahayu Supanggah (1949-2020), Aloysius Suwardi, Dedek Wahyudi, Dewa Alit dan Iwan Gunawan.

Narasumber pertama dalam sesi ini adalah Rithaony Hutajulu (dosen musik dan pendiri kelompok musik Suarasama), memaparkan presentasi berjudul “Etnomusikologi, Karawitan, dan World Music di Indonesia: sumber Kreativitas Penciptaan Musik Baru Berbasis Nusantara”. Ritha menjelaskan tentang kemunculan studi Karawitan dan Etnomusikologi di Indonesia. Studi Karawitan muncul pada 1964 di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta, sedangkan studi Etnomusikologi muncul pada 1979 di Universitas Sumatera Utara. Dua studi musik inilah yang kemudian mencetak para mahasiswa dengan karya musik Baru yang berangkat dari khasanah musik tradisi Nusantara. 

Kedua studi musik tersebut kemudian memunculkan istilah yang biasa digunakan untuk menyebut musik tradisi dunia, yaitu world music. istilah ini sebetulnya sudah biasa digunakan dalam diskursus akademik etnomusikologi Barat untuk menyebutkan ragam musik dunia. Istilah tersebut pertama kali dicetuskan oleh Robert E. Brown (seorang etnomusikolog) pada awal 1960-an. Ritha juga menyebutkan kemunculan festival-festival musik berbasis musik Nusantara di Indonesia dari era 1990-an hingga kini, di antaranya Yogyakarta Gamelan Festival, dan Bali World Music Festival. Festival-festival tersebut tidak lepas dari keterlibatan komponis musik Baru Indonesia berlatar pendidikan seni tradisi Nusantara. 

Selain kemunculan karya-karya musik Baru yang berangkat dari khasanah musik tradisi Nusantara, muncul beberapa permasalahan dalam penciptaannya. Penggunaan atau pemanfaatan elemen musik tradisi Nusantara yang kurang mempertimbangkan aspek etika, seperti kurangnya memperhatikan konteks dari asal budaya musik yang dipakai. Pengembangan karya baru yang mengambil suatu repertoar tertentu dan sudah dikenal oleh masyarakat asalnya, penting pula memperhatikan isu permasalahan tentang Hak Cipta. Bagi Ritha butuh lebih luas dan mudah untuk generasi hari ini mengakses musik-musik Nusantara. 

Paparan Ritha dilengkapi oleh narasumber kedua, Iwan Gunawan (komposer dan dosen musik) dengan presentasi berjudul “Memperluas Musik Tradisi di Sekolah sebagai Proses Interaksi Budaya Secara Global”. Iwan menajamkan persoalan pentingnya musik tradisi harus diperluas di sekolah atau ranah pendidikan Indonesia. Bahwa pengetahuan terhadap musik tradisi sangat memiliki relevansi dengan tujuan pendidikan nasional. Musik tradisi Nusantara yang sangat beragam bisa menjadi modal atau inspirasi untuk berkreasi seni dalam mengisi peradaban budaya dunia. 

Iwan memberikan beberapa tawaran sebagai upaya memperluas musik tradisi Nusantara di sekolah. Di antaranya adalah dengan melakukan riset dalam kekayaan tersembunyi tentang aspek musikal pada musik tradisi Nusantara. Melakukan eksperimentasi musik yang bersumber dari musik tradisi Nusantara dan melakukan pengarsipan digital atau memanfaatkan teknologi terkini. 

 

Menggali Sejarah

Pembicaraan mengenai musik Eropa yang turut memengaruhi karya-karya komponis Indonesia juga memiliki kaitan dengan bagaimana kemudian musik tradisi Nusantara yang muncul melalui pendidikan seni justru memperkaya gagasan musik Baru di Indonesia. Pengetahuan tentang keberagaman gagasan, konsep, instrumen, hingga faktor-faktor budaya yang memengaruhi terciptanya musik Baru di Indonesia sangat penting untuk kita gali lebih luas lagi. Pun juga mengetahui permasalahan apa yang kemudian muncul dalam proses penciptaan maupun proses distribusi pengetahuan tersebut, menjadi hal yang tidak kalah penting sebagai upaya untuk menggali tawaran baru agar kesejarahan musik Baru di Indonesia tak hanya berhenti di tangan para pencipta, yaitu komponis. Dua sesi diskusi FOKUS!: Musik Baru dan Warisan Nusantara yang telah berjalan tersebut masih bisa disimak kembali melalui website Kelas.Salihara.org.

kartono-pers

Mengamati Harta Karun Sejarah Seni Rupa Indonesia dalam Pameran Kartono Yudhokusumo

Pameran: 10 Desember 2023 – 21 Januari 2024
Jam Buka: Selasa – Minggu | 11:00 – 19:00 WIB
Senin & Libur Nasional Tutup

 

Jakarta, 08 Desember 2023 – Menutup tahun 2023, Komunitas Salihara menyelenggarakan programpameran karya dan arsip dari salah satu tokoh seni rupa Indonesia; Kartono Yudhokusumo. Pameran ini menghadirkan kurator tamu Amir Sidharta, seorang kolektor, pengamat seni, penulis, dan juga pemilik dari rumah lelang ternama “Sidharta Auctioneer”. Pameran yangberlangsung dari 10 Desember 2023 – 21 Januari 2024 ini akan memperlihatkan beragam karya-karya drawing dari Kartono yang hampir tidak pernah diperlihatkan kepada publik, dan pameran kali ini menjadi kesempatan yang tepat untuk melihat harta karun sejarah seni rupa Indonesia.

