- Blog
- Pameran, Seni rupa
Selama lebih dari lima puluh tahun, publik mengenal Goenawan Mohamad (GM) sebagai penyair, esais, dan penulis Catatan Pinggir. Melalui rubrik yang terbit sejak 1977, GM membangun sebuah cara berpikir yang
Selama lebih dari lima puluh tahun, publik mengenal Goenawan Mohamad (GM) sebagai penyair, esais, dan penulis Catatan Pinggir. Melalui rubrik yang terbit sejak 1977, GM membangun sebuah cara berpikir yang
Ibrahim Soetomo Goenawan Mohamad (GM) telah menerbitkan empat bundel kitab: Kurawa (2022), Hewan (2022), Hantu (2023) dan yang termutakhir, Badut (2025). “Kitab” di sini dimaknai sebagai sekumpulan karya yang dibukukan.
Goenawan Mohamad (GM) lahir di Batang, Jawa Tengah pada 1941, lebih dikenal sebagai penyair, esais, penulis Catatan Pinggir, dan intelektual publik. Sejak pameran tunggalnya pada 2016 di Plataran Djoko Pekik,
Oleh: Ibrahim Soetomo Pada sebuah perhelatan seni pertunjukan kontemporer yang apik, sekomplot serdadu lengkap dengan seragam formal dan topi petnya terlihat sedang bermain gamelan. Di belakang para pemain, terdapat
Oototol lahir dengan nama Dewa Raram di Desa Pengosekan, sebelah selatan Ubud, Bali, sebuah wilayah yang dikenal sebagai tempat tumbuhnya banyak pelukis tradisional dari aliran Pita Maha sebelum perang. Lingkungan
Menelusuri Realitas dalam Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme Memasuki ruang galeri pameranImba: Dari Abstraksi ke Abstrakismeseperti melewati lini masa perjalanan karya seni rupa abstrak di Indonesia. Kita dibawa pada jejak-jejak
Etika politik kontemporer menjadi medan refleksi yang kian mendesak ketika praktik politik semakin menjauh dari nilai-nilai moral. Politik hari ini sering direduksi menjadi persoalan kekuasaan, prosedur, dan kemenangan elektoral, sementara
Dalam sejarah seni rupa Indonesia, formalisme menempati posisi yang kerap diperdebatkan sekaligus menentukan. Ia bukan sekadar gaya atau kecenderungan visual, tapi sebuah cara pandang terhadap seni yang menempatkan bentuk sebagai
Program ini merupakan bagian dari MTN Lab yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan untuk menyediakan ruang penciptaan dan pengembangan karya melalui residensi, inkubasi, lokakarya, hingga masterclass. Dalam momentum 80 tahun Indonesia
Sejak berdiri pada 1 April 1959, Sanggarbambu kerap dikenang sebagai sanggar seni rupa. Namun jika menengok kembali dokumen-dokumen arsip dan kesaksian para eksponennya, Sanggarbambu jauh melampaui batas satu disiplin. Ia