 

Asikin Hasan, Kurator Galeri Salihara mengatakan bahwa Kartono Yudhokusumo merupakan tokoh penting yang gagasan artistiknya belum banyak dibicarakan. “Kartono Yudhokusumo adalah satu dari tokoh penting pelukis Indonesia yang gagasan artistiknya belum banyak dibicarakan. Ia mengembangkan gaya seni lukis dekoratif yang sangat khas. Kita dapat melihat jejak tradisi, sekaligus artikulasi modern dalam banyak lukisannya.” Melalui pameran ini kita tidak hanya melihat karyanya saja, namun juga dapat melihat perjalanan hidupnya melalui dokumentasi baik berupa gambar, lukisan, artefak, catatan, dan berita tentang dirinya yang dimuat di media massa.

 

Siapa Kartono Yudhokusumo?

Lahir di Lubuk Pakam, Sumatera Utara, pada 18 Desember 1924,  Kartono telah belajar melukis sejak usia belia. Sejak muda ia banyak berguru kepada pelukis-pelukis pemandangan ternama seperti Chiyoji Yazaki, S. Sudjojono, B.J.A. Rutgers dan W.F.M Bosschaert. . Kartono banyak melukis pemandangan, alam benda, bangunan, suasana revolusi, dan objek sehari-hari dengan berbagai medium seperti cat air, pastel, cat minyak, tinta cina, dan masih banyak lainnya.

Kemampuan melukis Kartono sudah diakui sejak usia muda. Terbukti dalam pemberitaan harian Jawa Nippo (sebuah harian Jepang) pada 13 Agustus 1934, pelukis Jepang; Chiyoji Yazaki mengakui bakat seorang laki-laki dari Jawa berusia kira-kira 10 tahun yang diharapkan akan memiliki masa depan yang baik. Karya-karyanya dari 1934 kemungkinan besar dibuat ketika Kartono muda sedang ikut dalam kegiatan Masyarakat Pelukis Pastel, yang beberapa kali keliling kota Batavia untuk melukis bersama di bawah bimbingan pelukis senior Yazaki sebagai ketua kelompok itu.

Di masa pendudukan Jepang, Kartono mendapat penghargaan dan kesempatan untuk berpameran. Menurut pemberitaan di harian Soeara Asia, 16 Oktober 1943, dalam pameran yang diselenggarakan 12 hingga 26 Oktober 1943 itu dipamerkan 43 karyanya yang dibuatnya selama 8 tahun.

Kartono Juga sempat menggambar tema-tema perjuangan dan revolusi saat masa kemerdekaan Indonesia. Objek prajurit baris-berbaris, berlatih, dan istirahat sering menjadi sumber inspirasi Kartono dalam melukis. Kartono menggambarkan aksi perjuangan dalam lukisan yang berjudul Penyerangan pada Pengok dan Wonosari, yang mengisahkan upaya perjuangan pejuang-pejuang Indonesia melawan Belanda yang kembali ingin menjajah tanah air.

Setelah pengakuan kedaulatan di 1949, Kartono pindah ke Bandung dan banyak melahirkan lukisan-lukisan pemandangan dari tempat-tempat yang ia kunjungi. Bahkan di Bandung, Kartono terus menggambar dan melukis pemandangan Bandung dan beragam tempat lain di Jawa Barat dengan mengendarai motor besarnya. Kartono meninggal di usia 33 tahun dan pameran ini akan mengajak kita untuk melihat kekaryaan hidupnya yang terbilang singkat serta mengapresiasi apa yang telah ia tinggalkan untuk sejarah seni rupa Indonesia.

Pameran Kartono Yudhokusumo: Karya dan Arsip mulai dibuka untuk umum dari 10 Desember 2023 – 21 Januari 2024 dengan jam buka Selasa-Minggu dari 11:00 – 19:00 WIB. Pengunjung bisa melakukan pemesanan tiket melalui tiket.salihara.org atau datang langsung dengan biaya masuk Rp35.000 (Umum) dan Rp25.000 (Pelajar).

Selain pameran, juga akan ada diskusi dengan tajuk Menilik Kartono Yudhokusumo yang akan diselenggarakan di Komunitas Salihara padaRabu, 13 Desember 2023 pukul 19:00 WIB. Diskusi ini akan menghadirkan Danuh Tyas Pradipta dan  Sally Texania yang merupakan kurator dan periset yang akan mencoba menggali dan melebarkan makna pada karya-karya Kartono dari segi-segi artistik, tematik, dan situasi yang melingkupinya di masa itu.

 

Tentang Komunitas Salihara Arts Center

Komunitas Salihara Arts Center adalah sebuah institusi kesenian dan kebudayaan yang selalu menampilkan kesenian terkini dari Indonesia dan dunia, baik yang bersifat pertunjukan maupun edukasi, dalam lingkungan kreatif dan sejuk di tengah keramaian selatan Jakarta.

___________________________________________________________________

Untuk mengetahui detail pertunjukan silakan kunjungi sosial media Komunitas Salihara: Twitter @salihara | Instagram @komunitas_salihara | atau hubungi: media@salihara.org

 

web banner-salihara jazz buzz 2024-1920x1080

BERITA ACARA PENJURIAN
UNDANGAN TERBUKA JAZZ BUZZ 2024

Pada hari Rabu, 22 November 2023, telah dilaksanakan Penjurian Jazz Buzz 2024 di Komunitas Salihara secara luring. Dewan Juri yang melakukan penilaian terhadap pendaftar Jazz Buzz 2024 adalah:

  1. Mery Kasiman
  2. Indra Perkasa
  3. Tony Prabowo

Berdasarkan hasil rapat Dewan Juri, musisi dan grup pendaftar yang terpilih untuk tampil dalam Jazz Buzz 2024 adalah sebagai berikut:

  1. A6 Ensemble dengan judul karya “Jasmine” dan “Pulang”;
  2. Borderline dengan judul karya “Jakarta City” dan “The Eye of Universe”; dan
  3. Riki Danni dengan judul karya “Freshman’s Overture” dan “Pirate’s Compass”.

Kelompok musik dan musisi pelamar Jazz Buzz 2024, terlihat merata baik dalam sisi teknis maupun gaya musiknya. Sebagian besar mereka memakai gaya fusion dan dengan berbagai gaya improvisasi yang cukup menarik. 

Dewan Juri memutuskan tiga grup terpilih yang karyanya mengutamakan unsur kebaharuan melalui konsep “lintas-batas”, sesuai dengan gagasan Jazz Buzz tahun ini. Ketiga grup terpilih ini memiliki komposisi musik dengan tema, gaya ritme, motif, serta warna yang dinamis dan memberi peluang yang menarik untuk eksplorasi lebih jauh dalam karya-karya selanjutnya. 

 

Jakarta, 30 November 2023

 

jb2023

Menilik Dinamika Sejarah dan Identitas Diri Bangsa Korea Selatan dalam Koreans Week di Salihara

Pameran: 18-26 November 2023 (11-19:00 WIB)
Pertunjukan: 18 November 2023, 20:00 WIB & 19 November 2023, 16:00 WIB

 

Jakarta, 10 November 2023 – Memperingati 50 tahun hubungan diplomatik antara Korea-Indonesia, Komunitas Salihara bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan menyelenggarakan rangkaian pameran dan pertunjukan dalam Koreans Week. Pekan kebudayaan ini akan berlangsung dari 18-26 November 2023 di Teater dan Galeri Salihara. Pengunjung bisa menikmati persembahan karya dari 12 seniman asal Korea Selatan termasuk pertunjukan tari yang akan dibawakan pada 18-19 November mendatang.

Berangkat dari dinamika sejarah bangsa Korea Selatan yang unik, emosional, dan penuh nilai historis, delapan kurator yang tergabung dalam sebuah kolektif seni yang berbasis di Seoul, WESS, Korea Selatan menghadirkan sebuah projek trilogi dengan tajuk “Natural Born Odds” yang khusus dibuat untuk para penyimak di Indonesia. 

Koreans Week menampilkan12 seniman/kolektif yang memperlihatkan bagaimana identitas visual Seoul–kota dengan penduduk terbanyak di Korea Selatan–menjelma dalam bentuk simbol, tontonan, dan bentuk tertentu. Dua belas seniman Korea Selatan tersebut adalah: Minhee Kim, Sungsil Ryu, Donghoon Rhee, Chorong An, Hyun Nahm, Choi Yongjoon, Don Sun Pil, Moony Perry, Youngzoo Im, Jeamin Cha, Yeoreum Jeong, dan Mu:p.

“Karya-karya (seniman kami) menampilkan bagaimana identitas visual Seoul menjelma simbol, bentuk, dan tontonan tertentu. Sebagian besar lahir pada 1980–1990-an, para seniman ini mencirikan Korea Selatan kontemporer, misalnya, melalui perpaduan antara tradisi dan realitas masa kini, keingintahuan terhadap media dan teknologi mutakhir, dan percepatan pembangunan infrastruktur perkotaan yang tak wajar.” Ujar WESS dalam keterangan tertulisnya.

Koreans Week menghadirkanpameran yang berlangsung selama sepekan penuh di Galeri Salihara dan Studio Musik Salihara. Selain pameran, rangkaian program ini akan menampilkanpertunjukan tari oleh Mu:p yang diselenggarakan pada 18-19 November 2023 di Teater Salihara dengan judul Further, Higher, Faster_A boring accelerating city; sebuah karya yang membicarakan gerak kinetik tubuh dan irisannya dengan jarak, kecepatan, dan permainan ruang yang akan mengisi Teater Salihara. Mu:p adalah kolektif seni dengan delapan tim yang disutradarai oleh Hyeongjun Cho dan Minsun Son yang merupakan koreografer dan arsitek. Karya ini dihadirkan atas ketertarikan mereka berdua terhadap ruang dan fenomena yang muncul ketika tubuh atau objek disusun dalam konteks spasial tertentu. Sebelumnya pertunjukan ini pernah dibawakan pada 2017 namun diperbarui kembali di 2023.

WESS sebagai kurator dalam acara ini ingin menghadirkan bagaimana Indonesia dan Korea–terutama Jakarta dan Seoul–menjadi titik referensi dan berharap bahwa kedua negara, dalam rangka merayakan 50 tahun hubungan diplomatiknya, dapat membina komunikasi melalui seni kontemporer.

Bagi pengunjung yang ingin menyaksikan langsung bagaimana karya dari para seniman muda Korea bisa langsung mendaftarkan diri di tiket.salihara.org. Baik pameran dan pertunjukan yang diselenggarakan gratis. Informasi mengenai jadwal pertunjukan dan jam buka pameran silakan kunjungi laman tiket atau media sosial resmi Komunitas Salihara.

 

Tentang Komunitas Salihara Arts Center

Komunitas Salihara Arts Center adalah sebuah institusi kesenian dan kebudayaan yang selalu menampilkan kesenian terkini dari Indonesia dan dunia, baik yang bersifat pertunjukan maupun edukasi, dalam lingkungan kreatif dan sejuk di tengah keramaian selatan Jakarta.

___________________________________________________________________ 

Untuk mengetahui detail pertunjukan silakan kunjungi sosial media Komunitas Salihara: Twitter @salihara | Instagram @komunitas_salihara | atau hubungi: media@salihara.org

videografer

Final Kompetisi Debat Sastra Tingkat SMA 2023:
Melihat Perspektif Kritis terhadap Sastra dari Kacamata Siswa SMA

Jakarta, 20 Oktober 2023– Setelah melalui proses seleksi yang panjang sejak Maret lalu, Komunitas Salihara telah menetapkan tiga kelompok dari 50+ pendaftar untuk mengikuti Final Kompetisi Debat Sastra Tingkat SMA 2023. Proses seleksi dilakukan pada 27 September lalu oleh tiga dewan juri yakni; Ari Bagus Panuntun, Areispine Dymussaga Sevilla Miraviori, dan Ari Bagus Panuntun. Ketiganya memutuskan bahwa kelompok-kelompok di bawah ini terpilih untuk menjadi finalis dalam Kompetisi Debat Sastra Tingkat SMA 2023:

  1. “Coup de Coeur; Hasrat, Ambisi, dan Moralitas Perempuan dalam Novel Nyonya Bovary karya Gustave Flaubert dan Novel Kerudung Merah Kirmizi karya Remy Sylado” oleh kelompok La Lutte Continue – SMAN 7 Garut.
  2. “Gelap Terang Jiwa Manusia: Reinterpretasi Perempuan Feminis dalam Novel Nyonya Bovary dan Kerudung Merah Kirmizi” oleh kelompok Srikandi – SMAN 7 Garut.
  3. “Analisis Novel Nyonya Bovary dan Kerudung Merah Kirmizi: Sebuah Realita Entitas Perempuan dalam Utopia Laki-laki” oleh Kelompok Sekolah Cikal Serpong – Sekolah Cikal Serpong

Sebelumnya, Komunitas Salihara membuka pendaftaran pada 16 Maret 2023 dengan acuan untuk membandingkan novel Nyonya Bovary karya Gustave Flaubert (Prancis) dengan Kerudung Merah Kirmizi karya Remy Sylado (Indonesia).

Kedua novel ini dipilih untuk dibandingkan karena sama-sama mengangkat tokoh utama perempuan yang ditulis oleh pengarang laki-laki. Meski jarak antara kedua novel tersebut adalah 150 tahun–Nyonya Bovary terbit pada 1857 dan Kerudung Merah Kirmizi terbit pada 2002–masing-masing ditulis dalam kuatnya sensor negara serta hadir di tengah masyarakat dengan budaya patriarki yang kuat.  

Fokus perbandingan yang diminta adalah: penggarapan atas tokoh utama perempuan dalam hubungan dengan tokoh-tokoh lainnya serta bagaimana penggarapan itu merupakan kritik atau justru konfirmasi atas nilai-nilai masyarakat zamannya. Pendaftaran ditutup pada 17 Agustus 2023 dan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Para peserta yang terpilih saat ini sedang memasuki masa persiapan sebelum mereka mempresentasikan makalah di hadapan Dewan Juri pada 28 Oktober 2023 di Teater Salihara. Salah satunya adalah Ainaya Qurrota A’yuni dari kelompok La Lutte Continue (SMAN 7 Garut) yang mengapresiasi kegiatan ini dan membuka pola pikirnya terhadap proses kritik yang bisa dilakukan dengan berbagai cara.

“Sangat menyenangkan, menantang, dan membuka pola pikir dan pandangan saya terhadap perempuan. Tak hanya itu saya juga menjadi sadar bahwasannya kritik terhadap pemerintahan tidak melulu harus dilakukan dalam bentuk aksi demo, melainkan melalui tulisan yang mampu menyuarakan protes terhadap kebijakan yang justru menurut saya lebih memberikan dampak yang besar.

Saya juga berharap agar Komunitas Salihara bisa terus menyelenggarakan Kompetisi Debat Sastra Tingkat SMA karena memberikan manfaat yang sangat besar seperti meningkatkan minat baca siswa SMA dan memberikan kesempatan untuk menyampaikan sudut pandang siswa terhadap suatu karya.” tutup Ainaya.

Bagi umum yang ingin melihat keseruan Final Kompetisi Debat Sastra 2023 bisa hadir secara daring di Komunitas Salihara pada Sabtu, 28 Oktober 2023 pukul 13:00 WIB dengan melakukan registrasi di tiket.salihara.org. Pengumuman pemenang Kompetisi Debat Sastra Tingkat SMA 2023 serta pemenang makalah terbaik diumumkan di Komunitas Salihara dan disiarkan di kanal YouTube Peta Sastra Indonesia pada 28 Oktober 2023, 17:00 WIB. Jangan sampai terlewatkan!

 

Tentang Komunitas Salihara Arts Center

Komunitas Salihara Arts Center adalah sebuah institusi kesenian dan kebudayaan yang selalu menampilkan kesenian terkini dari Indonesia dan dunia, baik yang bersifat pertunjukan maupun edukasi, dalam lingkungan kreatif dan sejuk di tengah keramaian selatan Jakarta.

___________________________________________________________________ 

Untuk mengetahui detail pertunjukan silakan kunjungi sosial media Komunitas Salihara: Twitter @salihara | Instagram @komunitas_salihara | atau hubungi: media@salihara.org

fundraising

Siniar Salihara 2023
Ngomong-ngomong Soal: Intervensi Digital dalam Seni, Sastra dan Ilmu Pengetahuan

Jakarta, 16 Oktober 2023 – Setelah sukses menyelenggarakan Siniar Salihara musim ketiga di awal 2023 dengan tema Penulis Perempuan kali ini Salihara hadir kembali dengan Ngomong-ngomong Soal: Intervensi Digital dalam Seni, Sastra dan Ilmu Pengetahuan. Dalam musim keempat ini program Siniar Salihara akan dipandu oleh moderator, Rebecca Kezia yang akan berbincang mengenai Humaniora Digital atau Digital Humanities terhadap posisi sentral manusia. Dalam pembahasan tiga episode ini kita akan diajak merenungkan bagaimana teknologi beririsan dengan cabang-cabang disiplin seni dan mengubah cara pandang manusia dalam mengapresiasi dan menciptakan seni. Tidak hanya itu, diskusi ini juga akan mendiskusikan bagaimana respons manusia saat teknologi mulai masuk ke kehidupan sehari-hari dan bagaimana kita berinteraksi dengannya.

Siniar Salihara 2023 musim keempat sudah bisa didengarkan melalui kanal-kanal audio dan video Komunitas Salihara. Berikut adalah jadwal penayangan program kami:

 

Episode 1: Reformasi Ilmu dalam Budaya Digital

Narasumber: Fajar Ibnu Thufail | Tayang Perdana: 09 Oktober 2023

*******

Hampir semua aspek kehidupan manusia dipengaruhi oleh teknologi digital serta mengubah cara bertindak dan cara berinteraksi kita dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, pengaruh teknologi digital masuk dalam salah satu cabang ilmu pengetahuan yaitu humaniora, yang mempertanyakan kembali tentang manusia dan sekitarnya. Tapi, bagaimana posisi manusia ketika teknologi digital telah masuk dalam ilmu humaniora? Apakah ada yang berubah dan apakah perubahan ini memperkaya cara pandang kita dalam memaknai kehidupan?

 

Episode 2: Puitika Mesin: Pedang Bermata Dua

Narasumber: Martin Suryajaya | Tayang Perdana: 16 Oktober 2023

********

Sastra sebagai salah satu cabang penciptaan sebuah kesenian yang lekat dengan unsur kepengarangan seperti adanya konteks, sejarah, dan bentuk bahasa yang menjadi ekspresi pengarangnya, kini telah dimasuki oleh sesuatu yang lebih objektif melalui kerja teknologi digital seperti adanya perangkat kecerdasan atau AI. Dalam episode ini kita akan melihat bagaimana Martin Suryajaya melatih mesin kecerdasan untuk menciptakan puisi dan apakah pemanfaatan teknologi ini merupakan sebuah temuan yang positif atau pedang bermata dua?

 

Episode 3: Imajinasi, Manipulasi dan Ilusi dalam Rupa Digital

Narasumber: Bob Edrian | Tayang Perdana: 23 Oktober 2023

Hubungan antara teknologi digital dengan seni rupa sebetulnya bukanlah hal yang baru. Hubungan tersebut juga tidak lepas dari beberapa aspek yang memengaruhi pemutakhiran teknologi dalam kehidupan sehari-hari kita. Melalui prinsip kerja ini dan semakin canggihnya teknologi digital yang bisa kita gunakan untuk mencipta atau mengapresiasi, adakah perubahan dalam cara kita memandang seni? Dan bagaimana relasi antara seniman, teknologi, karya, dan audiensnya?

 

Diskusi lengkap terkait tiga topik intervensi digital ini sudah bisa didengarkan melalui  kanal Siniar Salihara di Spotify, Apple Podcast dan aplikasi NOICE, serta dapat ditonton di kanal YouTube Komunitas Salihara. 

 

Tentang Komunitas Salihara Arts Center

Komunitas Salihara Arts Center adalah sebuah institusi kesenian dan kebudayaan yang selalu menampilkan kesenian terkini dari Indonesia dan dunia, baik yang bersifat pertunjukan maupun edukasi, dalam lingkungan kreatif dan sejuk di tengah keramaian selatan Jakarta.

___________________________________________________________________ 

Untuk mengetahui detail pertunjukan silakan kunjungi sosial media Komunitas Salihara: Twitter @salihara | Instagram @komunitas_salihara | atau hubungi: media@salihara.org

pexels-tara-winstead-8386440

Sekilas AI dan Penciptaan Karya Seni

Di hari ini, teknologi digital sudah memengaruhi kehidupan manusia, termasuk dalam proses penciptaan karya sastra dan seni. Mesin dengan kecerdasan buatan atau sering kita dengar dengan istilah AI, bahkan mampu menciptakan karya sastra, misalkan dalam penggunaan ChatGPT. AI bekerja dengan perintah operator, hanya dengan memasukkan kata kunci atau tema-tema tertentu. Semakin banyak dan bervariasi data atau tema yang masuk dalam sistem AI, semakin mahir pula AI meramu kalimat-kalimatnya hingga menjadi karya sastra. Tak hanya menghasilkan karya sastra, AI juga mampu menciptakan puisi, lukisan, karya fotografi, musik, esai, dan sebagainya. 

Kemampuan AI yang makin pesat ini, kemudian juga digunakan dalam kerja-kerja manusia. Misalkan sekadar membuat tulisan pendek untuk mendampingi unggahan sebuah foto di media sosial. Operator, yaitu manusia pengguna gawai hanya tinggal memasukkan sejumlah bahan dan tema melalui ChatGPT, lalu seketika, tak sampai dua menit tulisan itu telah selesai. 

Dalam seni visual, pada 2018 muncul lukisan “Portrait of Edmond Belamy”, sebuah lukisan yang berhasil diciptakan oleh algoritma AI. Bahkan lukisan ini mendapatkan penawaran lelang seharga 6.5 miliar, angka fantastis. Lukisan ini tidak muncul dari mesin dengan sendirinya. Ia juga muncul dari ide operator, ide dari pikiran manusia, mereka adalah sekelompok orang yang menyebut dirinya Obvious yang terdiri dari tiga mahasiswa asal Prancis. Fenomena ini bisa kita katakan sebagai bentuk kesadaran kolaborasi antara kecerdasan manusia dengan kecerdasan mesin. 

Munculnya kemungkinan kolaborasi antara manusia dan mesin dalam menciptakan karya seni juga dampak dari AI yang mampu membaca ribuan data hingga bisa menjadi material mentah penciptaan sebuah karya seni. Misalnya, AI mampu menghasilkan puluhan jenis gambar hanya dengan memasukkan satu foto wajah manusia. Ia mampu mengubahnya menjadi gambar sketsa wajah, gambar lukisan, hingga gambar yang nampak menggunakan teknik cetak saring. 

Namun, keresahan pun muncul, isu yang paling kuat adalah: apakah kemudian posisi sentral sang manusia—sebagai pengubah dunia—sudah tergusur? Apakah kemudian manusia seluruhnya—bahkan barangkali idenya—akan tergantikan oleh kecerdasan buatan ini? Atau justru kembali pada kemungkinan yang lebih menarik tentang kolaborasi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan. Atau jangan-jangan kemunculan AI adalah sekadar proyek kaum elite, kaum spesialis, yang berebut kuasa politik-kepakaran?

Pembahasan ini akan diurai lebih jauh dalam seri Siniar Salihara Ngomong-Ngomong Soal: Intervensi Digital dalam Seni, Sastra, dan Ilmu Pengetahuan.

web banner-salihara jazz buzz 2024-1920x1080

Open Call Salihara Jazz Buzz 2024:
Upaya Menemukan Kebaharuan Musik Jazz Tanah Air

Penutupan pendaftaran: 16 November 2023

 

Jakarta, 10 September 2023 – Salah satu program unggulan yang mendapat tanggapan dan perhatian besar dari publik terkait Komunitas Salihara Arts Center adalah Salihara Jazz Buzz; sebuah festival jazz tahunan yang menampilkan pilihan genre, komposisi dan presentasi konsep musik baru. Kali ini, Komunitas Salihara kembali membuka kesempatan dan mengundang musisi-musisi Jazz termasuk grup-grup muda di seluruh tanah air untuk mempresentasikan musik mereka dalam Salihara Jazz Buzz 2024.

Sejak 2016, Salihara Jazz Buzz selalu mengusung ide besar Jazz Sans Frontières, sebuah gagasan dan konsep musikal “lintas-batas”. Hal tersebut menjadikan Salihara Jazz Buzz sebagai salah satu acara yang paling diminati oleh pemirsa seni Komunitas Salihara. Undangan terbuka Jazz Buzz berawal dari 2019 dengan harapan ingin membuka kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh musisi muda tanah air untuk menambah warna dalam bermusik jazz. Undangan ini juga selaras dengan visi dan misi Komunitas Salihara yang dibangun sejak 15 tahun lalu dan selalu menawarkan sesuatu yang baru dan progresif.

Kurator Musik dan Tari Komunitas Salihara, Tony Prabowo mengatakan bahwa jazz dalam kehidupan musik di Indonesia menjadi salah satu genre musik yang banyak peminatnya dan salihara hadir untuk memberikan tawaran kebaharuan akan hal tersebut, “jazz dalam kehidupan musik di Indonesia menjadi salah satu ‘genre musik’ yang cukup banyak peminatnya. Salihara sebagai presenter pada acara Jazz Buzz memberikan tawaran yang lain yang lebih progresif dan tawaran akan kebaharuan akan genre jazz ini.” 

Melalui Undangan Terbuka, Salihara Jazz Buzz memperluas proses kuratorial untuk mencari grup yang dapat menawarkan kebaharuan dalam musik jazz tanah air. Bagi grup yang terpilih nantinya, akan mendapatkan bantuan produksi maksimal Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) disesuaikan dengan besaran ensambel. Selain bantuan produksi, Komunitas Salihara juga memberikan bantuan berupa fasilitas yang tersedia: ruang pentas dan fasilitas pendukung, promosi dan publikasi acara, dokumentasi, serta akomodasi di Wisma Salihara. 

Untuk bisa menjadi bagian dari Salihara Jazz Buzz calon pendaftar adalah warga negara Republik Indonesia dan belum berusia 35 tahun pada 31 Desember 2023 dan menampilkan materi konser paling sedikit 4 (empat) karya baru, termasuk aransemen atau komposisi ulang yang mengandung unsur kebaharuan. Durasi konser antara 60-90 menit dengan format grup mulai dari dua (2) hingga 12 musisi.    

Musisi yang tertarik dapat mendaftarkan dirinya dengan mengikuti prosedur yang tertera di laman salihara.org atau buka tautan mulai dari 06 September–16 November 2023. Undangan terbuka ini tidak berlaku untuk anggota keluarga inti karyawan Komunitas Salihara dan anggota Tim Juri. 

 

Tentang Komunitas Salihara Arts Center

Komunitas Salihara Arts Center adalah sebuah institusi kesenian dan kebudayaan yang selalu menampilkan kesenian terkini dari Indonesia dan dunia, baik yang bersifat pertunjukan maupun edukasi, dalam lingkungan kreatif dan sejuk di tengah keramaian selatan Jakarta.

___________________________________________________________________ 

Untuk mengetahui detail pertunjukan silakan kunjungi sosial media Komunitas Salihara: Twitter @salihara | Instagram @komunitas_salihara | atau hubungi: media@salihara.org

BERITA ACARA PENJURIAN
FINALIS KOMPETISI DEBAT SASTRA TINGKAT SMA 2023

Pada Rabu, 27 September 2023, telah dilaksanakan Penjurian Tahap I Kompetisi Debat Sastra 2023 Komunitas Salihara melalui platform virtual, Zoom. Dewan Juri dalam Penjurian Tahap I ini, yaitu:

  1. Ari Bagus Panuntun
  2. Areispine Dymussaga Sevilla Miraviori
  3. Rio Johan

Selain itu, Dewan Juri juga memutuskan tiga makalah yang terpilih menjadi Finalis Kompetisi Debat Sastra 2023, sebagai berikut:

  1. Coup de Coeur; Hasrat, Ambisi, dan Moralitas Perempuan dalam Novel Nyonya Bovary karya Gustave Flaubert dan Novel Kerudung Merah Kirmizi karya Remy Sylado” (La Lutte Continue – SMAN 7 GARUT)
  2. Gelap Terang Jiwa Manusia: Reinterpretasi Perempuan Feminis dalam Novel Nyonya Bovary dan Kerudung Merah Kirmizi” (Srikandi – SMAN 7 GARUT)
  3. “Analisis Novel Nyonya Bovary dan Kerudung Merah Kirmizi: Sebuah Realita Entitas Perempuan dalam Utopia Laki-laki” (Sekolah Cikal Serpong – Sekolah Cikal Serpong)

Demikian berita acara ini kami sampaikan hendaknya diterima. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.

 

 

Jakarta, 27 September 2023

Dewan Juri,

Sehari Multikultural di LIFEs 2023

Bagaimana ragam budaya Frankofon dapat disajikan dalam satu hari rangkaian acara? Literature and Ideas Festival (LIFEs) 2023 mewujudkannya pada Jumat (11/08) lalu lewat rangkaian diskusi hingga musik selama satu hari. Lewat rangkaian program satu hari ini kita diajak melihat bagaimana literatur yang multikultur menghubungkan antar sesama penulis, seniman, pemikir, dan para pembaca dari berbagai belahan dunia.

 

15:00 – Rewriting the World Map: Multilingual Writing Across Languages and Continents
Pembicara: Abu Maha, Mozhdeh Ahmad, Gladhys Ellionai | Moderator: Primadita Rahma

Judul di atas merupakan pembuka dalam rangkaian sehari multikultur di Jumat pagi. Diskusi ini menghadirkan The Archipelago; sebuah kolektif berbasis literasi yang menghadirkan tulisan-tulisan dari para penulis yang mayoritas berasal dari daerah konflik seperti Sudan, Myanmar, dan Afganistan. Diskusi ini menghadirkan perwakilan dari The Archipelago; Mozhdeh Ahmadi, Penulis: Abu Maha, dan Gladhys Elliona, dimoderatori oleh Primadita Rahma. Diskusi dibuka oleh Mozhdeh yang menjelaskan apa itu Archipelago dan apa yang mereka kerjakan.

Archipelago tak hanya menjadi kolektif yang memberi ruang bagi penulis asing untuk menerbitkan tulisannya; mereka juga hadir untuk memberikan pelatihan bahasa atau penulisan atau membantu menghubungkan penulis-penulis tersebut dengan penerbit rekanan agar bisa menerbitkan tulisan-tulisan mereka. Archipelago aktif menerjemahkan tulisan-tulisan berbahasa asing ke bahasa Inggris agar tulisan mereka dapat tersampaikan secara universal. Tulisan-tulisan tersebut bisa berisi situasi di daerah konflik, harapan, serta impian tentang “rumah”. Sebab banyak penulis–dalam kolektif ini–yang akhirnya meninggalkan rumah atau tanah kelahiran mereka demi mendapatkan kehidupan yang aman jauh dari teror.

Inti dari diskusi ini berbicara mengenai suka dan duka Mozhdeh, Abu, dan Gladhys yang menulis dalam bahasa yang bukan bahasa asli mereka. Menulis bukan dalam bahasa ibu seperti yang sudah dijelaskan diperlukan untuk bisa menyasar audiens yang lebih luas. Namun ada beberapa ketakutan seperti tafsir yang berbeda, adanya sentimen bahwa penulis tidak merepresentasikan budaya yang diterjemahkan, dan lain sebagainya. Namun, dari diskusi ini jawaban atas ketakutan-ketakutan tersebut adalah “menerima keindahan dari ketidaktahuan selama proses menulis/menerjemahkan.” Dengan menerimanya, kita dapat belajar serta meningkatkan empati lewat proses tersebut.

(Dari Kiri ke kanan) Primadita Rahma bersama dengan pembicara: Mozhdeh Ahmad, Abu Maha, Gladhys Ellionai

Sebelum menuju sesi tanya jawab dengan peserta, diskusi diakhiri dengan pembacaan fragmen tulisan dari karya masing-masing pembicara. Yang pertama adalah Gladhys dengan judul “Lembur di Selatan” sebuah tulisan yang menceritakan kehidupan orang-orang pesisir yang ia terjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul To Vanish in the South. Selanjutnya adalah pembacaan fragmen tulisan dari Abu Maha berjudul Secrets of Nyala Market yang menceritakan kehidupannya yang mendapat perlakuakn tidak adil ketika  di kota Nyala, Sudan. Bagaimana Abu (dalam persepektif “aku”) diceritakan menerima perlakuan keji oleh aparat kepolisian yang dipicu oleh sikap rasisme dan menyebabkan dirinya harus pergi meninggalkan kota asalnya tersebut. Tulisan Abu tentang pasar Nyala ini mengantarkan ia menjadi pemenang dalam Archipelago’s 2021 Writing Competition. Terakhir adalah pembacaan puisi yang ditulis oleh Mozhdeh yang berjudul False Hope.

 

16:30 – Venture of Language
Pembicara: Elizabeth D. Inandiak | Moderator: Debra Yatim

Setelah berkelana mendengarkan cerita para penulis asing dari The Archipelago, kali ini Komunitas Salihara akan membawa pengunjung untuk mengikuti petualangan linguistik dari Elizabeth D. Inandiak yang terkenal dengan tafsiran dan terjemahan Serat Centhini–Yang diklaim oleh Elizabeth sebagai sebuah kisah yang sejajar dengan karya-karya Shakespeare dan Mahabarata–dari bahasa Jawa ke berbagai bahasa seperti Prancis dan Indonesia.

Elizabeth D. Inandiak menjelaskan petualangan linguistiknya di Galeri Salihara

 

Dalam diskusi ini Elizabeth juga menceritakan kisah dari novel terbarunya yang berjudul Dreams from the Golden Island yang berasal dari kisah-kisah yang dituturkan oleh penduduk di wilayah Muara Jambi yang tersedia dalam empat bahasa yaitu Mandarin, Indonesia, Prancis, dan Inggris. Buku ini menampilkan dongeng-dongeng, penelitian, dan catatan perjalanan dari masa lampau yang dikemas dengan narasi puitis lengkap dengan gambar-gambar yang–Elizabeth sendiri katakan–persis seperti manga di dunia modern.

 

 

19:00 – Tamu dari Seberang
Pembicara: Jean-Baptiste Phou, Johary Ravaloson, Zack Rogow
Moderator: Ajeng Kamaratih

(Kiri ke Kanan) Zack Rogow, Jean- Baptiste Phou, dan Johary Ravaloson bersama penerjemah
dalam diskusi di Teater Salihara

 

Setelah mengarungi perjalanan Elizabeth dengan petualangan linguistiknya, kali ini kita akan melihat perjalanan kreatif para penulis asing dari berbagai daerah di negara Frankofon seperti Madagaskar, Prancis, dan Amerika lewat karya-karya mereka. Dimoderatori oleh presenter; Ajeng Kamaratih, kita akan mengulas karya dari Jean-Baptiste Phou (Prancis), Johary Ravaloson (Madagaskar), dan  Zack Rogow (Amerika) dalam tema Multikulturalisme. Dalam diskusi ini, ketiga negara yang diwakilkan adalah Amerika (Zack), Prancis (John-Baptiste dan Johary) yang memiliki keterikatan dengan Indonesia dengan multikultural. Amerika dan Prancis misalnya yang  menjadi daerah tujuan para imigran dalam mencari penghidupan lebih layak dan Indonesia yang dikenal dengan keragaman etnis, agama, budaya, dsb. Diskusi ini melihat bagaimana ketiga seniman ini merepresentasikan keragaman tersebut dalam karya-karya mereka.

Zack Rogow, sebagai seorang Amerika banyak menulis puisi dan naskah drama. Salah satu naskah dramanya yang berjudul Colette Uncensored dimainkan di Salihara dan IFI Yogyakarta. Zack menceritakan akar dari puisi-puisinya banyak terinspirasi dari anaknya serta perjalanan spiritualnya terutama dalam karyanya yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai Dzikir Mbeling.

Berbicara tentang spiritual, kita juga akan berkenalan dengan Johary Ravaloson; seorang penulis asal Madagaskar yang menetap di Prancis, karyanya baru saja terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul Perburuan. Dalam Perburuan Johary menyematkan unsur spiritual yang akrab dengan masyarakat Madagaskar lewat mantra dan ritual. Dalam novel yang ia tulis, diceritakan Sikid–seorang reporter yang memburu berita– meninggal di pertengahan cerita. Mantra-mantra inilah yang ditulis guna membangkitkan Sikid dari alam kematian, yang terinspirasi dari budaya ritual Madagaskar dengan cara menyemai biji-bijian sebagai bagian dari ritual; memberikan nuansa etnik dalam kekaryaannya.

Penonton pun diajak membaca cuplikan dari mantra yang Johary tulis di dalam novelnya:

 

“Bangun! Bangun!

Bangunlah Sikid nan suci.

 Sikid yang kubangkitkan atas nama Sang Pencipta dan atas nama Pengatur Alam Semesta!

 

Bangun! Bangun!

Bangunlah Sikid Nan Suci, yang kepadanya telah kami salurkan tujuh kekuatan langit!”

 

Johary kini menetap di Prancis dan aktif sebagai seorang penulis. Selain Johary, hadir juga penulis Prancis keturunan Kamboja bernama Jean-Baptiste Phou. Berbeda dengan Johary yang sadar akan akar tradisinya, Jean tidak pernah tahu dari mana ia berasal. Ia lahir dan besar di Prancis, orang tuanya meninggalkan tanah kelahiran mereka karena situasi politik dan tidak pernah membahas masalah ini dengan dirinya.

Jean menceritakan bahwa orang Prancis memiliki kecenderungan untuk menilai siapapun yang berwarga negara Prancis adalah orang Prancis sendiri. Tidak ada istilah pembeda seperti Black-France, Chinese-France, dsb sehingga dia merasa tidak ada bedanya dengan warga Prancis lainnya. Ketertarikan bahwa dirinya “mungkin” tidak terlalu Prancis baru hadir di 90-an. Dia merasa ada sesuatu yang tersembunyi dari akar keluarganya yang akhirnya memicu dirinya untuk berkeliling ke berbagai negara di Asia. Setelah mendengarkan perjalanan kekaryaan dan sumber inspirasi dari Jean-Baptiste yang juga merupakan penulis, aktor, dan juga filmmaker. Setelah diskusi penonton diajak untuk melihat sebuah adegan dari pertunjukan teater Prancis yang berkisah mengenai stereotip orang Prancis terhadap orang-orang Asia dibalut dengan garapan komikal yang mengundang tawa.

Sebagai penutup, Ajeng menanyakan bagaimana pandangan ketiga seniman ini terhadap literatur Prancis dan negara Frankofon; Zack menjawab bahwa dengan banyaknya peraih Nobel sastra dari Prancis membuat literatur Frankofon menjadi lebih dikenal oleh dunia. Pernyataan ini juga diperkuat oleh Jean dan Johary yang menyatakan bahkan di Prancis saat ini banyak sekali penerbit yang tertarik untuk menerbitkan karya-karya dari negara Frankofon. Hal ini berbeda dengan zaman dulu di mana karya dari negara Frankofon kurang dilirik oleh penerbit di Prancis.

Rangkaian acara satu hari ini ditutup dengan pertunjukan musik khas Prancis dan Frankofon oleh kelompok musik Klassikhaus. Untuk mengetahui ulasan lengkapnya sila membaca di sini.